Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Manis kehidupan


__ADS_3

Masih dalam masa cuti setelah menikah, ini adalah hari terakhir untuk Fateena. Mengambil cuti nggak terlalu lama, dirinya pun nggak memaksa Syailendra untuk mengajaknya berbulan madu ke lain tempat. Suasana di desa ini sudah sangat indah dan ada beberapa tempat romantis yang bisa mereka kunjungi. Romantis? hal ini tergantung siapa yang sedang melakoninya bukan. Meski sedang berada di emirgan park sekali pun, kalau pasangan yang sedang berbulan malu itu hanya bertengkar, apalah arti dari hamparan bunga tulip yang memenuhi taman itu.


Petang Kemarin Fateena mengatakan kegemarannya memancing, saat melihat Pak tua melintas dengan membawa pancing dan hasil pancingannya. Syailendra segera mengajaknya untuk melakukan aktivitas yang dia sukai itu, dan dengan senang hati Fateena menyetujui ajakan sang suami.


Menaiki sepeda dengan waktu tempuh kurang lebih lima belas menit, Syailendra membawa Fateena ke sebuah danau, dengan kebun sayuran di sekitarnya.


Seorang wanita dengan pakaian syar'i, tersenyum menyambut kedatangan mereka. Sebelum berangkat Enda menghubungi seorang teman yang tinggal di sebuah Villa, seorang Ustadz yang memiliki kebun sayuran cukup besar di desa ini. Keindahan desa ini memang kerap menarik pengunjung untuk menetap di sini. Ustadz Wahab nama teman Syailendra itu, istrinya seorang wanita dari perkotaan, dan setelah melihat keindahan desa tersebut tanpa ragu memutuskan untuk menetap dan menikah dengan Ustadz Wahab. Namun ada alasan lain juga yang mendasari kepindahannya ke tempat ini.


"Saya di rumah, hendak memanen beberapa sayuran untuk mengisi kulkas" sahut Wahab saat Syailendra menanyakan posisinya via telepon.


"Boleh kami bertandang ke kebun? ke danau di kebun Ustadz lebih tepatnya."


"Kami? apa pasangan pengantin baru ini akan mengunjungi kami?" terdengar suara penuh semangat Wahab.


Enda tertawa, dan Wahab segera memintanya untuk datang.


Selain mendapat ikan hasil pancingan, Fateena dan Syailendra mendapat bekal sayur-sayuran yang segar. Sebagai seorang wanita yang gemar memasak, Fateena sangat senang akan hadiah tak terduga itu. Apalagi dirinya ikut serta dalam memetik sayuran itu, berada di kebun milik Wahab rasanya senang sekali.


"Lain kali berkunjung lagi ya" ujar Juwita, istri dari Ustadz Wahab.


"Insa Allah" sahut Fateena. Teman baru, Fateena mendapat teman baru petang ini, seorang wanita yang baik hati dan lembut dalam bertutur kata.


"Berapa harga ikan ini?" kehadiran Enda usai menimbang ikan hasil pancingan mereka, menarik Fateena untuk mendekat padanya. Di iringi Juwita yang juga mendatangi Syailendra dan suaminya, Wahab.


"Harga apa? bawa saja. Ini hasil pancingan kalian" Wahab menahan tangan Syailendra yang sudah memegang dompet.


"Tapi ini lumayan banyak."


"Enggak lebih dari dua kilo. Di masukan ke dalam keranjang sepedamu pun nggak membuat ban nya kempes." Syailendra tertawa mendengar perkataan Wahab.


"Baiklah" ujarnya masih dengan tawa.

__ADS_1


"Nanti aku akan mengirimkan yang sudah masak saja."


"Engg----."


"Heit!! rejeki nggak boleh di tolak!" sambar Syailendra.


"Terima saja Bi. Kapan lagi kita menikmati masakan koki yang di antar langsung ke rumah kita. Gratis pula" Juwita menimpali.


Bersenda gurau, Fateena melihat keramahan dalam pergaulan warga di desa ini. Juga gemar berbagi yang seolah menjadi kebiasaan. Bukan kali ini saja Fateena melihat secara langsung tetangga yang memberi kepada mereka. Dua hari setelah tinggal di sini Fateena mendapat semangkuk bubur manis dari tetangga belakang. Juga paman petani di sekitar rumah mereka, kebetulan hari itu dia sedang panen dan membawa sisa hasil panennya pulang. Saat melihat Fateena di halaman depan, paman itu memberikan dua buah labu kuning dengan ukuran kecil.


"Di bikin sarikaya enak lho Nak Fateena" ujar sang Paman.


"Wah terimakasih banyak Paman" ujarnya saat itu.


Dan kali ini, saat bertandang ke kediaman Juwita dan Wahab, Syailendra di beri ikan secara gratis, dan dirinya di beri sayuran segar secara gratis juga.


Di sepanjang perjalanan pulang tak henti Fateena mengagumi kemurahan hati orang-orang di dekatnya saat ini.


"Hemm, terimakasih sudah mengajakku tinggal di sini."


"Itu karena kamu adalah istriku, aku harus memberikan kenyamanan padamu, termasuk tempat tinggal dan suasana di sekitar kita."


Bercerita seraya mengayuh sepeda, nggak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah. Satu belokan lagi maka kediaman mereka akan terlihat. Saat itu pasangan ini di kejutkan oleh suara klakson.


Tiiitttt!!.


"Astaghfirullah!!" seru Syailendra menepikan sepedanya.


"Arjuna!!!" kini Syailendra menatap Arjuna yang tertawa lebar.


"Maaf, Abang sih naik sepeda aja kayaknya senang sekali. Apa karena ada yang duduk di depan ya?" sebuah sindiran, sontak membuat Enda yang hendak marah jadi mengulum senyuman. Sedang Fateena lekas turun dan mengambil ikan dan sayuran di keranjang.

__ADS_1


"Sekarang kamu boleh puas-puasin menggoda kami. Tiba saatnya kamu sudah menikah dengan Salwa, awas saja ya."


Alih-alih peduli dengan ancaman Syailendra, Arjuna menegur Fateena"Kakak ipar, kalau berat biarkan Abang tampan ku ini yang membawanya. Masih beberapa langkah lagi baru sampai ke rumah kalian."


"Arjuna, awas saja kamu" Fateena juga melontarkan ancaman yang sama padanya.


"Mentang-mentang sepasang, jadi ancamannya juga sama nih." Nggak hentinya Arjuna menggoda mereka, Fateena meninggalkan mereka dengan senyuman di balik cadarnya.


Jiitttt!!!! Syailendra menarik telinga Arjuna.


"Awww!!! sakit Bang!!" suara mengaduh Arjuna membuat Fateena menatap balik, dan dia pun semakin tertawa meliat Arjuna mendapat hukuman langsung.


"Bercanda Bang!!. Bercanda!!" pekik Arjuna tertahan.


"Usil, sama seperti Mecca." Jemari itu di lepaskan dari telinga Arjuna.


"Lekas mandi, nanti bantu Abang bakar ikan."


"Wahhh dapat undangan makan, oke deh" meski telinga terasa sakit, mendengar ajakan makan dari sang koki, Arjuna melupakan tangan nakal sang Abang. Malam itu mereka kembali menikmati makan malam bersama, Mecca sangat senang masa liburannya kerap di isi dengan acara makan bersama.


Tiba-tiba gerimis turun saat Fateena terkenang kejadian kemarin sore. Duduk di ruang tamu dengan pemandangan indah langsung dari dinding kaca, sangat nggak menyangka dirinya akan berada di posisi sekarang setelah menjadi bulan-bulanan masyarakat di kediaman orang tua angkat. Jalan hidup adalah salah satu rahasia sang pencipta, merasakan manis setelah pahitnya kehidupan membuat Fateena nggak henti mengucap syukur di dalam dada.


Di desa sebelah, di bawah rintik hujan itu Hanif mencari tumpangan untuk membawa Ayah Anton ke rumah sakit. Dadanya kembali terasa sesak.


"Ya Allah, semoga Ayah baik-baik saja" pinta Salwa di dalam hati.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2