
Fateena yang awalnya pendiam, dengan kehidupannya setelah menikah perlahan menjadi seorang yang ceria, juga suka berteman. Setelah sempat menemani Juwita memanen sayuran di kebunnya waktu itu, di hari libur ini Juwita membuat janji temu dengan Fateena lagi, kali ini mereka akan memetik buah semangka.
Saat malam hari Syailendra sedikit bercerita tentang hubungan Arjuna dan Salwa. Fateena teringat Salwa yang hampir sama seperti dirinya dahulu, menarik diri dari orang lain terlebih pada tetangga sekitar. Alhasil keseharian Salwa lebih banyak di rumah saja, terlepas dari aktivitas bolak-balik dari rumah dan rumah sakit ketika Anton masih di rawat di rumah sakit.
"Mas, bolehkah hari ini aku ke rumah Juwita? dia mengajakku memetik buah semangka." tanya Fateena pagi itu.
"Boleh. Mau ku temani?." Syailendra balik bertanya seraya menarik kursi, bersiap menikmati sarapan mereka.
Sebelum menjawab pertanyaan Syailendra, Fateena mengambil duduk terlebih dahulu. Kini mereka sudah duduk berhadapan"Hemmm, aku berniat mengajak Salwa ke sana. Ku pikir dia sangat kesepian, dia hanya menghabiskan waktu bersama keluarganya."
"Kalau Salwa mau, justru aku merasa aman kalian bersama."
Jawaban Syailendra membuat Fateena tersenyum. Dia senang memiliki suami yang pengertian seperti Syailendra ini. Usai sarapan dan mengantarkan Syailendra hingga ke mobil, seraya memegangi pipi yang tadi di kecup sang suami Fateena meraih ponsel di saku dasternya. Ya, saat di rumah Fateena lebih nyaman memakai daster saja.
Sembari melangkah masuk Fateena menunggu jawaban di ujung telepon, dia menarik tali pengikat di kepala hingga kain penutup wajahnya terlepas. Fateena memandangi wajah yang merona di depan cermin, wajahnya sendiri"Jadi begini rasanya jatuh cinta, dia mencium di balik cadar tapi wajahku sampai memerah seperti ini" bergumam sendirian.
"Assalamualaikum" ucapan salam Salwa di ujung telepon mengejutkan dirinya, dia masih terhanyut dengan sentuhan kecil sang suami pagi ini.
"Waalaikumsalam" ujarnya. Di sini Fateena menanyakan kabar Salwa terlebih dahulu. Dia juga menanyakan kabar Anton.
"Alhamdulillah, Ayah sudah lebih baik. Dia mulai bekerja di kebun."
"Alhamdulillah" ada perasaan lega mendengar kabar itu. Kemudian Fateena mengajak Salwa ke kediaman Juwita.
"Pergilah" bisik Nur, saat itu Salwa baru selesai mencuci piring. Panggilan Fateena di loud speaker sehingga Ibu dapat mendengar obrolan mereka.
"Boleh?."
"Tentu saja boleh" ujar Nur. Dia justru senang karena ada yang mengajak Salwa berteman. Dulu Salwa adalah gadis yang ceria, gadis yang memiliki banyak teman. Namun setelah menikah dengan Randy, hubungan dengan teman-teman menjadi rusak. Terlalu banyak mengatur bahkan kerap melarang Salwa berkumpul dengan mereka, membuat mereka membangun jarak dengan Salwa. Satu persatu temannya menghilang, hingga akhirnya Salwa nggak lagi memiliki teman dekat.
Izin dari Nur, juga dari Anton, mengantarkan Salwa bersama Fateena bertandang ke kediaman Juwita. Juwita menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, dia senang mendapat teman baru lagi.
"Cukup antarkan dia sampai ke kediaman Ustadz Wahab saja. Setelah itu kamu kembali ke kantor" tentu hal ini di ketahui Arjuna.
"Siap Tuan" ujar Pram.
__ADS_1
Bukan hanya mereka yang ada di kebun semangka itu, para ibu-ibu pekerja di sana juga hadir untuk memanen semangka. Awalnya Salwa merasa takut untuk bergabung, sebagaian pekerja di sana adalah tetangganya.
"Kenapa?."
"Anu... mereka tetanggaku" menunjuk sekelompok kecil ibu-ibu pekerja.
"Lho, kenapa?. Berarti kalian saling kenal. Jadi nggak canggung kan untuk bergabung."
Salwa menggeleng cepat"Hemmm" wanita ini nampak ragu untuk bicara.
Teringat sanksi masyarakat yang pernah menimpanya, Fateena menyadari ketakutan pada diri Salwa. Dia mengerti, Salwa nggak mau menjadi bahan gosip pagi ini.
Juwita bertanya perihal Salwa yang terlihat nggak nyaman. Fateena pun bercerita dari awal hingga akhir.
"Memetik semua buah di sini adalah tugas mereka. Sedangkan kita akan memetik kebun pribadiku saja. Di ujung sana, dekat kolam ikan. Ayo" ajak Juwita.
"Oh ku kira kita akan memetik buah di sini."
Menggeleng pelan"Enggak. Buah-buah di sini untuk di jual. Sedangkan yang di sana akan kita bagi bertiga saja" senyum lebar Juwita menular pada Fateena. Dia memegang pundak Salwa hingga wanita ini juga ikut tertawa.
"Ya, apa boleh aku menjualnya sebagian?. Makan buah semangka terlalu banyak bisa membuatku bolak-balik ke kamar kecil" terlihat lebih tenang, Salwa juga mulai bercanda.
Juwita terkekeh"Boleh saja." Tiga wanita ini akhirnya tertawa. Waktu terus berjalan, nggak terasa sebentar lagi waktu Dzuhur tiba. Tanpa di duga, saat mereka sedang menunggu jemputan Pram, yang datang Syailendra dan Arjuna.
Deg!! Salwa merasakan debaran di dalam dada. Mengangguk sekilas saat bertemu, Arjuna menanyakan Wahab kepada Juwita.
"Masih ngajar, biasanya pulang jam dua siang."
"Titip salam ya" Enda ikut bicara.
"Iya, nanti di sampaikan. Hei Ibu-ibu, jangan lupakan buah-buahan kalian" Juwita mengingatkan saat mereka hendak bersalaman, ingin pamit diri.
"Buah-buahan?. Ku pikir kalian akan menikmatinya di sini saja."
"Kami sudah puas menikmatinya. Karena terlalu banyak jadi kalian harus membawanya pulang. Ini punya Fateena, dan ini punya Salwa" menunjuk satu persatu karung berisi buah. Bukan hanya buah semangka, buah lainnya pun turut di masukan ke dalam karung itu.
__ADS_1
"Bayar nggak??. Ini buah-buahan bagus" bisik Enda pada Fateena.
"Enggak. Dia nggak mau di bayar. Katanya ini bayaran karena kami menemaninya panen hari ini."
Menaikan sebelah alisnya"Oho! jadi saat libur istriku mengambil borongan memanen kebun orang, dengan upah sekarung buah."
Fateena tertawa kecil"Mas!! jangan meledekku!."
Juwita tertawa, ocehan suami istri ini terdengar lucu bagi mereka.
"Yang ini punya Salwa?. Terimakasih ya bu Juwita, semoga usahanya semakin berkah" terkesan kaku saat mengambil buah milik Salwa. Arjuna juga memanggil Juwita dengan sebutan Ibu, biasanya dia memanggil dengan sebutan Kak Juwita.
"Amiin. Heh, canggung amat" bisik Juwita saat Arjuna merunduk hendak mengangkat karung buah.
"Jangan di bahas" Arjuna balas berbisik.
"Oho! kamu malu ada Salwa di sini?" bukan Juwita namanya kalau nggak menggoda Arjuna.
"Ayolah Kak, jangan memancing Bang Enda meledekku di depan Salwa."
Juwita menahan tawa. Dia pun mengulum bibir saat Arjuna bergegas membawa buah tangan milik Salwa itu ke dalam mobil.
Enda menunjuk Arjuna dengan dagunya, dan Juwita tertawa tanpa suara. Mereka kompak mentertawakan dua insan yang belum terikat janji suci ini. Sebelum masuk ke dalam mobil Fateena mencubit pelan perut Enda"Jangan di ledek sekarang!!. Nanti Salwa kapok jalan sama aku."
"Xixixi, iya Sayang" sahut Enda hampir terpingkal.
Salwa yang terakhir masuk ke dalam mobil, ada banyak kata terimakasih terucap pada Juwita. Saat menikmati buah hasil panen mereka tadi, Salwa mencurahkan isi hatinya kepada Fateena dan Juwita. Beban di dalam hati yang telah lama terpendam, telah tercurahkan hari ini di hadapan Juwita dan Fateena. Dua wanita itu banyak memberikan nasihan dan semangat untuk Salwa. Sempat meragukan Arjuna, kini Salwa kembali yakin setelah Juwita mengungkapkan penilaian terhadap Arjuna. Begitu pula dengan Fateena, meski nggak terlalu mengenal Arjuna, setidaknya dia sudah mengenal Arjuna sejak dirinya bersekolah di pondok pesantren.
"Dia pandai bermain hadroh, suranya saat melantunkan sholawat sangat merdu. Dia salah satu vokalis terbaik di pondok saat itu. Insa Allah dia lelaki yang baik, dan bisa membimbing mu Salwa" ujar Fateena.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1