
Satu persatu keluarga pamit undur diri dari kediaman Arjuna dan Salwa. Pasangan yang jarang berbicara ini terlihat canggung. Udara dingin semakin terasa di tengah suasana yang sepi, Arjuna mengajak Salwa untuk masuk dan menutup pintu.
"Masuklah, sudah larut malam. Udaranya juga semakin dingin."
"I---iya" ujar Salwa. Demi neptunus!! suara jangkrik itu mendadak berisik, seolah mentertawakan mereka yang sedang terperangkap dalam suasana canggung.
Duduk di ruang tamu, Salwa melepas penutup wajah itu.
"Gerah ya?" tanya Arjuna. Dia meminta Salwa untuk masuk saat di luar tadi, dan mengatakan udara semakin terasa dingin. Tapi lihatlah, dia justru membuka beranda samping dan duduk di sana.
"Hemm" Salwa ini memiliki suara yang kecil, dan lembut.
Menepuk tempat di sampingnya"Sini, rasanya sejuk di sini."
"Katanya dingin, kenapa duduk di situ?."
"Tadinya memang dingin. Tapi sekarang mendadak gerah lagi." Arjuna nggak menatap Salwa saat mengatakan hal itu, mungkin dia malu.
Salwa bukanlah wanita polos yang tak mengerti dengan bahasa kode dari lelaki. Apalagi dirinya pernah hidup bersama pria yang maunya selalu di mengerti, tentu Salwa sangat peka dalam urusan memahami setiap keinginan lelaki.
Membawa diri untuk duduk di samping Arjuna"Terimakasih, masih bersedia menerimaku." Langit malam terlihat cerah, rembulan bersinar terang di atas sana. Kepalanya mendongak melihat keindahan semesta malam ini.
Memandangi Salwa dari samping, garis wajah wanita ini kembali membuatnya kagum. Sungguh maha besar Allah, kecantikan yang di berikan kepada Salwa sangat memabukan baginya.
"Enggak perlu berterimakasih, sejauh apapun kamu melangkah, kalau kita memang berjodoh akan kembali bertemu juga."
Salwa berpaling dari sang rembulan, menatap Arjuna yang juga sedang menatapnya. Baru Salwa sadari Arjuna memiliki tahi lalat di bawah matanya. Atensi wanita ini lebih tersita kepada tanda di wajah sang suami, baginya tanda itu menambah nilai ketampanannya.
Arjuna mengira Salwa mengejar pandangannya, namun ternyata dia salah. Menyadari Salwa menatap tanda di wajahnya itu, dia pun berkata"Apa aneh lelaki punya setitik hitam di wajah?."
Sedikit terkejut"Ah!! enggak. Sudah sangat lama kita saling mengenal, aku baru melihat tanda itu dengan jelas."
"apa ini menggangu?" mengusap tahi lalat itu.
Salwa menggeleng. Spontan dia menyentuh setitik kecil di bawah mata Arjuna"Ini membuatmu semakin menarik. Kamu terlihat manis memiliki setitik tanda ini."
Arjuna menelan saliva, untuk pertama kalinya kulit mereka bersentuhan. Sempat hendak menjauh namun tersadar bahwa wanita ini telah halal baginya.
Lengan besar dan kekar, menggenggam jemari Salwa yang singgah di wajahnya. Pandangan mereka kembali bertemu, dan kini lebih lama dan lebih dalam lagi.
Bulu kuduk mereka meremang, bukan karena ada makhluk astral di tempat itu. Pada akhirnya Arjuna mencicipi bibir yang akan menjadi candunya, terasa manis dan membuatnya ingin dan ingin lagi. Pada ciuman pertama Arjuna hanya menciumnya sekilas, melepaskan kemudian menatap manik indah itu dengan mesra. Merasakan kehangatan pada tengkuknya yang di pegang Arjuna, Salwa yang terbiasa bermain berani mengambil alih permainan. Dengan berani dia maju dan...
__ADS_1
"Tring!."
"Tring!."
"Tring!"
Dering ponsel Salwa menghentikan pergulatan lidah di antara mereka. Salwa kembali ke sofa dan membuka ponselnya. Arjuna merasa semakin panas, dia segera menutup pintu beranda samping dan menggeser tiraninya.
Mengambil duduk di samping Salwa, menarik kerudung yang bisa menjadi penghalang saat permainan panas mereka di sambung kembali.
Tanpa perlawanan Salwa membiarkan Arjuna melepas kerudungnya. Arjuna menatap wajah sang istri, dia terlihat tegang menatap layar ponsel. Sorot mata Arjuna beralih ke layar ponsel Salwa. Hatinya memanas, lekas dia mengambil ponsel di tangan Salwa seiring jatuhnya air mata.
Potret dan video Salwa dalam pergulatan panas, seketika rahang Arjuna mengeras.
"Siapa yang mengirimnya?." Suaranya bergetar, menandakan emosi tengah meliputi dirinya.
Salwa nggak bisa bersuara lagi. Tangisnya pecah, terisak menahan diri agar suara tangisnya tak terdengar nyaring. Mengambil kerudung panjang itu dan menutup kepala serta wajahnya, tubuh Salwa terlihat bergetar.
"Salwa, katakan siapa yang mengirimnya?."
Tak mendapat jawaban, Arjuna memeriksa ponsel Salwa, foto dan video itu kiriman dari nomor tanpa nama. Mengusap wajah, hasrat yang mulai naik seketika padam. Berganti emosi yang dapat membakar sang pengirim foto dan video itu.
"Besok kamu akan kembali menjadi bintang. Aku sudah menyiapkan hadiah pernikahan yang sangat istimewa untukmu." Tangan Salwa bergetar hingga menjatuhkan ponsel di pangkuannya.
"Aku mohon sembunyikan aku!. Sembunyikan aku dari orang ini. Ja---jauhkan aku dari dia" kedua tangannya menangkup memohon bantuan pada Arjuna. Nampak tertekan, sorot matanya terus berlarian, Salwa terlihat sangat panik. Keringat mulai bercucuran di kening wanita ini.
"Dia siapa?. Siapa pengirim foto dan video ini?." Berusaha menggenggam jemari Salwa, Arjuna justru mendapat penolakan dari wanita ini.
"Jangan Arjuna!!. Aku kotor!. Tubuhku di lihat banyak orang!. Wajahku terlihat jelas di dalam video itu."
"Salwa!. katakan siapa orangnya!!."
"Jangan, aku akan pergi sendiri!! Aku akan bersembunyi sendiri!."
"Salwa!!!" akhirnya Arjuna membentak Salwa demi menyadarkannya.
Ya, akhirnya Salwa terdiam. Tubuhnya yang semula bergetar kini mematung.
Mengusap lembut pipi yang di banjiri air mata"Salwa, apa kamu mengenal pengiriman foto dan video ini?."
Mengangguk, matanya berkedip-kedip seperti orang yang tertangkap basah sedang berbuat salah.
__ADS_1
"Siapa?."
"Ran----dy" ujarnya setengah berbisik. Dia seolah kehabisan tenaga usai panik dan menangis terisak-isak.
"Tolong aku" genangan air matanya kembali jatuh"Dia pernah menelponku dan bilang punya banyak video nggak senonoh ku dengannya. Dia mengancam akan menyebarkan video itu. Aku kira itu hanya akal-akalan dia agar aku menolak lamaranmu."
Menarik Salwa dalam pelukan. Seraya memeluk wanitanya dengan erat, Arjuna mulai mengotak-atik ponsel Salwa.
"Hidupku akan benar-benar hancur kalau video itu tersebar."
Menepuk pelan punggung sang istri"Tenangkan dirimu, aku akan melakukan yang terbaik untuk mu." Terasa menenangkan, tepukan tangan Arjuna di punggungnya seperti sihir yang mampu mengusir gelisah di hati.
Merasakan nafas Salwa mulai normal kembali, Arjuna menyentuh wajahnya dan kembali mengusap air mata itu.
"Allah maha segalanya. Aku akan membawamu pergi dari negeri ini kalau hal buruk itu benar-benar terjadi."
Sungguh besar hati lelaki ini, Salwa benar-benar menyesal pernah menolaknya demi lelaki yang menjadi racun dalam hidupnya.
Arjuna membawa Salwa ke kamar mereka. Kamar yang di hias begitu indah, namun nggak mampu mengusir gundah di dada. Salwa sangat takut apa yang di katakan Randy akan benar-benar terjadi, betapa baik keluarga ini. Dirinya nggak mau mencoreng nama baik mereka dengan aib masa lalu.
Memberikan susu hangat padanya"Minumlah, tidurmu akan terasa nyaman dan tenang."
"Kamu?."
Merasakan ujung bajunya di pegang erat Salwa"Ada sedikit urusan. Tapi aku akan tetap di sini bersamamu."
"Lantas aku harus bagaimana agar video dan foto itu nggak tersebar" lagi-lagi Salwa terisak.
"Serahkan semuanya kepadaku" ujar Arjuna.
Menunduk merasa sangat malu pada Arjuna"Bahkan di hari pertama pernikahan kita, aku sudah menjadi bom kehancuran dalam hidupmu dan keluargamu. Maafkan aku."
Memegangi kedua pipi Salwa dan menatap matanya lekat"Kamu penawar atas kesepian ku, kamu penyejuk atas kehausan ku. Aku akan berusaha menjaga kehormatanmu."
Salwa sungguh nggak menyangka lelaki yang dulu baik padanya kini menyerang bahkan setelah menyakitinya.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1