
"Aku bahagia dengan hidupku sekarang."
Potongan dari kalimat Salwa dalam wawancara dadakan di konter Angga, menjadi tamparan bagi Mia. Salwa terlihat cantik dalam balutan kerudung nan panjang. Dirinya nampak anggun sekarang, bahkan tanpa memakai pakaian seksi pun dia tetap menawan. Kabar terbaru tentangSalwa membuat banyak pekerja di kantor Randy membicarakan Mia. Siapa yang nggak tau sepak terjang Mia untuk mengambil hati Randy, dia bahkan sengaja merobek rok mini demi menarik perhatian Randy dahulu.
Siapa yang tak sedih kehilangan tambatan hati, seorang suami yang tampan dan mapan seperti Randy, tentu Salwa terluka. Banyak dari mereka yang merasa kasihan pada Salwa dan menduga Salwa sangat terpuruk setelah perpisahan mereka. Namun setelah wawancara itu di rilis, nyatanya Salwa terlihat lebih ceria, terlihat berseri wajahnya.
Sedangkan Mia, usaha untuk memancing ikan nan besar itu memang membuahkan hasil, tapi akhir-akhir ini Mia terlihat murung. Sejak resmi menikah Mia memutuskan untuk berhenti bekerja, namun hampir setiap hari dia bertandang ke kantor untuk makan siang bersama Randy.
"Dia memang semakin cantik, tapi akhir-akhir ini wajahnya terlihat sedih."
"Aku melihatnya menatap diri di cermin kamar kecil, lama sekali. Aku jadi takut hendak masuk ke ruangan itu."
"Dia merenung di rooftop kemarin."
Mia mulai menjadi bahasan mereka, begitu cepat kesedihan itu mereka sadari sebab Mia memang terlihat berbeda.
Bukan hanya orang-orang di kantor, teman-teman nongkrong Mia pun merasakan perubahan pada diri Mia. Dia mulai jarang ikut berkumpul, shopping dan perawatan ke salon.
"Bawaan bayi kali, tubuhnya makin capek karena usia kehamilan semakin bertambah" duga salah seorang teman Mia saat mereka membahas tentang Mia.
Di dalam ruangannya, Randy sedang menonton wawancara tersebut. Mengindahkan segala ucapan Salwa, Randy lebih tertarik akan kecantikan Salwa. Di momen terakhir Salwa tersenyum pada kamera seraya mengucapkan salam perpisahan. Spontan Randy juga tersenyum, dia sangat merindukan senyuman wanita itu.
...****************...
Menjadi terkenal itu nggak selalu menyenangkan. Wawancara itu membuat hidup yang mulai tenang terusik kembali. Pemburu berita datang ke kediaman mereka ingin melakukan wawancara, juga ada yang ingin meliput keseharian Salwa. Bahkan ada dua pemburu berita yang datang ke rumah sakit ingin meliput keadaan Ayah Anton.
Hanif menolak mereka, namun dasar pemburu berita, ada banyak akal dalam otak mereka. Berbekal kamera dengan kwalitas tinggi, mereka sempat mengambil beberapa foto di depan ruangan Anton di rawat.
"Hapus foto itu!" suara berat Pram mengejutkan mereka.
"Anda siapa?."
"Aku nggak harus mengenalkan diri pada kalian. Hapus foto itu sekarang!!" terdengar datar, Pram yang bertubuh tinggi tegap sempat membuat jantung mereka berdebar. Dua wanita pemburu berita ini mengakui ketampanan Pram, mereka menerka usianya nggak jauh dari atas Salwa.
Memakai kemeja berwarna hitam, menggulung lengan kemeja sebatas siku, barisan otot di lengan pemuda ini sungguh menggoda.
"Tubuh yang sehat" salah seorang dari mereka berbisik.
__ADS_1
"Dan peduli pada Nona Salwa" sahut lawan bicaranya.
"Cepat hapus sebelum aku panggil satpam. Kalian masuk tanpa izin bukan?" ujar Pram lagi.
Mereka nampak bingung hendak memberikan jawaban. Hal ini meyakinkan Pram bahwa mereka memang masuk tanpa izin dan sudah jelas mengambil foto pun tanpa izin dari Salwa.
Mengulurkan tangan ke depan mereka"Berikan kamera kalian, aku akan menghapus sendiri."
Memeluk kamera itu dengan erat"Jangan!!. Kami hanya mengambil foto Ayah Nona Salwa yang sedang berbaring sakit. Kami hanya akan memberitakan tentang Ayahnya yang sakit dengan Nona Salwa yang begitu baik merawatnya."
"Heem!!" Pram menggeleng"Lekas berikan."
Di desak terus oleh lelaki setampan Pram, dua wanita ini luluh pada akhirnya.
"Baiklah, tapi kamu siapa? kenapa peduli sekali dengan Nona Salwa?."
"Aku orang yang selalu menjaganya" sahut Pram seraya memeriksa kamera itu.
"Oh ya. Sejak kapan?."
Setelah memastikan kamera mereka bersih, Pram undur diri dari hadapan mereka. Dia masuk ke ruangan tempat Ayah Salwa di rawat.
"Cepat foto!! cepat!!."
Nggak perlu waktu lama. Beberapa jam setelah kedatangan dua pemburu berita itu, kabar terbaru sudah muncul dan mengguncang publik. Kali ini bukan hanya Randy yang kesal, tapi juga Arjuna.
"Penjaga yang tampan, apakah dia kekasih baru Nona Salwa?" begitu bunyi judul artikel terbaru, yang banyak mendapat perhatian dari pada netizen.
Foto Pram memasuki ruangan di sandingkan dengan foto diri Salwa.
"Pram!!! jelaskan kabar ini?."
Waduh! Pram kecolongan. Dua wanita itu mengambil foto dirinya memasuki ruangan tempat Anton di rawat. Tapi bukan itu masalahnya, judul dari artikel itulah yang membuatnya menerima tatapan tajam dari Arjuna.
"Ini hanya asumsi mereka Tuan, mereka salah sangka."
"Pasti ada alasannya hingga mereka membuat judul seperti itu!!."
__ADS_1
Pram diam sejenak, menyusuri ingatan saat kejadian itu.
"Waktu saya meminta mereka menghapus foto Pak Anton, mereka menanyakan siapa saya."
"Terus!?."
"Saya penjaga Nona Salwa. Saya jawab begitu Tuan."
Ck!! terdengar decihan Arjuna.
"Kenapa nggak bilang bahwa kamu orang suruhan saya untuk jagain Salwa?!. Jawabanmu itu membuat mereka salah sangka!!. Wajar saja mereka mengira kamu..., akh!!" menghenyakkan diri kursi kebesarannya"Gaji kamu bulan ini di potong."
Pram nggak terima, dia langsung bertanya dengan wajah nggak rela"Kenapa? ini bukan hanya kesalahan saya, mereka yang membuat judul asal-asalan Tuan."
"Jadi gaji mereka yang harus aku potong?? mereka bukan anak buahku!! Arjuna berdiri seraya berkacak pinggang.
Tergagap"Bu----bukan begitu Tuan" Pram bingung harus menjawab seperti apa. Dalam mode seperti ini penjelasan seperti apapun nggak akan berarti.
"Pokoknya gaji kamu di potong bulan ini" membelakangi Pram, Arjuna jelas kesal padanya.
"Tunggu apa lagi? pergilah. Selesaikan masalah ini secepatnya" ujar Arjuna lagi karena Pram nggak jua pergi dari sana.
"Siap Tuan!!." Pram pun pergi meski sang hati sangat nggak rela harus kehilangan sebagian gaji nya bulan ini.
Membuka jendela di hadapannya, berharap semilir angin langsung meredakan emosi yang memuncak"Enak saja!! foto ku saja nggak pernah bersanding dengan Salwa!!. Kenapa jadi dirinya yang ada di sana!!" menggerutu seperti anak kecil, Arjuna melangkah menuju kulkas kecil.
Tiga tegukan air mineral itu nggak jua meredakan rasa dongkol di dalam dada. Bahkan air minum itu telah tandas, rasa kesal masih dapat dia rasakan.
"Hupffhh!!!" membuang nafas kasar. Membuka kancing lengan kemeja, membuka dua kancing teratas kemejanya, Arjuna masuk ke dalam kamar kecil dan mengambil air wudhu. Usai membasuh wajah dirinya menatap lepas ke luar jendela.
"Oh waktu, cepatlah berlalu!. Aku ingin segera mengatakan kepada dunia bahwa dia milikku!!."
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1