
Pagi Yang cerah di desa Salwa. Setelah melepas Ayah Anton ke kebun, Salwa dan Nur bersiap pergi ke pasar. Seminggu sekali pasar murah ini akan di buka, di sebuah lapangan nan luas yang biasanya di gunakan anak-anak desa bermain bola. Sedikit berjalan, tak perlu waktu lama Salwa dan Nur akan memasuki area pasar tersebut.
"Assalamualaikum" suara berat yang sangat nggak ingin Salwa dengar lagi, kini terdengar menyapa mereka dengan salam.
Ibu dan anak ini kompak menoleh ke arah suara, dan benar saja orang itu adalah Randy.
"Waalaikumsalam" sahut Nur. Jemarinya menggenggam erat jemari sang putri.
Sedikit memiringkan kepala, Randy seolah menagih jawaban atas salam yang dia ucapkan pada Salwa.
"Waalaikumsalam" Salwa bersuara sangat pelan. Berbeda dengan Randy yang menatapnya lekat, Salwa mengalihkan pandangan ke lain arah.
"Mau belanja? boleh Randy temani?" bertanya pada Nur.
Sangat tau niat Randy tertuju pada Salwa, demi melindungi sang putri Nur menolak kehadiran Randy bersama mereka. Apalagi Randy pernah mengungkit kebaikannya terhadap keluarga mereka, hati siapa yang bisa menerimanya dengan lapang dada. Juga karena kehadirannya ke rumah mereka bersama Mia, Anton sampai di bawa ke rumah sakit.
"Kami bisa belanja berdua saja" sahut Nur menarik lengan Salwa.
Grab! Randy menarik lengan Salwa. Lekas Salwa menepis tangan Randy"Randy!! jaga sikapmu!."
"Maaf, boleh kita bicara?. Boleh ya Bu?" mengalihkan pandangan ke pada Nur.
"Enggak bisa. Hubungan kalian sudah selesai, Ibu rasa sudah nggak ada yang perlu di bicarakan."
Menangkupkan kedua tangan di dada"Randy mohon Bu, hanya sebentar saja."
"Maaf Randy, tolong hargai keputusan Ibu. Pergilah, kita menjadi perhatian orang, tolong jangan membuat kami malu lagi."
Ucapan Nur seperti tamparan keras di wajah Randy. Wanita itu seolah mengingatkan Randy akan prilakunya tempo hari, dengan bangga membawa Mia ke rumah mereka sehingga harga diri Salwa merosot ke dasar bumi.
"Randy langsung bicara saja ya." Sungguh memaksa, Nur pun dengan terpaksa mengangguk.
"Cepat mau bicara apa?. Berpasang mata melihat ke sini, setelah ini pasti Salwa menjadi bahan gosip seluruh desa."
Randy melihat ke sekitar, netra lelaki ini menemukan warung kecil di sudut pasar. Dia mengajak Salwa dan Nur untuk bicara di sana saja, namun mereka menolak.
__ADS_1
"Katakan di sini saja, sekarang!" nada bicara Nur mulai datar.
Kehabisan akal untuk membawa mereka ke warung itu, Randy pun mulai bicara"Randy mau rujuk sama Salwa Bu, Randy akan menceraikan Mia secepatnya."
Kedua bola mata Nur dan Salwa membulat sempurna, mereka menatap Randy nggak percaya, lelaki ini sungguh nggak punya rasa malu.
"Lupakan niat gilamu itu. Hubungan kita sudah berakhir, dan jangan harap akan bersambung kembali. Ingat Randy, ini jalan hidup kita, bukan drama di layar televisi yang bisa berakhir dan di sambung kembali!."
"Aku merasa menyesal meninggalkan mu Salwa, aku mau kita bersama lagi?."
"Aku nggak menyesal!!" sentak Salwa. Ucapan wanita ini membuat Randy terdiam sesaat.
"Pergilah, jangan ganggu kami lagi."
Nur menyeret lengan Salwa agar segera pergi dari hadapan Randy. Setelah mendengar niat gila Randy, Nur semakin yakin bahwa lelaki itu sudah nggak waras lagi. Bagaimana dia berniat menceraikan Mia demi kembali kepada Salwa. Sedangkan dahulu dia tega meninggalkan Salwa demi meresmikan hubungannya dengan Mia.
"Bu."
"Cukup Randy!" Nur berbalik menatap Randy garang.
"Saya masih ingin hidup bersamanya."
"Denganmu dia hanya akan menderita" ujar Nur lagi. Sementara Salwa begitu gelisah ingin segera pergi, melihat wajah Randy membuat semangatnya hilang.
Nur dan Salwa berjalan meninggalkan lelaki itu. Kepala Randy berdenyut hebat, tatapan nanar mengiringi kepergian Salwa, sungguh hatinya terasa kosong setelah penolakan Salwa.
Semangat berbelanja hancur karena bertemu Randy, di tambah keinginan gila Randy kembali kepada Salwa. Baik Nur ataupun Salwa nggak menyangka Randy memiliki pikiran seperti itu, sungguh memalukan.
Belanja seadanya, mereka kembali lebih cepat dari biasanya. Saat sampai di rumah mereka di sambut beberapa tetangga yang penasaran dengan calon suami Salwa. Ya, Wani yang gagal ingin melamar Salwa menyebarkan berita itu.
"Pasti Nak Arjuna, dia kan sering ke sini akhir-akhir ini."
"Sering dari mana? hanya beberapa kali kok" sahut Nur seraya membuka pintu.
"Tuan Agam kemarin sama Pak Anton di kebun, ku dengar mereka bicara soal pernikahan." Ucapan seorang Ibu-ibu membuat tetangga lain membulatkan mulut.
__ADS_1
"Ooo, jadi beneran akan menikah dengan Arjuna?. Janda tapi dapatnya bujangan, mapan pula. Setelah bercerai dari Randy yang tajir melintir kamu mengincar anak bujang orang yang lebih tajir dari mantan suami kamu, pintar sekali kamu mencari suami Salwa."
"Di kan cantik, bodynya memang sempat gemuk tapi sekarang sudah bohay lagi."
"Iyalah, orang cantik mak bebas. Sekali kedip anak bujang orang langsung kepincut."
Telinga Salwa terasa panas, sampai ke hati mendengar ocehan para tetangga. Ingin rasanya meralat semua perkataan mereka tapi Nur menahannya"Biarkan saja. Percuma memberikan penjelasan, kalau di hati mereka kita ini jahat. Hanya buang-buang waktu saja."
Nggak peduli dengan banyak pertanyaan yang mereka lontarkan, Salwa dan Nur masuk ke dalam dan menutup kembali daun pintu kediaman mereka.
"Kalau nggak tau kebenarannya jangan asal bicara" Jamela nggak tahan untuk nggak bicara, ocehan mereka berisik sekali.
"Memangnya kamu tau kisah yang sebenarnya?."
"Iya, dan Salwa bukan seperti yang kalian sangka."
"Oh yaaaa??. Tapi tadi di pasar ku lihat dia ngobrol sama mantan suaminya. Jangan-jangan mereka masih ada hubungan?."
"Hei!! jangan menyebar berita nggak benar!" sanggah Jamela.
"Aku melihatnya secara langsung, aku bukan bicara tanpa bukti yang jelas" tandas tetangga itu lagi.
Keadaan semakin gaduh, secara terang-terangan mereka membicarakan Salwa di depan rumahnya sendiri. Sedangkan Salwa hanya bisa memegangi dada yang bergemuruh, duduk di ruang tamu mendengarkan ocehan mereka. Saat masuk Nur langsung menutup tirai kaca, menghindari tindakan nekat para tetangga yang mungkin akan mengintip ke dalam, saking penasarannya dengan Salwa.
Gosip menggosip, entah benar entah salah, rasanya sayang kalau nggak di bahas hingga ke akar masalah. Usai puas membicarakan satu orang, biasanya akan berlanjut kepada orang yang lain lagi, waktu yang berlalu jadi nggak terasa. Cukup lama Salwa mendengar secara langsung dirinya menjadi bahan gosip, Nur keluar dan langsung menegur mereka.
"Ini sudah hampir satu jam tapi kalian masih membicarakan putriku. Terserah dia dong mau menikah dengan siapa, kenapa kalian yang repot?. Selama ini membahas masalah rumah tangga orang, apa kalian nggak punya kerjaan di rumah?. Asal kalian tau ya, orang yang membicarakan aib tetangganya maka sama dengan memakan bangkai tetangganya itu sendiri. Kalian sadar nggak?. Mau tetap menggosip atau bubar? aku nggak segan untuk melaporkan kalian yang berisik di depan rumahku dengan tuduhan mengganggu kenyamanan kami."
Panjang lebar Nur bicara, tak satupun dari mereka yang berani menyela. Saat Nur menyinggung perihal laporan kepada polisi, satu persatu mulai pergi dari tempat itu.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1