
"Jadi....wanita yang saat itu berlindung di balik tubuh Arjuna adalah Salwa?" Randy kembali merenung, menyusuri kejadian yang telah berlalu. Sempat mendengar obrolan Salwa dan Hanif di saung saat menjenguk Anton masuk rumah sakit, saat itulah Randy tahu bahwa sebelumnya Anton sudah pernah di rawat di sana.
Wajah cantik dalam balutan kerudung, meski nggak menyukai cara berpakaian Salwa yang mulai leluasa memakai kerudung, Randy mengakui kecantikan wanita itu semakin bertambah. Terlalu fokus pada tubuh molek Salwa saat mereka bersama dulu, Randy terlambat menyadari pesona tak terbantahkan Salwa.
Mencoba menghubungi Salwa, wanita itu telah memblokir nomornya. Ingin mengetahui apa yang sedang Salwa lakukan, Randy kini hanya bisa gigit jari. Arjuna mengajari Hanif cara menginstal aplikasi anti sadap yang di kembangkannya, dan sejak saat itu Randy kehilangan akses untuk mengetahui aktivitas dalam ponsel Salwa dan keluarganya.
Mia menggoda Randy dengan tubuhnya, berpakaian seksi juga memakai parfume beraroma menarik. Sebagai lelaki normal tentu Randy tergiur dengan kode bercinta itu, maka tanpa waktu lama Randy pun menerkam Mia. Sangat menikmati permainan panas, Randy mulai meracau dalam pergulatan nafsu mereka. Mia tersenyum merasa senang atas rasa puas yang di tunjukan Randy. Namun saat kenikmatan itu semakin memuncak, Randy menyebut nama Salwa dalam permainan mereka.
Mia memelotot, lekas menarik tubuhnya dari Randy.
"Salwa??!" sentak Mia. Berdiri di tepian ranjang masih tanpa busana.
"Hupffhh!! aku nggak sengaja menyebut namanya!" ujar Randy, perlahan menarik Mia agar naik kembali ke atas ranjang.
"Hatiku sakit" lirih Mia, apakah usahanya sia-sia? bahkan saat menikmati tubuhnya pun Randy masih memanggil nama Salwa. Sebenarnya apa arti dirinya bagi Randy? apakah cinta padanya utuh? atau hanya separuh hati?. Akh!! Mia baru menyadari, sejauh ini Randy belum pernah menyatakan cinta kepadanya.
Ingin menyudahi saja aktivitas mereka sebab sudah kehilangan selera, tubuh Mia tersentak saat berbalik. Randy menarik tangannya hingga terjatuh di atas tubuhnya.
"Kamu ingin pergi di tengah permainan??."
"Aku lelah" ujarnya mencoba bangkit.
"Lelah? permainan kita baru di mulai." Membelai wajah cantik Mia, di pandanginya wajah istri yang sangat mencintainya ini, kecantikan Mia dan Salwa ada pada porsinya masing-masing. Namun entah mengapa Randy mengharap Salwa yang sedang bersamanya saat ini, bukan Mia.
Menarik tangan kekar yang membelai lembut wajahnya"Ya, aku lelah karena kamu melupakan namaku. Ini sudah sangat lama namun namanya masih melekat di dalam hatimu. Kalau seperti ini apa artinya aku bagimu? adakah aku di sini?" jemari lentik Mia menekan dada sang suami, namun rasa ngilu justru terasa di dalam dadanya.
"Di perut ku juga sudah ada calon anak kita" tambah Mia.
"Mia, maafkan aku."
Masih berusaha menahan Mia, namun kali ini Randy harus mengalah. Mia dengan gontai melangkah ke dalam kamar mandi, terdengar gemericik air turun dari shower berbaur dengan isak tangis wanita itu. Bukan nggak mendengar, Randy justru membawa diri pergi dari tempat itu karena nggak tega mendengar isak tangis Mia.
Di kamar mandi lantai bawah Randy membasuh diri di bawah shower, segala ucapan Mia terus menari dalam pikirannya.
"Kamu ku cintai Mia, juga calon bayi itu. Kalian berarti bagiku" ujarnya, namun untuk mengatakan hal ini di depan Mia, Randy belum mampu. Waktu memang telah banyak berlalu, namun Salwa masih bertengger pada tahta tertinggi di dalam hatinya. Usai membersihkan diri, Randy kembali ke dalam kamar. Mia masih berada di dalam kamar mandi, sepertinya juga masih menangis.
"Tok tok tok!!, Mia."
Isak tangis itu berhenti, juga suara gemericik air.
"Mia" panggil Randy lagi.
"Ya?" terdengar jelas suara sengau usai menangis.
"Keluarlah, jangan terlalu lama nanti kamu masuk angin."
__ADS_1
"Ya" sahut Mia.
Menunggu Mia keluar sambil berpakaian, bahkan hingga usai berpakaian dan sudah rapi pun Mia belum terlihat keluar dari dalam kamar mandi.
"Mia" panggil Randy lagi.
"Mi...."
"Maaf Sayang, aku masih ingin di sini" ujar Mia begitu pelan. Kesedihan hati sang istri sangat dapat Randy rasakan, namun dia seolah kehilangan kontrol pada diri sendiri hingga pikiran selalu mengarah pada Salwa.
"Maafkan aku Mia" ujar Randy lagi.
Nggak ada jawaban dari dalam sana, Randy pun memberikan waktu untuk Mia sendiri dulu. Di dalam kamar mandi Mia sudah memakai bathrobe, memandangi diri di depan cermin.
"Kamu cantik, tapi kamu bukanlah tipenya" ujarnya pada pantulan diri di dalam cermin.
"Inikah balasan karena telah mengambil milik orang lain" lagi, Mia bicara pada diri sendiri di depan cermin.
...****************...
Saat membawa Anton ke rumah sakit ponsel Hanif terjatuh hingga rusak. Atas rekomendasi temannya Hanif mengantar ponsel rusak itu ke sebuah konter di dalam mall. Sang pemilik bernama Angga, dan ternyata dia adalah sahabat calon mertua Salwa. Saat bertemu, Angga langsung mengenali Salwa, mereka pernah bertemu dalam pesta pernikahan Syailendra dan Fateena. Selain itu Agam juga sudah bercerita padanya bahwa Salwa adalah wanita yang sangat di ingini Arjuna untuk menjadi pendamping dalam hidupnya.
"Berapa ongkosnya" tanya Hanif setelah memastikan ponselnya sudah di perbaiki.
"Nggak perlu."
"Om Angga, ini gratis?" tanya Salwa ingin lebih memastikan.
Angga menganggu"Iya, ini gratis untuk kalian."
"Kenapa Om?. Sedang ada promo ya?" Hanif coba menerka.
"Enggak. Ini gratis untuk teman. Sebab Salwa akan menjadi Nyonya Arjuna."
Ucapan Angga membuat Hanif tertawa, kini dia mengerti mengapa perbaikan ponsel itu gratis.
Salwa tersipu malu, dia tertawa seraya menutup wajah.
"Nona Salwa?" seseorang dengan kamera mengalung di leher, terlihat sumringah bertemu Salwa di tempat itu.
"I----iya" ujar Salwa sempat tergagap.
"Wahh makin cantik saja mengenakan kerudung. Boleh saya wawancarai sebentar. Saya dari kantor tabloid Beken" sebuah kartu nama dia perlihatkan kepada Salwa, juga Hanif.
"Wawancara apa ya?" Hanif segera menarik Salwa agar mendekat padanya.
__ADS_1
"Tentang perpisahan dengan Tuan Randy."
Deg!! jantung Salwa mulai berdetak abnormal. Membahas masalah itu sangat nggak nyaman baginya.
"Bagaimana kabar anda sekarang Nona?" tanpa persetujuan, pemburu berita itu mulai melontarkan tanya, dengan kamera yang mulai menyoroti Salwa.
"Aku baik, Alhamdulillah" sahut Salwa akhirnya.
"Bagaimana tanggapan anda tentang perpisahan dengan Tuan Randy?"
"Hei!! pertanyaan apa itu!!" Angga merasa nggak nyaman dengan pertanyaan yang di lontarkan sang pemburu berita. Juga melihat gelagat nggak nyaman Salwa, Angga pun memutuskan untuk menghentikan wawancara dadakan itu.
"Pergilah, dan hapus rekaman itu" ujar Angga keluar dari barisan etalase berisi ponsel-ponsel dagangannya itu.
Dasar pemburu berita, bertemu dengan Salwa adalah sebuah keberuntungan baginya sebab Salwa seolah menghilang dari jangkauan awak media sejak resmi berpisah dari Randy. Ada banyak orang yang masih penasaran dengan kehidupan Salwa, wanita yang dulu cantik dan seksi itu. Sempat menjadi trending topik si langsing dan seksi ini menggendut, kini Salwa terlihat langsing kembali. Hal ini juga menarik perhatian sang pemburu berita, dia penasaran apakah Salwa melakukan diet? dan diet jenis apa yang dia lakukan hingga langsing kembali seperti ini.
"Aku bukan pemburu berita biasa, aku datang dari kantor berita resmi" ujarnya masih ngotot ingin mewawancarai Salwa.
"Kakakku menolak di wawancarai! jadi pergilah" Hanif angkat bicara.
Tetap memaksa hendak mewawancarai Salwa, Angga menarik lengan orang itu"Pergilah, kamu membuat pelanggan ku nggak nyaman!" sorot mata tajam Angga menciutkan nyali sang pemburu berita.
Sebelum pergi dia mengabil foto Salwa, juga tanpa izin.
"Hei!! ini melanggar aturan!" sentak Hanif.
"Ayolah, aku hanya mengambil fotonya. Berita tentang Nona Salwa sangat di cari saat ini, aku mohon biarkan aku memuat foto ini. Aku janji akan menulis hal baik dalam artikel itu" menatap Salwa penuh iba, berharap wanita ini mengabulkan keinginannya.
"Aku mohon!. Berita tebaru Nona mungkin akan menyelamatkan ku dari kehilangan pekerjaan" ujarnya lagi.
Salwa mengambil ponselnya dan meminta pemburu berita itu memperlihatkan kembali kartu namanya"Aku bersedia di wawancarai tapi dengan tema yang ku setujui, dan sebelum itu aku ingin mengambil fotomu sambil memegang kartu namamu. Kelak kalau kamu ingkar janji aku akan langsung menuntutmu."
Glek! sang pemburu berita menelan saliva, Salwa sangat waspada sekali.
"Nggak berani? ya sudah" ujar Hanif.
Seperti sedang berpikir pemburu berita terlihat ragu.
"Heh, apa kamu ada niat jahat sama Salwa?." Pertanyaan Angga lekas di jawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau memang mau wawancara kamu harus setuju dengan syarat yang dia ajukan. Aku akan mempersilahkan mu mewawancarai dirinya di dalam" Angga menunjuk ke dalam konter, di sana ada sofa dan terlihat cukup nyaman untuk merekan wawancara.
Demi kelangsungan karirnya sang pemburu berita sejutu dengan syarat yang di ajukan Salwa. Dia juga di perbolehkan untuk meng-upload rekaman wawancara ini di halaman online tabloid Beken. Waahhh, ini sajian yang sangat di nantikan para netizen.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.