
Ketika Arjuna dan Richard saling mempertahankan keinginan masing-masing, dua orang tua itu justru bersepakat untuk bekerja sama. Kendali yang semula di serahkan kepada Arjuna, kini di ambil alih lagi oleh Abian.
"Maaf, Kakek menyimpan rasa bersalah terhadapnya" ujar Abian. Dua lelaki berbeda generasi ini duduk di halaman Masjid Al-Jannah usai melaksanakan sholat Ashar bersama.
"Pasti dia bukan orang biasa bagi Kakek?."
Abian mengangguk"Ya, dia salah satu saingan bisnis yang menempa semangat Kakek. Di dunia ini ada dua jenis musuh bagi Kakek, yang pertama musuh yang menggunakan cara licik untuk menjatuhkan kita, yang kedua musuh yang bersaing secara sehat. Kehadirannya justru membuat Kakek semakin giat bekerja, semakin semangat menjadi seorang pengusaha yang mampu melampauinya."
"Dan dia Paman Byan?."
Lagi, Abian mengangguk.
Arjuna mengangguk kecil, sembari melepaskan pandangan ke tengah lapangan pondok pesantren. Di sana ada Salwa dan Mecca yang sedang membantu para pekerja berkemas. Dua wanita itu sangat giat hari ini, mereka banyak ambil andil dalam perayaan pernikahan Syailendra. Ada rasa bangga terselip di hati Arjuna, meski suka menjahili Enda tapi Mecca sangat mendukung pernikahan sang Abang, tentu dia ikut berbahagia atas percintanya tali asmara atas ridho Allah itu. Begitupula dengan Salwa, nggak canggung ikut bergabung bersama keluarganya, dia kerap mendapat pujian secara diam-diam dari para orang tua, karena rajin membantu meski nggak di minta.
Salwa datang bersama keluarganya setelah dzuhur, sejak saat itu belum sekali pun Arjuna menyapanya. Entah, bukan karena nggak lagi menyukai wanita itu, Arjuna hanya sudah merasa puas melihatnya dari jauh. Berbeda dengan Nur, Jena, Adila dan Arabella. Para Ibu-ibu dan Nenek-nenek itu terlihat senang bukan kepalang. Melihat pesta pernikahan Syailendra yang begitu meriah, mereka sudah nggak sabar untuk menggelar pesta pernikahan Arjuna dan Salwa kelak. Arabella bahkan sebuah membicarakan sovenir pernikahan Arjuna yang tanggalnya pun belum di pastikan.
"Kakek perhatikan, kamu dan Richard cukup akrab. Kalian sudah berteman sebelumnya?."
Mengalihkan pandangan dari wanita idaman hati, Arjuna kembali fokus pada obrolan mereka"Kami resmi berteman kemari, Kakek."
Abian melirik Arjuna"Secepat itu?. kakek sangat ingat kamu bukanlah orang yang lekas berteman akrab."
"Arjuna yang mengajaknya berteman lebih dulu."
Abian semakin terkejut, ternyata cucunya telah banyak mengalami perubahan"Bagus."
Tanpa di duga, Arjuna terkekeh"Arjuna terpaksa melakukan hal itu. Sebab dia menyinggung masalah Salwa."
"Heemm, jadi ini karena Salwa." Kini giliran Abian yang terkekeh.
"Ya, Arjuna sudah tau orang seperti apa dia. Dia tipe orang yang sangat menghargai tali persahabatan. Dari pada dia melirik Salwa, lebih baik kami berteman saja. Lagipula berteman dengan orang yang memiliki tekad untuk sukses dengan cara baik itu nggak merugikan. Intinya, dia sama seperti Paman Bryan, ingin sukses tapi sangat membenci cara licik.
__ADS_1
Apa yang di ucapkan Arjuna di angguki Abian"Kamu benar. Lantas bagaimana tanggapan kamu tentang pernikahan ini? kamu jadi ingin segera menikahinya?" tebak menebak, Abian pun bergurau.
"Hihihi, Kakek kayak nggak ngerti aja. Ya jelas mau sesegera mungkin dong kek!!" sepasang mata tajam itu kini terlihat seperti bulan sabit, terlihat melengkung.
Sungguh sangat jarang melihat Arjuna seperti ini, malu-malu. Abian mengacak rambut sang cucu"Wajah kamu kayak kepiting rebus tuh."
Menangkup kedua pipi sendiri"Oh ya??. Waduh kok bisa sih Kek."
"Begitulah cinta, kamu bahkan nggak menyadari bahwa kamu sudah banyak berubah karenanya. Sekarang kamu lebih banyak bicara, juga masker itu, sudah sangat jarang Kakek melihat kamu memakainya."
"Karena Salwa cantik sekali, Arjuna harus mengimbanginya dengan wajah super tampan ini."
Astaga!! Abian membulatkan kedua mata mendengar celoteh sang cucu. Sejurus kemudian dua lelaki ini tertawa bersama.
...****************...
Memboyong Fateena langsung ke kediamannya, hal itulah yang di lakukan Syailendra malam ini. Seperti seorang penculik, dia membawa Fateena tanpa ada manusia yang tau.
"Waduuhhh, mulus sekali rencana Syailendra. Dia langsung membawa Fateena pulang, apa dia sudah nggak sabar lagi?" dengan polosnya Gibran berucap, membuat semua yang ada di sana masing-masing tersenyum geli.
"Lihat tuh, Syailendra gercep banget" Adila mulai melirik Arjuna.
Kini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga kediaman Kyai Bahi, sembari mengobrol ringan.
"Kok Nenek melihat Arjuna seperti itu?." Merasakan tatapan penuh arti sang Nenek, Arjuna nggak bisa hanya diam.
"Ya karena kamu nggak peka. Jadi cowok kok dingin-dingin empuk sih, jadi gemes!" sahut Adila lagi. Ingin rasanya meraup wajah Arjuna, agar dia sadar akan kelalaiannya hari ini.
Mengusap tengkuk, Arjuna belum mengerti maksud dari perkataan sang Nenek"Apa sih?."
"Kamu anggurin Salwa hari ini" celetuk Abi Khair.
__ADS_1
"Tau nih. Si Salwa banyak menghabiskan waktu sama Mecca doang" ujar Jena pula.
Setelah mendengar hal itu barulah pemuda ini mengerti"Terus Arjuna harus gimana? di ajak kemana pun Arjuna pergi seharian ini?. Kami kan belum sah?."
Perkataan Arjuna ada benarnya, rupanya ini salah satu alasan Arjuna nggak mengajak Salwa bersamanya hari ini. Semua bermula dari sebuah penolakan, berubah menjadi rasa penasaran hingga berakhir dengan rasa cinta. Perasaan manis itu nggak Arjuna sadari sebelumnya, dan setelah menyadarinya dia semakin menyayangi Salwa. Karena dia lelaki dan Salwa wanita, kecantikan wanita itu sangat berbahaya untuknya. Kalau belum sah rasanya nggak mampu berlama-lama berdekatan dengannya.
"Waahhh kamu memang terbukti putraku. Belum sah, jadi dia nggak berani menggandeng tangan Salwa. Ayah bangga sama kamu" mengacungkan dua jempol Agam terlihat sumringah. Sementara Jena jadi teringat dahulu saat belum menikah dengan sang suami, untuk menyentuh tangannya saja Agam nggak berani.
Benar apa yang di kata orang, buah jatuh nggak akan jauh dari pohonnya. Arjuna memiliki wajah yang lebih mirip pada Jenaira, namun memiliki sifat tenang seperti Agam. Di saat marah dia akan mengamuk seperti Jena dan saat mencintai, caranya mencintai Salwa dalam dia sama seperti cara Agam yang dahulu mencintainya dalam diam jua. Teringat hal itu Jena mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Agam. Sontak Agam menoleh kepada Jena, hingga tatapan mereka bertemu"Ya, dia Arjuna kita Mas." Ucap Jena yang membuat Agam tersenyum tipis.
...****************...
...Saat bersamamu, aku bahkan lupa siapa diriku....
...Saat bersamamamu, aku barulah tau siapa diriku....
...Membingungkan bukan?...
...Begitulah cinta memainkan kesadaran diri ini,...
...Begitulah cinta kerap bercanda tanpa batas kesadaran diri....
...Aku ingin menghabiskan sisa hidup ini bersamamu, apapun caranya!!....
...****************...
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1