Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Gundah Salwa


__ADS_3

Keinginan untuk memiliki seorang anak, sudah lama bersemayam dalam diri Salwa. Namun ucapan sang calon mertua tadi membuatnya berpikir agak lain. Bukan apa-apa, Nuha dan Arjuna adalah kakak dan adik sepupu, juga berlainan jenis kelamin. Mengingat betapa Nuha menyukai Arjuna, juga betapa Arjuna menyayangi Nuha, jujur saja ada perasaan nggak rela di dalam hatinya. Di jaman sekarang bukan hal baru lagi benih cinta terlarang muncul pada hati dua insan manusia, apalagi dalam hubungan yang di perbolehkan untuk menikah. Ckckckck Salwa memukul kepalanya karena pikiran ini singgah di otaknya.


Salwa merasa dirinya akan menjadi bahan tertawaan kalau mengungkapkan kegelisahan hati ini pada orang lain, terlebih dirinya hanyalah seorang wanita yang masih sangat kurang ilmu agama. Di saat seperti ini dirinya hanya mampu berserah kepada sang maha pencipta, meminta jalan hidup terbaik pada dia yang maha baik.


"Aduh Salwa!! pikiran ini pasti gara-gara berita di televisi tadi!!" ujarnya berucap pada diri sendiri.


Ya, saat ini sedang ramai pemberitaan seorang pria yang berselingkuh dengan anak angkatnya. Sebagai wanita yang juga menjadi korban perselingkuhan, Salwa sangat geram mendengar dan menonton kabar berita itu.


Ingin rasanya Salwa bertukar pendapat, mencurahkan segala isi hati, namun pada siapa?, dia hanya butuh teman berbagi. Hal ini juga nggak mau Salwa ceritakan kepada kedua orang tuanya, takut mereka yang telah menyimpan harapan pada Arjuna menjadi risau sama sepertinya. Setelah satu persatu kehilangan teman, kini Salwa hanya memiliki Mecca, Fateena dan Juwita sebagai teman.


"Mecca, dia Adik Arjuna. Aku jelas akan di tertawakan kalau berbagi isi hati padanya. Atau mungkin dia akan menganggap ku aneh, karena berpikir seperti itu" bergumam sendiri lagi.


"Fateena....akh!! apa bedanya Fateena dan Mecca" menunduk lesu, Salwa meletakan kembali ponsel di tangan, benda yang sejak tadi dia pegang.


"Bagaimana tanggapan kamu tentang niat Arjuna ini Salwa?." teringat kembali obrolan dirinya dan Agam saat itu.


"Salwa akan mendukung semua hal baik yang akan Arjuna lakukan, Om" ujarnya. Mengingat betapa mudah dirinya memberikan jawaban saat itu, kini Salwa merutuki diri sendiri. Lagi-lagi dirinya nggak bisa mengatakan tidak pada orang lain.


Juwita...nama teman barunya ini membuat Salwa mengambil kembali ponselnya. Berharap Juwita dapat memberikan solusi terbaik kepadanya. Maka, meski sempat ragu Salwa akhirnya menghubungi Juwita.


"Apa kamu ada waktu?."


"Kapan?."


"Sore in!."


"Ba'sa Ashar kita bisa bertemu" ujar Juwita. Mau aku yang ke rumahmu atau kamu yang ke rumahku?."

__ADS_1


"Ada toko cemilan baru buka di depan gerbang desa kami, kalau boleh kita bisa bertemu di sana."


"Cemilan ya, aku suka. Aku minta izin sama suamiku dulu ya. Nanti akan ku kabari lagi."


Salwa mempersilahkan Juwita meminta izin kepada Wahab. Di sini Salwa mengagumi sosok Juwita yang begitu patuh terhadap suami. Dia jadi teringat dirinya dahulu yang selalu berusaha patuh terhadap Randy, namun sayangnya Randy bukanlah lelaki seperti Wahab. Semua niat baik untuk memperbaiki diri justru di tentang Randy, sangat berbeda dengan Wahab yang sangat menjaga aurat wanitanya.


Andai ber-andai, Salwa berharap kelak bertemu lelaki sebaik Wahab. Apakah lelaki itu Arjuna? atau akan ada lelaki lain hadir dalam hidupnya?.


Sembari menunggu panggilan dari Juwita, Salwa keluar rumah. Duduk di beranda sembari memeriksa bunga-bunga kertas yang mulai berbunga. Kecantikan seorang Salwa memang bukan rahasia lagi. Bukan hanya Arjuna yang begitu menginginkan dirinya, bukan hanya Randy yang masih ingin memilikinya, ada seorang duda beranak satu yang berniat mendekatinya. Kebetulan melihat Salwa sendiri saat lewat di depan rumah, lelaki itu mencoba mengajak Salwa mengobrol.


Bermula dari basa-basi, berubah jadi mengutarakan niat untuk menikah lagi.


"Oh ya? bagus dong. Berarti Anisa akan punya Ibu baru" ujar Salwa belum mengerti dengan kode dari lelaki ini.


"Iya sih, tapi calonnya belum ada. Gimana mau ngasih Anisa Ibu baru." Dia tersenyum pada Salwa, dan dengan terpaksa Salwa pun membalas senyuman itu. Setelah melihat gelagat lelaki ini, Salwa merasa obrolan ini nggak harus di lanjutkan lagi.


Mau nggak mau lelaki itu menyudahi orbolan mereka. Ternyata berbicara berdua Salwa menambah rasa suka terhadap Salwa. Dia pun berniat bicara serius dengan Anton, mungkin nanti malam dia akan bertandang ke kediaman Salwa lagi.


Terlihat mengintip di balik ruang tamu, aktivitas Salwa membuat Nur bertanya"Heh!! lihat apa?."


"Itu Bu, Bang Wani ngajak ngobrol Salwa. Ngomongin calon Ibu buat anaknya. Salwa jadi risih."


"Kamu mau?."


Mendekati Nur yang sedang membersihkan bawang"Ibu!! kan sudah ada yang menunggu Salwa."


Nur mencibir kemudian tertawa"Oh iya ya, Ibu lupa sama calon menantu tampan itu. Habisnya sudah beberapa hari nggak mendengar kabarnya."

__ADS_1


"Jangankan Ibu, Salwa juga nggak tau gimana kabarnya."


"Masa sih?? bukannya dari tadi kamu main hape. Ibu kira lagi berbalas pesan sama dia."


Tangannya mulai membantu Nur membersihkan bawang, setidaknya meski sambil mengobrol pekerjaan Nur masih terus berjalan"Bukan. Itu lagi berbalas pesan sama Juwita."


Mengingat Juwita, saat itu ponselnya berdering dengan nama Juwita di layarnya"Panjang umur, orangnya langsung menelepon. Salwa terima dulu ya Bu." Memperlihatkan ponselnya pada Nur.


"Iya, pergi sana. Pekerjaan Ibu juga akan selesai."


Seperti dugaan Salwa, Juwita mendapat izin dari sang suami untuk bertemu dengannya. Wahab akan mengantar Juwita ke toko cemilan itu, sedangkan Salwa bisa berjalan kaki saja pergi ke sana.


Sore itu dua sahabat ini bertemu, sembari menikmati kue kering dan beberapa manisan, Salwa dan Juwita mengobrol panjang. Tanpa ragu Salwa mengungkap segala isi hati, segala dugaan yang mungkin terdengar aneh bahkan lucu bagi orang lain. Namun bagi Salwa hal ini sangat mengusik hati.


"Kejujuran itu memang pahit, tapi akan lebih baik kalau kamu katakan kepada Arjuna. Jangan selalu merasa nggak enak hati pada orang lain, kalau akhirnya harus hati kita sendiri yang menjadi korban." Juwita memberikan nasihat setelah mendengarkan Salwa berkeluh kesah. Sebagai sesama wanita dia memahami ketakutan dalam diri Salwa, apalagi dirinya pernah di khianati, tentu dia sangat takut akan kehilangan dan di khianati lagi.


"Lucu ya, aku seperti cemburu dengan anak kecil."


"Ya...memang lucu" Juwita berkata apa adanya"Tapi kekhwatiran kamu juga nggak salah."


"Aku sadar, aku seperti nggak percaya dan yakin akan perasaannya padaku. Tapi berita yang sedang viral belakangan ini sangat mengusik hatiku Juwita."


Juwita tertawa, namun sejurus kemudian dia menghentikan tawa itu. Memang nggak mudah mendapatkan kepercayaan pada orang yang pernah kecewa. Mengetahui bagaimana pedihnya kehidupan Salwa saat berumah tangga dahulu, Juwita nggak heran melihat betapa waspadanya Salwa terhadap lelaki. Betapa dirinya menjaga agar hatinya nggak lagi tersakiti, dia takut semangat hidup yang telah kembali ini hilang karena di khianati lagi.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2