
Keraguan, bimbang, rasa rendah diri, datang secara bersamaan dan menekan diri Salwa. Bagaimana bisa lelaki itu masih mengharapkan dirinya, sedangkan mereka nggak pernah menjalin tali kasih sayang sebelumnya.
Langkah gontai membawa Salwa kembali ke desanya, dan Arjuna terus mengusik pikirannya"Hahaha, pasti lelaki itu hanya bercanda. Dia pasti hanya ingin mengerjaiku. Aku di cerai karena gendut, aku sekarang bukanlah Salwa yang menarik seperti dulu!" lirihnya.
Hati yang telah patah sangat takut semakin hancur, maka demi ketenangan jiwanya Salwa mengabaikan semua ucapan Arjuna.
"Kalau kamu bersedia aku akan melamar mu lagi."
Teringat hal itu, Salwa lekas menggelengkan kepala.
"Enggak!!. Lelaki itu terlalu tampan, untuk seorang janda gendut seperti aku!. Lagipula rasanya nggak mungkin dia benar-benar menungguku tanpa maksud lain, setelah mendapat kekecewaan dariku dia pasti ingin balas dendam padaku" prasangka itu menghinggapi pikiran Salwa.
Lagipula, perceraiannya dengan Randy masih dalam proses, lebih baik fokus pada masalah itu alih-alih memikirkan untuk menikah lagi.
Di kediaman Syailendra.
Selera makan Arjuna seketika sirna, teringat ucapan Salwa beberapa saat yang lalu"Hatiku telah patah, aku bahkan sudah nggak mengenal cinta. Lagipula, aku nggak sebaik dan semenarik dulu lagi. Carilah wanita yang lebih baik dariku dan pantas untukmu, bukan menunggu seorang janda gendut seperti ku."
Semua yang hadir di meja makan saling melirik, mereka sama-sama memperhatikan Arjuna.
"Kenapa?" tanya Enda pada Mecca, bicara tanpa suara.
Mecca mengendikan bahu, dia pun nggak tau mengapa Arjuna tiba-tiba menjadi begitu. Seingatnya, saat di perjalanan pulang mereka masih bercanda dan tergelak tawa.
Menyikut lengan sang putri"Abang kenapa sih?."
"Nggak tau Umma. Baru ini kok jadi diam begitu" balas gadis itu berbisik.
Sepagi ini sang putra mendadak diam, meski Arjuna bukan anak kandungnya, melainkan putra dari Agam sang sahabat, sejatinya rasa kasih dan sayangnya sama terhadap Juna dan Enda.
"Arjuna....." panggil Khair pelan.
"Iya Abi?" sahut Arjuna. Enggak seperti kebanyakan orang yang akan terkejut ketika di panggil dalam lamunan, Arjuna terlihat baik-baik saja menanggapi panggilan itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa? sejak kembali dari jalan pagi mendadak diam. Lihatlah Umma, dia jadi sangat khawatir."
Ucapan itu langsung di angguki Umma Zafirah"Kamu sedang ada masalah??. Nggak ada salahnya untuk berbagai masalah itu dengan Umma."
"Enak aja, sama Mecca juga dong. Mecca kan Adik perempuan Bang Ar yang paling baik sedunia."
"Hilih, kayak Adik yang paling manis aja. Sama Arjuna saja kamu baik, kalau sama Abang galak banget." Syailendra lekas meledek Mecca, yang terlihat sangat bangga mengakui kebaikannya terhadap Arjuna.
"Abang!!. Itu kan karena Abang nakal, suka jahilin Mecca!!" gadis itu merengek pada Arjuna"Bang Ar!!! kasih pelajaran sama Bang Enda dong!!."
Hati yang semula lara perlahan menghangat, Arjuna tersenyum"Bang Enda sudah dewasa, dia sudah nggak harus sekolah lagi jadi buat apa Abang kasih pelajaran. Lagian, Abang bukan guru."
Merasa di ledek juga oleh Arjuna, Mecca semakin manyun mulutnya, kini sepasang mata bulat itu melirik Abi yang sedang terkekeh.
"Umma~~~" tiga lelaki itu nggak ada yang berada di kubunya, hanya Umma kini tempatnya mengadu.
"Syuttt!!. Anak gadis nggak boleh cengeng nanti malah ketemu jodoh jahil kayak Bang Juna dan Bang Enda" Zafirah mencoba menenangkan sang putri.
"Hei jangan ketawa aja. Cepat bilang kenapa kamu tadi murung." Zafirah kini beralih kepada Arjuna. Dia terlihat senang melihat Mecca merengek mengadukan mereka kepada Umma.
Lagi, mereka yang ada di sana saling berpandangan, terkecuali Arjuna. Pemuda ini mengaduk jus jerus di dalam gelas, kemudian meminumnya dalam tiga tegukan. Arjuna melepas pandangan ke padang rumput di belakang kediaman Syailendra. Kalau di belakang rumahnya terdapat kebun kecil, Syailendra masih membiarkan lahan itu kosong akan tumbuhan. Untuk sementara dia menjadikan tempat itu untuk bersantai, seperti pagi ini mereka menikmati sarapan di sana.
Mecca baru ingat akan hal itu, gadis ini pun bersuara"Ah iya. Kami ketemu teman Abang. Namanya Salwa. Rasa-rasanya nama itu nggak asing deh, seperti pernah dengar tapi di mana ya."
Mecca mencoba mengingat sementara Arjuna mencoba melupakan. Ya, kenangan pahit usai di tolak lamaran itu rasanya masih menyesakan dada, dan masih terasa sampai sekarang.
Mecca menanyakan Salwa kepada Umma"Umma kenal juga sama Kak Wawa?."
"Wawa??."
"Mecca memutuskan untuk memanggilnya Kak Wawa. Orangnya cantik meski tubuhnya sedikit berisi. Rasanya nama itu cocok dengannya. Senyumannya manis banget, sayang dia sempat ketakutan saat ketemu Abang. Bang Arjuna dulu pernah jahil ya sama dia?. Atau Kak Wawa teman sekolah Abang, terus dulu pernah jadi korban kenakalan Abang??."
Gemas karena sang Adik terus mengoceh, Syailendra menarik kerudung bagian depan Mecca hingga wajah sang Adik tertutup.
__ADS_1
"Syailendra, kerudung Mecca kok di bikin mainan!!." Tegur Abi Khair.
"Bercanda Bi."
Mecca menahan amarah, dada gadis ini terlihat kembang kempis.
Arjuna dengan lembut membenarkan kerudung Mecca"Bukan korban kenakalan Abang kok. Kak Wawa itu pernah jadi kandidat calon istri Abang."
Mecca terdiam. Memorinya langsung menemukan ingatan tentang Salwa yang dulu menolak lamaran Arjuna. Gadis itu memberengut, bukan karena kejahilan tangan Enda, tapi kesal karena penolakan Salwa membuat Arjuna semakin pendiam saat itu.
"Awww!!! maaf Umma" jeritan Syailendra menarik Mecca dari ingatan di masa lalu. Sepertinya dia salah menyukai Wawa, nggak seharusnya dia berniat berteman baik dengan wanita yang melukai hati sang Abang. Sangat sadar dirinya nggak mungkin memiliki Arjuna, Mecca merasa nggak rela kalau ada orang lain yang menyakiti lelaki itu, setidaknya dia akan merestui kalau Wawa nggak menorehkan luka pada Arjuna.
"Umma!! sakit!" Enda kembali menjerit. Tangan nakal yang menarik kerudung sang Adik di buat kesakitan oleh Umma. Karena ini menyangkut aurat anak gadisnya, Umma langsung memberikan pelajaran pada jari-jari nakal itu"Ingat ya, ini yang terakhir. Awas kalau sampai berani menarik kerudung Mecca lagi, Umma bikin sambal goreng itu jari!!."
Kedua bola mata Arjuna membulat, dia melirik Enda dengan tatapan meledek"Hohoho, sambal goreng ceker Syailendra. Kayaknya enak tuh."
"Ampun Umma. Maaf ya Dek, Abang cuman bercanda" Enda lekas menyembunyikan tangan di balik bajunya.
Mecca senang bukan kepalang, karena di bela oleh Umma tercinta.
"Kalian bicara banyak?" Abi kembali menanyakan Salwa.
"Enggak. Intinya, dia meminta Arjuna menyerah padanya."
"Kenapa!!?" tanya Umma, Abi dan Enda bersamaan. Sedangkan Mecca sudah menahan diri untuk nggak menyukai Wawa.
"Katanya, karena sekarang dia bukan lagi Salwa yang menarik seperti dulu."
"Itu alasan klasik!." Selama janur kuning belum melengkung, pepet terus dong!!" tiba-tiba seseorang datang dan langsung bicara.
Sontak mereka semua menatap orang yang baru datang itu"Nenek!!" seru Arjuna dan Syailendra.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.