Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Obrolan para orang tua


__ADS_3

Keinginan hanya tinggal keinginan. Manusia hanya mampu berencana sedangkan ketentuan tetap berada di tangan sang maha pencipta. Usai mendapat dukungan dari Salwa, Arjuna mengutarakan keinginannya merawat Nuha hingga besar. Mendengar hal itu Gibran tak serta merta merestui, dia menolak mentah-mentah hal itu.


"Enggak!. Aku masih bisa kok merawat Nuha."


"Tapi kan Om selalu sibuk dengan jadwal yang padat itu."


"Itu masih bisa ku kendalikan, mau sibuk mau enggak tergantung persetujuan aku."


"Pelit."


"Pak Kiyai, tolong kasih masukan buat bocah ini. Orang Nuha masih punya orang tua kok mau main adopsi aja" ujar Gibran mendekati Kyia Bahi. Kini semua keluarga berkumpul di kediaman pantai, sengaja mendekatkan Nuha pada tempat tinggalnya bersama Kanaya dulu. Sudah lama Nuha tinggal di kediaman Arjuna, dan kini sudah waktunya dia kembali tinggal di tempat yang seharusnya bersama sang Ayah. Nuha juga sudah nggak rewel saat malam hari, Nuha juga sudah menerima Gibran sebagai orang yang memegang botol susunya.


Awalnya Nuha hanya mau tidur di samping Arjuna, perlahan Gibran menggantikan posisi Juna saat Nuha telah tertidur nyenyak. Hal ini membuat Nuha mulai mencari Gibran saat hendak tidur, dan sejujurnya Arjuna merasa cemburu karena dirinya tak lagi di perlukan Nuha. Semakin menyayangi Nuha, adalah salah satu alasan ingin merawat Nuha selamanya.


"Ada yang lebih berhak merawatnya, bahkan kalau Nak Gibran nggak ada, masih ada Kakek dan Neneknya."


Ucapan Kyai Bahi menambah cemberut wajah Arjuna. Akhtar tertawa melihat wajah masam sang cucu, sejak tadi meski berbincang masalah bisnis dengan Abian, sejatinya mereka mendengarkan obrolan Arjuna dan Gibran, juga Kyai Bahi yang baru bergabung dalam obrolan itu.


Sementara Arabella, melihat Arjuna begitu ingin merawat Nuha"Langsung program anak aja nanti kalau sudah menikah dengan Salwa. Merawat anak sendiri rasanya lebih menyenangkan dari pada merawat Adik sepupu" celetuk Arabella di angguki Gibran, juga Jena.


"Iya tuh, betul kata tante."


Jena mengacungkan jempol saat Arjuna menoleh padanya"Sebentar lagi, kamu masih bisa bersabar kan."


"Iya, kalau nggak sabar perjuangan Arjuna selama ini akan sia-sia."


Salah satu cara berdamai dengan hidup adalah menerima kenyataan. Semangat yang menggebu ingin merawat Nuha yang sempat padam kini bangkit kembali dengan keinginan untuk segera memiliki keturunan sendiri, alih-alih membesarkan Adik sepupunya itu.


Nuha menggeliat di pangkuan Reska, pemuda itu mendekat dan mengusap pucuk kepalanya"Ada banyak orang yang sangat sayang padamu, kalau Ayahmu galak, minggat saja ke rumah Abang ya."


"Nasihat jenis apa itu? sesat sekali."


Ucapan Gibran di tertawakan semua orang.

__ADS_1


Kebersamaan mereka di rekam oleh Mecca, gadis ini menyempatkan diri merekam kegaduhan di ruang keluarga saat dirinya di tugaskan menjadi asisten Abi dan Abangnya.


"Lagi berdebat saja masih cakep, Abang siapa dulu dong" itulah judul video yang di rekam Mecca, dia mengirimnya kepada Salwa.


Tak berapa lama terdengar notifikasi balasan dari Salwa"Tegang sekali, apa sedang ada masalah?" tanya Salwa. Mecca merekam mereka dari muara pintu dapur, suara Arjuna dan Gibran berbaur dengan obrolan Abian dan Akhtar tentang bisnis mereka. Juga berbaur dengan obrolan para Nenek tentang perhiasan model terbaru di bulan ini.


"Itu, Bang Arjuna mau merawat Nuha. Tapi nggak dapat izin dari Kakek."


Ada rasa lega di dalam dada. Spontan Salwa menghela nafas"Oh ya. Jadi Nuha akan di rawat siapa?."


"Ayahnya, mungkin Om Gibran akan mempekerjakan seorang baby sitter untuk mengurusi Nuha. Abang sudah memaksa namun dia tetap nggak mau Nuha di rawat Abang, Nuha juga akan kembali tinggal di sini Kak."


Kabar dari Mecca membawa angin segar di hatinya, sungguh hatinya sangat bimbang memikirkan hal itu.


Usai membahas masalah Nuha, Mecca berniat melakukan panggilan video kepada Salwa. Rasanya nggak lengkap kalau nggak mengajaknya mengapa para anggota keluarga di ruang tamu.


"Tugas Mecca sudah selesai, Mecca keluar ya" ujarnya meletakan sekeranjang sayuran yang sudah di cuci bersih.


"Iya, pergi sana. Panggilin Yayang Abang ke sini ya."


"Mecca~~~~" Abi Khair lekas memadamkan api pertikaian yang di pantik oleh sang putri.


"Ups!! maaf" gadis itu meminta maaf namun di balas wajah menyebalkan dari Enda.


Seraya menekan tombol memanggil, Mecca meminta Fateena untuk menggantikan tugasnya di dapur bersama Enda dan Abi Khair. Inilah enaknya punya keluarga yang pandai memasak, di waktu kumpul keluarga seperti ini nggak perlu memanggil koki. Sebab keluarga ini sudah punya dua koki handal.


"Assalamualaikum, apalagi Mecca" wajah cantik Salwa terlihat jelas di layar ponsel. Sedikit berlari gadis ini membawa ponselnya menuju Kyai Bahi.


"Waalaikumsalam, lihat Kakek di cariin cewek cantik" menyodorkan ponselnya ke hadapan sang Kakek.


"Oh, mimpi apa Kakek semalam di cariin cewek secantik ini."


"Kakek, assalamualaikum" terdengar Salwa mengucapkan salam kepada Kyai Bahi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam salam" kemudian Kakek Bahi menanyakan kabar Salwa. Alhamdulillah gadis itu baik-baik saja.


Usai Salwa mengobrol sebentar dengan Kakeknya, Mecca mengangkat ponselnya agar semua keluarga dapat melihat wanita itu. Semua orang melambaikan tangan kepadanya, namun ada satu yang terlihat kesulitan bergerak, dialah Arjuna.


Gibran yang usil langsung menggoda Arjuna"Heh, bilang padanya, siap nggak langsung produksi anak. Kalau siap biar aku kasih jurus-jurus nya."


Waduh!! wajah Arjuna langsung memerah seperti kepiting rebus. Lagi-lagi dirinya menjadi bahan ledekan di depan Salwa. Sementara wanita itu terlihat malu karena celotehan Gibran.


Melihat hal itu Jena mengambil alih ponsel Mecca"Jangan di dengarkan omongan Om Gibran, dia hanya sedang menghibur hatinya yang lara."


"Iya tante, Salwa mengerti kok."


Jena pun menanyakan kabar Pak Anton.


"Alhamdulillah Ayah sudah sehat tante" Salwa menjawab.


Arabella mendekat dan memuji kecantikan Salwa, dia tersipu malu"Nenek bahkan lebih cantik saat muda, Salwa yakin itu sebab sampai sekarang kecantikan Nenek masih terlihat jelas." Arabella memegangi kedua pipinya, rasanya ucapan Salwa ini sedikit mirip dengan gombalan dan rayuan yang kerap Arjuna katakan padanya. Dia sangat tau mereka memang suka menggodanya dan tetap saja dirinya senang selalu di katakan cantik meski sudah berusia separuh baya.


Sementara Adila nggak mau kalah, dia langsung meminta Salwa memanggil Ibundanya. Salwa menyerahkan ponselnya kepada Nur, dia menggantikan pekerjaan Nur kala itu, yang sedang memberi rempah ikan untuk di bakar.


"Bagaimana?? sudah waktunya?." Salwa sempat mendengar pertanyaan Adila, sayangnya Nur membawa ponselnya ke halaman belakang. Dia duduk di kursi rotan sambil menikmati udara sejuk.


"Ih, kok menjauh sih. Aku jadi nggak bisa mendengar obrolan mereka" keluh Salwa dalam hati.


Nggak fokus dalam pekerjaan, jari tangan Salwa sampai tertusuk sirip ikan. Wanita ini mengaduh pelan"Aduh Salwa!! fokus dong fokus!!" ujarnya memperingati diri sendiri.


Entah apa yang sedang para Ibu-ibu dan Nenek-nenek bicarakan. Tawa Nur terdengar renyah, Salwa jadi penasaran apa yang sedang mereka bahas.


"Bu ikannya sudah selesai di bumbui" mencoba memanggil Nur agar mendekat. Ya, Nur memang mendekat dan menyerahkan ponselnya kembali, namun panggilan video telah berakhir. Haish!! Salwa kan jadi semakin penasaran!!.


To be continued..


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2