
Potongan ayat terakhir dari surah Al-mulk menyudahi kegiatan yang kerap di lakukan Syailendra dan Fateena, usai melaksanakan sholat Isya. Mukena telah selesai di lipat rapi, peci putih telah di simpan kembali, pasangan ini di kejutkan dengan suara ketukan pintu yang di iringi panggilan Mecca.
"Tok!! tok!! tok!! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam" sahut mereka bersamaan.
Syailendra yang membuka pintu sementara Fateena memakai kembali kerudungnya.
"Main yuk!!" dasar bocah!! selalu saja kedatangannya membuat mereka terkejut.
Nyaris saja ujung kerudung Mecca menjadi sasaran Enda, teringat mereka sedang bersama Fateena maka kejahilan itu urung di lakukan. Tangan sang Abang mengambang di udara, tepat di depan wajah Mecca.
Mencibir"Cih!! coba aja siksa Mecca di depan Kak Fateena, Mecca yakin malam ini Abang harus tidur di kediaman Bang Arjuna."
Syailendra menurunkan tangan sembari menarik nafas berat, mencoba untuk bersabar menghadapi Mecca.
"Mau main apa?" segera memisahkan Mecca dan Syailendra, dua beradik ini pasti akan beradu mulut dalam waktu yang lama, kalau nggak segera di pisahkan.
"Maih monopoli, di halaman Nenek Adila. Malam ini Nenek Arabella menginap di sana, dengan Kakek Akhtar juga."
Sangat jarang para orang tua berkumpul bersama karena sibuknya pekerjaan, Enda mendahului Mecca dan Fateena. Di depan rumah dia mendapati kendaraan Kakek Abian di halaman rumah Arjuna, yang itu artinya perkataan Mecca benar adanya.
"Nggak percaya ya?!. Gitu banget sama Mecca!"
"Nge-cek doang. Kamu kan usil, tukang kibul juga!."
"Mas, kok begitu sama Adik sendiri."
Sungguh, wajah bahagia Mecca saat mendapat pembelaan dari Fateena sangat menyebalkan baginya.
Semua orang telah hadir di sana, termasuk Kakek Abian dan Kakek Akhtar. Para Nenek begitu senang melihat kedekatan pengantin baru, dan seperti biasa mereka akan melirik kepada Arjuna yang masih sendiri.
"Ini hanya masalah waktu!" Arjuna menegaskan.
"Berhentilah menatap Arjuna seperti itu Nenek-nenek yang cantik" di sela rasa kesal Arjuna masih mempertahankan perkataan manis pada mereka. Sontak Arabella dan Adila terkekeh.
__ADS_1
"Iya, maafkan kami. Kami sudah nggak sabar ingin melihatmu menggandeng wanita."
Mengusap kening saat Arabella berkata seperti itu, inilah mengapa Arjuna kerap merasa ragu untuk berkumpul bersama. pernikahan Syailendra kerap menjadikan dirinya bahan ledekan karena tak jua menyusul sang Abang.
Syailendra merasa kasihan akan nasib Arjuna, dia pun segera meminta mereka untuk berhenti meledeknya.
"Kapan mainnya, nanti keburu semakin malam" begitulah cara Syailendra menyudahi obrolan berat tentang pernikahan Arjuna nanti.
"Terimakasih Bang, setidaknya masih ada yang mau menolongku dari sangsi dua Nenek cantik ini" ujarnya berbisik.
Para Kakek yang berada di sisi mereka menahan senyum, kemudian menggelengkan kepala. Karpet untuk bermain monopoli pun di gelar, tepat di lantai kayu beranda kediaman Nenek Adila. Suara riuh rendah terdengar dari kediaman itu, Arjuna yang semula sempat kesal kini merasa senang bukan kepalang.
"Hei cucuku!! bermurah hatilah sediki pada Nenek tua ini?" Arabella mengharap kemurahan hati Arjuna agar mengalah darinya.
"Maaf Nenek, permainan ini seperti bisnis yang sedang keluarga kita jalani. Kalau ada kesempatan dan uang yang cukup, tentu aku harus memiliki negara yang indah ini. Meskipun Nenek sangat menginginkannya" terkekeh Arjuna menghitung lembaran uang monopoli di tangan. Arabella nggak bisa berkata apa-apa.
"Aish!! ayo Adila, kita kalahkan cucu durjana ini!!" suara tawa kembali terdengar melihat cucu dan Nenek yang sedang beradu permainan.
Saat sedang asik bermain, ponsel di saku Arjuna bergetar. Dia pun meminta Syailendra untuk menggantikan dirinya setelah membaca pesan dari Bae.
Detik itu juga Arjuna bergegas menuju kediaman Bae. Di sanalah tempat bekerja terbaik bagi Bae dan Arjuna, alih-alih di kantor. Untuk pekerjaan yang lebih mendalam Bae menjadikan kamarnya seperti markas.
Jurus licik seorang Randy memang berhasil membuat Arjuna kelabakan. Data software dalam game itu hanya di ketahui orang-orang tertentu, mereka pekerja inti yang menjadi rekan Arjuna dalam mengembangkan sebuah perangkat lunak menjadi game.
Melalui rekam jejak wireless Arjuna mencoba mencari tersangka pelaku yang sangat Arjuna yakini, ada di dalam perusahaan mereka. Beberapa orang di minta untuk menghadiri rapat online, namun ada satu orang yang nggak bisa di hubungi saat ini, dialah Roberto.
Bae dan Arjuna saling berpandangan, sepertinya dugaan mereka sama, Roberto pasti terlibat dalam kasus ini.
"Cari keberadaan Roberto" ujar Arjuna kepada Pram via telepon.
Begitu pandai Roberto bersembunyi, namun dia lupa bahwa bos muda itu bukanlah orang sembarangan. Di ketahui sebagai pendatang di negeri ini, juga hanya tinggal sendiri. Padahal Arjuna sudah lama tau bahwa Roberto memiliki Adik perempuan yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Dia memiliki Adik yang sedang di rawat di rumah sakit kota B" Arjuna berujar. Dia pun memberi tahukan di ruangan mana gadis bernama Maria itu di rawat. Dengan segera Pram menuju rumah sakit tersebut.
"Kamu bahkan tau nama gadis itu" ujar Bae, mengambil duduk setelah sebelumnya mengambil kopi kaleng di dalam kulkas mini.
__ADS_1
"Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku selalu waspada terhadap orang yang baru ku temui. Sejak awal Roberto bergabung di perusahaan, aku sudah banyak tau tentangnya.
Bae terbelalak, sedetail itu Arjuna mengetahui tentang Roberto.
"Apa dia orang berbahaya?."
"Sepertinya enggak. Buktinya selama ini kita aman berada di dekatnya. Aku juga nggak tau kenapa mereka berada di sini."
"Tapi sekarang dia berkhianat pada kita!, ini salahku, hanya karena bakatnya aku langsung mengajaknya bekerja di perusahaan kita" rasa sesal yang selalu datang belakangan, Bae menunduk dengan wajah penuh penyesalan.
"Ku pikir aku masih bisa memperbaikinya, tapi ini akan merubah hasil akhir dari game ini."
"Kamu yakin?."
"Insa Allah, aku akan mencoba sebanyak yang aku bisa. Tapi kemungkinan besar aku akan menginap di sini, satu atau dua hari. Atau kalau kita sedang apes bisa sampai satu minggu."
"Hupffhh!! aku akan bekerja lebih keras dari mu!!. Ini pekerjaan kita" Bae melepaskan jaket dan menyampirkan di kursi empuk, kursi yang kerap menjadi singgasana saat bermain game online.
"Sembari menunggu kabar dari Pram, bagaimana kalau kita bermain game dulu. Kita butuh goncangan sebelum berkutat dengan pekerjaan" sudah terlanjur terjadi, sejauh ini Bae hanya ingin menghajar para musuh di dalam game demi meluapkan kekesalannya.
Terkekeh"Dasar gila. Oke!! guild mana yang akan kita bantai kali ini."
"Yang lemah dong, biar puas menghajar mereka" ckckckck!! dasar Bae, emosinya sudah melambung tinggi. Kalau benar Roberto terlihat dalam kasus ini, dirinya berniat melayangkan bogem mentah di wajahnya, sekali saja!!.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1