Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Nuha


__ADS_3

Kebaikan seorang Kanaya selalu terkenang sepanjang masa. Meski telah tiada dirinya nggak terlupakan begitu saja di hati para keluarga. Tak jarang Adila dan Reska menghabiskan waktu bersama, mengenang masa hidup Kanaya yang selalu terlihat ceria.


Sebagai orang tua, Reska sangat kehilangan sosok putri tercinta. Meninggalkan seorang gadis cilik, paras yang mirip dengan Kanaya membuat Reska semakin ingin mengasuh Nuha.


Namun lagi-lagi, Nuha hanya mau berada di dekat Arjuna. Arah pulang Gibran tak lagi ke kediaman pantai, tapi ke desa asri nan indah itu. Arjuna nggak keberatan atas kehadiran mereka, rumahnya cukup besar untuk mereka tinggali bersama. Hanya saja kata-kata Gibran mengusik hati Arjuna,


"Ibu, kalau waktu itu Ayah datang membawa seorang putri, apakah lamaran Ayah akan tetap di terima?" dalam keresahan Arjuna mengirim pesan kepada Jena.


Mungkin sedang sibuk, Jena nggak langsung membaca dan membalas pesan dari sang putra.


Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, apalagi jawaban dari Jena sangat di harapkan Arjuna. Membawa diri untuk rebahan di sofa ruangannya, bayangan Salwa yang berpaling darinya membuat Arjuna bangkit kembali.


"Ibu kok lama sih balas pesannya?" mulai mengeluh. Biasanya Arjuna cukup sabar menghadapi sang Ibu. Desakan gelisah membuatnya mengeluh jua, apalagi ini berhubungan dengan sang penghuni hati. Sungguh dirinya hanya ingin Salwa, bukan wanita lain.


Berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya, para karyawan mulai memperhatikan dirinya di dalam sana. Menyadari berpasang mata mulai tertuju padanya, Arjuna menarik tali tirai penutup.


"Hupfh!! lama banget sih Bu!!" melipat kedua tangan di dada, pemuda ini mengambil duduk kembali di sofa. Meraih ponsel dan berjalan ke ruangan Agam, dia ingin mengadu kepada sang Ayah saja.


"Assalamualaikum" membuka pintu dan langsung masuk.


"Waalaikumsalam, hem? kemana anak Ayah yang sopan dan santun itu? biasanya dia akan mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah Ayah mengizinkan masuk barulah dia masuk."


Berbalik keluar dan mengetuk pintu"Tok! tok! tok, Assalamualaikum!" Arjuna melakukan apa yang di ucapkan Agam barusan.


Nggak bisa menahan tawa, Agam terkekeh seraya bersuara"Waalaikumsalam. Masuk!."


Menilik wajah gelisah sang putra, Agam melepaskan bolpoin dan menutup map di hadapannya. Dia tau pasti ada yang nggak beres"Ada apa Tuan Arjuna?" dia tersenyum, menampilkan lesung di kedua pipi.


Arjuna memandangi lobang di pipi sang Ayah, dia punya dua lobang pemanis namun kenapa tak satu pun yang menurun kepadanya.


"Kenapa Arjuna?" Agam mengulang tanya.


"Ibu kemana sih? dari tadi pesan Arjuna nggak di balas."


"Nyariin Ibu? katanya ada pertemuan dengan sutradara hari ini."


Mulut Arjuna membulat. Sebagai penulis ternama, pertemuan seperti ini nggak jarak melibatkan sang Ibunda, sudah banyak karyanya yang di angkat ke layar lebar.

__ADS_1


"Ada masalah? pasti ada kan?. Selain Ibu kamu juga punya Ayah. Ayo cerita."


"Iya, dan ini masalah yang sangat membebani pikiran Arjuna."


Dengan kedua alis terangkat naik"Oh ya? separah itu?" Agam terkejut. Dia melipat kedua tangan di atas meja bersiap mendengar masalah sang putra.


Begitu serius Arjuna mengisahkan tentang resah di hati, tentang keinginan merawat Nuha, tentang rasa sayang terhadap Nuha. Sungguh Arjuna sudah menganggap Nuha seperti anaknya sendiri.


"Sepertinya itu hal bagus, Nuha juga nggak mau berpisah dari kamu kan."


Mengangguk, Arjuna melanjutkan perkataannya lagi"Masalahnya, apakah Salwa akan bersedia menerima Nuha?."


Terlihat kedua alis Agam beradu"Kenapa nggak bertanya langsung padanya. Lebih cepat kamu bertanya akan lebih baik, sebelum hal ini menjadi masalah saat kalian telah menikah nanti."


Menyerahkan ponsel kepada Agam"Ayah bantu Arjuna ya."


"Bantu apa?."


"Ngomong sama Salwa."


"Kenapa nggak kamu aja?."


Agam menggeleng"Enggak."


"Kenapa?."


"Balas pesan dari Ibu saja jempol Ayah tremor. Gimana kalau ngobrol banyak di telepon, Ayah mungkin akan meleleh seperti es krim." Agam tertawa sendiri mengingat saat-saat itu, entah mengapa rasa cinta itu membuat dirinya sangat nggak berdaya di hadapan Jena.


"Nah, itu juga yang Arjuna rasakan Ayah. Mendengar suaranya bisa membuat jantung berdebar. Arjuna nggak kuat!!. Takut pikiran Arjuna kemana-mana."


"Hahahah" dengan suara berat Agam terbahak. Tidak di ragukan lagi Arjuna memang putranya. Pemuda itu menunduk ketika di tertawakan sang Ayah, rasanya menatap ubin di bawah sana lebih menyenangkan alih-alih di tertawakan di depan mata.


Karena pernah berada di posisi Arjuna, Agam menyudahi tawa, dia mencoba menenangkan hati putranya"Maaf, Ayah kelepasan. Jadi Ayah yang harus ngomong sama dia?."


Mengangguk namun masih menunduk. Usia boleh dewasa, namun di depan Agam pemuda ini tetaplah seorang bocah.


Berdiri seraya meraih ponsel Arjuna. Dia sempat menahan tawa melihat nama yang di berikan Arjuna pada kontak Salwa.

__ADS_1


"Calon Zaujati."


Ingin dia berkomentar, menggoda Arjuna dengan nama yang dia berikan pada kontak Salwa itu. Namun wajah tertekuk malu Arjuna membuatnya nggak tega, Arjuna bahkan meletakan keningnya di permukaan meja Agam, dan masih menatap ubin di bawah sana.


Panggilan pertama nggak di angkat. Hati Arjuna ketar-ketir karena hal itu. Apakah karena itu panggilan dari nomornya makanya Salwa nggak menerima panggilan?. Tapi dirinya bukan nggak pernah menelepon Salwa, meski sudah lama sekali jejak panggilan telepon itu terjadi.


"Mungkin dia sibuk" Agam berucap demi menenangkan hati Arjuna. Dia mengangkat wajah dan menatap Agam penuh rasa khawatir"Ayah akan telepon lagi."


Di dalam hati Arjuna, kalau panggilan kedua ini nggak di jawab, dia sungguh merasa malu.


Nada tunggu ketiga suara Salwa terdengar di ujung sana. Jantung wanita ini berdebar luar biasa. Dia sempat ragu saat mendapat panggilan itu, oleh karena itulah panggilan sedikit terlambat di terima.


"Assalamualaikum" ujar Salwa mengatur debar di dada. Suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Waalaikumsalam, ini Om Agam Nak Salwa."


Spontan Salwa menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan"Iya Om."


Akh!! Arjuna bagai berada di ujung jurang. Rasanya akan terjatuh mendengar Agam mulai menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungi Salwa.


"Arjuna keluar ya Yah."


"Sebentar Salwa."


"Mau kemana?" ujarnya beralih pada Arjuna.


"Haus" Arjuna beralasan"Arjuna ke pantry dulu.


"Oke" sahut Agam. Padahal kalau perlu minuman dia bisa memintanya kepada asisten Agam. Ini hanyalah cara Arjuna agar pergi dari tempat itu. Agam terkekeh lagi, dia sangat mengerti akan tindakan putranya.


"Nuha hanya mau minum susu kalau Arjuna yang memegangi botol susunya" Agam lanjut bicara. Sementara Salwa mendengarkan perkataan calon Ayah mertuanya itu.


"Nggak jarang Arjuna harus pulang sebentar hanya untuk memberikan susu padanya. Terkadang Nuha yang di bawa kemari, dan sepertinya hal ini akan terus berlanjut dalam waktu yang lama."


"Jadi, kalau Nuha di rawat oleh kalian saat sudah menikah, apa kamu keberatan?."


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2