
Meninggalkan kerjasama yang tak kunjungan terjalin bersama Randy, Arjuna mulai sibuk mengurus bisnis bersama Richard. Dua pemuda yang semula berseberangan akhirnya sepakat bersama mereka mewujudkan keinginan para orang tua.
Dengan helem berwarna kuning, Arjuna turun ke lapangan di bawah terik matahari. Usai makan siang di AB Game. Co dia beralih meninjau langsung pekerjaan di dataran tinggi. Dalam sehari dia bolak-balik melakukan pengecekan langsung kinerja para pekerja dalam dua perusahaan, sungguh sibuk pemuda satu ini.
"Kenapa nggak duduk manis di ruangan Ber-AC saja, kamu bisa meminta laporan langsung di lapangan padaku" di bawah pohon rindang di bangun meja dan kursi di bawahnya, Arjuna dan Richard berisitirahat di sana.
"Kamu pikir aku nggak bisa kayak kamu, bekerja panas-panasan seperti ini" mengibaskan kemeja yang dia kenakan, keringat sebesar biji jagung meluncur di wajahnya.
"Hahahah, lihatlah keringatmu. Baru beberapa menit di bawah matahari sudah kepanasan. Sekarang hanya ada angin alami di sini, aku nggak bisa memberikan angin AC padamu."
"Justru angin alami lebih nyaman" sahutnya memandangi bangunan yang sudah mulai berdiri.
"Oh ya?. Jadi kamu nggak kapok ke sini lagi?."
Menoleh pada Richard"Kamu mau mengataiku anak manja?. Kita sepantaran, jangan menganggapku seperti anak kecil!."
Richard semakin terkekeh, di matanya Arjuna adalah rekan bisnis dengan kesabaran setipis tisu"Hupffhh!! bukan seperti itu, aku hanya kasihan melihatmu kepanasan."
"Biasa aja!!. Saat bermain basket aku bahkan berkeringat hingga bajuku basah semua."
Mengangguk-angguk"Hemm, oke deh. Aku nggak akan meragukan dirimu lagi."
"Cih!! songong" gerutu Arjuna membuang muka.
Dua pemuda ini masih mengobrol di bawah pohon rindang, mereka membahas bangunan Hotel dan langkah selanjutnya setelah Hotel selesai di bangun. Arjuna mendapat pesan dari Mecca di ponselnya, gadis itu pamer kue yang di olahnya bersama Umma.
"Mau!!!" Arjuna membalas pesan dari Mecca.
"Mecca antar ke kantor ya. Tapi Abang sedang di kantor yang mana?."
"Abang sedang di lokasi pembangunan Hotel. Suruh kurir saja mengantarnya ke sini" saat itu dirinya melihat Pram sedang bersama para pekerja.
"Pram, dia akan mengambilnya." Tulis Arjuna lagi.
Mecca menolak. Dia ingin melihat langsung ekspresi Arjuna memakan kue olahannya bersama Umma. Keinginan gadis ini nggak bisa di tolak. Arjuna tetap mengutus Pram namun untuk menjemput Mecca.
"Berkirim pesan dengan mantan Nyonya Randy ya?."
"Salwa! namanya Salwa. Bukan Nyonya Randy!!." terlihat kesal Arjuna meralat perkataan Richard.
Terkekeh, dia suka melihat Arjuna cemburu, seperti bocah.
__ADS_1
"Salwa ya. Iya deh" ujarnya.
Membuang pandangan ke lain arah"Tapi aku bukan sedang berbalas pesan dengannya. Cinta nggak harus saling berhubungan. Apalagi kami belum sah, aku takut mengotori pikiranku."
"Mengotori pikiran? kamu takut membayangkan dirinya yang bohay itu."
Plak!!! Arjuna memukul lengan Richard"Hei!! sopan dong kalau ngomong. Ini pelecehan namanya!!."
"Hahaha, aku bicara kenyataan. Dia memang bohay kan."
Ingin sekali Arjuna menjitak kening Richard, tapi dirinya nggak mau membuat masalah di antara mereka"Dasar otak kotor!!. Pergi sana!!."
"Kok aku di usir?!. Tempat ini di buat atas perintahku, jadi kamu yang harus pergi." Richard nggak mengalah begitu saja, ketimbang Arjuna yang hanya sesekali datang ke tempat ini, dirinya hampir setiap hati kemari.
"Kalau nggak menunggu Mecca, aku sudah pergi sekarang."
Mecca!!. Richard membenarkan duduknya setelah mendengar nama Mecca di sebut.
"Mau ngapain dia kemari? ini bukan tempat untuk bermain. Tempat ini panas, nggak cocok untuknya."
Menyerngit alis Arjuna, matanya menyelidiki raut wajah Richard"Perhatian banget sama Mecca. Terserah dia dong mau ngapain di sini. Ini kan tanah Kakeknya. Lagian, kenapa nada bicaramu melemah? bukannya tadi kamu mencak-mencak."
"Aku haus, mau minum nggak biar aku ambilkan" mengalihkan pembicaraan, Arjuna sangat menyadari hal itu.
Nggak perlu waktu lama, Pram telah datang dengan Mecca bersamanya. Gadis itu nampak cantik, mengenakan kerudung berwarna cream wajah putih itu terlihat semakin menawan. Dia memang gemar memakai gamis berwarna hitam, hingga kulit putihnya semakin terlihat terang. Atensi para pekerja sempat tersita padanya, dan Pram berdehem hingga mereka kembali sibuk bekerja.
"Lama banget" Arjuna memulai aksi, dia berlagak merajuk agar Mecca membujuknya.
Meletakan keranjang berisi kue olahannya di samping Arjuna"Sebentar doang kok, dih Abang jangan cemberut dong!!."
"Sebentar doang kata kamu. Lama tau!! Abang capek menunggu."
Mecca mengambil duduk di kursi lebar itu"Bang!! kok merajuk sih. Nih kuenya udah Mecca bawain, ayo di makan biar marahnya hilang" tersenyum manis, Richard sampai nggak bisa berkata-kata saat itu.
Ekor mata Arjuna melirik Richard, dugaannya semakin kuat, Richard naksir Mecca.
"Suapin!" pinta Arjuna.
Merasa sedikit aneh, biasanya Arjuna nggak mau di suapin, kali ini dia justru meminta hal itu.
"Abang kesambet setan ya? kok manja banget."
__ADS_1
"Tau nih, perasaan dari tadi baik-baik aja" Richard menimpali. Mecca melihat Richard sekilas, kemudian fokus lagi pada Arjuna.
"Abang beneran marah? ya udah sini Mecca suapin." Dia membuka keranjang berisi kue itu, benar-benar akan menyuapi Arjuna.
Sebelum Mecca benar-benar menyuapinya, Arjuna berniat mengambil sendok di tangan Mecca hingga dirinya akan memakan kue itu sendiri. Namun Richard sudah lebih dulu bicara"Kalau mau di suapin aku bisa kok nyuapin kamu. Lagian sama Adik sendiri manja banget. Seharusnya kamu yang manjain dia, apalagi dia ini cewek."
Ingin rasanya Arjuna terbahak, Richard terlihat nggak rela Mecca hendak menyuapi dirinya.
"Balikin sendokknya, aku bisa makan sendiri!." Mengambil secara paksa sendok di tangan Richard. Tingkah Arjuna membuat Pram menggelengkan kepala.
"Tuan kok semakin kekanak-kanakan akhir-akhir ini. Heran jadinya" gumam hati Pram.
Melihat Arjuna begitu menikmati kue buatan Mecca, Richard tergiur ingin mencicipi. Namun hingga detik ini Arjuna nggak jua menawarinya. Alhasil dia hanya memandangi saja. Wajah cengo Richard menggelitik perut Arjuna, dia pun terkekeh.
"Kamu mau?."
Rasa gengsi yang tinggi membuat Richard menolak tawaran yang terlambat itu. Mecca terlalu fokus pada Arjuna hingga lupa menawari Richard kue itu.
"Enggak. Terimakasih." ujarnya.
"Aduh maaf Bang Richard, Mecca lupa sama Bang Richard" Mecca mengambil piring kecil yang dia bawa dan sendok kecil dari dalam keranjang"Mecca ambilin ya. Ini kue buatan Mecca sama Umma lho."
"Boleh deh."
"Hilih!! katanya nggak mau. Giliran Mecca yang nawarin kamu langsung mau. Kamu naksir Mecca ya?!" tanpa basa-basi, Arjuna langsung menodong Richard dengan dugaannya.
Terlihat salah tingkah"Heh, dia Adik kamu. Kita kan teman, nggak boleh naksir Adik teman."
Pram yang sedari tadi mengawasi mereka tertawa, hingga barisan giginya terlihat semua.
"Alasan tipis. Ingat ya Dek, kalau suatu saat dia nyatain cinta sama kamu jangan di terima. Ingat!! pacaran itu dosa!!."
Kesulitan menelan saliva, itulah yang sedang di rasakan Richard. Belum apa-apa Arjuna sudah mengajari Mecca untuk menolak cintanya.
"Tenang aja Bang" mengacungkan jempol ke arah Arjuna. Mecca meletakan sepiring kecil kue di hadapan Richard kemudian berkata lagi"Lagian nggak mungkin Bang Richard naksir Mecca. Pengusaha begini cocoknya sama wanita karir sukses, bukan bocah kayak Mecca. Iya kan Bang?" bertanya seraya menatap Richard.
"I....iya" sahutnya terpaksa.
Hahaha, Arjuna tersenyum puas. Secara nggak langsung dia sudah membangun benteng di antara Mecca dan Richard. Dia nggak mau Adik kecilnya itu menjalin hubungan sebelum waktunya, apalagi sampai terjerumus ke dalam hubungan yang di larang agama, seperti berpacaran contohnya.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.