
Ketika badai kehidupan sedang singgah pada seseorang, sejatinya derita dan air mata itu tak selamanya akan berdiam di sana. Tak hanya berdiam menerima pahitnya kehidupan, berusaha untuk bangkit dan berdoa kepada sang maha pencipta, pada akhirnya pelangi akan hadir setelah sang badai itu reda.
Tak lelah sang hati mengucap kata syukur, sungguh nikmat Allah tiada tanding dan dusta. Sedang duduk di beranda samping, di temani bunga-bunga indah berwarna-warni Salwa menonton ceramah seorang ustadz di YouTube. Wanita ini terkekeh saat sang ustadz menyelipkan canda di sela ceramah agama itu. Yah, meski dahulu gagal mengikuti kajiannya saat masih tinggal bersama lelaki gila, rasa kagum Salwa terhadap ustadz ini tak kunjung luntur. Dia ramah, kocak namun tegas, bahasa melayunya sangat kental sebab dia memang berasal dari tanah melayu.
Pada ceramah kali ini sang ustadz mengatakan bahwa seorang istri yang tidur dengan suami yang nggak melaksanakan sholat, sama seperti sedang tidur dengan babi hutan. Para jamaah yang berada di lokasi tersebut tertawa terpingkal, sedangkan Salwa sedikit flashback pada masa lalu. Mengingat Randy yang enggan bahkan marah kalau di ingatkan untuk sholat, owh!! Salwa menghela nafas penuh kelegaan.
"Alhamdulillah aku telah lepas dari lelaki seperti itu" ujarnya bergumam.
"Hei kok ngomong sendiri!."
Arjuna bersuara membuat Salwa terkejut dan sontak mematikan ceramah agama itu. Tadinya Arjuna sedang berada di ruang kerja, dirinya masih meliburkan diri ke kantor setelah menikah. Namun meski libur, pekerjaan itu masih dia pantau di waktu senggang.
Melihat Salwa yang lekas menyembunyikan ponselnya, membuat Arjuna mendekat dan duduk di dekatnya. Wanita ini sedikit menggeser tubuh"A....aku sedang menonton drama di YouTube. Hanya menonton drama."
Arjuna nggak bertanya tapi Salwa lekas menjelaskan. Raut wajahnya terlihat berbeda, seperti ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan.
Tangan Arjuna terjulur kepada Salwa"Kenapa ponselnya di sembunyikan?. Boleh aku lihat drama apa yang kamu tonton?."
Kedua mata cantik itu berkedip seperti lampu neon yang hampir putus, semakin jelas bahwa dia sedang berbohong.
Sedikit memiringkan kepala, menatap Salwa dan kembali meminta ponsel sang istri.
"Kamu kenapa? kamu menyembunyikan sesuatu?."
Sekian detik Salwa menatap dalam wajah Arjuna, dan kemudian"Astaghfirullah...."
Kening Arjuna di buat berkerut, semakin bingung akan tingkah laku sang istri.
"Ya Allah, maafkan aku. Aku belum terbiasa dengan kebersamaan kita." Dia meletakan ponsel di tangan Arjuna yang sejak tadi mengambang di udara.
Sudut bibir Arjuna terangkat naik setelah melihat apa yang di tonton wanitanya"Kamu fans ustadz lucu ini?."
"Bisa di bilang seperti itu."
"Bagus, aku juga menyukai beliau. Tapi kenapa tadi kamu berbohong." Dia menyerahkan kembali ponsel itu pada sang empu.
Menggigit bibir, ada keraguan saat hendak menjelaskan mengapa dia langsung berbohong.
"Salwa, berbohong itu nggak baik. Nanti hidungnya panjang lho" dia mengatakan hal ini sembari tersenyum, dan lagi-lagi kedua mata itu membentuk bulan sabit.
"Katakan, kenapa berbohong" dasar Arjuna, sejak resmi menjadi pasangan halal maunya selalu berdekatan dengan Salwa. Dia menarik pelan tubuh sang istri agar lebih dekat, dia nggak menyukai jarak yang sempat tercipta di antara mereka.
__ADS_1
"I---iya. I--ini... ceritanya panjang. Biarkan aku duduk dengan baik dulu."
Bukannya melepaskan Salwa yang sedikit meronta, Arjuna justru menarik Salwa agar lebih dekat. Dia memegangi pinggang Salwa sedangkan kedua kakinya mengurung tubuh Salwa, alhasil wajah mereka semakin dekat.
"Kalau begini bagaimana aku bisa cerita, kita terlalu dekat." Cicit sang istri.
"Oh ya" menurut kamu dengan posisi sedekat ini enaknya kita ngapain?."
Oh tidak!!, wajahnya seketika merona, dia sangat paham dengan maksud candaan suaminya ini"Arjuna...."
"Iya Salwa...." balasnya.
"Ya sudah, aku nggak akan cerita." Dia berlagak merajuk, menekuk wajah.
Terdengar Arjuna tertawa, hidung mancung itu menjadi sasaran empuk tangan nakalnya"Iya deh" dia pun melepaskan Salwa, hingga wanita itu menurunkan kaki beranda dan Aruna pun melakukan hal yang sama.
Baru saja Salwa hendak memulai cerita, Arjuna sibuk mendekatkan diri. Mereka duduk berdempetan sekali, Salwa melihat Arjuna sembari mengerutkan alis dengan mimik menahan tawa. Di tatap seperti itu Arjuna hanya cengengesan"Suara kamu kecil, kalau kejauhan takut nggak kedengaran."
Alasan tipis!! Salwa hanya tersenyum menggelengkan kepala. Dia pun akhirnya bercerita. Dulu saat dirinya ingin memperbaiki diri, dia nggak mendapat dukungan dari lelaki durjana itu, dialah Randy"Dia melarangku memakai kerudung, juga melarangku menghadiri kajian islami. Dia bilang semua hal itu hanya membuang waktu, juga dengan memakai kerudung hanya membuat ku terlihat tua."
Gemerincing lonceng yang di sapa angin, menjadi irama pengiring Salwa bercerita. Arjuna mendengar dengan seksama, tanpa menyela.
"Ustadz itu pernah datang ke kompleks perumahan kami, hanya beberapa langkah saja, tapi dia nggak mengizinkan ku hadir di sana."
Sampai di situ saja, Salwa mengakhiri sepenggal kisah suram itu dengan helaan nafas. Dia menoleh ke arah Arjuna yang tak lepas memandangi dirinya.
"Jadi karena itu kamu berbohong?."
Pelan Salwa mengangguk"Maaf, aku spontan berbohong karena itulah yang selalu ku katakan dulu saat dia hampir memergoki ku."
"Orang gila. Mau merubah diri menjadi lebih baik kok di larang. Ck!! sudahlah!! lupakan dia. Lagipula aku lebih tampan darinya, aku juga bukan orang gila sepertinya. Jadi kamu nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kalau mau mendengarkan ceramah. Kalau perlu aku akan mengundang ustadz itu, untuk mengisi kajian di pondok pesantren. Kamu bisa melihat langsung orangnya, dia bilang berat badannya nggak lebih dari 50kg lho."
Ada rasa haru saat mendengar Arjuna berceloteh begitu panjang, yang intinya dia nggak melarang Salwa untuk mendengarkan ceramah agama.
"Benarkah?? kamu bisa mengundang ustadz itu??" sepasang manik indah itu berkaca-kaca, bukan ingin menangis tapi karena senang bukan kepalang.
"Iya, tapi tergantung jadwal beliau sih. Kita kan sama-sama tau bahwa beliau orang yang sibuk, jadwalnya selalu padat. Kalau aku mengundang nya sekarang mungkin bulan depan beliau baru bisa datang."
"Enggak apa-apa!!" langsung Salwa berseru.
Kedua alis Arjuna terangkat naik, melirik sang istri yang sangat senang itu"Yakin bisa menunggu sebulan?."
__ADS_1
Mengangguk seperti anak kecil"Mau."
"Dua bulan?."
"Iya nggak apa-apa."
"Tiga bulan?."
"Arjuna~~~~" akhirnya dia merengek, ternyata lelaki dingin ini gemar bercanda juga.
"Semua itu nggak gratis sayang" ada perasaan hangat mendengar Arjuna memanggilnya dengan sebutan sayang. Salwa pasrah saja saat jemari besar itu meng-unyel-unyel kedua pipinya.
"Mahal ya?."
"Enggak sih, kamu hanya perlu merubah panggilan untukku. Aku mau ada embel-embel manis di depan namaku." Tertawa lebar hingga barisan giginya terlihat, begitu menggemaskan lelaki satu ini saat tertawa seperti itu.
"Manis Arjuna?" Salwa bukan nggak bisa bercanda, pada dasarnya dia adalah seorang yang humoris.
Kedua alis sang lelaki berkerut"Oh istriku, nggak gitu konsepnya!!."
Salwa tertawa, dia terbahak karena Arjuna mulai menggelitik perutnya.
"Oke!! oke" pekik Salwa. Sejenak Arjuna melepaskannya.
"Bang Arjuna?."
"Kayak panggilan Mecca ke aku."
"Hemmm Babang Arjuna?."
"Panggilan jenis apa itu??" dia mentertawakan Salwa lagi.
"Jadi maunya di panggil seperti apa?."
"Yang lain dong. Yang mencerminkan bahwa aku hanya milikmu" usai berkata seperti ini Arjuna menggigit bibir, sejujurnya dia malu mengatakan hal ini tapi sudah terlanjur di katakan. Masih tertawa Salwa mengusap pelan wajah Arjuna, dan Arjuna menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan nan kecil itu. Hupffhh!! manis nya interaksi mereka, sayang hanya bisa di saksikan langit sore saja.
"Suamiku Arjuna?."
Oh tidak!!. Embel-embel suamiku itu membuat Arjuna seperti es krim, meleleh dan malu hingga tumbang ke lantai.
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.