
Keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik, sungguh sangat bergejolak di dalam diri Salwa. Selain kerap mendengar ceramah agama melalui YouTube, Salwa pun kerap mengikuti kegiatan keagamaan secara online, dengan bimbingan ustadzah yang berpengalaman.
Hingga, suatu hari Salwa melihat lagi spanduk di mushola komplek perumahan mereka. Bahwa kembali akan di adakan kajian bersama ustadz viral itu. Dirinya sangat ingin hadir, mendengar secara langsung nasihat-nasihat yang akan di sampaikan pemuka agama itu. Namun....
"Buat apa?? hanya buang-buang waktu Salwa. Dan kamu pasti di haruskan berkerudung kan kalau ke sana?."
Salwa hanya diam, lagi-lagi rasanya menyesal mengutarakan niat hatinya kepada Randy.
"Terus terang Salwa, aku nggak suka kamu memakai kerudung! seperti nenek-nenek!!."
"Mas, kerudung itu kewajiban seorang wanita."
"Lihatlah! kerap mendengar ceramah di YouTube saja kamu sudah berani menceramahi suamimu!. Bagaimana kalau kamu hadir secara langsung mendengarkan ceramah itu? kamu akan menghakimi ku yang nggak sholat ini?!."
Hati yang tengah di tata itu kembali hancur. Bukan Imam yang seperti ini yang Salwa mau. Namun...membenci orang yang telah menikah dengan mu adalah sebuah kejahatan, dan Salwa sangat tahu akan hal itu. Sebisa mungkin dia memupuk rasa cinta terhadap Randy setiap hari, namun sikap Randy justru mengikis rasa cinta untuknya di hati Salwa.
"Aku akan mencabut jaringan internet di rumah ini, kalau kamu memaksa ingin hadir di acara itu."
Akh! lagi-lagi sebuah ancaman. Teringat kembali tentang dirinya yang hampir nggak punya kawan. keseharian wanita ini banyak di habiskan di rumah. Dulu dia adalah wanita yang mempunyai banyak teman, kerap mengikuti kegiatan kumpul-kumpul bersama sahabat untuk sekedar berbagi cerita, atau makan-makan di luaran. Sejak menikah, satu persatu teman Salwa menjauh, sebab Randy yang selalu berprasangka buruk dan meminta mereka untuk nggak mengajak Salwa berlama-lama menghabiskan waktu bersama mereka.
Salwa mengatur deru napas, hatinya mulai memanas"Sabar...sabar Salwa. Kamu nggak harus melawan kekerasan dengan kekerasan," bisik sang hati.
"Baiklah Mas," ucapnya akhirnya.
"Sekarang kamu mau kemana?," Randy memandang Salwa dengan ekor matanya, saat wanita itu hendak berlalu dari hadapannya.
"Ke kamar Mas" sahut Salwa pelan.
"Aku punya hadiah untukmu. Ada di dalam tas kerjaku tadi. Ambilah dan bawa kemari."
Tanpa bicara, Salwa menuju ruang kerja Randy, mencari hadiah yang di katakan Randy dan membawanya ke hadapan pria itu.
Masih dalam kotak kado dengan pita berwarna merah"Apa ini Mas?."
"Bukalah," ujarnya memberi isyarat agar Salwa duduk bersamanya di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Saat Salwa hendak duduk, Randy menarik tubuh Salwa ke dalam pangkuan"Bukalah Sayang."
Setelah di buka, kedua bola mata Salwa membulat. Tiga pasang baju tidur berbahan tipis. Salwa yakin, saat memakainya tubuhnya seperti air yang akan tumpah, berhamburan kemana-mana.
"Pakailah baju ini saat di rumah."
Glek! Salwa menelan air liur"Di dalam rumah apa di dalam kamar Mas?."
"Di rumah ini."
"Mak---- maksud mas??."
"Pakailah pakaian ini dalam keseharianmu. Di dalam rumah atau di luar rumah. Menyiram bunga atau membeli sayuran, Sayang," sebuah belaian lembut mulai bergerilya menyusuri lekuk tubuh Salwa.
"Mas!! ini nggak berbeda dengan lingeri!. Aku akan memakainya saat hendak tidur saja."
"Ck! kamu ingin membangkang lagi?."
Salwa menatap Randy, memelas"Mas!! demi Allah aku malu kalau memakai pakaian ini keluar rumah.
"Sesuatu yang bagus tidak harus selalu di perlihatkan, Mas. Apalagi pada orang banyak! cukup kamu saja yang melihatnya Mas," suara wanita itu mereda di ujung kalimat. Suaminya memang selalu tergoda dengan kemolekan tubuhnya, tapi entah kenapa Randy merasa bangga kalau hak nya itu di perlihatkan pada orang lain. Dia merasa senang kalau ada pria lain yang berdecak kagum memandang istrinya.
"Salwa...kamu seharusnya bersyukur. Aku sangat menyukai tubuhmu. Aku sangat menggilai dirimu. Ayolah sayang, kamu pakailah baju ini ya."
"Aku senang dengan warna merah, dan warna ini akan sangat indah di tubuh mu yang berkulit kuning langsat itu."
Menggenggam erat hadiah dari Randy, Salwa mencoba mencari cara supaya Randy nggak memaksakan kehendak lagi padanya"Mas, aku akan melayanimu hingga puas malam ini, dengan memakai pakaian ini. Tapi aku nggak akan sudi memakai pakaian ini di luar kamar mas."
Sudut bibir Randy terangkat naik, teringat kemarin dia gagal bermain panas karena Salwa masih kedatangan tamu. Mendapat tawaran bercinta, ucapan Salwa membuat hasrat kembali bergejolak"Hemm, baiklah. Tapi, kamu harus mengimbangi permainanku dengan baik. Oke manis?."
Yah, tidak mengapa kalau dia di hajar habis-habisan malam ini, demi menggagalkan permintaan gila suaminya itu. Memakai pakaian sangat minim dan tipis keluar rumah?? Randy sungguh sangat gila!! di saat lelaki di luaran sana sangat menjaga aurat pasangannya, menjaganya dan menutupinya dengan rapat, sedangkan Randy ingin memamerkan keindahan tubuh istrinya pada khalayak ramai. Kalau bukan gila, harus di sebut apa manusia seperti Randy ini??.
Malam itu, Salwa melewatkan sholat malamnya, hingga subuh menjelang wanita itu merasa amat sangat lelah. Sungguh, rasanya nggak sanggup lagi mengimbangi nafsu sang suami. Namun, mengingat betapa baik dan perhatian Randy terhadap keluarganya, Salwa memilih untuk terus bertahan.
Ibunya melahirkan empat orang anak, kakak pertama dan Adik nya meninggal dalam kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Menyisakan dirinya dan seorang adik bungsu bernama Hanif. Si bungsu itu masih berkuliah, dan tentu saja orang tuanya sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolahnya. Sedangkan Ayahnya hanya seorang pemilik kebun sawit berukuran kecil, dan Ibunya wanita rumah tangga saja. Sesekali saat ada hajatan, Ibunya mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci piring. Yah, perekonomian keluarganya kurang baik, dan kehadiran Randy memang sebuah keberuntungan bagi Ayah dan Ibunya, juga adiknya. Sebab, segala keperluan keluarganya di kampung di tanggung penuh oleh Randy, termasuk biaya kuliah Hanif.
__ADS_1
Pada awalnya, Randy seorang pria yang baik dan lembut terhadap Salwa. Setelah berpacaran selama empat bulan, Randy memutuskan untuk melamar Salwa. Sebuah pernikahan, dengan pria baik dan lembut seperti Randy, tentu Salwa tidak akan menolak. Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, Randy menampakkan sifat aslinya. Ternyata pria itu sangat menyukai kecantikan wanita, keindahan tubuh wanita, dan salah satu alasan dirinya melarang Salwa mengandung hanya karena tak ingin sang istri menjadi gendut setelah melahirkan. Lagipula, Randy memang tak menyukai anak kecil, baginya anak kecil hanya memancing emosi dengan sikap manjanya, anak kecil hanya akan membuat repot dirinya.
Malam itu Salwa baru menanggalkan mukena usai melaksanakan sholat Isya, Randy datang mengejutkan dirinya"Salwa!."
"Astaghfirullah, alangkah baiknya kalau Mas datang dengan mengucapkan salam."
Randy memutar bola mata, jengah"Ck! suami baru pulang kamu malah mengomel."
"Bukan mengomel Mas," ujar Salwa menarik tangan Randy, mencium punggung tangan pria itu.
"Oke oke! lain kali aku akan mengucap salam kalau pulang," perkataan Randy membuat Salwa tersenyum, namun sedetik kemudian senyuman itu pun pudar.
"Kau sudah minum pil KB nya?, jangan sampai lupa. Aku belum siap kalau kita memiliki anak."
"Kenapa Mas? toh aku yang mengandung, aku juga yang akan mengurus anak kita."
Duduk di lantai dengan bersandar di tepi ranjang, Randy lebih mendekati Salwa yang masih duduk di atas sajadah"Aku belum mau melihat kau gendut."
"Aku akan menjaga berat badan, Mas."
"Ck! Salwa, aku sudah lelah dengan pekerjaan di kantor, aku nggak ingin berdebat dengan mu Sekarang."
Lagi dan lagi, Salwa menahan kelopak mata untuk nggak berkedip, sebab air mata akan luruh kalau dia berkedip saat itu. Hidupnya memang serba berkecukupan, namun dirinya bagai burung di dalam sangkar emas, nggak ada kebebasan yang dia rasakan dalam rumah tangga ini. Bahkan...untuk memiliki anak sekali pun.
Randy menatap wajah sendu Salwa"Sayang, beri aku waktu. Aku juga ingin memiliki anak, tapi enggak sekarang."
Andai saja suara lembut ini setiap hari dia dengar dari Randy, mungkin hatinya ngga kan seperti pohon dengan bekas tancapan paku berkali-kali.
"Iya Mas, aku akan menuruti keinginan Mas."
"Terimakasih sudah mau mengerti, Sayang" Randy menarik tubuh Salwa, memeluknya dengan erat. Rasa cintanya teramat besar kepada Salwa, wanita sabar, cantik dan bertubuh indah.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1
Salam anak Borneo.