
...Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia...
...Ali bin Abi Thalib 🥀...
Awan mendung berarak di atas langit pesantren. Yasmine merasakan bahkan langit pun dapat merasakan kesedihan yang sedang di deritanya. Sebongkah hati telah benar-benar patah, dan Yasmine sedang meratapi kesedihan yang memeluk jiwa.
Sehari setelah foto tersebut di kirimkan kepadanya, Yahya di temukan. Naasnya, apa yang terlihat dalam foto itu benar adanya. Yahya sedang menggendong seorang bayi, dengan seorang wanita yang di yakini sebagai Ibu dari bayi tersebut.
"Maafkan kami. Kami nggak tau kalau putra kami telah menikah secara diam-diam, dia bahkan menghilang demi menemani istrinya melahirkan" ujar Ayahanda Yahya. Berbekal keberanian, dan rasa malu yang meruntuhkan harga dirinya, setidaknya sang Ayah lebih bijaksana dari pada Yahya. Lelaki itu kehilangan keberanian sekedar bertemu dengan Yasmine dan keluarga.
Tanpa memanggil Yasmine untuk pulang, Ayahnya datang ke pondok pesantren dan berbicara dari hati ke hati kepada sang putri. Berdua saja di halaman Masjid Al-Jannah, Ayah dan anak itu bercerita di bawah langit kelabu.
"Dengan terpaksa, Ayah datang meminta cincin pertunangan dari Yahya" berat rasanya menyampaikan hal itu. Apalagi melihat jemari sang putri menggenggam erat, seolah enggan melepaskan tanda kepemilikan dirinya itu.
"Nak" panggil sang Ayah, lembut.
"Sebentar lagi Yasmine akan lulus Ayah. Rasanya Yasmine malu kalau harus kembali ke kediaman kita, sedangkan mantan calon suami Yasmine juga berada di kampung itu. Bersama keluarga kecilnya" ujar Yasmine dengan suara bergetar.
Begitu sulit hanya sekedar menelan saliva, sang Ayah pun memikirkan hal itu. Desas desus rencana pernikahan sang putri dan putra rekan bisnisnya sudah tersebar seantero kampung, kenyataan bahwa Yahya menikahi wanita lain dan memboyong keluarga kecilnya ke kampung mereka, tentu akan menjadi buah bibir masyarakat.
"Ayah, Yasmine nggak siap untuk kembali ke rumah" manik indah itu nampak merah, dengah kantung air mata yang siap membasahi kedua pipi.
Mengusap pucuk kepala berbalut kerudung berwarna abu-abu, senada dengan langit di atas sana"Nanti kita pikirkan lagi. Sekarang Ayah minta cincinnya ya."
Melepas tanda di jari manis, air mata itu akhirnya tumpah. Andai, sejak awal dia menolak lamaran Yahya, hal ini pasti nggak akan terjadi kepadanya. Andai, sejak awal dia menerima lamaran Enda, mungkin sekarang dia tengah meneguk manisnya cinta.
__ADS_1
Usai menyerahkan cincin itu, kedua pipi Yasmine di tarik sang Ayah"Anak Ayah jangan menangis lagi. Kita masih beruntung, kebusukannya terkuak sebelum kalian menikah. Bayangkan kalau hal ini baru ketahuan pas kamu sudah menjadi istrinya, bagaimana nasib kita?."
"Naudzubillah!!, Yasmine nggak sudi membayangkannya Ayah!" seru gadis ini dengan suara tertahan.
"Nah, oleh karena itu hentikan air mata ini. Kamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki seperti dia." Nasihat sang Ayah membuat Yasmine segera menyeka air mata. Terisak gadis ini mencoba tersenyum kembali.
"Anak Ayah yang cantik, kamu pasti akan bertemu dengan pemuda yang jauh lebih baik dari Yahya. Maafkan Ayah dan Ibu, karena mengajakmu melangkah di jalan yang salah." Penyesalan itu memang selalu datang di akhir cerita, sama seperti Yasmine, sang Ayah pun menyesal karena melewatkan kesempatan menjadi keluarga dengan Kyai Bahi.
...----------------...
Mendengar Adzan berkumandang, Salwa semakin merasakan rindu akan desa tempat kelahirannya. Telah mengenakan mukena, Salwa bersama sang Ibu berjalan menuju desa sebelah. Berada di ujung desa menjadikan jarak yang harus di tempuh ke desa sebelah lebih dekat. Di perjalanan Salwa kembali menanyakan perihal hutang piutang sang Ayah.
"Maaf Salwa, Ibu sama Ayah nggak cerita. Itu hutang yang sudah lama, biaya kuliah Hanif kan nggak sedikit" ujar sang Ibu. Mau nggak mau akhirnya beban itu harus di ketahui sang putri. Kerap menerima uang bulanan dari menantu, tentu sang Ibu merasa malu kalau kewajiban di Bank pemerintah itu terabaikan. Namun, selain untuk membiayainya pendaftaran masuk kuliah Hanif, mereka juga membagi uang pinjaman tersebut untuk mengembangkan kebun mereka. Sempat mengalami harga yang menurun drastis, modal usaha pun terkikis drastis. Hingga kedua orang tua Salwa kewalahan untuk membayar angsuran tersebut.
"Tiga juta perbulan" ujar Ibu saat Salwa menanyakan nominal angsuran tersebut.
"Sepuluh bulan nak, Ayah sama Ibu mengambil pinjaman tiga tahun."
Mengingat harga sawit yang nggak sebagus dahulu, tentu saja mereka kewalahan untuk membayar pinjaman tersebut. Sedangkan uang bulanan dari Randy hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan lebih terfokus pada uang kuliah Hanif, yang terlanjur masuk ke universitas swasta. Membayangkan kalau dirinya berpisah dari Randy, maka uang bulanan untuk keluarganya akan hilang. Lantas, bagaimana nasib mereka?. Membiarkan lahan yang menjadi jaminan di sita?? Salwa lekas menggeleng memikirkan hal itu.
Saat sampai di Masjid, Salwa dan Ibunda menjalankan ibadah dengan khusyuk. Suasana di sana membuat Salwa melupakan sejenak beban baru di pikiran. Mereka memilih menunggu waktu Isya di sana, seraya berbincang dengan warga sekitar di warung depan.
"Sebentar lagi Isya, ayo kembali ke Masjid" ajak Ibu pada Salwa.
"Iya Bu."
__ADS_1
Bukan hanya mereka, warga kampung lain yang berdekatan dengan kampung tersebut pun kerap menghabiskan waktu di sana seraya menunggu waktu Isya.
Hingga tiba waktu sholat Isya"Jun!! kamu yang Adzan ya" seru seorang lelaki yang di kenal Ustadz oleh Ibunda Salwa.
"Tenggorokan saya lagi nggak nyaman pak Ustadz" sahut pemuda yang di panggilnya.
"Ayolah, banyak yang kangen sama suara kamu." Ucapan pak Ustadz di angguki para lelaki di sekitar mereka.
"Iya deh" mengambil air mineral kemasan gelas, pemuda itu membasuh kerongkongan sebelum mengumandangkan Adzan.
Ibunda Salwa, yang sedari tadi memperhatikan pemuda itu mengantupkan bibir. Masih segar dalam ingatannya bagaimana pemuda itu pulang dari kediaman mereka, karena lamarannya di tolak sang putri. Sejauh ini Salwa mulai bercerita bagaimana Randy menolak untuk memiliki anak kepadanya. Hal ini menimbulkan dugaan, apakah kehidupan putrinya baik-baik saja bersama lelaki itu?. Andai-----.
"Akh!!, meski lelaki sebaik Nak Arjuna gagal menjadi menantu ku, setidaknya Salwa bahagia hidup bersama lelaki pilihannya" batin sang Ibu.
"Masya Allah, merdu sekali Bu. Siapa yang Adzan?."
Pertanyaan Salwa membuat lidah Ibunda kelu, nggak mungkin dia mengatakan bahwa itu adalah suara lelaki yang telah dia tolak.
"Pemuda kampung sini, dia memang sering kebagian jatah Adzan" ujar Ibu. Benar juga kan, meski anak kota tapi Arjuna memilih tinggal di kampung nan asri sini. Kalau sudah menetap di sini itu artinya dia sudah menjadi warga lokal bukan?!.
"Wah, suaranya saja sudah bikin hati adem. Gimana dengan orangnya" ujar Salwa lagi. Nampak jelas sang putri menyukai suara yang miliki sang pemuda.
"Sudah, ayo sholat" ujar Ibu mengalihkan perhatian Salwa. Beruntung Arjuna baru datang saat sholat Isya, kalau sejak tadi mungkin mereka akan bertemu, dan suasana pasti akan menjadi canggung.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.