Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Richard Brander


__ADS_3

Jinak-jinak merpati, seperti itulah tanggapan Syailendra tentang Yasmine saat ini. Menurut nasehat Umma, nggak boleh gegabah kalau mendekati gadis yang berkali-kali patah hati. Harus santai, harus pelan-pelan, mengikui arus air yang mengalir. Cepat atau lambat pasti akan sampai, alih-alih mengacaukan kolam hingga membuat kapal menjadi tenggelam.


Mengenai panti asuhan di ujung sisi lain, Agam sudah lama mengetahui adanya panti asuhan tersebut. Letaknya juga di pesisir namun berbeda wilayah. Pesisir kediaman mereka memasuki gerbang pertama, sedangkan pesisir wilayah panti berada di penghabisan pulau tersebut.


"Sayang, aku mau menjadi donatur di panti tempat Yasmine bekerja."


Meletakan sepotong waffel di hadapan sang suami, sementara waffel dengan toping buah jeruk berada di depannya. Pagi itu pasangan yang masih romantis meski nggak lagi muda menikmati sarapan mereka bersama. Semilir angin menyapu wajah mereka, yang masih terlihat cantik dan tampan meski usia sudah melewati angka 40"Kamu masih Agam ku yang dulu, gemar bersedekah."


"Hanya itu yang bisa ku lakukan, untuk bekal mengandap sang maha pencipta nanti, sayang."


Jena memberengut, dia kesal di pagi yang indah ini Agam justru membahas kematian"Haish!! nggak usah ngomong kalau membahas mati!!."


Terkekeh, lubang di kedua pipi itu masih menarik terlebih ketika dia tersenyum dan tertawa. Agam lekas berpindah ke sisi sang istri"Jenaira ku sayang, jangan marah dong. Kalau marah kamu makin manis, kamu nggak kasihan sama aku?? aku kan sudah tua, nggak boleh merasakan yang terlalu manis."


Nggak jadi marah, Jena ikut terkekeh seraya memeluk lengan sang suami"Agam, keinginan kita untuk menua bersama telah berwujud. Kita kerap menatap langit jingga bersama di sini, telah banyak kebahagiaan yang kita rasakan bersama. Aku tau, niatmu untuk menjadi donatur di sana untuk mendekatkan Enda kita dengan Yasmine. Kamu pasti ingin bocah itu segera bahagia dengan gadis impiannya."


Memegangi kedua pipi Jenaira"Kamu memang istriku, sangat tau apa yang ada dalam pikiranku."


Membawa tubuh untuklebih berhadapan dengan Agam"Jalan cinta Enda sudah terbuka. Sekarang bagaimana dengan putra kita, Arjuna." Rasa sayang terhadap Enda dan Arjuna sejatinya sama, mengingat putra kandungnya itu juga memiliki wanita yang di damba, Jena berharap kebahagiaan juga singgah padanya.


"Arjuna----" gumam Agam"Bocah itu masih berdiri di jalan buntu."


Terdengar tarikan napas berat Jena"Apa kita carikan calon saja. Nggak seharusnya dia menunggu istri orang menjanda kan?."


"Aku kerap bicara dari hati ke hati dengannya. Aku pun nggak mau dia menjadi perusak rumah tangga orang. Tapi katanya, sejauh ini dia nggak pernah menggoda wanita itu. Dia hanya bertemu dua atau tiga kali dengannya secara langsung. Selebihnya dia hanya meminta Pram untuk mengawasinya dari jauh." Entahlah, bagaimana jalan pikiran Arjuna. Di saat para Nenek menawarkan para calon istri, Arjuna bersikeras menolak dengan dalih"Wanita bukan barang yang sesuka hati boleh Arjuna pilih."


Ucapan sang cucu sukses membuat Adila dan Arabella menciut, dan nggak berani lagi mencarikan calon untuknya untuk saat ini.


Sempat gagal mencari keberadaan Yasmine, kemampuan Pram dalam menjaga dan mengawasi sang Tuan muda masih nggak bisa di ragukan. Kini dia telah berada di hadapan Arjuna, dengan laporan"Ada seorang penguntit yang sudah berapa hari mengawasi Tuan Bae."


"Oh ya. Kenapa dengan Bae?."

__ADS_1


"Penguntit itu mulai berkeliaran di sekitar perusahaan Tuan Abian."


"Oho! di sini?" Arjuna tersenyum kecil.


"Iya Tuan" ujar Pram lagi.


Meletakkan jari di bawah dagu"Jika itu Bae, lantas kemari, berarti aku sedang di cari-cari?."


Giliran Pram yang tertawa kecil"Tuan lekas mengerti."


"Tentu saja, karena aku tumbuh besar di dunia bisnis. Ini pasti orang suruhan Randy. Tawaran kerja darinya kembali ku tolak."


"Tapi Tuan, bukan hanya Randy yang mengincar kursi kebesaran anda."


Arjuna semula bersandar dengan nyaman di kursi empuk itu, mendengar ada orang selain Randy yang mengincar singgananya, Arjuna menjadi penasaran.


Meraih iPad di atas meja, Pram mengetik sesuatu"Tuan Richard, putra dari Tuan Bryan Brander, akhir-akhir ini juga sering mencari tau tentang anda."


profil seorang pemuda seumuran dirinya. lengkap dengan foto pemuda tersebut. Di ketahui Ricard Brander adalah CEO yang baru di angkat di perusahaan tersebut. Perusahaan yang bergerak di bidang properti, sama seperti perusahaan Abian yang kini di pegang Arjuna.


"Musuh lama dalam dunia bisnis Tuan Abian" Pram menjelaskan.


"Mereka bertemu untuk terakhir kalinya dalam acara perjamuan makan bersama. Setelah gagal mendapatkan tender, Tuan Bryan masih bersedia datang dalam perjamuan makan bersama yang di adakan Kakek anda."


Kening Arjuna berkerut, menyusuri ingatan tentang sosok Bryan"Kapan?."


"Itu sudah lama sekali Tuan. Saat anda masih sekolah menengah atas."


"Oh, pantas saja aku nggak tau."


Pram mulai bercerita tentang Brander properti. Perusahaan itu telah lama mundur dari deretan perusahaan sukses, sejak kegagalan Bryan mendapatkan tender yang sukses di dapatkan Abian. Nggak pailit, setidaknya mereka masih bertahan selama ini meski nggak lagi masuk ke dalam daftar perusahaan besar nan sukses.

__ADS_1


"Lantas apa hubungannya dengan Richard?. Bukankah Kakeknya sudah nggak mempermasalahkan hal itu. Lagipula sudah bertahun lamanya."


"Dia sempat bertanya tentang tanah di daerah tinggi, tanah kosong yang dahulu merupakan pemukiman."


"Bertanya dengan siapa?."


"Dengan saya."


"Hah?."


"Sangat nggak terduga, Ricard ini orang yang suka berterus-terang. Dia menginginkan tanah itu."


Arjuna sangat tau tanah itu adalah proyek gagal yang di pegang sang Kakek. Karena adanya seorang pekerja yang bertindak curang, hotel mewah yang semula berdiri kokoh di sana mengalami kerusakan dalam kurun waktu singkat setelah resmi di buka. Kelalaian dalam mengawasi kwalitas material menjadi penyebab utama rusaknya bangunan. Abian mengalami kerugian saat itu, demi menyelesaikan masalah secepatnya dia mengambil tanggung jawab yang besar. Bangunan di runtuhkan dan tanah di lelang. Abian membayar kerugian sekaligus mengambil alih tanah tersebut. Kehilangan banyak uang memang, mengingat letak tanah yang strategis Abian nggak melepaskan tanah tersebut begitu saja. Dia yakin suatu saat tanah itu pasti akan berguna, mengingat bisnis di bidang properti mereka yang turun temurun itu.


"Kakek sangat menyayangi tanah itu, bilang padanya dia nggak akan menjualnya."


"Saya sudah mengatakan hal itu, dan dia bersikeras ingin memilikinya."


"Kenapa?."


"Dia hanya bilang sangat ingin memilikinya Tuan."


"Seorang ambisius??." Tanya Arjuna di angguki Pram.


Lawan yang cukup menarik. Dalam bisnis Arjuna sangat senang bermain api, apalagi melihat lawan kepanasan karena percikan api itu. Mengetahui Richard yang lebih dulu mencari tau tentang dirinya, Arjuna berniat berkenalan secara langsung dengan Richard.


"Atur pertemuan ku dengannya. Seorang ambisius, sangat menarik" ujar Arjuna.


"Siap Tuan" sahut Pram.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2