Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Pulang


__ADS_3

Hari-hari penuh kesibukan akhirnya sampai di penghujung bulan. Para santri telah sampai pada jadwal untuk pulang ke kediaman masing-masing. Di jadwalkan pulang di hari sabtu, dan di haruskan kembali ke pondok pesantren di hari senin pagi, bagi santri yang tinggal satu kota dengan pondok pesantren tersebut pasti menyenangkan dapat pulang dan berkumpul bersama keluarga dalam dua hari tersebut. Namun bagi santri yang berasal dari kota yang jauh, atau berada di perkampungan pesisir pantai, libur dua hari itu rasanya percuma. Di buang sayang, mereka yang berasal dari luar kota kebanyakan menginap di tempat teman, mereka menyebutnya liburan tipis-tipis. Dan kali ini Hani akan berlibur di kediaman Yasmine.


Santriwati baru yang menangis sesenggukan tempo hari, begitu antusias saat Yasmine mengizinkan nya untuk ikut pulang bersamanya"Tapi kamu jangan pergi tanpa aku ya. Nanti kalau kamu hilang aku bisa di tuntut kedua orangtuamu."


Mengangguk patuh, Hani tersenyum senang saat Yasmine berkata itu. Hani adalah salah satu santri yang menilai Yasmine berbeda. Kalau kebanyakan santriwati merasa takut kepada Yasmine, juga menganggap Yasmine galak, hal itu berbeda bagi Hani. Ya, sejak Yasmine menenangkan dirinya yang menangis dan mengamuk dahulu, kehangatan seorang Yasmine dapat dia rasakan.


Jarak yang cukup jauh, kalau di tempuh dengan berjalan kaki. Memakan waktu hampir satu jam untuk sampai di kediaman Yasmine. Sebuah perkampungan di tepi kota, dengan para penghuni yang terlampau ramah tentunya. Baru memasuki gang menuju kediaman Yasmine, dua gadis ini sudah di berondong banyak pertanyaan.


"Eh Yasmine!! udah pulang ya?."


"Sekolahnya libur ya?."


"Dengar-dengar udah di lamar Nak Yahya, kapan nikanya?."


"Eh eh, bukannya Yahya masih kuliah. Apa nunggu kuliahnya selesai dulu?."


"Duh, kelamaan!!. Keburu di sambar orang lho kamu. Coba deh bilang sama keluarga Yahya, biar di percepat aja pernikahan kalian."


"Iya betul. Kami siap kok bantu-bantu masak."


"Kalau masak kayaknya nggak bisa. Tapi kalau jaga prasmanan aku bisa kok."


"Aku nyumbang lagu aja deh."


Sekelompok Ibu-ibu yang dahulu mengatai Yasmine anak pancingan, pada kesempatan kali ini topik mereka tentang lamaran Yahya. Sementara saat kepulangannya bulan lalu, mereka membahas perihal Adiknya yang tumbuh menjadi gadis manis dan cantik. Yasmine yang di kenal berparas cantik akhirnya di bandingkan dengan paras cantik sang adik, hingga obrolan menyakitkan itu terdengar lagi"Meski nggak sedarah mereka sama-sama cantik. Beruntung banget orang tua mereka, gadis cantik biasanya di lirik anak orang kaya tuh." Begitulah kicauan para tetangga kala itu. Tanpa peduli ada Yasmine di hadapan mereka, seringan bulu lidah nggak bertulang itu berkata-kata.


"Kak Yas----."


"Biarin aja. Mulut mereka memang nggak ada filternya" ujar Yasmine mengajak Hani untuk lekas berlalu dari hadapan mereka. Sepolos dan selugunya Hani, gadis ini dapat menilai betapa keras hidup di tempat itu. Harus bermental baja, begitu kira-kira tanggapan Hani. Telinganya harus kuat menahan lantunan irama syahdu nyanyian gibah, harus kuat menahan irama syahdu adu mulut di antara mereka, yang nggak terima menjadi bahan gosip hingga terjadilah perang dunia kesekian.


"Keluar kamu anak kambing!. Beraninya ngomongin di belakang!. Nih!! orangnya ada didepan mata, ayo di gibahin!!" pagi pertama di kediaman Yasmine di awali dengan pertengkaran para tetangga. Terlihat seorang Ibu-ibu berkacak pinggang, sebelah tangan menepuk dada dan berteriak, di depan rumah yang bersebelahan dengan rumah Yasmine.

__ADS_1


"Jangan ngintip, entar bintilan" tegur Yasmine. Dia memergoki Hani sedang mengintip di balik tirai kamarnya.


Cengengesan"Hehehe, warga di sini unik Kak. Sepagi ini sudah ramai, sepertinya tinggal di sini harus bermental baja."


"Tentu saja. Saat rahasia sampai ke telinga mereka, nggak perlu waktu lama rahasia itu akan tersebar seantero kampung. Akan jadi konsumsi masyarakat. Saat yang di bicarakan marah, nggak akan ada yang mengaku ngomongin orang itu. Masing-masing dari mereka akan saling tuduh, dan jadilah pertengkaran seperti itu" ujar Yasmine menerangkan.


"Untungnya Ibu nggak seperti mereka, meski di gosipin terkadang pergi subuh pulang malam tapi dia nggak marah" Rania, si bontot ikut bergabung. Gadis ini sudah cantik dengan kerudung yang menutupi kepala. Begitu menyukai Kakaknya, Rania selalu ingin mengenakan kerudung seperti Yasmine.


Kedua alis Hani kompak naik secara bersamaan, dengah mulut membulat di iringi anggukan kepala"Oh ya?."


"Hemm" sahut Rania mengangguk.


"Kamu merasa aneh?." Tanya Yasmine tersenyum tipis.


"Aneh sih enggak. Hal seperti ini kan juga ada di dalam sinetron. Hanya sedikit kaget saja, sebab di kediaman ku warganya nggak kayak gini."


"Kamu pasti tinggal di kompleks perumahan yang hampir semua warganya pekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang, jadi waktu unik bergosip nggak ada, dan secara nggak langsung menyelamatkan mereka dari dosa ngomongin orang."


"Kalau di sini itu sudah bisa. Mau pagi, mau siang, mau sore, bahkan malam, kalau untuk bergosip selalu ada waktu" celoteh Rania.


"Husss!! Adek~~~" tegur Yasmine, membuat Rania tertawa. Sedangkan Hani juga ikut tertawa, ternyata Rania banyak bicara, nggak seperti Yasmine.


"Hemm, Kak Yasmine mau kemana?" sadar langkah telah membawa mereka semakin jauh dari rumah. Rania memegang lengan Yasmine, dan tanpa sadar Hani pun begitu.


"Ke depan dermaga, mau cari bubur Ayam. Oh ya, kamu suka bubur Ayam nggak?."


"Suka!! suka!!" lagi, Hani mengangguk. Dia nggak menanyakan hal ini kepada Rania, sebab gadis itu memang menyukai bubur Ayam.


"Sarapan kita bubur Ayam aja ya. Dari kemarin Ibuku berangkat bekerja setelah subuh."


"Pagi sekali!!" Hani berseru.

__ADS_1


"Ibuku Duty manager di supermarket yang besar itu" Yasmine menyebutkan nama sebuah supermarket tersohor di negara ini.


"Beberapa bulan sekali mereka akan stok barang."


"Karena itulah Ibu jadi bahan gosip tetangga" Rania kembali bersuara.


"Oh begitu, dan Ibu Kak Yasmine jadi pengawasnya." Sambar Hani.


"Bukan hanya mengawasi, Ibuku juga ambil andil, bekerja sama seperti karyawan lainnya" Yasmine menjelaskan seraya menarik lengan Hani dan Rania saat mereka akan menyebrangi jalan. Seperti seorang induk yang menjaga anak-anaknya, Yasmine begitu menjaga keselamatan dua gadis itu. Dan Hani merasa senang, mendapat perhatian dari seorang Yasmine.


Jawaban Yasmine kembali membuat Hani mengangguk dengan mulut membulat. Beberapa langkah ke depan mereka pun sampai di sebuah kedai yang menjual bubur Ayam. Tepat berada di depan dermaga, Hani tertarik melihat daerah pinggiran kota. Dermaga itu juga sangat besar, dan di buat taman di sepanjang dermaga itu. Ada banyak orang yang lari pagi di sana, juga sekedar bersantai memandangi sungai nan indah.


"Kak, pemandangan di sana sepertinya indah. Aku baru kali ini ke tepi kota."


"Kamu mau ke sana?."


"Mau!!" seru Hani.


"Nanti sore saja ya, usai sholat Ashar kita akan menikmati suasana di sana."


Terlampau senang, Hani meloncat-loncat kecil di hadapan Yasmine.


"Kita bawa bekal apa beli jajan sama pedagang di sana aja?" tanya Rania. Bersantai di sana pun menjadi rutinitas mereka saat Yasmine pulang, menghabiskan waktu bersama sang Kakak rasanya menyenangkan bagi Rania.


"Kalau bawa bekal kamu nggak keberatan bantuin Kakak memasak?."


Bola mata gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas satu itu berlarian, dia pasti menolak untuk menjadi asisten memasak Yasmine"Hihihi, nanti minta bekal uang aja sama Ayah" ucapan Rania sontak membuat Yasmine dan Hani tertawa.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2