Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Hari H


__ADS_3

Hari yang di nanti akhirnya tiba, di kediaman Arjuna pesta pernikahan itu di selenggarakan. Tanpa halangan, semulus jalan tol yang baru di bangun Aruna mengucapkan ijab qobul. Air mata jatuh di kedua pipi Salwa, sangat nggak menyangka hal seperti ini akan terjadi dua kali dalam hidupnya. Jauh di dalam lubuk hati Salwa meminta semoga lelaki inilah pelabuhan terakhir cintanya.


Banyak orang mengatakan lelaki ini memiliki suara merdu saat melantunkan ayat suci Al-Quran, saat pertama kali mendengarnya melantunkan Adzan keinginan untuk mendengarnya mengaji sempat terlintas.


Bacaan merdu kalam illhai dalam peristiwa sakral, atas permintaan Salwa surah Ar-rahman itu di bacakan oleh Arjuna. Terbukti, perkataan orang benar adanya.


"Ya Allah, terimakasih telah mendatangkan imam sebaik dia." Bisik hati Salwa.


Saat membacakan doa di ubun-ubun Salwa, Arjuna tak kuasa menahan luapan rasa haru dan bahagia. Kedua matanya berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar namun air mata itu tak sampai luruh membasahi kedua pipi.


"Mas, kenapa dia menjiplak dirimu dulu."


"Karena dia putraku" jawab Agam.


"Tapi dia lebih tampan darimu."


"Hemmm" terdengar Agam bergumam"Oke, kalau di bandingkan dengan Arjuna aku nggak akan protes. Lagipula wajahnya perpaduan wajah kita berdua. Aku tampan dan kamu cantik, wajar saja kalau dia lebih tampan dari aku."


Jena melirik sang suami, yang sedang tersenyum senang setelah membuatnya mendelik.


"Dasar lebay!" menepuk pelan lengan Agam.


Di sudut lain Anton dan Nur juga terharu melihat Salwa mencium punggung tangan Arjuna, setelah itu Arjuna mencium sekilas kening Salwa yang telah resmi menjadi istrinya.


Berusaha meredakan isak tangis, Nur menggenggam jemari Anton begitupun sebaliknya.


Hari semakin siang, para tamu undangan semakin banyak berdatangan. Tak lupa Arjuna mengundang pak Teguh. Mengetahui wanita yang di peristri Arjuna adalah mantan menantunya, barulah Teguh mengerti akan perkataan Arjuna tempo hari.


"Jadi karena ini kamu mengatakan bahwa dirimu dan Randy saling berseberangan."


"Salwa nampak tegang, sedangkan Arjuna nampak biasa saja."


"Saya sudah memberikan kesempatan kepada Randy Om, namun ternyata seorang Salwa saja nggak cukup baginya. Oleh karena itu saya mengambil Salwa kembali."


Menyadari hancurnya rumah tangga Randy dan Salwa karena kesalahan yang Randy perbuat, Teguh merasa nggak pantas menyalahkan Arjuna apalagi Salwa. Dia juga tau betul bagaimana Randy memaksa hendak memperistri Mia di saat Salwa masih menjadi menantunya.


"Maaf Ayah" terdengar lirih Salwa bersuara.


"Jangan meminta maaf padaku, seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Kamu wanita yang baik, dan kini kamu bertemu lelaki yang baik pula. Semoga hijrahmu Istiqomah Nak Salwa."


"Amiin" ucap Salwa.

__ADS_1


Teguh mengulurkan tangan kepada Arjuna"Selamat ya, semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah."


"Amiin, terimakasih Om" hati Arjuna terasa lega. Inilah salah satu alasannya mengundang Tegur, agar tak ada perasaan janggal di hati mereka saat bertemu di kemudian hari.


Mengundang anak panti asuhan tempat Fateena mengajar, para anak-anak itu sangat antusias menikmati hidangan dan cemilan di pesta itu. Apalagi teruntuk mereka ada bingkisan dan amplop yang akan di bagikan saat mereka hendak pulang.


Seperti apa yang di inginkan Nur, salah satu hidangan dalam pesta itu adalah masak santan umbut kelapa. Banyak tamu dari perkotaan yang jarang menjumpai menu hidangan ini, bahkan ada yang belum pernah mencicipinya. Seolah menjadi bintangnya di meja prasmanan, mangkuk besar sayur santan itu sudah beberapa kali di isi ulang.


"Habis lagi, jadi primadona kamu hari ini" Mecca bicara pada mangkuk yang kembali kosong.


"Kak, Mecca isi ulang mangkuk lagi ya."


"Sudah habis lagi? wah laku banget itu sayur" celetuk Fateena.


Di perjalanan menuju kediaman Nenek Adila untuk mengisi ulang sayur itu, Mecca bertemu Bae. Terlihat pemuda ini sedang sibuk mengangkut air mineral.


"Sini Abang bantu." Seolah pekerjaan Mecca itu berat, Bae meninggalkan Pram dengan banyak air mineral di dalam dus.


"Mecca bisa sendiri kok Bang. Cuman isi ulang mangkok ini doang."


"Panas lho sayurnya. Biar Abang yang bantu bawa."


"Pak Bae, bawa mangkuk segitu doang nggak bakal bikin Nona Mecca kewalahan. Saya lho yang harusnya di bantuin."


Ustadz Wahab sedari tadi memperhatikan mereka, dia terkekeh melihat Bae memelotot ke arah Pram. Tercium bau-bau pedekate Bae terhadap Mecca, Wahab berniat menggoda mereka.


"Mecca, buruan sayurnya" ujarnya berseru.


"Iya Ustadz."


"Tamunya mau sayur itu lagi, enak katanya. Eh Bae, mau bantuin Mecca ya?. Biar lebih mudah sekalian aja bawa panci besarnya ke meja prasmanan. Mecca nggak perlu bolak balik buat isi ulang mangkok itu."


Ide Wahab mengundang rasa ingin membuktikan diri, Bae menyingsingkan lengan baju berniat membawa panci besar itu ke meja prasmanan.


"Yakin kuat membawanya sendiri?. Panas lho."


"Eleh, segitu doang. Saya kan rutin nge-gym Pak Ustadz. Panci segitu besar mah gampang." Tak lupa Bae menjentikkan jari Kelingking di depan Mecca dan Wahab. Sementara Pram lekas turun dari atas pikap. Kalau di lihat Bae ini pemuda tampan dan dewasa, padahal tampan saja nggak menjamin seseorang akan benar-benar bisa bersikap dewasa.


Ibu-ibu di dapur merasa ragu Bae bisa membawa panci besar itu sendirian"Di bantuin Pak Ustadz saja" Mecca juga khawatir, sayur itu tinggal satu panci sedangkan hari belum lewat tengah hari. Mecca yakin akan semakin banyak tamu undangan yang datang.


"Enggaaakkk, Abaangg biiiisa kook" sedikit bergetar Bae memaksa diri mengangkat panci besar itu menuju meja prasmanan.

__ADS_1


"Saya bantuin Bos."


"Enggaaakk peerlluuu."


Alhasil Pram hanya menjaga takut Bae terjatuh atau panci itu tumpah.


Wahab dan Enda terkekeh melihat usaha Bae. Setelah tertatih beberapa menit panci itu sampai ke meja prasmanan dengan selamat.


"Terimakasih Bang Bae, Mecca jadi nggak perlu bolak balik mengisi mangkok lagi."


Tersenyum lebar. Dia yang tampan semakin tampan saat tersenyum lebar, Mecca pun membalas senyuman itu"Ini bukan apa-apa, kalau ada perlu lagi kasih tau Abang ya."


Mengacungkan dua jempol ke arah Bae"Siap Abang!!."


Segera Bae pamit diri. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Pram menyadari tingkah Bae yang seperti ada sesuatu. Berlari kecil dia mendekati Bae"Kenapa Bos? kok tergesa-gesa."


Menoleh ke belakang, ke arah Mecca. Gadis itu mulai sibuk melayani para tamu undangan.


"Pyuuhhhhhh" kedua pipi Bae mengembung meniup kedua telapak tangannya.


"Panas Pram!!" barulah Bae berkeluh kesah.


"Pancinya hangat. Tapi kelamaan di pegang panas juga rasanya" mengibaskan tangannya yang terlihat memerah.


"Saya cariin es batu ya Bos."


"Buruan!!, tapi jangan sampai orang lain tau" ucapan Bae membuat Pram kalangkabut. Kemana??! kemana??! kemana dia mencari es batu selain di dapur Nenek Adila. Sementara rumah Arjuna dan Syailendra ada banyak tamu undangan di sana.


"Kenapa lagi?" Ustadz Wahab datang lagi.


Melihat sekitar, kemudian Pram berbisik di telinga Wahab.


"Heheheh, begitu ya. Air sungai itu cukup dingin lho, rendam aja tangannya di sana."


Pram menepuk keningnya baru menyadari"Ups!! iya ya Pak Ustadz. Terimakasih sarannya."


Pram lekas kembali ke hadapan Bae dan membawa Bos nya itu ke tepi sungai.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2