Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Mengunjungi Tuan muda Bae


__ADS_3

Pagi yang cerah di hari libur, Syailendra bersama Mecca bertandang ke kediaman keluarga Bae. Saat bernda di tanah suci Umma teringat dengan Bae, dia pun berinisiatif untuk memberikan buah tangan untuknya.


Bukan hanya Bae, keluarga Bae pun mendapatkan hadiah. Beberapa botol air Zamzam, kacang khas Arab, camilannya juga pewarna kuku berbau khas timur tengah. Tak lupa beberapa parfum dan serbuk serutan pohon kurma yang di campur dengan minyak zaitun. Oma Bae sangat menyukai aroma-aroma wangi, dia pernah berkunjung ke kediaman Zafirah dan berkata merasa tenang ketika mencium aroma bukhur yang sedang menyala saat itu.


Kue buatan Umma, tak lupa cemilan yang satu itu juga mereka bawakan. Nyonya Ghina begitu senang atas hadiah yang mereka bawa. Oma Sook apalagi, seperti dugaan Zafirah dia begitu antusias mengetahui ada oleh-oleh langsung dari Arab.


"Umma titip salam, beliau minta maaf nggak bisa memberikan hadiah ini secara langsung. Umma sedang ada pekerjaan bersama Abi di cafe."


"Wahh terimakasih sekali" ujar Tuan Joen, saat mereka datang dia sedang beristirahat di gazebo usai lari pagi. Awalnya Nyonya Ghina mengajak Syailendra dan Mecca untuk masuk ke ruang keluarga tapi udara di taman itu rasanya nyaman sekali.


"Iya nggak apa-apa, sampaikan terimakasih kami sama Umma kalian ya. Sambil menunggu Bae, ayo masuk ke ruang keluarga."


"Di sini saja tante" hampir bersamaan Mecca dan Enda menyahut.


"Oh ya sudah kalau mau di sini. Tante ambil minum dulu ya" ucapan Nyonya Ghina di angguki Mecca dan Enda.


Tuan Joen terkagum saat membuka kotak berisi bermacam kacang dan cemilan. Tanpa ragu Papah dari sahabat mereka ini menikmati oleh-oleh yang mereka bawa.


"Wah renyah, gurih juga" Joen berkomentar.


"Om suka? sudah pernah makan sebelumnya?." Mecca penasaran, mengingat keluarga Bae keturunan Korea.


"Hemmm, belum. Baru kali ini, dan rasanya enak sekali."


"Kalau ini Om sudah pernah makan?." Mecca menunjuk kotak berisi kurma.


"Ini sudah pernah. Kalau bulan ramadhan Om suka mampir ke pasar ramadhan buat beli buah ini" terkekeh, senyum Joen persis seperti senyuman Bae.


"Oh suka kurma ternyata. Cobain deh yang ini. Mungkin Om belum pernah coba."


Segera Joen mencoba kurma dengan warna coklat tua kehitaman itu"Agak hitam ya."


"Hitam yang paling manis Om" celetuk Syailendra. Dia jadi penasaran bagaimana reaksi Joen setelah merasakan kurma itu.


Manis dan lembut. Jauh lebih enak dari yang pernah dia rasakan. Langsung menguyah sebiji kurma di tangan, nggak bisa berkata-kata lagi Joen hanya mengacungkan dua jempol pada mereka berdua.


"Gimana Om" Mecca tersenyum, dia yakin Joen menyukai kurma tersebut hanya dari raut wajahnya saja.


Mengambil sekotak di hadapan dia"Yang ini punya Papah" memeluknya erat seperti takut akan di ambil sang istri.

__ADS_1


Baru meletakan nampan berisi air soda kalengan, Joen pamit undur diri karena Ghina hendak memegangi sekotak kurma itu. Di tepi taman dia berpapasan dengan Bae, tadinya Bae lari pagi bersamanya. Tapi karena kedatangan Mecca dia bergegas pamit untuk mandi.


"Apa itu Pah?."


"Bukan apa-apa" sahut Joen mempercepat langkah.


Tingkah Joen membuat alis Bae menyerngit"Apa sih yang di bawa Papah?."


"Apa itu namanya" Nyonya Ghina bertanya pada Mecca.


"Kurma ajwa tante" sahutnya tersenyum.


Buset!! Mecca senyum saja membuat Bae mesem-mesem. Tingkahnya membuat sang Mamah menerka, bahwa putranya menyukai gadis di hadapannya ini. Usai berbicara sejenak Nyonya Ghina undur diri, ada hal lain yang harus dia kerjakan.


"Cieee habis dari Mekkah kan. Sama dong kayak nama kamu" baru juga mengambil duduk di dekat Mecca, Syailendra menyeruak di antara mereka dan duduk di sana.


Ekor mata Bae melirik Syailendra.


Nggak mau kalah, Syailendra membalas lirikan penuh makna itu.


"Duduk doang, nggak bakal pegang-pegang kok."


Mulut mengerucut, Bae mundur menjaga jarak dari Mecca. Sementara Mecca masih saja tersenyum melihat tingkahnya.


"Eh kan kalian dari tanah suci. kalau begitu kalian di panggil Bapak haji sama Ibu haji, iya kan?." Pertanyaan model apa ini? Mecca dan Syailendra langsung tertawa.


"Kata siapa? itu hanya gelar."


Jawaban Enda di angguki Bae"Kirain harus memanggil kalian dengan gelar itu."


"Enggak lah Bang" kini giliran Mecca yang menjawab.


Grogi saat pandangan mereka bertemu sekilas, Bae mengalihkan rasa itu dengan menanyakan apa saja yang mereka bawa. Saat itu Enda mendapat panggilan telepon, dia bergeser sedikit dan bicara dengan orang yang menelponnya itu.


"Ini apa?" kembali pada Bae yang terlihat polos, nggak tau apa saja yang mereka bawa.


Mencium serbuk berwarna hijau pekat itu"Ini teh? di seduh?. Pakai es enak kali ya."


Tawa kecil Mecca nggak kunjung reda, dia baru tau kalau sedang penasaran wajah Bae lucu sekali.

__ADS_1


"Bukan Bang. Itu di pakai di tangan. Nggak di minum."


"Oh, pacar ini?."


"Iya" sahut Mecca lagi.


"Pacar buat aku?. Tau aja kalau Abang lagi nggak punya pacar!" Eh! apa ini? Bae menyinggung perihal pasangan di depan Mecca. Namun sayang, niat ingin lebih dekat langsung di sambar Syailendra.


"Iya itu pacar. Biasanya cowok memakai itu pas mau di sunat."


Bicara tentang sunat, spontan Bae mengapit kedua kaki. Akh!! orbolan apa ini? Mecca jadi nggak enak sendiri.


"Ngomongin yang lain deh. Masih banyak yang bisa di obrolin, selain sunat-sunatan!."


"Tau nih, kan jadi ngilu rasanya" Bae menimpali.


Syailendra mencibir saja, dia masih fokus pada sang gawai. Bae kembali bertanya tentang pewarna kuku itu, yaaa sekalian pedekate. Di sini Mecca mengatakan bahwa itu sebenarnya untuk Nyonya Ghina, Mamah Bae. Atau untuk Oma Sook.


"Katanya buat aku."


"Abang nggak boleh memakainya kecuali darurat, atau kalau mau sunatan seperti kata Abang tadi" menahan tawa, telapak tangannya menutup bibir yang tertawa itu.


"Ah, untuk Abang juga bisa memakainya kalau ingin menikah, seperti Abang Enda dan Bang Arjuna kemarin." Alisnya turun dan naik saat bicara ini, Bae jadi gemas ingin mengusap kening Mecca. Tapi hal ini jelas nggak bisa dia lakukan. Meski fokus pada panggilan di telepon, Syailendra tentu terus mengawasi interaksi mereka. Lagipula, Bae sangat paham bahwa setiap wanita di dalam kepercayaan keluarga Mecca nggak bisa di sentuh oleh lelaki lain selain mahramnya.


"Nanti kalau Abang berjodoh dengan mu, Abang mau memakainya.


Senyuman itu perlahan pudar, berganti tatapan sendu hanya sekilas"Dinding kita terlalu tinggi Bang."


"Abang jago memanjat lho!."


Menggeleng"Ini bukan hanya sebatas dinding biasa. Ini urusan dengan sang maha pencipta."


Maha pencipta, hal satu ini telah lama menjadi tanda tanya besar dalam benak Bae. Telah lama mengenal keluarga Mecca, tentu Bae sangat tau betapa baiknya keyakinan yang mereka pegang itu. Lagi dan lagi perang batin terjadi dalam diri lelaki ini.


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2