Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Melepas putri tercinta


__ADS_3

"Kalau dia tak lagi kamu cintai, antarkan dia kembali kepada Ayah. Kalau dia nakal dan tak patuh, katakan kepada Ayah biar Ayah bantu menasihatinya." Sepasang manik Anton nampak berkaca-kaca mengucapkan kata itu pada Arjuna.


"Bahkan kalau dia nakal pun saya akan selalu menyanyinya Ayah."


"Terlepas dari ketentuan sang maha pencipta Arjuna akan selalu mencintainya, insa Allah Arjuna nggak akan menyakitinya apalagi meninggalkannya."


Tubuh renta Anton memeluk sang menantu, sungguh dia berharap banyak atas kebahagiaan Salwa pada lelaki ini. Begitu banyak derita Salwa yang terlambat dia ketahui, menyerahkan lagi sang putri kepada seorang lelaki benar-benar membuat hatinya sedih. Arjuna yang baik, dia berharap selamanya kebaikan itu akan melekat pada sosok Arjuna. Tak pernah lelah meminta kebahagiaan Salwa pada sang maha pencipta, kedatangan Arjuna kembali di anggap Anton sebagai jawaban atas doa-doa yang telah dia langitkan.


Jena sangat senang melihat sang putra akhirnya menikah. Begitu juga dengan para Nenek, Arabella dan Adila. Dua Nenek ini menunggui Salwa ketika di make-up, tak henti mereka memuji kecantikan cucu menantu ini.


"Sayang sekali kecantikan ini harus di tutupi. Aku ingin pamer pada rekan arisan, biar mereka yang selalu menyindirku melongo melihat cucu menantu ku yang cantik ini."


"Hei Arabella, sejak kapan kamu jadi orang yang suka pamer?. Aku justru senang Salwa memilih memakai penutup wajah, lihatlah kita punya dua cucu menantu yang pandai menjaga kecantikan mereka. Hanya suami mereka yang dapat menikmati kecantikan itu." Menarik Fateena dan mendudukannya di samping Salwa, kini dua wanita bercadar ini saling berdampingan.


"Hemm benar juga ya. Aku nggak jadi mau pamer deh" mereka terkekeh karena ucapan Arabella ini.


"Ini atas permintaan Arjuna Nek."


Jawaban Salwa menarik perhatian para Nenek dan Ibu-ibu. Malam ini usai acara di selenggarakan, para orang tua masih berkumpul di kediaman Arjuna. Para lelaki di beranda depan, dan para perempuan di ruang tengah.


"Oh ya? kalau begini Umma jadi pengen pakai juga."


"Ya sudah pakai saja sekarang. Kalian bertiga memakai gamis hitam dan cadar yang sama. Duduk di sana dan kita panggil Arjuna. Kalau dia salah tebak, jangan biarkan dia mencari kesenangan malam ini ya Salwa." Ucapan Jena menggelitik perut mereka. Nur yang sedari tadi hanya menyimak juga ikut tertawa. Dia senang putrinya sangat di terima dalam keluarga ini.


"Bagaimana kalau Mecca juga ikutan?. Hanya saat ini saja Mecca memakai penutup wajah, untuk mengerjai Abang saja."


"Kamu yakin nggak bakal di cubit Abang?."


"Abang yang mana? kalau Abang Arjuna, Mecca yakin dia nggak akan tega mencubit Mecca." Ya, semua orang tau bagaimana lembutnya Arjuna kepada Mecca, saat Enda menjahili Mecca tak jarang dia menenangkan dan membela gadis ini.


"Hanya Bang Enda yang suka jahil sama Mecca."


"Jangankan kamu, aku pun sering di jahilinya."


Celetukan Fateena di soraki para orang tua"Wuuu jahil yang bagaimana?."

__ADS_1


Merasa salah bicara hingga menjadi bahan ledekan, Fateena menyembunyikan wajah di pundak Salwa. Tawa mereka pecah melihat tingkah malu Fateena. Setelah tawa mereka reda, Adila berucap pada Salwa.


"Salwa, kalau Arjuna nakal padamu lapor saja sama Nenek. Rumah kita kan bersebelahan jadi Nenek bisa langsung datang saat kamu perlu bantuan."


"Eit!! hati-hati juga kalau rumahnya berdekatan Bu" Zafirah menimpali.


"Hem?."


Zafirah melempar tawa kepada Adila"Bertetangga dengan pengantin baru, kita jangan sering-sering bertamu apalagi datang mendadak. Coba bayangkan kalau Ibu bertandang kesini pas mereka lagi....." kata-kata Zafirah menggantung, baru menyadari candaanya sangat nggak ramah di telinga Mecca.


Mecca sudah besar, sebentar lagi lulus SMA. perkataan Umma bukan dia nggak paham maksudnya.


"Aduh!! telinga Mecca gatal. Mau cuci muka dulu ah ke dapur." Sontak mereka semua tertawa, dasar Mecca!! urusan meledek orang dia paling mengerti dan paling jago.


"Hahaha, dasar Mecca. Kamu sama usilnya dengan Bang Enda tau nggak." Seru Arabella melihat Mecca ngacir ke dapur.


Lagi-lagi Nur tersenyum, dia senang orang-orang di dekat Salwa baik dan humoris. Dia sangat ingin Salwa kembali ceria seperti dulu, kembali menjadi Salwa yang tak segan terbahak hanya karena Ayahnya salah memakai sandal kiri dan kanan.


Sebagai hadiah pernikahan Akhtar memberikan campervan.


"Waahh hadiah Kakek kalah dong. Kalau begitu Kakek akan menambah hadiah untuk kamu lagi. Katakan kamu mau apa?." Abian merasa kalah dengan hadiah yang di berikan sang besan pada cucu mereka.


"Bagus dong, itu bisa jadi nambahin modal usaha kamu" Khair menambahkan.


"Sudah cukup Bi, Arjuna takut terlena. Nanti Arjuna jadi malas bekerja dan hanya mengharap pemberian dari Kakek."


Jawaban Arjuna menambah rasa kagum Anton pada sang menantu. Apalah daya, dirinya hanya petani biasa yang nggak bisa memberikan hadiah kepadanya. Dirinya hanya ikut tersenyum mendengar mereka membicarakan hadiah untuk Arjuna dan Salwa.


Terasa pundaknya di rangkul Agam"Terimakasih sudah mempercayakan putri Bapak kepada Arjuna. Dia sangat bahagia atas pernikahan ini. Saya janji akan ikut menjaga Salwa."


"Saya juga akan ikut menjaganya" Khair ikut bicara.


"Lho, kalian pikir kami nggak mau ikutan. Kita juga akan menjaga Salwa, iya kan Akhtar?" Abian nggak mau ketinggalan. Dia bertanya dan memastikan Akhtar juga akan menjaga cucu menantu mereka.


Mengacungkan jempol"Oho!! itu pasti. Nanti aku akan bicara dengan Salwa, kalau Arjuna berani menyakitinya, beehhhhh!!!" kepalan tangan Akhtar menggantam telapak tangannya sendiri"Nih!! jadi ayam geprek ini anak."

__ADS_1


"Waduh Kek, Arjuna bukan Ayam!."


Anton tertawa lebar, dia terharu ada banyak orang yang bersedia menjaga putrinya.


"Terimakasih, kalian semua sangat baik. Semoga kebaikan dan keberkahan selalu menyertai kalian" hanya doa yang mampu Anton panjatkan untuk membalas kebaikan mereka semua.


"Kebaikan dan keberkahan untuk kita semua, Ayah" sahut Arjuna.


Rasanya sangat lega menikahkan Salwa dengan pemuda ini. Telah banyak rasa syukur di dalam dada Anton seharian ini, sejak pagi hingga malam hari bersama mereka.


Malam semakin merangkak naik, tepat di jam sepuluh semua orang berpamitan untuk pulang. Lebih tepatnya bukan pulang sih, Zafirah bersama Khair dan Mecca akan kembali ke kediaman Syailendra dan Fateena, beberapa langkah saja dari kediaman Arjuna.


Jenaira, Agam, Arabella dan Akhtar hanya kembali ke kediaman Adila dan Abian, juga hanya beberapa langkah dari kediaman Arjuna dan Salwa.


Hanya Nur dan Anton yang harus pulang menaiki motor, sebab rumah mereka di desa sebelah. Sejak sore Hanif pulang ke rumah lebih dulu, ada tugas kuliah yang nggak bisa di tinggalkan begitu saja. Dirinya juga telah banyak berkontribusi dalam acara ini.


Setelah menunggu sebentar, Hanif datang menjemput Anton dan Nur. Karena mereka bertiga, Enda dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantar Anton pulang, sementara Nur di bawa oleh Hanif.


"Mereka semua orang baik. Sebagai menantu kamu harus memberikan yang terbaik untuk mereka, pandai-pandailah menjaga diri. Jangan memendam sesuatu yang seharusnya enggak di pendam lagi, ya." Salwa mengangguk menanggapi nasihat Nur sebelum di tinggalkan di kediaman barunya. Dia sangat mengerti, dalam pernikahan kali ini Nur nggak mau Salwa mengulangi kesalahan yang sama, memendam derita sendiri saja.


"Ibu yakin kamu akan bahagia di sini. Namun, kalau takdir buruk itu terjadi, Ibu akan selalu menerimamu pulang ke rumah kita Nak." Air mata haru kembali jatuh di sela bisikan Nur di telinga Salwa. Sejatinya tindakan Randy sangat membekas di hati mereka, baik itu Salwa atau kedua orang tuanya.


"Ini hanya kemungkinan terburuk saja. Kita berprasangka baik saja kepada Allah, dan berharap yang terjadi hanya yang baik-baik saja."


Menepis air mata di wajah Nur"Iya Bu."


"Ibu pamit pulang ya. Assalamualaikum" pelukan erat Salwa dan Nur, terasa memilukan bagi Arjuna. Dia bukan nggak tau penderita yang sempat singgah pada mereka. Di dalam hati Arjuna kembali bertekad untuk selalu membahagiakan Salwa, meksipun dia nggak pandai melukis tapi dia akan selalu berusaha melukis senyum di wajah sang istri tercinta.


"Lho, sudah bubar ya?. Aku baru mau ikut bergabung" Gibran berseru di muara gerbang kediaman Arjuna.


"Wuuu telaaattt" Khair, Agam dan Enda meledek Gibran yang datang terlambat.


Ya beginilah nasib sang artis. Hanya sempat menghadiri acara ijab qobul, setelah itu dirinya langsung melesat ke lokasi syuting.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2