Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Masih menunggumu


__ADS_3

Desa yang indah, bertabur bunga dan pohon-pohon rindang di dalamnya. Desa itu juga banyak danau buatan, dengan kursi-kursi santai di tepian jalannya. Pagi nan indah di hari libur, berbeda dengan Syailendra yang sudah berkumpul di meja makan bersama Abi, Umma dan Mecca, Arjuna masih betah duduk di kursi itu seraya menatap danau. Kicau burung saling bersahutan, Arjuna kembali merasa iri pada makhluk ciptaan Tuhan ini. Banyak dari mereka yang saling berpasangan bertengger di ranting pohon, sama seperti Syailendra yang akhirnya berhasil melamar Yasmine dan lamaran itu di terima. Sementara dirinya justru seperti seekor burung pipit jomblo di antara pasangan pipit lainnya.


Sedang merenuni nasib diri, Arjuna di kejutkan dengan sosok di seberang danau. Wanita itu berdiri di seberang sana, menatap kosong ke dalam danau. Itu Salwa, dia hanya sendirian di sana. Entah hal apa yang membawanya ke desa ini. Suasana sejuk namun sepi, orang-orang lebih banyak menikmati pagi di dataran tinggi alih-alih di tepi danau. Jalan di desa ini turun dan naik, hingga nggak aneh kalau berada di jalanan tinggi sementara orang lain berada di tempat yang lebih rendah (Vibes desa-desa Switzerland).


Sedikit melangkah maju dan masih dengan sorot mata yang sulit di artikan. Ada rasa khawatir pada diri Arjuna, Salwa terlihat menaikan kaki pada pagar kayu pembatasan jalan dan danau.


Oh jangan-jangan Salwa hendak bunuh diri???. Nggak ada orang lain di dekatnya, hanya segerombolan Ibu-ibu dengan jarak agak jauh dari lokasi itu namun masih dapat terlihat, sialnya nggak ada yang memperhatikan priaku Salwa di antara mereka.


Sempat oleng, Salwa kesulitan berdiri di atas pagar itu. Setelah sedikit berusaha akhirnya dia bisa. Saat wanita itu merentang kedua tangan, saat itu juga Arjuna berlari menyongsongnya.


Masa bodoh dengan keadaan, identitas yang dia sembunyikan dari Salwa bukan hal penting untuk saat ini, toh mereka pun sudah pernah bertemu langsung.


"Jangan Salwa!! jangan!!" teriak hati Arjuna.


Sementara Salwa, sudut bibir wanita ini terangkat naik"Udara yang sejuk" bergumam dalam senyuman kecil itu.


Sekali lagi Salwa menarik napas namun.....


"Jangan!!" Arjuna datang menarik tubuh Salwa hingga mereka jatuh bersamaan.


Mecca yang di utus mencari Arjuna terkejut saat melihat kejadian itu. Melihat sang Abang terjatuh dia langsung berlari menghampiri"Abaaaagggg!!" seru gadis itu.


Derap langkah Mecca di susul sekumpulan Ibu-ibu yang nggak jauh dari tempat itu. Sama seperti Arjuna, mereka juga berpikir bahwa Salwa akan bunuh diri.


Seraya membantu Arjuna untuk bangun"Bang Arjuna nggak pa-pa??. Ada yang luka nggak?."


Arjuna!!!


"Aduh neng, kok mau bunuh diri sih??" Ibu-ibu itu membantu Salwa untuk bangun. Lengannya terluka karena tergesek aspal.


Menyadari wanita itu adalah Salwa, Ibu-ibu itu langsung berkata"Ehh neng Salwa. Aduh neng meskipun lagi ada masalah, bunuh diri bukan solusi yang tepat. Kasihan Ayah sama Ibu eneng nanti."


"Yaahh neng Salwa toh. Kalau mau bunuh diri jangan di sini dong, nanti danau yang indah ini jadi angker" serang Ibu yang lainnya.


"Enggak----" Salwa kesulitan menyela, karena Ibu-ibu itu sibuk berceloteh dengan asumsi sendiri.


Sapu tangan warna abu-abu, Arjuna mengikat luka itu tanpa bicara pada Salwa.


"Maaf Ibu-ibu, saya yang salah sangka. Kelihatannya Salwa nggak ada niat untuk bunuh diri, saya yang salah terka."


"Kirain mau bun---."


"Saya cuman mau menikmati udara sejuk ini, dengan berdiri pada pagar ini" menunjuk pijakannya tadi.


"Maaf Ibu-ibu, kita salah sangka. Silahkan Ibu-ibu kembali ke tempat semula" Arjuna lekas menyela.


"Dingin banget sih nak Arjuna."


"Enggak dingin kok Bu, Ibu aja yang baperan!" sambar Mecca.

__ADS_1


"Sudah deh, Ibu-ibu kembali ke tempat tadi aja."


"Tapi lengan neng Salwa---."


"Sudah di balut Abang. Jadi udah aman sekarang!" Mecca mulai menaikan nada bicara, membuat Ibu-ibu itu kesal hingga pergi dari hadapan mereka.


Arjuna...Nama yang nggak mudah untuk di lupakan. Usai Ibu-ibu itu pergi, Salwa memberanikan diri menatap Arjuna.


"Nama Masnya Arjuna?."


"Iya" sahut Arjuna datar.


"Bukannya Mas yang dulu kasih pinjam saja payung?."


"Iya" sahut Arjuna lagi. Mecca seperti kambing conge, kepalanya menoleh pada Arjuna saat Arjuna bicara. Kemudian menoleh kepada Salwa saat Salwa bicara.


"Mas asli penduduk desa ini?."


"Iya" lagi, Arjuna menjawab dengan nada datar.


Jemari Salwa mulai saling bercengkraman, rasa gugup mulai menghampiri"Sekali lagi aku akan bertanya" bisik sang hati.


"Dan Mas tau siapa saya?."


"Ya. Kamu Salwa Al-Adnan, wanita penduduk desa sebelah."


Langkah wanita ini mundur selangkah, membangun jarak lebih banyak di antara dirinya dan Arjuna. Mengingat sebelumnya sudah dua kali bertemu, dan Arjuna sudah tau siapa dirinya sejak awal, bulu kuduk Salwa seketika meremang.


"Kenapa mau di lepas?? tangan Kakak berdarah" Mecca menahan tindakan Salwa yang hendak melepas sapu tangan itu.


Kembali melangkah mundur"Anu----. Ak--aku nggak pa-pa!. Ini ha--hanya luka kecil" terlihat ketakutan, Salwa mencoba pergi dari hadapan Arjuna. Sedangkan Arjuna menatap dalam diri Salwa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku akan mengobatinya di rumah" ucap Salwa lagi.


"Bawa saja sapu tangan itu" ucap Arjuna melihat Salwa kesulitan melepaskannya.


"Ta---tapi---."


"Bawa saja. Bukankah kamu membawa payung ku juga di hari itu?."


"Oh kalian sudah pernah ketemu?. Kalian teman ya?."


Salwa nggak bisa menjawab pertanyaan Mecca. Dia hanya diam dengan bola mata berlarian.


"Kamu sendirian ke sini?."


"Iya" ujarnya masih mencoba menenangkan diri.


"Mau aku antar pulang?."

__ADS_1


"Jangan!!." Lekas Salwa menolak"Nggak perlu" ujarnya lagi lebih pelan.


"Ya sudah kalau Kakak nggak mau di antar. Bang ayo pulang, Abi sama Ummi sudah menunggu di meja makan" Mecca menarik lengan Arjuna, seolah hendak menyeret pemuda tinggi tegap itu.


"Sebentar Mecca, boleh Abang ngomong sebentar dengan Kak Salwa?."


Salwa menggelengkan kepala, rasanya nggak ada yang perlu mereka bicarakan. Atau, jangan-jangan Arjuna mau membuat perhitungan karena lamarannya dulu di tolak??. Kejadian itu sudah sangat lama, namun masing-masing dari mereka masih mengingat hal itu dengan jelas.


"Namanya Kak Salwa ya. Nama yang cantik. Boleh nggak kalau Mecca panggil Kak Wawa saja?."


Seraya menelan saliva pada tenggorokan yang tercekat"I--iya. Boleh---saja" sungguh hati Salwa menciut karena Arjuna terus menatap dirinya.


"Abang ngomong sebentar ya sama Kak Wawa, Mecca boleh menunggu Abang di kursi sana" seraya menunjuk sebuah kursi santai di dekat mereka.


"Oke, jangan lama-lama ya, Mecca sudah lapar."


Arjuna tersenyum kepada Mecca"Iya. Abang juga lapar." Begitu lembut Arjuna saat menatap Mecca dan bicara padanya. Salwa yang semula ketakutan kini nggak terlalu takut lagi.


"Kalau dia berani macam-macam, aku akan teriak" bisik hati Salwa.


Mempersilahkan kepada Salwa untuk duduk di kursi yang lain, sedangkan dirinya duduk di atas pagar pembatas.


"Mau ngomong apa?." Tanya Salwa mulai santai berbicara.


"Bagaimana kabar kamu?."


Sebelah alis Salwa terangkat naik"Aku baik."


"Serius?."


Kini kening Salwa di buat berkerut, bingung dengan pertanyaan Arjuna.


"Meski ada banyak masalah yang menghadang, kamu yakin baik-baik saja?."


Menatap Arjuna tajam dalam sepersekian detik, Salwa menyadari pasti ini tentang masalah rumah tangganya yang telah kandas. Amarah mulai bangkit di dalam dirinya, sebab semua orang mengetahui masalah hidupnya.


"Ck! inilah sulitnya di kenali orang banyak!!. Jadi, kamu mau mengolok-olok ku yang gagal berumah tangga, usai menolak lamaranmu?." Kedua tangan Salwa terlihat di dada, apa begitu bahasa tubuhnya saat marah? Arjuna hampir terbahak melihatnya.


"Bahkan saat marah pun kamu menggemaskan" bisik hati Arjuna.


"Enggak!!. Aku nggak meledekmu" Arjuna diam sejenak setelah mengatakan hal itu. Membuat alis Salwa yang semula bertaut karena marah kini normal kembali.


"Lantas?."


"Aku masih menunggumu."


Salwa kehabisan kata-kata. Nggak menyangka orang yang dulu di tolak mentah-mentah masih mengharapkan dirinya.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2