
Hilangnya cincin di jari manis Yasmine, sungguh mengusik pikiran Syailendra. Secara diam-diam pemuda ini mencari tahu dan-----.
"Ya Allah, haruskan aku berbahagia di balik putusnya tali ikatan mereka??" senyum itu nggak bisa di tahan, Syailendra tersenyum lebar.
"Terimakasih Pram" Syailendra memberikan sebuah amplop kepada Pram, mata-mata Arjuna.
"Nggak perlu Tuan. Saya hanya menerima bayaran dari Tuan Arjuna.
"Hei ayolah Pram, kita bukannya baru kenal."
"Maaf Tuan. Karena saya bekerja dengan Tuan Arjuna, jadi saya hanya akan menerima bayara darinya."
Syailendra mengangguk samar"Ini pasti tercatat dalam kontrak di antara kalian."
Pram tersenyum"Iya Tuan. Selain itu karena anda adalah Abang majikan saya, dan saya pun di berikan wewenang untuk mematuhi anda."
"Pram, ngomong apa sih?. Formal banget" sambar Enda.
Pram di buat tertawa"Intinya saya akan menjaga dan mematuhi anda sama seperti saya menjaga dan mematuhi Tuan Arjuna."
"Oh ya? kamu melakukan hal yang sama padaku dan Arjuna, tapi kamu hanya menerima bayaran dari Arjuna?."
"Ini sudah kesepakatan awal, yang juga sudah di tegaskan oleh Tuan Agam dan Nyonya Jena." Sudah lama mengenal Pram, namun baru kali ini Enda meminta bantuan kepadanya. Karena hal ini Syailendra baru mengetahui tugas Pram, yang bukan hanya terfokus kepada Arjuna.
"Oh Ayah dan Ibu, aku nggak bisa melawan keputusan mereka. Ya sudah, malam ini kamu mampir ke kediamanku di desa, aku akan membuat hidangan enak untukmu."
Tahu betul dengan keahlian Enda, Pram lekas mengangguk"Nah kalau di bayar dengan sepiring hidangan dari Chef handal, saya pasti mau Tuan."
Syailendra tertawa menanggapi candaan Pram.
Bukan hanya Pram, Syailendra mengajak Arjuna untuk makan malam bersamanya. Sang Adik yang memang sudah menetap di kediaman sederhana itu tentu merasa senang, sebab aktivitas memasaknya jadi nggak perlu di lakukan.
Alih-alih mempekerjakan seorang pelayan, Arjuna lebih senang tinggal sendiri dan mengurusi diri sendiri di kediamannya. Membersihkan rumah, mencuci baju, bahkan memasak pun di lalukan sendiri. Sang Nenek kerap meledeknya dengan menyanyikan lagu dari artis senior Caca Handika yang berjudul angka satu. Arjuna hanya tertawa menanggapi ledekan tersebut, karena dia tau kalau di ladeni sang Nenek akan membahas perihal pendamping hidup. Kerap menolak wanita yang di tawarkan sang Nenek, Arjuna merasa aman kalau masalah itu nggak di bicarakan oleh sang Nenek.
Malam itu tiga lelaki duduk bersama di meja makan, dengan pemandangan alam di sertai langit berbintang. Suara jangkrik menjadi irama pengiring acara makan-makan mereka, juga semilir angin di musim yang mulai panas ini.
__ADS_1
"Lantas, bagaimana dengan Salwa?" mendengar Pram mulai mencari tau tentang Yasmine, Arjuna menanyakan tentang wanita yang menolak lamarannya itu.
"Terakhir saya lihat, dia ke dokter kandungan." Jawab Pram.
"Apa dia sedang mengandung?." Ekor mata Enda melirik Arjuna, dan kembali berkata"Sudahlah Arjuna, dia akan menjadi Ibu."
Mendengar perkataan Enda, lekas Pram menggelengkan kepala"Bukan Tuan. Di keguguran."
Sontak kedua mata Arjuna membulat"Hah??. Kenapa?. Apa dia mengalami kekerasan?. Atau mengalami kecelakaan hingga kehilangan janinnya?."
Rentetan pertanyaan Arjuna membuat Pram melepaskan sendok di tangan, menjeda aktivitas makan. Setelah membasuh kerongkongan dengan air minum, Pram mulai menceritakan apa yang belum dia sampaikan kepada Arjuna. Betapa terkejutnya Arjuna, mengetahui Salwa menghalangi kekerasan dari Randy.
Mengepalkan tangan"Kurang ajar!!. Istrinya sedang hamil dan dia memaksa melayani nafsu nya!!. Dia sudah tau betul bahwa Salwa lemah kandungan kan?."
"Iya, saat memeriksakan kandungan dia selalu menemani Nona Salwa" sahut Pram lagi.
"Dengar kan Bang?. Gimana aku bisa tenang, gimana aku bisa rela, kalau lelaki yang dia pilih malah membuatnya tersiksa!. Aku di kalahkan oleh lelaki kejam sepertinya!" mengusap wajahnya kasar, keinginan untuk merebut Salwa semakin besar.
"Tapi merebut istri orang itu salah."
"Menunggunya berpisah?. Bagaimana kalau mereka nggak akan berpisah??. Kamu yakin banget mereka akan berpisah, kamu jangan mendahului kehendak sang maha pencipta Arjuna!!" ada sebuah penekanan dalam kata-kata Syailendra.
"Bukan begitu Bang." Lirih Arjuna. Sungguh dirinya hanya ingin Salwa bahagia, meski nggak bersamanya. Namun pada kenyataannya bersama Randy dia justru semakin tersiksa.
...****************...
Meratapi nasib, Salwa di harusnya istirahat total usai menjalani keguguran. Randy melewatkan beberapa rapat penting hanya untuk menemaninya di rumah. Kesedihan yang menyelimuti sang istri, sungguh terasa sampai ke hatinya. Mereka di nyatakan kehilangan calon bayi, berbeda halnya dengan Salwa yang sangat sedih dan terluka hatinya, justru Randy merasa lega.
"Sayang, sudahlah. Itu artinya kita belum di percaya memiliki anak."
Salwa hanya diam. Akhir-akhir ini kerap terhanyut dalam diam saja.
Merengkuh tubuh ringkih sang istri yang terus di rundung kesedihan, kali ini Randy meminta izin untuk pergi ke kantor.
Hanya mengangguk, begitulah cara Salwa memberikan izin.
__ADS_1
"Kamu sama Bibi dulu ya di rumah. Akan aku usahakan pulang cepat" mengusap pucuk kepala sang istri. Wajah itu terlihat pucat, dengan tubuh yang masih lemas.
Lagi, Salwa mengangguk.
Sejatinya Salwa seperti bunga yang telah layu. Hari-hari penuh kesedihan yang di laluinya usai gagal menjadi seorang Ibu. Tubuh yang lemah juga masih dalam masa pemulihan usai keguguran, membuat Randy harus menahan diri dari keinginan menikmati tubuh sang istri.
Akh! rasanya kesal sekali di saat hasrat itu mencuat namun Salwa nggak bisa menuntaskan, berakhir di kamar mandi dengan bermain solo rasanya nggak puas. Dan, di saat inilah Mia kembali mengusik Randy.
Kehadiran Mia bagai angin segar, gadis ini tanpa malu menunjukkan ketertarikan kepada Randy.
Irama bibir saling beradu terdengar nyaring di dalam ruangan Randy. Setelah lama menolak kehadiran Mia, hari ini Randy jatuh ke dalam pelukan gadis seksi itu. Entahlah, Randy seolah tersihir akan kecantikan Mia. Tubuh bak gitar spanyol dengan aroma menggoda, dalam sekejap dia melupakan Salwa!!.
Salwa??. bayang wajah sang istri berkelebat saat dirinya menjamah sepasang benda kenyal milih Mia. Seketika Randy membangun jarak di antara mereka.
"Mia!!" hardiknya.
"Kemasi pakaianmu!."
"Pak Randy, kita baru memulainya" alih-alih mundur, Mia kembali mendekati Randy.
"Aku khilaf. Lupakan kejadian ini." Randy bergegas meninggalkan Mia menuju kamar mandi.
Mia nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Rasa cintanya semakin besar usai menikmati sentuhan lembut sang bos besar. Gegas mengekor langkah Randy ke dalam kamar mandi.
"Mia!!. Cepat keluar!!" hardik Randy lagi.
"Enggak!!. Aku nggak akan pergi. Aku sungguh jatuh cinta kepadamu Pak Randy. Aku mohon jangan tolak aku lagi!" memasang wajah memelas, Mia mencoba menarik Randy kembali masuk dalam pelukannya.
"Aku rela menjadi simpanan mu. Aku rela kamu datang padaku hanya di saat istrimu nggak bisa melayanimu" sungguh sebuah penawaran yang menggiurkan bukan.
Randy yang tengah haus kenikmatan bercinta, langsung menyerah Mia kembali hingga terjadilah hal yang nggak seharusnya terjadi. Owh!! Mia sangat liar, dan Randy sangat menyukainya.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.