
Waktu berjalan semakin mendekati hari yang telah di tentukan. Pada pertemuan para orang tua Salwa hanya menunggu di balik pintu kamar, mendengarkan para orang tua bicara tentang pernikahan mereka berdua. Taman hati yang pernah gersang perlahan menghijau kembali, bunga-bunga mulai bermekaran kembali memanggil para kupu-kupu untuk menari di taman itu. Suatu hal yang nggak bisa di hindari, para tetangga menjadi saksi acara mendebarkan di malam itu. Salwa hanya di perbolehkan keluar sekali, membawa sebaki minuman yang di persembahkan untuk para keluarga Arjuna, setelah itu dirinya di haruskan untuk kembali ke dalam kamar.
Mengenakan baju syar'i dengan kerudung nan panjang. Kecantikan di wajahnya sungguh tak terbantahkan, meski pernah menjanda tapi kecantikan dan tubuhnya masih sama seperti masih belia.
Debar di dada membuat Arjuna betah menunduk, di tambah para tetangga mulai berbisik memuji ketampanannya. Mereka mulai membanding-bandingkan ketampanan dirinya dan Randy, ck!! meski penilaian mereka Arjuna lebih tampan tetap saja dirinya nggak suka di bandingkan dengan lelaki durjana itu.
Hanya melihat wanita itu saat telah berbalik menuju kamar, Arjuna spontan menghela nafas. Lagi, bisik-bisik para tetangga yang hadir memuji kecantikan Salwa, bukan hanya wanita, para lelaki pun ada yang memuji kecantikan Salwa. Hati Arjuna terasa panas, rasanya nggak rela lelaki lain menikmati kecantikan calon istrinya, apalagi ada yang memuji tubuh aduhai Salwa.
"Padahal dia sudah memakai pakaian longgar, imajinasi bapak tua ini tetap saja liar" gerutu hati Arjuna. Di liriknya tajam lelaki tua itu, hingga wajahnya terlihat masam.
Bersama mereka menghitung hari yang pas, maka di tentukanlah satu minggu setelah hari ini. Serangkaian ritual pengantin pun mulai di jalani Salwa. Dirinya nggak lagi keluar dari rumah, berbagai lulur pengantin mulai rutin di balurkan pada tubuhnya. Selain Salwa yang sibuk mendekati hari pernikahan, para tetangga juga sibuk membicarakan jalan hidup Salwa.
"Beneran sama anak bujang dari desa sebelah. Suaranya bagus, anaknya sopan dan soleh, ganteng, berduit, waaahhh ajian apa yang di pakai Salwa itu" seorang Ibu muda memulai obrolan mereka. Ini acara kumpul arisan dan juga sholawat, tapi di waktu makan-makan mereka mulai menggosip dan membicarakan aib sesama.
"Husss!! kalau sudah jodoh, mau di ujung dunia pun pasti akan bersatu" ujar seorang Ibu muda lainnya, yang sepertinya nampak waras dari Ibu-ibu lainnya.
"Uluh-uluh kamu selalu begitu, orang pada kenyataannya Salwa selalu ketemu cowok jempolan. Itu orang pasti ada ajiannya, percaya deh."
"Jangan suudzon, ini acara sholawat kok malah ngomongin orang!."
"Bukan gitu lho Ibu RT, ini bukan fitnah lho, ini kenyataan. Masih ingat kan mantan suami dia, yang pengusaha sukses sering masuk TV itu?. Salwa kan hanya anak desa, kok bisa mendapatkan hati anak orang kaya seperti dia, kalau hanya modal kecantikan sih nggak mungkin."
"Itu juga Nak Arjuna, dia juga wara-wiri di televisi. Pengusaha sukses juga dia."
Bu RT hanya geleng-geleng kepala, merasa lelah menasihati Ibu-ibu itu. Ini bukan hanya seorang saja, banyak dari mereka yang memang gemar menggosip.
"Andai apa yang Ibu katakan benar, maka itu akan menjadi gibah. Tetap saja berdosa ngomongin orang."
"Aduuhh susah bergosip di depan kamu, selalu saja menceramahi kami. Sudahlah, buruan di goncangan arisannya. Biar kita cepat pulang terus kami bisa lanjut bergosip di rumah aku saja."
"Iya tuh, ayo Bu RT buruan di goncang" yang lain menimpali.
Ckckckk!! Ibu-ibu yang sepemikiran dengan Bu RT dan Ibu muda itu kembali menggelengkan kepala. Memang susah menasihati orang yang sudah hobi gibah.
__ADS_1
...****************...
Dua malam sebelum acara pernikahan. Arjuna melakukan panggilan pada nomor Salwa. Dengan hati ketar-ketir Salwa menerima panggilan itu. Apakah ini calon mertuanya lagi? atau memang calon suaminya?.
"Assalamualaikum" terdengar lembut suara Salwa di ujung telepon.
Arjuna memegangi dada, sebab sudah lama nggak bicara melalui telepon dengannya"Waalaikumsalam" suara berat Arjuna mendebarkan dada Salwa.
Sepasang hati saling bertalu, dua insan ini terdiam untuk beberapa saat.
"Ehem, ada apa ya?." Salwa memberanikan diri untuk bicara.
"Aku nggak bisa berbasa-basi, langsung pada intinya saja ya."
"Hem" Salwa langsung bersuara.
"Apa kamu keberatan kalau aku memintamu mengenakan cadar, saat kita menikah nanti."
Pertanyaan Arjuna membuat kening Salwa berkerut. Meski nggak melihat wajah Salwa saat ini, dari diamnya sang calon istri dia tau Salwa pasti merasa heran dengan keinginannya.
Seulas senyum terbit di wajah Salwa. Dia mengulum bibir menahan tawa itu agar tak bersuara.
"Hemmm" Arjuna bergumam seolah takut salah meminta.
"Kalau kamu keberatan, kamu bisa menolak permintaan ini."
"Enggak kok" segera Salwa menjawab.
"Aku nggak keberatan memakai cadar. Bahkan kalau kamu memintaku memakainya untuk seterusnya, aku nggak akan menolak."
Tadinya Arjuna duduk terhenyak di sofa, mendengar jawaban Salwa tubuhnya menjadi tegak"Benarkah? kamu nggak keberatan memakainya untuk selamanya."
"Untuk selamanya..." gumam Salwa.
__ADS_1
"Terasa sulit ya" ujar Arjuna lagi.
"Tapi aku mau memakainya, seperti Fateena. Karena semangat di dalam diri kita nggak selalu sama setiap harinya, kalau suatu saat aku terlihat menyerah memakai cadar itu, maukah kamu mengingatkan ku untuk nggak melepasnya."
Arjuna tertawa senang"Insa Allah, aku akan selalu mengingatkan mu di jalan yang benar."
Suara tawa Arjuna membuat Salwa juga tertawa. Hati yang tadi berdebar kini terasa hangat. Ternyata bicara banyak dengannya cukup menyenangkan, nggak sampai membuatnya sesak nafas karena terlalu berdebar.
Tak ingin terlalu hanyut dalam buai cinta, setelah mencapai kesepakatan obrolan itu mereka sudahi. Sama-sama tau bahwa cinta telah menyelimuti hati mereka, namun menahan gejolak di dada hingga status itu sah, nggak ada salahnya bukan?.
"Sudah cukup lama kita bicara, karena sudah sepakat lebih baik kita sudahi orbolan ini."
"Iya" sahut Salwa.
"Sampai bertemu di hari pernikahan kita" ujar Arjuna pelan.
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam" sahut Salwa. Panggilan di tutup namun Salwa masih memandangi ponselnya. Nggak menyangka mereka akan bicara setenang tadi, meski di awali dengan debaran luar biasa di dada.
"Baru ku sadari, suaranya masih berat meski hanya terdengar di telepon."
Merebahkan diri di tempat tidur, Salwa mengetik nama Arjuna di mesin pencarian mbah gugel. Wajah tampannya muncul lengkap dengan profil nya. Memiliki tinggi 176,8 cm, di sana tertulis bahwa Arjuna masih bujangan.
"Setelah menikah, apakah namaku akan terselip di profil mu dengan status istri??." Pertanyaan itu membuat Salwa malu sendiri, sudah di pastikan dirinya tengah di mabuk asmara.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.