
Kesibukan mulai terlihat kembali di kediaman Syailendra. Mereka yang di tinggalkan satu persatu datang menagih janji, makan siang di kediaman itu. Di temani Fateena, Syailendra dengan santainya mengolah berbagai hidangan, tentu dengan cita rasa yang nggak di ragukan lagi.
"Maaf ya, kamu jadi asisten masak Mas hari ini. Seharusnya ini hari pertama kita berbulan madu."
Mencuci bersih sayuran, meletakkan di meja memasak seraya tersenyum"Enggak apa-apa. Lagipula suasana di sini sangat indah. Udaranya sejuk, sangat berbeda dengan kediaman ku dan juga panti. Bilang saja kita sedang berbulan madu di sini."
"Ya, tempat ini memang sangat indah. Makanya aku nggak menolak saat Arjuna mengajak untuk membangun hunian di sini."
"Sebuah pilihan yang bagus" sahut Fateena.
Interaksi mereka menjadi hidangan manis bagi para orang tua yang sudah datang. Umma, Abi, Ibu Jena dan Ayah Agam. Tak ketinggalan Kyai Bahi yang sudah datang pagi hari tepat setelah merasa menyudahi sarapan. Sementara kedua orang tua Fateena sedang dalam perjalanan.
Sedikit lagi hidangan itu siap, sementara Adzan sudah berkumandang. Fateena mengambil alih pekerjaan Syailendra dan menyuru sang suami berangkat ke Masjid.
"Tinggal bikin sambal kan?" ujarnya.
"Iya. Tapi nggak apa-apa kalau kamu ngulek sambal? nggak takut tangannya kasar?" entah benar bertanya atau sekedar bercanda, Agam yang menangkap obrolan itu tergeletak tawa.
"Hahahah, takut banget sih istrinya kecapean. Ayo kita ke Masjid dulu" mengulurkan tangan.
"Ayah" ujar Enda malu-malu.
"Tau ih, kalau cuman bikin sambal ulek aku bisa kok" cicit Fateena di balik tubuh besarnya. Para orang tua tertawa hingga membuat dirinya malu. Menjadi pengantin baru rupanya seperti ini rasanya, malu dan malu, untuk beberapa waktu ke depan mereka akan menjadi bulan-bulanan orang sekitar saat tertangkap bersikap manis bersama.
Jarak Masjid yang nggak terlalu jauh, membuat para lelaki sampai dalam waktu singkat. Fateena yang sedang mengulek sambal di buat tersipu malu lagi saat Ibu Jena berkata"Fateena, bagus ya suara yang Iqomah."
Nggak begitu mendengarkan, Fateena spontan saja mengangguk dan berkata"Iya Bu."
Lagi, Fateena menjadi sebab mereka tertawa"Iya jelas bagus dong, itu kan suara suaminya."
Oewhh!! Fateena bukan nggak pernah mendengar suara Syailendra melantunkan Adzan atau Iqomah, spontanitas membuat dirinya tersipu malu kembali.
"Maaf ya Sayang. Kalian gemesin, jadi kami ingin selalu menggoda kalian" ujar Umma menghampirinya, membantunya menyiapkan hidangan di meja.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa kok Umma" ucapnya pelan. Saat itu pekerjaan telah selesai, Fateena di suruh langsung melaksanakan kewajiban yang empat. Sedangkan Jena pergi ke kediaman Arjuna dan melaksanakan kewajiban di sana. Zafirah yang sedang berhalangan menyibukan diri dengan mencuci peralatan memasak.
Usai melaksanakan kewajiban, Jena menjumpai Adila. Dan kebetulan Arjuna sudah datang saat itu, beriringan dengan para orang tua dan Syailendra dari arah Masjid.
"Salwa nggak di ajak?" tanya Adila, mereka masih di beranda kediaman Arjuna.
"Dia nggak bisa datang. Ayahnya nggak enak badan" sahut Arjuna.
Di desa sebelah. Keputusan untuk tak lagi bersama Randy telah lama usai. Salwa telah di kenal sebagai janda kembang, tanpa anak. Berat badan yang semula naik kini normal kembali. Menarik?? tentu Salwa selalu menarik dalam bentuk tubuh seperti apapun. Apalagi saat mengenakan kerudung, dirinya semakin terlihat cantik. Masih mendapat pengawasan dari Randy saat itu, Salwa menuruti saran Pram agar Randy benar-benar menjauh darinya.
"Ayah mau Salwa pijit?" sang Ayah sedang duduk di teras rumah, mengobrol ringan bersama sang istri.
"Boleh. Di kerokin aja ya Nak" pinta Ayah.
"Di dalam aja ya, kalau di sini malah jadi masuk angin nanti" ujarnya yang langsung membuat Ayah masuk ke dalam rumah.
Nur masih duduk di beranda saat Salwa hendak memijat sang Ayah. Jamela sedang mengambil jemuran, dia pun mengajak Nur bicara"Anton kenapa? sakit ya?."
"Ku perhatikan dia sering sakit ya akhir-akhir ini."
"Ya, usia sudah nggak lagi muda" ujar Nur.
"Beban pikiran juga kan Nur" sahut Jamela.
Nur diam sejenak, sejatinya apa yang Jamela katakan itu benar. Dia nggak marah, sebab memang Jemala tempatnya bertukar cerita.
"Setidaknya masalah hidup Salwa menggiringnya menjadi wanita yang menutup aurat" sorot mata Nur lurus kedepan. Nampak jelas kesedihan di wajahnya, mengingat kisah pahit sang putri.
"Ya, kamu betul. Dia juga mulai memaki cadar ya kalau keluar rumah." Jamela menimpali.
"Ya. Tapi sayangnya dengan memakai cadar orang-orang semakin mencibirnya. Mereka menyinggung cara berpakaian Salwa dulu, yang irit bahan itu. Orang-orang mengatakan dirinya sok alim.
Jamela meletakan cucian kering ke dalam keranjang"Biarkan saja orang mau ngomong apa. Kita doakan saja semoga Salwa Istiqomah memakainya."
__ADS_1
"Amiin" lirih Nur pula.
Sangat berubah, Randy yang mendapat laporan dari orang suruhannya itu menjadi ilfil terhadap Salwa. Memakai penutup wajah, aishh!! dia sangat nggak menyukai hal itu. Ingin melupakan wanita itu, namun laporan terbaru dari orang suruhan itu membuat Randy urung hendak melupakannya.
"Desas desus di desa itu, Nyonya Salwa akan segera di lamar orang Tuan."
"Berhenti memanggilnya Nyonya!. Dia bukan lagi istriku!." Sontak orang suruhan itu terdiam namun bergumam dalam hati.
"Hilih, bukan lagi istri tapi selalu di pantau" ujar sang hati.
"Siapa yang hendak meminangnya?."
"Identitas orang itu belum di ketahui. Sepertinya bukan orang biasa, karena nggak mudah mencari informasi tentang dia."
"Tanya sama tetangganya!" hardik Randy.
"Saya sudah melakukan hal itu Tuan. Dan belum ada yang tau siapa orang itu."
Menatap sangsi orang suruhan itu"Informasi kamu akurat nggak sih??. Kerja kamu benar nggak??. Apa jangan-jangan di sana kamu cuman main-main saja!!."
Lekas orang itu berucap"Saya benar-benar bekerja Tuan. Informasi ini menurut gosip para tetangga di sana, tapi orang yang hendak meminang itu masih belum di ketahui" ujarnya mengulangi informasi yang dia dapatkan.
Menggigit bibir, Randy menjadi nggak rela kalau Salwa ada yang memiliki. Rasa penyesalan itu tiba-tiba datang, nggak seharusnya dia melepas Salwa hanya karena berbadan gendut kalau begitu mudah dia menjadi langsing kembali. Teringat Salwa yang sangat penurut dan nggak suka menghabiskan waktu di luar rumah seperti apa yang dia minta. Sedangkan Mia, dia memang pandai bermain panas namun sediki sulit untuk di atur. Dia suka berbelanja dan menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman. Menghambur uang hasil kerja keras Randy, itulah yang selalu Mia lakukan setelah resmi menjadi istrinya.
"Salwa" lirih sang hati. Keinginan untuk melepaskan seolah sirna, berganti rasa nggak rela kalau Salwa di miliki orang lain.
"Aku akan menemui orang tuanya."
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1