Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Penolakan Randy


__ADS_3

...Menahan diri untuk tidak menyapa itu perkara mudah, tapi menahan diri untuk tidak mencintaimu, itu sangatlah sulit....


...MiaπŸ₯€...


...🌺🌺🌺🌺...


Pagi itu di meja makan. Salwa kembali berdiri di tepi jurang Kesabaran. Setelah menyaksikan Heru mencolek pipi wanitanya, Randy bukannya marah, justru tersenyum kepada Heru, terlebih saat pria tua itu mengatakan bersedia untuk menjalin kerjasama dengannya.


Meraih jemari Salwa, mengusap dengan lembut"Sayang, terimakasih. Berkat kamu pak Heru----."


Alih-alih mendengar dengan seksama, Salwa menarik jemarinya dan beranjak dari kursi.


"Hei! aku belum selesai bicara. Kamu sudah berani mengabaikanku!?," hardik Randy. Dalam sekejap suara lembut itu meninggi.


Seraya meremat baju tidur, untuk pertama kalinya, Salwa berani menatap tajam ke arah Randy"Mas, apa arti diriku untukmu?."


Ck! hanya terdengar decihan jengah dari mulut Randy. Sebenarnya ketegangan ini sudah tercipta sejak tadi malam, sejak mereka kembali dari Mall. Entah terbuat dari apa hati lelaki bernama Randy ini, dirinya nggak menyadari perubahan raut wajah sang istri menjadi muram, dengan mudahnya dia tersenyum melihat Heru menyentuhnya.


"Kamu masih marah hanya karena Pak Heru mengusap pipimu?."


"Hanya? Mas bilang hanya?," nada bicara yang sedikit meninggi, membuat Randy mengerutkan kening.


Dia beranjak jua dari kursi makan, mendekap Salwa yang sedang menahan amarah"Salwa Sayang," ucapnya lembut. Kembali, perubahan nada bicara itu terjadi, Randy tak ayal manusia berkepribadian ganda.


"Maafkan Mas, Pak Heru kagum atas kecantikan yang kamu miliki. Dia hanya ingin di temani makan malam olehmu. Dan lihatlah setelah menemaninya makan, dan menemani dirinya berkeliling Mall, Pak Heru berniat menanam modal yang besar dalam perusahaan Mas. Kamu bintang keberuntunganku, Sayang."


Salwa tersadar, ternyata Randy memang mengatur segalanya tadi malam. Kedatangan Heru bukanlah sebuah kebetulan. Apakah Heru yang di hubungi Randy melalui telepon selulernya saat di Mall itu? kedatangan Heru nggak berselang lama usai Randy menelpon bukan?


Degup jantung mulai beradu, rasa kesal dan marah semakin memuncak"Mas Randy, jadi...dari awal Mas sudah merencanakan pertemuanku dengan pak Heru? kamu dan Pak Heru mengelabui ku? dan...itu berarti kamu memang sengaja meninggalkan ku dengan pria asing itu? demi memuluskan bisnismu?," sedikit tersengal, demi menahan luapan emosi.


Menyadari gelagat amarah Salwa, kali ini Randy nggak akan menekan amarah Salwa dengan amarahnya jua. Pria itu memasang wajah memelas, seolah menyesali perbuatannya kemarin malam.


"Sayangku Salwa, maafkan aku. Aku harus mendapat kerjasama dengan pak Heru, dengan kerjasama itu Mas akan mendapatkan keuntungan yang besar. Kau sendiri tahu bukan berapa banyak yang harus Mas biayai setiap bulan?."


Akh! di balik wajah penuh penyesalan itu, Randy menekan Salwa dengan jasa membiayai keluarganya selama ini.


"Mas sungguh terpaksa Salwa, sebab dia sangat ingin menghabiskan sediki waktu bersamamu, sesungguhnya hatiku nggak rela melihat kamu bersamanya, Sayang," ucap Randy lagi.


Tak sampai di situ saja, Randy luruh ke lantai, berlutut di hadapan wanitanya"Salwa...maafkan Mas," suara lirih dengan wajah memelas, sebuah pemandangan yang sangat langka. Salwa yang selalu memupuk cinta dan kasih terhadap Randy, merasa nggak tega kalau terus marah pada suaminya. Perlahan wanita itu kembali duduk, sedangkan Randy memegangi tangannya begitu erat.

__ADS_1


"Mas janji, nggak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi," ucapnya sembari meletakan kepalanya di pangkuan Salwa.


"Maafkan Mas ya Salwa, istriku," membawa jemari kecil Salwa untuk menangkup wajahnya, wajah yang memang tampan dan menjadi daya tarik dalam diri Randy.


"Iya Mas, maafkan Salwa juga, sudah marah sama Mas," ucap Salwa beradu pandang dengan Randy.


Senyuman manis terbit di wajah Randy, akhirnya dia berhasil meluluhkan hati sang istri, sungguh rasa bangga itu nggak pernah surut dari dasar hati, Salwa akan tetap menjadi miliknya, sampai kapanpun"Aku mencintaimu, Salwa."


"Aku juga mencintaimu, Mas."


...----------------...


Romance office, jenis percintaan seperti itulah yang di inginkan Mia. Penolakan demi penolakan yang di lakukan Randy, menambah rasa penasaran dalam diri gadis itu. Kalau di pandang-pandang Mia sangat cantik, tinggi dan bertubuh menarik pastinya. Menyadari hal itulah rasa penasaran semakin merajai dirinya, bagaimana bisa seorang Randy menolak kode cinta darinya? sementara dirinya sangatlah mempesona!.


Kembali menyiapkan secangkir kopi, aktivitas Mia di pantry dengan dua cangkir kopi, mengundang tanya dalam benak office boy.


"Nona Mia, kamu sangat menyukai kopi ya?."


"Ya," sahut Mia tanpa mengalihkan pandangan dari kopi itu, denting gelas beradu bersama sendok mulai terdengar sedetik kemudian.


"Sepagi ini Nona sudah akan menikmati dua cangkir kopi, apakah Nona kurang tidur tadi malam?."


Oh! seorang office boy yang cepat tanggap. Dia langsung mengerti bahwa Mia sedang mengincar tangkapan besar, seorang bos besar yang sangat tampan itu.


Namun, bukan rahasia lagi bahwa bos Randy sudah memiliki istri. Dan istrinya itu sangatlah cantik, jika di bandingkan dengan Mia..., memikirkan hal itu sembari menatap tubuh Mia dari atas hingga ke bawah.


"Hei! apa yang kamu lihat!! jaga pandanganmu!," sentak Mia nggak suka di tatap seperti itu oleh seorang office boy. Yah, mungkin lain ceritanya kalau yang menatapnya adalah Randy.


"Maaf Nona Mia, rok anda sedikir sobek," ujarnya merasa beruntung, itu menjadi alasannya menatap Mia dari atas hingga ke bawah tadi.


Sontak Mia memeriksa roknya, dan benar saja, sisi kiri pakaiannya itu terlihat sobek.


"Aku pernah melihat bibi yang bekerja satu shift denganku membawa benang dan jarum..."


"Nggak perlu!," sambar Mia"Aku bisa mengatasi masalah kecil ini," seringai nakal tercipta di wajah Mia.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu," ujarnya lagi.


Office boy itu hanya memiringkan kepala, sejenak menatap Mia kemudian berlalu.

__ADS_1


Berlenggak-lenggok dengan kopi di tangan, gadis itu masuk ke ruangan Randy dengan tingkat percaya diri yang tinggi. Sejujurnya sikap Mia kerap mengundang cemooh para rekan kerja, namun gadis itu seolah tuli, pun buta. Dia pun nggak merasa risih saat sobek di tepi roknya di tegur salah satu rekan kerjanya.


"Ups!! aku akan menjahitnya setelah mengantar kopi pak Randy," ujarnya menanggapi.


Sorot matanya berbinar, melihat Randy melepas jas dan menggulung lengan kemeja, barisan urat tangan pria itu membuat Mia menelan saliva"Selamat pagi pak Randy," suara yang di buat lembut, dengan senyuman manis.


"Ini kopi anda" melangkah pasti ke meja kerja Randy.


"Kamu lagi, apa office boy di kantor ini terlampau sibuk, hingga kamu yang harus membuatkan kopi?," memainkan bolpoin di atas meja, ingin rasanya Mia menarik jemari itu dan menggenggamnya erat.


"Melihat cangkir kopi anda kemarin tandas, ku pikir anda menyukai kopi buatanku. Aku hanya ingin membuatkannya lagi hari ini."


"Alis yang di ukir cantik, mata yang indah dengan bulu mata lentik, lipstik berwarna indah, sangat cocok dengan bibir tebalnya," batin Randy.


"Kamu pun memperhatikan cangkir kopi ku."


"Tentu pak," sahut Mia bersemangat.


Memutar kursinya hingga lebih tepat berhadapan dengan Mia"Kenapa?."


Eh? Mia terkejut dengan pertanyaan Randy.


"Kenapa?," ujarnya mengulangi pertanyaannya Randy.


"Ya, kenapa? kenapa kamu sangat memperhatikan ku?."


"Karena---" desir di dada membuat Mia tergagap. Akh! dia sangat menyukai pria di hadapannya ini!.


"Karena sa----."


"Mia!" gadis itu berhenti berkata sebab Randy memotong kalimatnya.


"Aku mengerti, bukan sekali dua kali kamu sangat perhatian padaku. Tapi, semua orang tahu aku adalah pria beristri, dan aku sangat mencintai istriku itu. Dari pada membuang waktu, hentikan semua ini dan bekerjalah dengan baik, itupun kalau kamu masih ingin bekerja di perusahaan ini," terdengar lembut namun penuh penekanan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2