
Semakin terjerat, semakin tersiksa. Bukannya semakin hangat sikap Randy semakin panas. Cara bermain di atas ranjang nggak lagi sejalan dengan Salwa. Entah karena apa jurus bercinta terbaru Randy malah membuat Salwa kehilangan kenikmatan. Lembut dan perlahan, hal seperti ini telah menghilang dari ritual penyatuan dua raga itu. Kerap menangis, kerap meratapi nasib, Salwa semakin tertekan.
Sudah beberapa hari Salwa nggak meminum pil KB, berharap segera hamil. Sungguh dirinya ingin memiliki seorang keturunan, setidaknya teman untuk menghabiskan waktu di kediaman mewah namun sepi itu. Mempekerjakan pembatu rumah tangga yang bekerja dari pagi hingga sore hari saja, usai pekerjaan itu selesai sang pembantu pun akan pulang, Salwa tetap merasa kesepian.
Buah dari berhenti meminum pil KB, Salwa hamil, namun kandungannya lemah. Hal ini mengharuskan Salwa untuk beristirahat di tempat tidur.
Membujuk Salwa untuk melayani nafsu yang kian membuncah, Randy di buat meradang karena tangisan Salwa. Genangan air mata itu tumpah di awal permainan, dan Randy nggak menyukai hal ini. Akan lain halnya kalau permainan sudah panas dan Salwa menangis, hal ini yang membuatnya semakin gemas dan menyukainya.
"Ck!! kamu kenapa sih?!. Di enakin malah menangis!!" sentaknya. Permainan kali ini berakhir singkat, hanya satu kali saja.
"Tubuhku sakit Mas. Lagipula kalau bermain energik takut menyakiti janin nya."
Brak!!! bantal itu di lempar ke meja rias"Makanya jangan hamil dulu!!. Aku kan sudah bilang dari dulu!!."
"Mas, ini kehendak Allah!."
"Itu kehendak kamu Salwa!!. Kamu sengaja kan nggak meminum pil KB nya!?" garang, Randy menatap Salwa begitu tajam.
"Mas lihat kan bekas obat KB nya, aku minum sampai habis Mas."
"Ck!! kamu sekarang berubah Salwa, selalu pintar menjawab perkataanku."
"Andai kamu menyadari bahwa kamu yang berubah Mas" lirih sang hati.
Salwa memilih mengalah, sebab Randy curiga bahwa dirinya memang sengaja nggak meminum pil tersebut"Terserah Mas saja mau berkata apa" memungut bantal di lantai, kemudian mengemasi barang-barang yang berhamburan karena ulah kasar Randy.
Baru kali ini mereka bermain begitu singkat, dan Randy sangat enggak puas. Emosi lelaki ini hampir kembali meledak karena kurangnya pelepasan yang biasanya terjadi berkali-kali. Mengacak rambutnya kasar, Randy menghempaskan diri di sofa ruang kerja.
Sebuah notifikasi terlihat di layar ponsel, terlihat Mia memberikan jempol pada unggahan terbarunya, tentang kehamilan Salwa. Mau nggak mau, suka nggak suka, Randy akhirnya menerima kehamilan itu. Namun apa yang dia takutkan perlahan terjadi. Bermula saat Salwa di nyatakan lemah kandungan, hingga berkurangnya jadwal berkencan di atas tempat tidur. Tentu hal ini di landasi saran dari dokter, yang takut untuk di langgar Randy.
"Demi kebaikan bersama, karena masih keluar flek, olahraga panasnya di liburkan dulu ya" ujar dokter saat itu.
Biar bagaimanapun, janin itu adalah darah dagingnya. Demi keselamatan sang janin, Randy rela berpuasa. Memasuki usia kandungan dua bulan, flek itu perlahan menghilang, dan Randy sudah di perbolehkan menggauli Salwa namun harus perlahan. Kegilaan lelaki ini pada tubuh sang istri, juga rasa rindu setelah berpuasa cukup lama, membuatnya hilang kendali dan flek itu muncul lagi. Akh!! Randy menjadi kesal dengan janin tersebut!!. Di tambah kondisi tubuh Salwa yang selalu lemah saat mengandung, bermain sendiri tanpa adanya perlawanan sangat nggak menyenangkan.
Emosi itu mulai mereda, berganti dengan rasa iba usai meluapkan amarah terhadap Salwa. Randy mengintip ke dalam kamar, terlihat Salwa memunggungi pintu kamar, dia sedang tiduran di tempat tidur. Melihat dari tarikan nafas teratur sang istri, Randy yakin Salwa telah tertidur. Melangkah perlahan, mengambil duduk di samping Salwa"Maaf Sayang, aku terbawa emosi hingga marah padamu" berkata begitu lembut dengan jemari mengusap rambut Salwa.
Tubuh sang istri begitu menggoda, demi ketenangan Salwa malam ini Randy memilih tidur di ruang kerja saja. Sebelum ke ruang kerja, Randy mendaratkan kecupan hangat di kening Salwa, seraya berbisik"Tidur yang nyenyak Sayang. Lain kali Mas akan lebih menahan diri agar nggak marah sama kamu."
Suara pintu di tutup perlahan, sejurus kemudian kedua bola mata Salwa terbuka"Maaf saja nggak cukup Mas. Hatiku terlanjur sakit."
...----------------...
__ADS_1
Seperti apa yang Yasmine mau, waktu sekolah akhirnya usai dan gadis ini memilih nggak pulang ke kediaman kedua orang tuanya. Sedih, tentu sangat sedih, kedua orang tua itu sangat ingin Yasmine kembali ke kediaman mereka. Namun, kenyataan Yahya telah menikah dan memiliki anak, membuat mereka kehilangan muka karena gunjingan kejam para tetangga. Terlebih Ibunda Yasmine bukanlah orang yang gemar mengkonfirmasi apa yang orang ocehkan, dia hanya diam saja mendengar cemoohan mereka. Begitupun dengan Ayah Yasmine, rasanya hanya membuang waktu kalau harus menjelaskan. Toh kebenaran itu sudah jelas, Yahya yang salah, bukan Yasmine.
"Kasihan ya, nggak jadi di nikahi. Tau-tau calon suaminya sudah punya istri. Nyaris saja si Yasmine jadi pelakor."
"Iya tuh, seharusnya lebih teliti dalam memilih calon suami. Jangan asal terima aja."
"Yee!! gimana nggak langsung nerima, Yahya kan putra keluarga kaya raya."
Sungguh panas sepasang telinga mendengar ocehan itu, namun pasangan suami istri ini memilih bungkam, berharap sang waktu lekas mengikis kisah kelam sang putri.
"Katanya ingin kembali ke panti saja."
Ucapan sang Ayah, membuat air mata sang Ibunda jatuh.
"Dia mengajukan lamaran menjadi tenaga pengajar di sana" lanjut Ayah menyeka air mata sang Istri.
"Selain tempat itu dan kediaman kita, dia nggak punya tempat lain Ayah" isak tangis Ibu semakin menjadi, membayangkan harus kembali berpisah dengan sang putri.
"Kita ambil hikmah dari kejadian ini Bu, setidaknya dia terselamatkan dari lelaki pendusta."
Mengangguk, Ibunda Yasmine melabuhkan diri dalam pelukan sang suami. Sementara Rania, gadis kecil ini begitu merindukan sang Kakak, sudah sangat lama Kakak tersayang itu nggak pulang. Mengungkapkan rasa rindu terhadap Yasmine kepada Ayah dan Ibunda, mereka pun sepakat menjenguk Yasmine sebelum acara kelulusan sang putri.
Malu sungguh malu. Entah mengapa rasa malu itu sangat erat memeluk Yasmine. Ada beberapa santriwati yang mengenakan cadar, dan rasa malu itu menimbulkan niat untuk mengenakanya. Bahkan, Yasmine berniat mengganti nama panggilannya.
"Hanya malu saja."
"Malunya karena apa?."
"Malu harus ada sebabnya ya?."
"Yaaa, se-enggaknya ada penyebab yang membuat kamu malu dan mau memakai cadar."
Yasmine berpikir sejenak, mencari kata-kata yang bagus agar Nada berhenti bertanya.
"Aku mencoba cadar milik Hayah, rasanya lebih nyaman mengenakannya. Terlebih kalau bertemu lawan jenis."
Langsung membulatkan mulut"Ohhhh bilang dong malu kalau bertemu lawan jenis. Kalau begitu aku dukung kamu deh, kamu kan cantik banget dan kecantikan kamu kadang membuat orang lain terpana."
"Hentikan Nada" sambar Yasmine.
Nada terkekeh. Selalu begitu, Yasmine akan langsung menyela kalau di katakan sangat cantik. Berbeda halnya dengan kebanyakan wanita yang akan tersipu malu-malu saat raut wajahnya di puji.
__ADS_1
"Semua wanita sangat cantik."
"Tapi kamu lebih cantik." Ujar Nada lagi.
"Hentikan Nada. Atau aku tinggal pergi?" mengambil bantal dan selimut.
"Mau kemana!? jangan bilang mau tidur di kamar lain?."
"Iya. Kamu mengoceh terus, aku jadi nggak bisa tidur."
Nada memelas"Jangan Yasmine!!. Penghuni kamar ujung menjahili santri yang lewat di sana, aku nggak berani tidur sendiri!!."
Tersenyum smirk"Makanya jangan ngoceh terus" melepaskan bantal dan selimut.
"Aku mau ambil wudhu, kamu ikut nggak?."
"Ikut!!" Nada langsung menempel ke tubuh Yasmine.
"Hei biasa aja dong??."
"Nanti kan lewat kamar ujung. Aku takut!!."
"Aku ada cerita lho waktu sendirian di perpustakaan" Yasmine pun hendak menjahili Nada, membuat gadis itu langsung merengek.
"Yasmine!! nggak usah cerita!!."
"Keamanan kok penakut sih."
"Keamanan kan berurusan sama manusia, bukan sama bangsa alam lain" bergetar, bahkan menyebutkan bangsa alam lain pun Nada ketakutan.
Rupanya, Hani melihat gelagat ketakutan seorang Nada. Dia yang juga akan mengambil air wudhu pun mengendap-endap, dan....
"Ba!!!!!."
"Kyaaa!!!" Nada berteriak, Yasmine langsung membekap mulut Nada yang ketakutan.
"Haniii!!!" gadis itu cengengesan, sedangkan Nada hampir menangis di buatnya.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.