Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Si usil Mecca


__ADS_3

Masyaallah!!!


Agam berseru, namun dengan cepat menutup mulutnya. Saat itu dirinya sedang memimpin rapat, dan ada banyak orang di depannya. Bagaimana tidak, sambil berbicara bisnis di bawah meja tangannya membuka pesan yang di kirim sang istri. Gaun-gaun di butik Tuan Hanan sangat menarik, Jena ingin memakainya barang sejenak. Mengirimkan fotonya yang sedang mengenakan gaun pengantin tersebut, tentu saja membuat Agam terkesima, Jenaira cantik sekali.


"Maaf Pak, apa ada masalah?" tanya salah seorang yang hadir di sana.


"Enggak. Saya hanya ingin menikah lagi." Ujarnya memandangi foto Jena dengan senyum mengembang.


HAH!!!! Abian memelotot kepada Agam, kurang ajar sekali menantunya ini. Sudah di kasih kerjaan enteng, dengan jadwal ngantor nggak setiap hari, ehhh malah ingin menikah lagi.


"Agam!!, apa maksud kamu" hardik Abian.


"Hah??" Agam terlihat cengo. Kenapa nada bicara mertuanya seperti sedang marah.


Sorot mata semua orang yang hadir pun membuatnya ngeri, seperti hendak menguliti dirinya. Mengangkat ponselnya dengan gambar Jena"Ini lho, lihatlah Jenaira ku cantik sekali dengan gaun pengantin. Aku jadi ingin menikahinya lagi."


"Haduuhh Pak Agam! bikin kaget saja" ujar rekan kerjanya.


Abian mengambil ponsel Agam dan memandangi Jenaira"Hemm, memang cantik. Awas saja kalau kamu berniat macam-macam. Aku gantung di pohon cabe kamu."


Mimik wajah boleh memberengut, sejurus kemudian Abian tertawa di susul gelak tawa mereka yang ada di sana.


Usai tertawa mereka melanjutkan rapat. Usai rapat Abian dan Agam mengumumkan rencana pernikahan Syailendra, meski nggak sedarah tapi sudah seperti anak dan cucu bagi mereka.


"Undangannya akan di bagikan usai jam makan siang. Jangan lupa datang ya" ujar Abian.


"Siap pak bos" sahut mereka semua.


Di lain tempat, sama halnya dengan Agam yang tersenyum ketika melihat foto kiriman Jena, Syailendra pun juga begitu. Foto Fateena dalam balutan gaun pengantin, kini membuatnya tak henti tersenyum.


"Terimakasih ya Allah, sebentar lagi kami akan resmi menikah" nggak lupa mengucapkan rasa syukur atas segala kebaikan sang maha pencipta.


Masih menjalani keseharian di dapur restoran, Syailendra nggak menjalani ritual pingit seperti apa yang di alami Fateena. Hanya di tiga hari sebelum hari pernikahan, dirinya di haruskan untuk mengambil libur.


"Bagaimana??" Mecca sedang memberikan pacar daun di tangan sang Abang. Pesta pernikahan akan di gelar di pondok pesantren, dan dua bersaudara ini telah berada di sana. Ingin merasakan sensai menjadi seorang santriwati, Mecca menempati kamar yang dahulu di huni Fateena bersama Nida. Kamar itu telah di huni oleh Hani, dan sejak bertemu Mecca sudah terlihat akrab dengannya.


"Bagaimana apanya?."


"Mau menikah? bagaimana rasanya?."


Memutar bola mata ke sana dan kemari, Syailendra tersenyum kecil setelahnya.


"Idih!! malah senyum-senyum aja. Abang jawab dong!." Gadis ini berhenti mengoles pacar daun yang telah di haluskan sebelumnya, kini tangannya menggantung di udara.


"Kamu nggak lihat wajah Abang bercahaya begini, harusnya kamu sudah tau bagaimana rasanya."


Sedikit memiringkan kepala"Iya sih, Abang akhir-akhir ini sering tersenyum sendiri. Ternyata orang yang mau menikah itu beda tipis sama orang gila."

__ADS_1


"Meccaaaaa!!."


"Hihihihi lihat Abang senang Mecca jadi gemas."


"Ya jangan di ledekin dong!."


"Muka Abang kalau lagi merajuk tu lucu!. Kayak meerkat."


"Yak!! Mecca!!" seru Syailendra.


Nggak mau menikmati sentilan tangan nakal Syailendra, saat itu juga Mecca berlari dari ruang tengah kediaman Kyai Bahi. Hanya mengenakan celana pendek selutut, Syailendra urung mengejar langkah seribu sang Adik. Gigi bergerutuk, hanya itu yang terdengar dari mulut Syailendra.


"Awas kamu!!" mengintip Mecca dari dalam, melalui kaca jendela berwarna hitam.


"Bweekkk!!" seolah nggak mengenal rasa takut, Mecca semakin meledek Syailendra.


Hari sudah petang kala itu, para santri putra mulai melangkah menuju Masjid. Ada beberapa santri putra yang melihat tinggkah Mecca meledek Enda, mereka tertawa saat masih berada di kejauhan. Saat semakin dekat jaraknya dengan Mecca, mereka lekas memalingkan wajah. Sebelum para lelaki itu berlalu di belakangnya, Mecca lekas menuju pintu gerbang pertama asrama perempuan, rasanya sangat malu kalau harus berpapasan dengan mereka.


Meninggalkan Enda yang di buat kesal, Mecca memasuki gerbang kedua, menyusuri lorong menuju kamar sementaranya.


"Assalamualaikum" mengucap salam saat hendak masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumsalam" terdengar suara Hani dari dalam kamar.


"Mecca, aku sudah selesai memasak. Kamu mau makan malam denganku?."


"Di dapur asrama?."


"Boleh. Eh gimana rasanya memasak di dapur asrama??."


He?? kening Hani di buat menyerngit"Masak seperti biasanya, memang harus berbeda ya rasanya?."


Lagi, terkekeh"Kan waktu memasak barengan sama teman yang lain. Gimana rasanya?."


"Ya biasa saja."


"Kamu kenapa sih, sepertinya penasaran sekali dengan aktivitas memasak di dapur asrama." Menarik kursi dan duduk di sana. Hani membuka buku catatan yang tadi dia gunakan untuk menyalin beberapa jawaban soal Nahwu.


"Pengen tau saja. Kebanyakan dari kalian kan memasak makanan sendiri, kalian pasti pintar memasak."


"Enggak juga. Hanya saja pas lagi masak kita bebas berkreasi, jadi kegiatan memasak itu seperti acara bermain saja."


"Nah!!! ini yang aku maksud!" sambar Mecca.


Menatap Mecca dengan kedua mata berkedip-kedip.


Mecca pun mulai bercerita tentang dirinya yang suka memasak namun jarang di berikan kesempatan untuk memasak. Mengingat Abi dan Abangnya seorang koki, Mecca selalu di manja kalau urusan perut. Melihat hidangan yang kerap dia nikamati, Mecca juga ingin membuat hidangan seperti itu. Sayangnya, sang Umma masih belum yakin dengan kemampuan memasak Mecca, bukan tanpa sebab Zafirah melarangnya berkreasi di dapur, ini demi keselamatan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa di larang memasak sendiri?."


"Kata Umma aku pelupa."


"Oh ya? pelupa yang seperti apa?."


"Aku pernah memasak sup sambil menonton televisi. Aku melupakan sup itu hingga panci Umma bolong."


Plak!!. Hani menepuk keningnya sendiri.


"Aku pernah membantu Bang Enda membakar Ayam, tapi...." Mecca menggantung kata-kata.


"Ayamnya gosong?."


Mecca menggeleng.


"Terus?."


"Ayam yang sudah masak ku makan sedikit-sedikit."


"Habis dong akhirnya??."


Cengengesan"Iya." Ujarnya.


Hani menggaruk pipi yang nggak gatal"Sudahlah Mecca, benar apa yang di lakukan ustadzah Zafirah, kamu nggak perlu turun ke dapur."


"Huh!! kamu sama saja seperti Umma."


"Sudahlah, kamu kapan mandinya?. Nanti antriannya panjang lho."


Mecca tau betul kalau ingin mandi harus mengantri dahulu di sini. Nggak mau melakukan hal itu dia berniat mandi di kediaman sang Kakek saja.


"Eh ku lihat tadi kamu lari-lari dari dalam rumah Pak Kyai, ada apa?."


Pertanyaan Hani mengingatkan Mecca akan Syailendra"Yaaahh aku lupa lagi bikin Abang kesal" mengambil handuk dari atas jemuran besi.


"Tadinya aku mau mandi di rumah Kakek, tapi aku habis bikin Abang kesal."


"Hahahah" Hani tertawa.


"Ayo ngantri mandi" ajaknya dengan wajah meledek.


"Iya deh, dari pada ke rumah Kakek di cubit Bang Enda."


Hani kembali tertawa, cucu Pak Kyai yang satu ini random sekali tingkahnya.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2