Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Arjuna vs Randy


__ADS_3

Lelaki pekerja keras dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Tuntutan untuk memenuhi segala kebutuhan dalam hidup, juga sekolah putra dan putrinya, Anton bekerja tanpa mengenal lelah. Tiba saat Randy datang menawarkan diri untuk membiayai sekolah Hanif, tubuh tua renta itu ingin beristirahat sejenak. Maka tawaran itu pun di terima, toh Randy adalah anak menantunya. Tanpa di ketahui Anton sang putri banyak menanggung beban derita di balik royalnya seorang Randy terhadap mereka.


Kepulangan Salwa dengan status bukan lagi wanita idalam Randy, di tambah terkuaknya derita yang selama ini di tanggung sang putri, sungguh hati Anton merasa sangat tersakiti. Penyesalan itu datang menghantui, andai dirinya nggak terlena dengan uang yang selalu Randy berikan untuk biaya sekolah Hanif....akh! sesal memang selalu datang di akhir cerita.


Sempat di rawat setelah kedatangan Randy bersama Mia, saat di rumah sakit Anton di nyatakan menderita penyakit jantung. Sakit di hari itu bukanlah yang pertama, Anton sering menahannya dalam dia saja. Dan setelah mengetahui penyakit yang dia derita, Anton nggak mengizinkan Nur untuk mengatakan hal itu kepada Salwa dan Hanif.


Sekuat apa pun tubuh tua itu bertahan, kini Anton kembali di rawat di rumah sakit. Keadaannya lebih mengkhawatirkan dari yang sebelumnya, wajahnya pucat dan nampak nggak berdaya.


Salwa duduk di tepi ranjang pesakitan sang Ayah, beradu pandang dengan cinta pertamanya itu. Tak banyak yang dapat Anton katakan, sebab Salwa sudah tau dirinya menyembunyikan penyakit yang di deritanya.


"Kenapa Yah?."


"Maaf" sangat pelan, suara Anton hampir tak terdengar.


Mengalihkan pandangan pada sang Ibu, Nur nampak sangat bersedih"Ayah sama Ibu yakin Ayah pasti akan sembuh dengan rutin meminum obat."


"Tapi sekarang Ayah kembali ke rumah sakit" lirih Salwa.


"Kalau Ibu bilang bahwa Ayah sakit, setidaknya kita bisa berusaha bersama untuk mencari jalan yang terbaik, untuk kesembuhan Ayah!!."


"Hanif, jangan terlalu keras, bukan hanya kita di ruangan ini" tegur Salwa pada Hanif.


Mengacak rambutnya, Hanif nampak sangat frustasi. Di saat dirinya leluasa menggunkan uang dari Ayah dan Ibu, ada Ayah yang sedang melawan penyakit di tubuhnya. Semangat belajar pemuda ini runtuh, saat itu juga dirinya ingin mencari pekerjaan dan membiayai sang Ayah berobat.


Salwa menarik Hanif keluar dari ruangan. Dua beradik ini bicara dari hati ke hati di saung dekat ruangan Ayah di rawat. Sedangkan Nur mendekati Anton, mengusap kepalanya dengan lembut"Lihat Ayah, anak-anak kita sangat sayang kepadamu. Kamu harus kuat, kamu harus sembuh."


Anton mengangguk samar.


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Anton di rawat di ruangan kelas tiga, bukan ruangan VVIP lagi. Bukan Hanif melupakan pesan Arjuna agar mengabarinya kalau terjadi hal seperti ini, dirinya lebih tau diri bahwa Arjuna belum menjadi Abang ipar nya. Dirinya nggak mau termakan banyak budi terhadap Arjuna, sama seperti mereka dahulu yang banyak mendapat bantuan dari Randy. Memang sangat jelas kalau Randy dan Arjuna dua orang dengan watak yang sangat berbeda, tetap saja Hanif nggak ingin berurusan dengan hutang budi lagi.


"Salwa" panggilan seseorang, membuat Salwa mengangkat pandangan dari rumput hijau di bawah saung. Begitu pula dengan Hanif, dia juga mengalihkan pandangan kepada orang yang memanggil sang Kakak.

__ADS_1


Randy, lelaki ini datang. Nampak dasi yang dia kenakan berantakan, sepertinya dia tergesa-gesa berangkat menuju rumah sakit.


"Bang Randy, ada urusan apa ke sini?" langsung menarik Salwa agar berpindah ke belakangnya, Hanif tau alasan Randy pasti karena Ayah mereka. Akh!! entah ini karena Ayah atau karena Salwa, yang jelas Hanif merasa sang Kakak harus di jaga dari jangkauan mantan suaminya ini.


"Bagaimana keadaan Ayah?" melangkah maju, dan Hanif perlahan menggenggam tangan Salwa di balik badan.


"Ayah sudah di periksa, kami bisa menangani masalah ini sendiri." Begitu lugas, Hanif nggak mau terlihat lemah di depan Randy. Mereka bukan lagi keluarga yang dengan bodoh menerima kebaikan Randy yang perlahan meminta imbalan. Bagi Hanif, meskipun galak Salwa adalah Kakak tersayang yang harus selalu di lindungi.


Melihat papan nama yang terbentang di atas ruangan Ayah di rawat"Abang akan mengurus kepindahan Ayah ke ruangan VIP. Nggak seharusnya Ayah di rawat sekamar dengan orang lain, bagaimana dia akan beristirahat." Segera berbalik tanpa menunggu tanggapan Randy dan Salwa, langkah Randy tertahan oleh kehadiran Arjuna.


Sudah lama Salwa dan Arjuna nggak bertemu secara langsung, biasanya hanya Pram yang hadir dengan berbagai penyamaran uniknya.


Kilatan cahaya petir seolah tercipta saat dua lelaki ini saling pandang, hal ini membuat Salwa dan Hanif ketar-ketir. Setelah mengetahui bahwa Arjuna adalah lelaki yang hendak meminang Salwa, ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali. Memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, Randy berjalan dengan sangat percaya diri ke hadapan Arjuna.


"Tuan Arjuna, pagi sekali anda ke rumah sakit. Apa ada sanak saudara yang sedang sakit? bahkan gerimis sedang turun pagi ini" menepis sisa rintik hujan yang membasahi pundak Arjuna.


Tak gentar akan tindakan Randy, Arjuna menarik kerah kemeja Randy dan membetulkan dasi yang nampak berantakan itu"Tuan Randy yang super sibuk, seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada anda." Randy sedikit terhuyung, Arjuna membenarkan letak dasi Randy dengan sangat kuat, seperti hendak mencekik lehernya.


Hanif berjaga, takut dua lelaki tinggi tegap itu membuat onar di tempat ini. Sementara Pram masih merekam kejadian itu dari jarak jauh.


Dengan mudah Arjuna melepaskan cengkeramannya"Aku hanya membenarkan dasi anda. Anda terlihat sangat tergesa-gesa kemari, seperti ada hal yang sangat penting saja."


"Ini masalah Ayah Anton, tentu sangat penting bagiku!!."


"Ayah?? kamu memanggil Ayah padanya?. Hei, sadarkan dirimu Randy!! kamu bukan lagi menantu dalam keluarga Pak Anton!!" bahasa formal itu tanggal begitu saja, karena rasa kesal yang melonjak naik. Mereka sudah nggak ada hubungan lagi, namun Randy bersikap seolah mereka keluarga yang paling harmonis. Hais!!


"Hanif, suruh mereka untuk diam. Jangan membuat kegaduhan" Salwa berbisik pelan.


"Bang..." wajah memelas Hanif, menyadarkan Arjuna agar nggak membuat keributan.


Meninggalkan Randy yang menatap tajam kepadanya, Arjuna berjalan ke arah Hanif yang masih melindungi Salwa di balik tubuhnya.

__ADS_1


"Abang yang akan mengurus pemindahan ruangan Ayah kalian."


"Arjuna!! aku yang akan melakukan hal itu!!." Hardik Randy. Salwa hendak menolak, namun suaranya tenggelam oleh suara berat Randy.


"Dengan status apa? mantan menantu?."


"Aku akan kembali menjadi menantu Ayah Anton!!. Jadi pergilah dari sini!." Beginilah Randy, selalu memutuskan tanpa bertanya kepada yang bersangkutan. Lelah harus meladeni Randy yang keras kepala itu, Salwa hanya menyandarkan kepala di balik punggung hanif, rasanya sangat lelah sekali.


"Lantas bagaimana dengan istri baru mu?."


"Itu bukan urusanmu!!. Dia peliharaan ku, kamu nggak perlu repot mengurusinya!!."


Seringai tawa terbit di wajah Arjuna, dia terkekeh dan kembali ke hadapan Randy"Sudah cukup mengoceh?. Bangunlah dari mimpimu yang ingin kembali memiliki Salwa. Kalau istrimu saja kamu anggap peliharaan, bagaimana dengan mantan istri??."


"Dari awal Salwa adalah milikku!!. Maka dia akan tetap menjadi milikku!!" menggeram, Randy masih belum sadar menjadi pemeran utama dalam video yang sedang di rekam Pram.


Lekas Arjuna menyanggah"Kamu salah!!. Dari awal dia milikku. Aku sudah pernah memberikan kesempatan untukmu membahagiakan dirinya, tapi kesempatan itu justru kamu gunakan untuk menyiksa batinnya. Kalau nggak mau masalah mu bertambah, pergi dari sini sekarang juga atau fotomu akan menghiasi majalah gosip minggu ini??!."


Pram yang sedari tadi berjalan mendekat, kini menyoroti wajah Randy dengan memperbesar bidikan kameranya.


"Kamu!!!."


"Pergi!! atau rekaman ini akan membuat kamu di liputi masalah. Ingat, kamu menganggap istrimu hanya sebagai peliharaan, kamu yakin wanita-wanita di luar sana akan diam saja mendengar hal itu?." Arjuna tersenyum manis, Randy merasa kalah telak kali ini. Dia begitu bahagia usai menariknya masuk ke dalam jebakan!!.


Seperti biasa, saat emosi itu melonjak namun dirinya harus menerima kekalahan, Randy menunjuk-nunjuk Arjuna dengan penuh amarah.


"Awas kamu!!!."


Memutar bola mata jengah, seperti itulah tanggapan Arjuna akan ancaman Randy. Dia bahkan tersenyum melihat Randy pergi dari situ.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2