Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Cobaan Arjuna


__ADS_3

Lagi-lagi di mudahkan urusan mereka oleh Arjuna, Salwa semakin merasa terikat dengan lelaki ini. Seharusnya di saat seperti ini dirinya sebagai anak tertua mampu mengatasi masalah saat ini, namun ketika harus berhadapan dengan uang, sungguh Salwa terperangkap dalam kebingungan.


Bukan nggak punya, pasalnya uang yang mereka miliki nggak seberapa. Mengingat bisnis Ayah sedang nggak baik, harga sawit turun dan naik membuat keuangan mereka belum stabil. Apalagi Ayah sempat menerima buah sawit dari rekan bisnis yang sedang di ambang kebangkrutan, membeli di saat harga sedikit naik namun keesokan harinya harga buah itu mendadak turun. Yah begitulah resiko petani sawit saat ini.


Lantas bagaimana dengan uang terakhir yang di berikan Randy? yang dia sebut sebagai uang kompensasi karena telah mengusir Salwa dari kehidupannya?. Bahkan uang segudang pun akan habis kalau hanya di pakai untuk memenuhi kehidupan sehari-hari tanpa adanya pemasukan sebagai gantinya. Kerugian usaha Ayah membuat Salwa memakai uang tersebut untuk biaya sehari-hari mereka, juga biaya kuliah Hanif.


Keinginan hanya tinggal keinginan, Salwa berharap uang tersebut bisa membantu mereka di saat seperti ini, namun kenyataannya keliru. Arjuna lagi yang menjadi pahlawan di sini, setidaknya bukan lagi Randy.


Usai menyelesaikan segala urusan Ayah Anton, Arjuna sempat berbicara dua mata saja dengannya, lantas kemudian pergi ke kantor. Tak lupa dia meninggalkan Pram bersama mereka di sana. Seolah menghindari Salwa, sejatinya Arjuna menahan diri agar enggak salah melangkah. Mengetahui wanita pujaan hati mulai menerima kehadirannya, ingin rasanya Arjuna merengkuh Salwa ke dalam pelukan. Ck!! bisikan setan selalu membuat sang hati berdebar saat bertemu, oleh karena itulah dia selalu menghindar kalai bertemu Salwa.


Justru, Arjuna nampak santai saat berbicara dengan Ayah, juga sempat bercanda bersama Ibu. Sesaat setelah Salwa kembali menemui dokter, Arjuna gegas undur diri.


"Apa ini yang kamu sebut cinta? kamu menghindariku" gumam sang hati.


Kebiasaan Salwa yang mudah merasa rendah diri, menimbulkan berbagai prasangka buruk di dalam hati. Sempat mencoba bertatap mata, Arjuna hanya sekilas melihatnya sebelum benar-benar pergi dari sana.


Merenung, Salwa duduk menghadap dinding kaca yang mengarah ke halaman rumah sakit besar itu. Di antara banyaknya orang di bawah sana, dirinya nggak menemukan Arjuna menuju keluar area rumah sakit.


"Akh! aku bahkan nggak tau yang mana mobilnya" gumam Salwa lagi.


"Ayah capek? mau di pijit?."


Mendengar Nur menawarkan pijitan, Salwa gegas mengambil alih apa yang hendak di lalukan sang Ibunda.


"Ibu sudah lelah menjaga Ayah sejak subuh, Ibu istirahat saja di sofa, biar Salwa yang memijat Ayah" Salwa memijat pelan kaki Anton, dan saat itu pula Arjuna keluar dari area rumah sakit menggunakan motor sport.


Ada kejadian nggak mengenakan di perjalanan pagi tadi, kesibukan di hari senin bahkan gerimis nggak mampu menghalangi para pekerja menuju kantor masing-masing. Meninggalkan mobilnya, Arjuna berangkat ke rumah sakit bersama Pram yang juga sedang dalam perjalanan ke sana. Beruntung jarak tempuh nggak terlalu jauh hingga baju yang mereka kenakan tak terlalu basah.


"Hatchu!!" Arjuna yang gagah ternyata kalah dengan rintik sang hujan. Alih-alih ke kantor, Arjuna malah berbelok ke kediaman pantai. Di sana Jenaira menyeduhkan susu jahe demi mengusir rasa dingin di tubuh Arjuna.


"Kenapa nggak menunggu gerimis reda? meski hanya gerimis, sebagai penderita alergi dingin itu cukup beresiko untuk mu." Sudah menjadi kebiasaan, Ibu-ibu akan tetap mengomeli anaknya yang bandel meski sudah dewasa.

__ADS_1


"Hatchu!! nggak kuat Bu!!."


Menggelengkan kepala"Nggak kuat gimana? berteduh kamu bilang nggak kuat?."


"Di sana ada Salwa, Arjuna nggak kuat."


Mengambil duduk pada meja balkon lantai atas, Jena menatap Arjuna dengan kedua tangan terlipat di atas meja"Nggak kuat saat ada Salwa? otak kamu sudah kotor?."


Sekali menyesap, Arjuna meletakan kembali susu jahe itu di atas meja"Kotor gimana? justru Arjuna pergi karena nggak mau berpikiran kotor. Ini bukan hanya karena cinta Bu, Salwa terlalu indah di mata Arjuna!!. Segumpal darah di dalam sini kayak orang lagi konser kalau berhadapan dengan dia, Arjuna takut mati kutu!!." Pemuda ini menepuk dadanya, tepat di posisi jantung.


Jenaira terbahak"Hahahaha!!! caramu mencintai Salwa itu hampir mirip dengan Ayahmu dulu, mencintai Ibu secara diam-diam. Tapi Ayah lebih bisa menahan gejolak di dalam dada, jadi nggak suka kabur-kaburan seperti kamu."


"Oh ya? apa rahasia Ayah kuat bertahan di hadapan Ibu?."


"Hemmmm" dua bola mata Jenaira berlarian, kesana dan kemari"Oh!! itu karena dia suka mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran, baik itu di dalam mobil atau di mana saja" Jena sedikit flashback pada masa muda mereka.


"Arjuna juga gemar mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran, tetap saja berdebar saat bertemu dia." Wajah tertekuk Arjuna terlihat lucu bagi Jena.


"Langsung nikahi saja!! hanya itu cara satu-satunya" Agam datang membawa secangkir kopi untuk sang istri. Sebagai penyuka kopi, sampai detik ini Jena belum bisa meninggalkan minuman bernikotin itu. Ada rasa lega, ada rasa tenang, ada rasa damai saat minuman itu sampai di tenggorokan, bahkan beban pikiran terasa berkurang setelah menyesapnya seteguk saja.


"Kan belum waktunya Ayah" nada lemah sang putra saat bicara, membuat Agam tertawa, dia memang suka menggoda Arjuna.


"Mas!! kok di ledekin!."


"Lihat hidungnya merah begitu, nanti jadi badut lho." Seolah membela Arjuna, padahal Jena juga sedang menggoda sang putra.


Nggak mau semakin menjadi bahan olokan kedua orang tua, Arjuna meminum kembali susu jahe olahan Jena, kemudian memeluk tubuhnya dengan mengangkat kedua kaki ke atas kursi yang dia duduki.


Menyampirkan selimut tebal di pundak Arjuna "Sabar ya, dua bulan itu nggak lama kok."


Arjuna memberengut, Agam tersenyum lembar menampilkan lesung di kedua pipi. Sementara Jena mengabadikan kedekatan dua lelakinya itu dalam sebuah foto. Meng-upload ke akun media sosial dengan caption"Ayah yang gemar menggoda sang putra."

__ADS_1


Sangat jarang membagikan kegiatan di dunia kenyataan, setiap kali Jena membagikan kisah manis mereka selain kutipan dan promo novel-novelnya, para netizen langsung mengomentari isi dari unggahan Jena.


Kali ini memperlihatkan dua lelaki tampan dalam satu frame, Agam yang sedang memunggungi Jena ketika menyelimuti Arjuna, kehangatan seorang Agam sungguh nggak di ragukan lagi.


"Putranya sangat beruntung, gerimis nggak akan terasa dingin sebab ada seorang Ayah sehangat dia."


"Kehidupan penulis kita sangat indah, dia hidup di kelilingi para lelaki tampan!."


"Bagaimana dengan kabar Tuan Arkan, dia terlihat sibuk di luar negeri."


"Apa ada artis handal kita di belakang kamera?."


Sudut bibir Jena terangkat naik saat membaca bermacam komentar Netizen, namun sejauh ini sangat jarang dia membalas komentar mereka.


Teringat dengan Gibran sang artis handal, lelaki itu sedang di sibukan dengan jadwal syuting di luar negeri. Bermula dari model iklan produk dengan harga terjangkau, Gibran kini menjelma menjadi model pakaian dengan harga fantastis. Belakangan dirinya menandatangani kontrak kerja dengan salah satu merek pakaian ternama. Kesibukan pekerjaan membuatnya jarang bersama istri dan sang buah hati.


Gadis kecil itu sudah pandai berceloteh, Arjuna teringat akan dia"Arjuna ke bawah, mau main boneka."


"Cowok kok sukanya main boneka, galau banget kayaknya karena cinta"


"Ibu~~~~" seperti bocah, Jena bukan nggak tau siapa yang di sebut boneka oleh Arjuna.


"Hihihi, maaf. Kamu lucu kalau sedang merajuk."


Di rumah di ledekin Nenek Adila karena keduluan Enda menikah, di sini di ledekin Ayah sama Ibu karena harus menunggu waktu yang tepat untuk menikahi Salwa.


"Orang-orang suka sekali melihatku menderita" ujarnya seraya menuruni tangga.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2