Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Tersesat sang hati


__ADS_3

Awan putih menghiasi langit sore itu. Hembusan angin nan sejuk, membelai wajah-wajah pengunjung yang berada di dermaga. Usai melewati drama memasak yang berujung sebuah kegagalan, akhirnya Yasmine, Rania dan Hani datang ke dermaga tanpa membawa apa-apa. Ya, niat hati untuk membawa bekal sirna karena gas di kediamannya habis, sebelum menu masakan itu selesai di buat. Sayang sungguh sayang, Yasmine nggak bisa memasang gas, alhasil mereka pun gagal memasak.


"Tenang, Rania sudah minta uang sama Ayah" bocah ini masih terlihat basah rambutnya, sebab baru saja melaksanakan ritual mandi.


Beberapa lembar uang berwarna merah, bertengger di tangan mungil Rania. Gadis ini tersenyum puas, merasa senang nggak melupakan waktu untuk meminta uang pada sang Ayah. Seperti sebuah keharusan bertanda ke dermaga saat sang Kakak pulang, tentu waktu kebersamaan itu selalu di tunggu-tunggu. Kali ini, Rania ingin memakan apa saja yang dia mau, juga apa yang Kakaknya mau. Karena ada Hani bersama mereka, bocah ini pun nggak keberatan kalau harus mentraktir nya, walaupun uang jajan Hani selalu ada.


Melenggang bak anak bebek, Hani dan Rania bergandengan tangan menuju dermaga, dengan Yasmine yang mengekor di belakang. Kalau kemarin Yasmine menggenggam jemari mereka, kali ini Yasmine membiarkan mereka melenggang bebas, dia ingin tau akan seperti apa ekspresi Hani saat melihat keramaian di dermaga.


"Wahhh!! perahu hias!!" bukan jajanan beraneka raga yang membuat Hani menjerit, tapi perahu-perahu yang di hiasi dengan lampu berwarna-warni, yang menjuntai pada tali dan tiang di dalam perahu berukuran besar. Perahu tersebut juga di dekorasi dengan berbagai hiasan, seperti lampu lampion berwarna merah menyala. Tadi pagi hal ini luput dari pandangan, karena memang hanya sore menjelang malam hari para warga mengoperasikan perahu tersebut untuk menarik pengunjung.


"Susur sungai?" Di lanting dermaga, Hani terlihat antusias bertanya kepada salah tau pemilik perahu tersebut.


"Iya Neng, mau naik?" tanya pemilik perahu.


Jujur saja, Hani nggak bisa berenang. Sungai itu nggak terlalu bergelombang, tapi tetap saja itu sebuah sungai"Aku pasti akan tenggelam dan sulit di cari kalau jatuh ke dalam sungai ini" batin Hani, seraya menyapukan pandangan ke sepanjang sungai. Sungai yang sangat panjang, dengan lebar yang cukup besar juga.


"Enggak Pak" sahutnya tersenyum. Saat itu pandangannya bertemu dengan manik indah Yasmine. Gadis itu terlihat menggeleng samar, seraya menggenggam erat jemari Rania. Hemmm, Yasmine pun nggak pandai berenang. Apalagi dengan adanya Rania bersama mereka, bocah itu selalu tertarik untuk menaiki perahu, dia pasti akan sangat lincah kalau keinginan itu terwujud.


Usai naik dari lanting dermaga, Hani bertanya"Kok Kak Yasmine nggak mau naik perahu?. Katanya kita bisa menyusuri sungai nan panjang ini dengan menaiki perahu itu."


"Aku takut. Kerap ke sini namun nggak sekalipun kami pernah menaikinya."


"Kak Yasmine nggak bisa berenang juga?."


"Aku bisa berenang, tapi nggak begitu pandai" jelas Yasmine.


Memilih menikmati saja aktivitas pengunjung yang menaiki perahu di sugai, tiga gadis cantik itu duduk di tepi dermaga dengan beberapa jajanan.


Saat melihat kedatangan seorang pedagang Permen kapas, Rania langsung bersemangat kembali. Bocah ini sempat bersedih karena gagal menaiki perahu.

__ADS_1


Kedatangan sang penjual permen kapas bukan hanya menjadi perhatian Rania, pengunjung yang lain pun sama. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, namun ada juga para muda-mudi dengan pasangannya. Seperti namanya, permen kapas, penjual itu langsung di kerumuni para pengunjung, bagai semut yang mengerumuni gula.


"Yahh!! tinggal dua!" pekik Rania. Gadis ini langsung berlari menghampiri penjual permen kapas tersebut. Ini tempat yang sangat ramai, Yasmine langsung mengejar sang Adik yang masih kecil itu, takut menghilang di antara kerumunan pengunjung.


Beruntung, Rania masih sempat membeli satu dari dua permen kapas itu, sebab setelah sampai ada pengunjung lain yang akan membelinya.


"Wahh!! banyak sekali peminatnya" ujar Hani, mendapati permen kapas itu telah habis.


"Selain enak, bentuknya juga lucu" yang di miliki Rania berbentuk Doraemon. Senyum gadis kecil itu tak jua pudar, saking senangnya.


Sejujurnya permen kapas ini salah satu jajanan kesukaan Yasmine. Saat hendak meminta, Rania nggak mengizinkan. Dia bahkan nggak membukanya, karena sayang Doraemon nya itu di makan.


"Mau di simpan sampai kapan?.",


"Sampai lama" sahut Rania. Kalau urusan permen kapas, sifat bocahnya langsung keluar. Kesukaan terhadap Yasmine pun sedikit tersingkirkan karena permen kapas.


Tersenyum masam"Iya deh. Rania simpan aja sampai kempes. Nanti kalau mau di makan Kak Yasmine sudah boleh minta?."


Dasar bocah. Ocehannya membuat Hani terkekeh. Dia melihat ada pedagang permen kapas yang lain, namun berada di ujung dermaga. Dia pun mengajak Yasmine untuk membelinya ke sana, tapi Yasmine menolak. Baginya nggak apa-apa gagal mencicipi permen kapas, asalakan Rania senang itu sudah cukup.


Membeli jajan yang lain, mereka kembali menikmati suasana nyaman itu seraya berceloteh ringan.


"Sudah jam lima. Ayo kita pulang" ucap Yasmine seraya melirik jam di ponselnya.


"Ayo" sahut Rania dan Hani.


Baru beranjak dari duduknya, Yasmine di kejutkan dengan kehadiran sang penjual permen kapas"Permisi neng, ini permen kapas punya eneng."


"Bukannya sudah habis pak?."

__ADS_1


"Iya memang sudah habis. Tapi ada satu yang spesial ini buat eneng." Tersenyum ramah. Spesial??. Yasmine mengedarkan pandangan pada sekitar, dia yakin nggak ada orang terdekatnya di antara para pengunjung.


"Ambil saja Neng. Ini spesial untuk eneng." Permen kapas berbentuk hati, kini berpindah ke tangan Yasmine.


"Apa ini dari seseorang?."


Tanya itu di angguki penjual permen kapas.


"Siapa? mana orangnya?."


"Sudah pergi neng."


"Apakah orang itu Yahya?." Dia sedang ada tugas bersama teman kuliahnya, hingga pada kepulangan kali ini mereka belum jua bertemu.


"Terima saja neng. Yang ngasih baik kok. Dari penampilan juga oke" jempol si penjual permen kapas mengacung kepadanya.


"Jangan menilai seseorang dari penampilan saja, Pak" ucap Yasmine tegas. Sang penjual permen kapas hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yasmine.


Akhirnya, permen kapas itu pun di terima. Betapa senang hati Rania, sebab sang Kakak pun memiliki permen kapas itu"Yeyyy!! kita sama Kak!" berseru riang.


Menyeberangi jalan dengan hati-hati, ketiga perempuan itu kembali menyusuri tepi jalan menuju pulang. Sedikit berjarak dari mereka, seorang pemuda pun mengekor langkah, hanya untuk memastikan mereka pulang dalam keadaan selamat. Akh! bukan mereka!. Lebih tepatnya pemuda ini ingin memastikan Yasmine sampai ke rumah dengan selamat.


Hingga di depan gang, pemuda itu menghentikan langkah"Aku nggak menyangka, akan berbuat hal seperti ini hanya demi menjagamu dalam diam." Bergumam seraya berbalik arah, rasanya sungguh lega setelah memastikan gadis itu sampai di rumahnya.


"Duhai hati, ini salah dan kita menyadarinya. Tapi kenapa kita masih melakukannya?. Dia seorang wanita yang telah terikat dengan lelaki lain!!" menyesali perasaan cinta, dan saat ini perasaan itu terasa menyesatkan, namun nggak mampu dia tolak.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2