Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Bebas


__ADS_3

Demi menjalin kerjasama dengan Bae, sang cucu dari pengusaha ternama di negeri ini, Randy menawarkan harga tinggi untuk berinvestasi. Tentu Bae bukanlah satu-satunya pendiri di perusahaan game tersebut, masih ada Arjuna yang berdiri di balik layar. Namun, Bae lebih di kenal sebagai pemilik tunggal dari perusahaan game yang mulai di perhitungkan itu.


"1M. Sebuah harga yang fantastis bukan?" seraya menghisap minuman Bae menopang kedua kakinya. Menikmati minuman dingin di tengah hari yang panas, sembari membicarakan uang, sungguh sebuah kesenangan tersendiri bagi Bae. Lain halnya dengan sang rekan bisnis, Arjuna hanya tersenyum samar.


"Ayolah Bae, 1M bisa kamu dapatkan dalam beberapa hari saja. Dan itu hanya dari uang saku mu saja, iya kan?" ucapan Arjuna membuat Bae tergelak tawa.


"Hahaha, nggak juga."


"Oh ya?" masih dengan senyuman samar itu, Arjuna melirik Bae"Seorang cucu pengusaha terkenal, yang bisnisnya sudah merajai negeri ini, ngomong satu kata saja kamu sudah bisa menghasilkan beberapa ratus juta kan."


Bae jadi teringat saat dirinya ulang tahun, sang Kakek menghadiahkan sebuah helikopter atas permintaannya. Dan saat itu Arjuna hadir dalam acara tersebut"Kamu berlebihan sobat!!" Bae memukul pundak Arjuna hingga tawa mereka meledak.


"Sudahlah jangan bercanda lagi. Bagaimana dengan tawaran itu?."


"Hemm, gimana ya. Kalau menurutmu menguntungkan, aku sih oke-oke saja" sahut Arjuna. Pemuda itu mengangkat tangan saat melihat Ibunda menuruni tangga.


"Eh aku tinggal sebentar ya. Ada Ibu negara" ujarnya menunjuk ke arah Jena.


"Oh, tante cantik. Ikut dong" si anak Korea satu ini, gemar menggoda Jena hingga terkadang membuat Agam, sang suami geram.


"Nggak usah. Kamu di sini aja. Biasanya kalau ada Ibu, nggak lama kemudian Ayah juga datang. Mereka nggak bisa jauh-jauhan."


Om Agam, pria yang nggak bisa jauh dari sang Istri. Melihat betapa bucin lelaki itu terhadap sang istri, membuat Bae gemar menggodanya dengan sering mengajak Jena berbicara. Ya, hanya berbincang panjang dengan Jena sudah bisa membuat wajah Agam tertekuk kesal.


Namun kali ini Bae sedang baik hati, dia nggak berniat mengerjai Ayah dari sobatnya itu.


Di tempat lain, usai berhasil membawa Yasmine dari hadapan Yahya, kini mereka berdua telah berada di dalam mobilnya.


Betapa kesal hati Syailendra saat Yahya menyombongkan diri, dan memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Yasmine. Wajah gadis itu menunjukkan rasa nggak suka saat Yahya masih menganggap mereka bertunangan, terlebih di hadapan Syailendra.


"Lihatlah, dari raut wajah Yasmine saja sudah jelas kamu bukan lagi lelaki impiannya" sarkas Enda.


"Yasmine! aku terpaksa menikahi Maria" Yahya terus mencoba mendekati Yasmine, gadis itu telah berada di balik tubuh tegap Enda.


"Hei!!. Jadi kamu sudah menikah?. Atas dasar apa kamu masih ingin menemui Yasmine?. Jangan bilang kamu masih ingin memilikinya?!" rasa nggak rela itu semakin besar, saat Yahya mengangguk penuh keyakinan.

__ADS_1


"Hanya sampai anak kami berusia satu tahun, saat itu aku akan menikahimu, Yasmine."


Owh!! betapa nggak tahu malunya Yahya ini. Kedua tangan Enda mengepal dengan rahang mengeras. Giginya bergerutuk menahan emosi, dan mata tajam itu melirik Yasmine"Kamu masih mau bersamanya?."


Lekas Yasmine menggelengkan kepala.


Kini sorot mata nan tajam itu beralih menatap Yahya"Lihat kan, dia nggak sudi menunggumu meninggalkan anak dan istrimu sekarang. Lagipula, aku sangat yakin Yasmine nggak akan tega membuat wanita lain menjadi janda hanya demi lelaki plin-plan seperti kamu!."


"Yas----."


"Iya Mas!! itu benar. Aku nggak akan menunggumu menghancurkan kebahagiaan wanita itu demi untuk bersama ku." Sambar Yasmine.


"Tapi----kamu bagaimana?. Siapa yang akan menikahi gadis malang seperti kamu, yang gagal menikah setelah sempat bertunangan. Bagi orang tua, gadis yang gagal menikah seperti kamu akan sulit mendapatkan jodoh."


Sungguh perut Yasmine rasanya di kocok, geli sekali. Yahya di kenal pemuda pintar dengan wawasan luas di kampung mereka, tapi ada apa dengan pola pikirnya?? kenapa kolot sekali!.


Lain halnya dengan Yasmine yang menahan rasa geli di hati, Enda sudah terbahak sejak Yahya mengatakan hal itu"Apa dia pikir----."


"Lelaki di dunia ini bukan hanya kamu seorang, Yahya" ujar Yasmine begitu lugas.


Yahya terlihat gamang, keyakinan itu sungguh bertolak belakang dengan tanggapan Yasmine. Sejujurnya ada udang di balik bakwan, Yahya berniat memonopoli kehidupan Yasmine. Kalau dia berhasil membujuk Yasmine, dia akan mengulur waktu untuk menceraikan Maria, hingga akhirnya karena suatu hal dia nggak jadi berpisah dari Maria. Sementara Yasmine sudah di nikahinya saat itu. Wow!! sungguh menyenangkan saat berhayal, tapi terasa linu di hati saat kenyataan itu sangat jauh dari apa yang di harapkan. Yasmine bukanlah wanita dungu yang mudah terjerat cinta sang playboy cap tupai seperti Yahya, terlihat menggemaskan namun pandai mengelabui mangsanya.


"Terimakasih----- Mas." Gadis ini begitu lancar bicara saat menolak Yahya, namun mendadak terbata saat mereka hanya tinggal berdua, di dalam mobil pemuda itu.


"Sama-sama. Kalau itu orang lain pun, dia pasti akan melakukan hal yang sama" mobil itu belum berjalan sejak kepergian Yahya.


"Oh iya" sahut Yasmine lagi. Dirinya kehabisan kata-kata, hingga memilih untuk diam saja.


Ingin rasanya Enda menanyakan perihal putusnya tali pertunangan Yasmine dan Yahya, namun kejadian tadi sudah menjelaskan segalanya. Sekarang Yasmine sudah bebas, Enda berniat melamar gadis ini lagi. Enda sadar semua nggak semudah yang di bayangkan, secara perlahan dia hendak membahas perihal tersebut.


"Anu----." Kata dengan nada samar itu tenggelam di balik suara adzan berkumandang.


"Di depan ada Masjid, kita bisa singgah di sana untuk melaksanakan kewajiban dahulu" ujar Yasmine menunjuk Masjid. Masjid itu tak jauh dari simpang menuju area pantai, Enda jadi teringat Ayah dan Ibundanya di kediaman pantai, juga sang Abi yang masih menjalani keseharian sebagai koki di Cafe milik sahabatnya itu.


"Hemm" sahut Enda.

__ADS_1


"Makan siang masakan Abi, kayaknya enak" gumam sang hati.


Sejenak Enda melirik Yasmine, ingin rasanya membawa Yasmine berjumpa dengan kedua orang tua Arjuna yang sudah seperti orang tua juga baginya. Enda tentu juga sangat ingin mempertemukan sang Abi dengan Yasmine, gadis yang kerap di sebutnya dalam doa. Namun, teringat belanjaan milik gadis itu, membuat Enda mengurungkan niatnya.


"Kamu habis belanja? rumah kamu di dekat sini?" Enda sangat tau kediaman Yasmine dan dia tau Yasmine nggak tinggal di sana lagi.


"Rumah ku arahnya berlawan dengan tempat ini."


"Ya, aku tau" sahut sang hati.


"Lantas, kamu membawa belanjaan dan di daerah sini, sedang mengunjungi sanak saudara ya?" ujarnya memancing Yasmine untuk mengungkapkan tempat tinggalnya sekarang. Pemuda ini bertanya seraya menjalankan mobil, menuju Masjid di depan sana.


"Sejujurnya, aku sudah nggak tinggal di rumah. Aku kembali ke panti asuhan, dan mengajar di sana" Yasmine mencari cadar yang semula di lepas paksa oleh Yahya. Pemuda itu mencarinya, dan apesnya mereka bertemu di halte tepi jalan. Karena sudah berteman sejak kecil, Yahya dapat mengenali Yasmine meski wajahnya tertutup cadar. Mempercepat langkah saat Yahya memaksa untuk bicara, penolakan Yasmine membuatnya bersikap kasar terhadap gadis itu.


Berasal dari panti asuhan, Enda sudah mengetahui hal itu. Dia sudah pernah meminta Pram untuk mencari ke sana, namun nggak ada seseorang yang bernama Yasmine.


"Kamu duluan saja" ucap Yasmine saat sudah sampai. Terlihat gadis ini memakai kembali cadarnya.


"Maaf aku hanya bertanya, kamu memutuskan untuk bercadar sekarang?."


Yasmine mengangguk.


"Boleh tau kenapa?."


"Seorang gadis yang gagal menikah, tinggal di lingkungan yang gemar membicarakan masalah orang lain, aku memutuskan untuk menarik diri dan menutupi diriku."


"Oh..." Enda mengangguk.


"Bagaimana menurut mu? aku menjadikan cadar tempat berlindung. Apa ini termasuk penistaan??."


"Enggak!. Itu sebuah kebaikan, meski di awali dengan niat untuk bersembunyi, lambat laun kamu akan terbiasa hingga akhirnya niat itu berubah menjadi lillahi ta'ala."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2