Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Cinta sejati


__ADS_3

Cinta sejati, mungkin hal inilah yang akhirnya di rasakan oleh dua wanita, Salwa dan Fateena. Setelah menelan pil pahit dalam kehidupan, pada akhirnya mereka menikmati buah manis dari kesabaran yang selama ini mereka tahan.


Berprasangka baik kepada sang maha pencipta, maka segala kebaikanlah yang akan datang kepadamu. Fateena memandang sang suami, Syailendra yang sedang menikmati pemandangan di tepi bendungan. Ada banyak pengunjung di sana, dan yang paling bersinar baginya hanyalah sang suami saja. Angin sore membelai helai rambut lelaki itu, lelaki yang menariknya dari belenggu kesepian. Dirinya yang dingin kini berubah menjadi wanita hangat, dan ceria.


"Mas suka pemandangan di sini?. Langit sore ini indah ya."


Menoleh kepada Fateena, Enda sangat menyukai tatapan teduh manik indah sang istri. Dia, wanita yang hampir tak pernah mengeluh. Sejatinya ocehan tetangga di kediaman Ayah dan Ibu angkatnya tak pernah reda, namun Fateena tak pernah membahas masalah itu dengannya. Sekedar mencurahkan sesak di dada, Fateena pun tak pernah melakukan hal itu. Kenyataan di depan mata yang membuat Syailendra tau betapa jahatnya mulut para tetangga di sana.


"Langit itu memang indah. Tapi bukan langit yang membuat pemandangan di sini menjadi indah."


"Lalu apa?."


Di tepi pagar pembatas, di sanalah mereka berdiri saat ini. Jemari Fateena memegang pagar itu, perlahan Syailendra meletakan jemarinya di atas jemari Fateena. Kini pandangan mereka bertemu"Karena ada kamu."


Fateena tersenyum, sangat jelas terlihat karena kedua matanya menyipit. Sedangkan Syailendra tersenyum lebar, akh!! kenapa dirinya menjadi salah tingkah setelah mengatakan kalimat itu. Dia pun memalingkan wajah, terlihat daun telinga lelaki ini memerah.


"Mas yang gombal kenapa Mas yang salah tingkah?" Fateena menarik wajah Syailendra, agar menatap dirinya lagi.


"Entahlah. Aku jadi ingin tertawa setelah mengatakan hal itu" ujarnya.


Sedikit berjinjit, Fateena meletakan kedua telapak tangan di kedua pipi Syailendra"Oh ya?. Tapi kalau sedang malu-malu seperti ini kadar ketampanan Mas semakin bertambah."


Andai mereka sedang berada di rumah, mungkin Syailendra akan langsung menciumi sang istri. Kini jemarinya menarik gemas ujung hidung sang istri"Oho! sudah pandai menggombal istriku ini."


"Aku masih ingat bagaimana dinginnya kamu dulu. Baru di tatap sebentar saja kamu langsung pergi, baru beradu pandang sebentar saja kamu langsung membuang muka, padahal waktu itu aku nggak sengaja melihat ke arah kamu. Aku bahkan sempat menyebutmu kulkas empat pintu lho."


Sebenarnya bukan hanya Syailendra yang menyadari hal ini, Fateena juga. Hatinya terasa lebih berwarna setelah menikah dengan lelaki humoris ini"Jodoh itu cerminan diri, jadi nggak heran dong kalau aku sekarang jadi seperti ini. Mas sendiri kan sering sekali menggombal ku."


Saat itu Fateena mengenakan gamis dengan lengan berkaret, saat memegang kedua pipi Syailendra, lengan bajunya sedikit tertarik ke atas. Dengan segera Enda memperbaiki lengan baju sang istri"Ya, dan sekarang kecerobohan ku pun menular kepadamu. Karena memakai lengan berkaret kamu melupakan memakai set lengan. Ingat sayang, lenganmu juga aurat."


Sungguh ter-enyuh, di saat dirinya lalai ada seorang suami yang begitu menjaga dirinya"Terimakasih Mas, selalu menjagaku dengan sangat baik."


"Terimakasih Mas, terimakasih sebanyak-banyaknya."


Mengusap pucuk kepala Fateena dengan lembut"Sama-sama, itu semua aku lakukan karena kamu adalah tanggung jawab ku, segala apa yang terjadi kepadamu adalah urusanku."


Sebelum Fateena protes, lekas-lekas Syailendra menyabung ucapannya"Dan terlebih lagi karena aku sangat mencintaimu, istriku."


kembali terlihat menyipit, tanpa seorang pun yang dapat melihat betapa merahnya kedua pipi Fateena yang sedang tersenyum itu.


Ketika pasangan Syailendra dan Fateena sedang menikmati suasana sore di tepi bendungan, pasangan Arjuna dan Salwa sedang menyirami kebun mini mereka. Mini? lahan itu cukup besar, namun tetap saja Arjuna menyebutnya mini.


Usai menyirami sayuran di sana, Salwa dan Arjuna berpindah ke beranda samping kediaman mereka.


"Kenapa hanya bunga lonceng biru?." Duduk di teras sedangkan Salwa berjongkok di hadapan para bunga lonceng itu.

__ADS_1


"Aku suka warna biru."


"Kalau begitu aku juga akan menyukai warna biru."


Ekor mata Salwa melirik Arjuna, lelaki itu tengah tersenyum lebar seraya melipat kedua kaki. Kini dirinya duduk bersila di sana.


"Aku suka warna merah muda."


"Aku juga akan menyukai warna merah muda."


"Itu warna perempuan!."


"Tidak mengapa, apapun yang kamu sukai akan aku sukai juga."


Inilah salah satu alasan kenapa Arjuna suka menggoda Salwa, saat tertawa kedua pipinya terlihat merona"Yang pasti sejak dulu aku menyukai warna merah merona di pipimu saat tertawa."


"Mas!! jangan menggodaku!" jemari nakal yang sempat menarik pipi Salwa, kini mendapat pukulan pelan.


"Nah!! semakin memerah. Kamu semakin cantik kalau begini. Inilah salah satu alasan mengapa aku memintamu memakai penutup wajah saat kita menikah."


Tadinya Salwa membuang daun-daun kuning pada bunga-bunga, hingga tangannya sedikit kotor karena tanah. Karena gombalan Arjuna dirinya spontan memegangi pipinya sendiri dengan tangan itu.


Arjuna lekas mengusap pipi Salwa"Salwa sayangku, sudah betul pipi mu merah merona seperti itu, jangan di buat kotor seperti ini."


"Oh!" seru Salwa.


"Sudahlah Mas. Jangan menggodaku!."


Arjuna terkekeh. Sedangkan Salwa tersipu malu.


Sejenak Arjuna memandangi sang istri, wanita yang cukup sulit dia dapatkan. Sekarang setelah melalui jalan berliku akhirnya mereka bisa bersama. Rasa syukur tak kunjung reda di dalam dada. Demi menyenangkan sang istri Arjuna menanyakan apakah ada sesuatu yang dia inginkan.


"Hemmm" kedua matanya bermain, ke kiri dan ke kanan. Sebuah kebiasaan Salwa saat sedang berpikir ya seperti ini.


"Semua sudah sangat baik, aku rasa sudah cukup Mas. Aku sangat bersyukur memilikimu."


"Begitukah?. Tapi aku sedang ingin memberikan hadiah kepadamu."


"Harus ya?."


Mengangguk seperti bocah"Ya. Katakan apa yang kamu mau?."


Teringat dengan kesenangannya akhir-akhir ini, yaitu menanam dan merawat bunga-bunga"Aku suka warna biru dan aku sudah memiliki bunga lonceng biru ini. Aku suka warna merah muda tapi aku belum memiliki bunga dengan warna itu."


"Hemm, bunga dengan warna merah muda?" sambar Aruna.

__ADS_1


Giliran Salwa yang mengangguk.


"Gampang!."


"Eiii, tapi aku mau yang punya makna tersendiri."


"Seperti bunga lonceng ini, selain warna yang bagus, aku menyukai arti dari bunga ini. Dia mencerminkan kerendahan hati, dan aku berharap diriku akan menjadi manusia yang rendah hati juga."


Terdiam, entah apa yang sedang Arjuna pikirkan.


"Mas...."


"Aku tau bunga apa yang cocok ku berikan kepadamu" begitu bersemangat kembali.


"Hem?."


"Kamu tunggu di sini. Sebentar saja, oke?." Salwa mengangguk. Sejurus kemudian Arjuna keluar dari kediaman mereka menuju kediaman Nenek Adila.


Sempat bingung. Hari semakin sore dan Salwa lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Sedang mencuci tangan di taman belakang, dirinya di kejutkan dengan kedatangan Arjuna kembali. Kedua lengannya tersembunyi di belakang.


"Aku sudah dapat bunga apa yang kamu mau."


"Oh ya?. Bunga apa itu?."


"Ini nggak gratis. Aku harus mendapatkan ciuman bertubi-tubi kalau kamu memang menyukainya."


Salwa mengangguk seraya bergumam.


Dalam pot berukuran kecil, bunga lily merah muda itu dia berikan kepada Salwa. Baru kemarin Salwa berniat mencari bibit bunga ini, dan sekarang bunga itu telah di berikan sang suami kepadanya.


"Katakan, kenapa bunga ini?" bertanya di iringi senyuman manis yang sangat Arjuna sukai.


"Karena bunga ini memiliki arti yang mencerminkan perasaanku kepadamu. Kamu wanita yang telah lama aku kagumi, wanita yang telah lama aku cintai. Sungguh maha besar Allah yang pada akhirnya membuat kita bersatu dalam ikatan suci."


Tak ayal Salwa menghambur ke dalam pelukan Arjuna. Dia juga menghujani sang suami dengan ciuman di wajah, begitu banyak hingga Arjuna senang bukan kepalang. Dialah cinta sejenis bagi Salwa, lelaki yang memperlakukan dirinya seperti ratu. Lelaki yang sangat menghargai dirinya, juga lelaki yang sangat menjaga aurat wanitanya.


"Terimakasih Mas, kamu selalu membuatku merasa di hargai."


"Karena kamu memang berharga Sayang. Kamu wanita yang sangat berharga bagiku." Usapan lembut jemari Arjuna menambah rasa haru di dalam dada Salwa.


...Tamat....


...Terimakasih sudah mengikuti kisah mereka. Terimakasih atas segala dukungan kalian. Mohon maaf jika ada salah kata, mohon maaf jika akhir dari novel ini kurang memuaskan, sejatinya aku hanya manusia biasa yang sedang belajar untuk bercerita. ...


...Salam anak Borneo....

__ADS_1


^^^Semoga keberkahan selalu menyertai kita, sampai berjumpa pada Novel selanjutnya. ^^^


__ADS_2