Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Pandang pertama


__ADS_3

Sehari sebelum pernikahan Syailendra, Arjuna mendapat sambutan baik di tengah jalan. Jalan menuju kediamannya itu tergolong sepi di malam hari, dan di saat seperti itulah Arjuna di cegat.


Tanpa rasa takut Arjuna keluar dari dalam mobil, setelah sebelumnya seorang pria tinggi berkulit gelap dengan pakaian serba hitam menyuruhnya turun.


Bukan hanya berotak cemerlang, Arjuna juga pandai bela diri mengingat Opa tuanya seorang mantan kaki tangan mafia. Menyadari kehidupannya masih menjadi incaran orang-orang jahil dari pihak musuh, Opa tua pun melatih Arjuna sejak kecil agar pandai menjaga diri.


Bersandar pada mobilnya, Arjuna melipat kedua tangan di dada"Siapa yang mengutusmu?!" dengan santai dia bertanya, tampilan sangat pria tinggi itu nggak membuatnya takut sedikitpun.


"Aku!" seru seseorang. Pria tinggi putih keluar dari dalam mobil, yang berada nggak jauh darinya.


Biasanya lampu di jalan itu terang benderang, entah kenapa malam ini mendadak mati sebagian. Tepat di lokasi mereka hanya ada satu lampu yang menyala, dan itu nggak cukup jelas untuk Arjuna mengenali siapa sosok tersebut.


Memicingkan kedua mata, orang tersebut masih nampak asing baginya. Setelah beberapa langkah mendekat, Arjuna teringat akan profil seorang CEO baru yang menginginkan tanah kosong di daratan tinggi milik sang Kakek.


"Richard Brander."


Sudut bibir pemuda di hadapan Arjuna terangkat naik, dia tersenyum tipis.


"Boleh minta waktunya sebentar?!" tanya Richard menatap dengan senyuman kecil, ke arah Arjuna.


"Ya, tentu. Seharusnya anda bisa mengatur waktu bertemu kita secara baik-baik, Tuan Richard."


"Anda sangat sibuk Tuan Arjuna. Aku sudah meminta waktu pada anak buahmu. Anak buah yang sangat pandai menggali semua informasi di dunia ini."


Tersenyum smirk, Arjuna menyadari lawannya bukanlah orang biasa"Oh, akhir-akhir ini jadwal saya memang padat."


"Mari ikut ke mobil saya, maaf atas ketidaknyamanan ini."


"Alih-alih di dalam mobil, bagaimana kalau anda bertandang ke kediaman saya saja. Setidaknya di sana kita bisa menikmati malam yang indah ini. Mengobrol pun jadi lebih nyaman alih-alih berada di tepi jalan seperti ini."


Sebuah undangan tak terduga, Richard lekas menyetujui hal itu. Sudah lama dia mencari waktu untuk bertemu Arjuna, namun pemuda itu seolah enggan berjumpa. Kali ini semesta merestui pertemuan mereka, meski sedikit di paksakan.


"Tentu, kami akan mengikuti mobil anda dari belakang."


"Sepertinya tanpa mengikuti mobil saya, anda pasti sudah tau di mana kediaman saya."


Ucapan Arjuna membuat Richard terkekeh"Hahaha, itu benar sekali Tuan. Saya bahkan mengetahui seseorang yang terus mengusik hati anda. Dan ini bukan tentang bisnis."

__ADS_1


Langkah Arjuna terhenti tepat di depan pintu mobil. Salwa, wanita itu juga dalam pengawasan Richard??.


"Saya hanya sekedar tau, nggak ada niat untuk memilikinya. Tenang saja Tuan" lekas Richard menjeda langkah Arjuna yang hendak berbalik ke hadapannya.


Dengan kedua tangan mengambang di depan dada"Sungguh seorang wanita yang sangat menawan, tapi aku nggak akan mengganggunya, apalagi kalau ada kesepakatan di antara kita."


Wajah meledek Richard membuat emosi tersulut, Arjuna mengepalkan kedua tangan. Kalau sampai Salwa menjadi sasaran Richard, dia akan membuat perhitungan dengan lelaki ini.


Sesampainya di kediaman Arjuna, Richard di ajak untuk masuk ke dalam. Beberapa orang yang bersama Richard di minta untuk menunggu di luar saja. Melihat dan sangat mengetahui bahwa Arjuna bukanlah orang jahat meski memiliki riwayat keluarga seorang kaki tangan mafia, Richard pun masuk ke kediaman itu tanpa rasa waspada.


"Langsung saja, apa yang kamu mau." Terdengar lebih santai, Arjuna menggunakan kata kamu, bukan lagi anda.


"Oho, apa sekarang kita akan berteman?" ujar Richard mengerti akan maksud Arjuna merubah bahasa mereka.


"Selama nggak merugikan, aku bersedia berteman dengan siapa saja" meletakan beberapa kaleng soda di hadapan Richard. Kemudian mengambil beberapa cemilan dan meletakkan di hadapan Richard.


Pemuda itu kembali terkekeh"Hei!! kita nggak akan menonton film kan?. Kamu menyiapkan banyak camilan Tuan Arjuna."


"Panggil aku Arjuna saja, Richard" kini Arjuna telah duduk di hadapan Richard.


Sembari memperbaiki letak duduknya lebih condong kepada Arjuna, dengan kedua tangan saling bertautan Richard langsung berkata"Tanah kosong di dataran tinggi akan membangun persahabatan kita, kokoh hingga tanpa batas waktu."


"Aku perlu alasan kuat untuk menyerahkan tanah itu kepadamu" ujarnya akhirnya.


Saling berpandangan, sangat kentara dua pemuda pintar ini saling menyelami diri masing-masing.


"Aku ingin memperbaiki kegagalan Papaku" ujarnya.


"Dan aku ingin mewujudkan keinginan Kakekku" ujar Arjuna pula.


Dengan keinginan masing-masing, Arjuna dan Richard terus bergelut tentang tanah kosong itu. Sebagai orang yang memegang kendali akan tanah itu, tentu Arjuna nggak anak menyerahkannya begitu saja. Dia sempat menanyakan alasan Abian menyayangi tanah itu, alasannya hanyalah karena Abian melihat peluang bisnis di sana. Sedangkan Richard adalah seorang yang sangat menginginkan kesempurnaan. Dalam hidupnya nggak boleh ada kegagalan, baik itu dalam hidupnya atau dalam kehidupan sang Papah.


Terus mendapat penolakan halus, bahkan harga fantastis sudah dia tawarkan kepada Arjuna, Richard seperti kehabisan cara"Maka aku akan meminta Papahku untuk menemui Kakekmu." Wajahnya terlihat menegang, nggak ada lagi Richard yang tengil itu.


Menyerang dengan santai dan senyuman, Arjuna kembali berkata"Semua sudah di serahkan kepadaku. Tapi kalau kamu tetap ingin bertemu Kakekku, aku nggak akan melarang."


Rahang Richard mengeras, bahkan dalam senyuman itu wajah tampan Arjuna sangat jelas meledek padanya.

__ADS_1


Seraya melirik arloji"Hari semakin malam, aku akan pamit pulang."


"Ya, terimakasih sudah bertamu kemari, Richard."


Aish!! menyebalkan!!. Richard mengerang kesal setelah berada di dalam mobil"Arjunaaaa!!! kurang ajaaarr!!."


...----------------...


Pagi-pagi sekali, usai sholat subuh para santri kembali sibuk di lokasi pernikahan Syailendra dan Fateena. Di tengah lapangan, di depan kelas santriwati, dua buah pelaminan telah berdiri di sana. Pelaminan itu sengaja di bangun dua, untuk memisahkan tamu laki-laki dan perempuan yang hadir nanti. Usai mengucapkan janji suci Syailendra menitikan air mata. Di balik cadarnya Fateena pun sama, sedang berlinang air mata, tentu air mata kebahagiaan.


Para undangan mulai berdatangan pada jam 09.30. Dan pada saat itu Arjuna di buat terkejut, hanya sedikit terkejut sih. Di sebuah meja tamu para lelaki, sang Kakek sedang mengobrol dengan seorang lelaki berwajah asing. Seorang yang tadi malam menjumpainya dengan cara nggak biasa duduk pada meja yang sama.


Menyadari sedang di tatap oleh Arjuna, Richard tersenyum kecil dengan alis turun naik. Membalas wajah meledek itu, Arjuna hanya memainkan jari telunjuk ke arah Richard.


"Cepat sekali pergerakan orang ini. Ckckc!!" ujarnya bergumam.


"Abang ngomong apa sih?!." Mecca sedang bersamanya. Dengan gelas kecil berisi jus jeruk.


"Teman baru Abang, dia datang ke acara ini."


"Oh ya, cewek apa cowok??." Dia mengatai Syailendra seperti meerkat, padahal sendirinya seperti itu sekarang, sedang memanjangkan leher melihat ke arah telunjuk Arjuna.


Lagi, berniat meledek Arjuna dengan mimik wajah menyebalkan, Richard justu terpaku pada sosok Mecca. Gadis berkerudung hitam, juga dengan gamis hitam. Kulit putihnya semakin bercahaya dengan pakaian itu. Di tambah senyum manisnya saat bercanda bersama Arjuna, sebongkah hati di dalam sana tengah berdetak tak karuan.


"Itu, yang lagi duduk semeja sama Kakek Abian."


Mendapati seorang pemuda di meja sang Kakek, mulut Mecca membulat"Ohh yang itu. Abang nggak nyamperin temannya?."


"Enggak. Nanti aja."


"Oh ya sudah, Mecca ke dalam dulu ya."


"Hemm" sahut Arjuna.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2