
Seiring berjalannya waktu, segala informasi tentang Salwa telah di kantongi. Tentang siapa gadis itu, tentang siapa calon suaminya. Ketika rasa tidak rela menggerogoti ketulusan hati untuk merelakan, di saat itulah akal sehat terkuras dari dasar jiwa. Bukan ingin memiliki, hanya sekedar ingin tau, hingga mengutus seseorang untuk selalu mengawasi Salwa, itulah yang di lakukan pemuda ini.
"Besok dia akan menikah." Ujar sang mata-mata.
"Dengan pria bernama Randy itu?."
"Ya Tuan."
Mengangguk, alih-alih memberikan perintah lagi. Sikap Tuan nya ini menimbulkan tanya dalam benak sang mata-mata. Menurutnya, saat seorang pria mengetahui wanita yang di sukainya akan menikah, dengan pria lain, seharusnya dia marah. Namun pemuda yang satu ini hanya diam, memandangi foto sang gadis yang sedang sibuk bersama bunga-bunga di hadapannya.
"Lantas, apa saya harus melakukan sesuatu terhadap calon suaminya?."
Menggeleng, hanya itu jawaban yang dia berikan.
"Apa tugas saya selanjutnya?."
"Tetap awasi dia dari jauh."
Baiklah. Sang mata-mata tak lagi melempar tanya. Sudah banyak waktu dia habiskan bersama sang Tuan, dan sikap seperti ini bukanlah hal baru baginya.
"Baiklah, saya permisi Tuan."
"Sebentar, apa kamu lapar?."
Seraya memegangi perut"Sejujurnya, iya." Tertawa cengengesan.
"Siapkan bahannya, kita masak sama-sama."
Akh! dia pikir majikan ini akan menyediakan makanan siap saji untuknya. Ternyata mereka masih harus memasak. Melirik sang mata-mata yang tak jua bergerak"Hei!!."
"Ah, oke Tuan." Gegas sang mata-mata melaksanakan tugas yang di berikan.
__ADS_1
...****************...
Hari berikutnya di pondok pesantren...
Petang telah datang, para santri putra melantunkan ayat suci Al-Quran seraya menunggu waktu Maghrib tiba. Yasmine baru selesai mandi saat itu, gadis ini duduk di tepi ranjang seraya menyisir rambut yang setengah basah.
"Kak Yasmine, Santriwati yang baru masuk kemarin menangis di halaman rumah Kyai Bahi." Sebuah laporan terdengar dari muara pintu.
"Aku baru selesai mandi. Boleh minta tolong kak Nada dulu?."
"Ini yang meminta saya ngasih tau kak Yasmine itu kak Nada."
Inilah salah satu tugas seorang keamanan. Bukan hanya menjaga para santriwati agar nggak jelalatan matanya saat melihat santriputra, bila ada santriwati baru yang rindu rumah seperti sekarang ini, Yasmine pun kebagian tugas.
Mengikat rambut asal, Yasmine mengambil kerudung bergo jumbo di atas ranjang. Beruntung gadis ini sudah memakai pakaian, jadi bisa lebih cepat menjalankan tugasnya.
Nada terlihat melengos, emosinya mencuat karena Santriwati baru itu terus meronta, minta di pulangkan. Dua Ustadzah yang semula menanganinya sedang ada tugas lain, hingga tugas ini di serahkan kepada para keamanan.
Raut wajah cantik namun terlihat tegas. Banyak yang mengira Yasmine akan memarahi Santriwati baru itu. Namun apa yang terjadi, setelah memberikan nasihat dan mendapat penolakan, Yasmine masih bersikap lembut padanya.
"Kakak tau kamu pasti rindu rumah. Kakak juga tau kamu pasti nggak terbiasa tinggal di asrama, sebab semuanya serba di atur dan harus tepat waktu."
"Orang tuaku pasti sengaja membuang ku ke sini!. Hanya karena aku sedikit nakal, mereka tega membuang ku ke tempat penuh aturan ini!" isak tangis masih terdengar.
Meraih jemari Yasmine"Kakak, tolong antarkan aku pulang!. Aku akan minta maaf kepada orang tuaku. Agar aku nggak jadi saja sekolah di sini."
Menangis dan mengamuk, kerudung santriwati baru itu nampak berantakan. Dengan penuh perhatian Yasmine merapikan kerudung si Adik kelas. Sebelah jemarinya membalas pegangan gadis di hadapannya"Hani" ujarnya menyebut nama sang Santriwati baru.
"Orang tua kamu nggak mungkin membuang kamu ke sini. Kamu kira hanya kamu yang menangis? siapa yang tau kalau mereka juga menangis merindukan kamu di rumah. Butuh pemikiran yang panjang sampai mereka akhirnya menyekolahkan kamu di sini. Mereka mempunyai harapan yang besar terhadap mu. Mereka ingin masa depan yang cerah untuk kamu, anak tersayang mereka."
"Dengan membiarkan aku tinggal di tempat yang harus bisa memasak?. Di rumah pun aku nggak pernah mencuci piring."
__ADS_1
Yasmine mengusap air mata Hani"Oh ya. Kamu beruntung, tapi di balik semua itu bisa menjadi Boomerang yang akan menyerang dirimu sendiri. Seperti saat ini, kamu resah hanya karena nggak bisa memasak, juga belum pernah mencuci piring. Coba pikir, kamu nggak akan sedih kalau semua itu bisa kamu lakukan bukan?."
Ya!. Masalah terbesar yang membuat Hani ingin pulang adalah tugas memasak. Dan hati Hani membenarkan, dirinya mungkin nggak akan merasa resah kalau masalah memasak itu dapat di atasinya.
Lagi, mengusap air mata Hani"Alih-alih menangis hingga kamu lelah. Cobalah untuk berdamai dengan kenyataan. Nggak ada salahnya kan belajar memasak, toh ada Kak Yasmine yang menemani di dapur, atau Kak Nada."
Pundak gadis bernama Hani itu masih bergetar namun tak sekencang tadi"Hani takut kalau gagal memasak, nanti mendapat hukuman."
"Kata siapa?."
"Di papan pengumuman, kan tertulis siapa saja yang nggak taat akan peraturan akan mendapatkan hukuman."
"Jadi harus bisa memasak itu suatu ketaatan bagi kamu."
Hani mengangguk. Sontak Yasmine dan Nada tersenyum. Rupanya ada kesalahpahaman di sini. Hukuman itu berlaku untuk ketaatan dalam beribadah dan kegiatan sekolah. Kalau untuk memasak, hal itu nggak berlaku.
"Ayo kita masuk ke asrama dulu. Nanti semua peraturan akan Kakak jelaskan. Kamu sekarang hanya salah paham." Ujar Nada, emosinya telah sirna melihat kepolosan Hani.
Seraya menggiring Hani, dua keamanan asrama itu pun memasuki pekarangan asrama Santriwati.
Usai perginya mereka, Enda tersenyum simpul. Rupanya sedari tadi dia ada di kediaman Kyai Bahi. Dari awal pemuda ini sudah menyaksikan kejadian tersebut, sampai pada setiap ucapan yang keluar dari mulut Yasmine untuk membujuk Hani.
"Dasar gadis kulkas empat pintu. Dengan sesama perempuan kamu lembut sekali, dengan lawan jenis bertutur kata pun datar sekali." Bergumam seraya memainkan ponselnya.
"Akh!! Kakek kok lama sih!. Udah di jengukin malah nggak ada di rumah." Enda sengaja pulang cepat hari ini, untuk bertandang ke pondok pesantren, menjenguk Kakek tersayang. Saat sampai di sana, Kyai Bahi justru nggak ada. Katanya para pengajar sedang rapat di rumah salah satu pengurus pondok pesantren tersebut. Ramadhan hampir tiba, sepertinya mereka membahas kegiatan yang akan di rselenggarakan di bulan penuh berkah itu.
Teringat pada Salwa, Enda kembali mengusap wajah. Dan sejurus kemudian teringat kepada Yasmine, pemuda ini jadi pusing karena para wanita. Ckckck, demi ketenangan hati, Enda segera mengambil wudhu, kemudian berjalan menuju Masjid bergabung bersama para santri putra.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.