
Mengisi waktu luang dengan menonton televisi, hal inilah yang Fateena kerjakan seraya menunggu Syailendra pulang dari restoran. Enggak biasanya pada jam segini dia belum pulang, selepas dzuhur ada pertemuan para pengusaha sukses di restoran miliknya, tentu saja ini sebuah tangkapan besar bagi Enda. Lagipula para pengusaha itu memang meminta Syailendra yang mengolah hidangan untuk mereka.
Di beri nama Demenan, sekali datang kemari maka di jamin sang tamu pasti akan datang lagi di lain hari. Selain tempat yang luas dengan suasana yang nyaman, restoran ini juga menyediakan ruangan khusus yang bisa di pakai para pengusaha untuk meeting, baik dengan jumlah anggota banyak sekalipun.
Memasuki pekarangan nan asri, setelah mematikan mesin mobil dia melangkah menuju daun pintu "Assalamualaikum" Syailendra mengucap salam.
Terdengar suara televisi saja.
"Assalamualaikum" ujarnya mengulangi salam. Beberapa detik kemudian salamnya nggak ada yang menjawab.
Syailendra berjalan ke samping kediamannya, yang dapat melihat langsung keadaan di ruang tamu. Melalui dinding kaca Enda dapat melihat Fateena yang fokus menatap televisi. Wanita ini memperhatikan acara memasak kue di layar berukuran 42 inch itu. Dia menggerai rambut nya yang panjang, seraya memainkan ujung helai rambut itu dengan duduk di bahu kursi tunggal, owh sungguh cara duduk yang tidak elegan. Beruntung kediaman Enda di batasi dinding yang tinggi, oleh karena itulah Fateena leluasa enggak mengenakan keruduangnya saat di dalam rumah.
"Tok tok tok!!, Assalamualaikum" kali ini Enda mengetuk dining kaca itu. Spontan Fateena menoleh ke arahnya, dia langsung tersenyum menyambut kedatangan sang suami.
"Waalaikumsalam" ujarnya mendekati dinding kaca.
"Ada perlu apa ya Mas?" bertanya mengajak Syailendra bercanda. Dia menempelkan jemarinya di balik jemari Syailendra yang memegangi dinding kaca.
"Buka pintunya, dari tadi aku mengucap salam tapi nggak ada yang menjawab" memindahkan telapak tangannya kemudian Fateena mengikuti kemana telapak tangannya berpindah. Tingkah Fateena membuat Syailendra tertawa lebar"Hei istriku, kamu kenapa sih?."
"Hehehe, aku mau kue seperti itu?" menunjuk kue di layar televisi.
"Boleh saja. Tapi bagaimana aku membuatnya kalau kamu nggak mau membukakan pintu. Aku nggak punya ilmu menembus kaca" ucapan Syailendra membuat Fateena tertawa lagi. Mendapat sambutan seperti ini rasa lelah di tubuh Enda seolah menguap di udara.
"Tunggu sebentar ya." Syailendra mengangguk patuh pada ucapan Fateena.
Fateena segera berlari menuju pintu"Ya Allah, kenapa larinya seperti anak kecil" bergumam dalam tawa seraya menuju pintu.
Setelah kunci di buka Fateena menunggu di balik pintu. Kepala Enda menyembul"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam" salam itu terulang lagi. Dengan segera menutup pintu, karena sang Istri mengenakan dress di bawah lutut dan berlengan di atas siku.
Kemana Fateena yang dingin? setelah menikah dia seperti menjadi orang lain. Atau memang seperti inilah dirinya yang sebenarnya, ceria dan manja. Tak jarang Syailendra menahan gemas akan sikap manja sang istri, saat ada maunya nggak ragu bergelayut manja di lengannya.
Usai mencium punggung tangan Syailendra dan Syailendra mencium keningnya, Fateena meloncat-loncat berusaha memijat pundak Syailendra.
Sedikit menuduk"Ayo naik" menawarkan punggungnya untuk di naiki sang istri.
"Hup!! terimakasih" dengan manja dia menaiki tubuh Syailendra. Sampai di depan televisi Syailendra mendudukan Fateena di sofa, tempatnya duduk sembarangan tadi.
"Mau kue itu?."
__ADS_1
Fateena mengangguk.
"Coba rayu Mas" meminta dengan senyuman nakal.
Nggak perlu banyak tingkah, Fateena hanya cukup memainkan alisnya turun dan naik"Bikinin ya, kue yang manis."
Ck!! dasar cinta. Kalau sudah bucin hal garing pun bisa membuat hati berbunga-bunga. Hanya karena kedua alis yang bermain turun naik itu Syailendra mengusak wajahnya ke pundak Fateena. Wanita ini sontak merasa geli"Geli Mas!!. kapan bikin kuenya."
Mengangkat wajah seraya menyelipkan rambut yang sedikit berantakan itu ke daun telinga Fateena"Mas mandi dulu, tapi nanti kamu bantu Mas ya."
"Hemm" ujar Fateena mengangguk.
Meninggalkan pasangan yang sedang berbunga ini. Di kediamannya Salwa terdiam mendengar kisah Anton, tentang Wani yang ingin serius dengannya. Setelah beberapa hari baru hari ini Anton bercerita, baik kepada Salwa juga kepada Nur.
"Ayah jawab apa?" tanya Nur penasaran.
"Ayah jawab apa adanya, bahwa Salwa sudah ada yang meminang."
"Terus gimana tanggapan Wani?" Nur belum bisa bernafas lega sebelum mendengar jawaban memuaskan dari peristiwa malam itu.
"Menyesali keterlambatannya. Begitu katanya."
Anton menggeleng"Enggak. Ayah yakin Wani bukan orang seperti itu." Ucapan ini membuat Nur bernapas lega.
Nur menoleh ke arah Salwa"Kamu mau kalau dia datang sebelum Arjuna?."
"Ya enggak dong Bu!!" lekas Salwa berucap.
Nur dan Anton menatap Salwa lekat, membuat wanita ini harus menjelaskan alasan mengapa menolak Wani kalau dari dulu ingin serius padanya.
"Yaaaaaa.... dia bukan tipe Salwa" ujarnya sempat ragu memberikan alasan. Dia terlihat salah tingkah.
Anton tersenyum"Iyalah, kamu kan sukanya cowok yang tinggi menjulang seperti tiang listrik."
"Ayah~~~" Salwa mendorong pelan lengan Anton.
"Apalagi Nak Arjuna itu, kok tinggi banget ya. Apa dia ngemilnya pohon kelapa, tinggi banget."
"Idih Ibu! pohon kelapa mana bisa di makan!."
"Bisa, umbutnya enak tuh di sayur santan."
__ADS_1
"Ayah kok belain Ibu."
"Kayak kamu nggak belain Arjuna aja. Kamu semakin suka ya sama dia, Ayah perhatikan kamu sering mencuri pandang kalau ada orangnya di sini."
"Enggak kok, perasaan Ayah saja!" ujarnya berkelit.
"Oh iya, ngomongin umbut kelapa. Ibu mau sayur santan umbut kelapa jadi salah satu menu di acara pesta pernikahan kalian nanti."
Heew, belum apa-apa Ibu sudah memikirkan menu di hari nan sakral itu. Entah kenapa hari ini Anton dan Nur kompak menggoda Salwa. Membayangkan menu di pesta pernikahan mereka saja membuat wajahnya terasa panas, juga berubah merah seperti kepiting rebus.
"Bagaimana menurut kamu?."
Sepasang bola mata Salwa berlarian kesana dan kemari"Ya terserah Ibu sih. Salwa mau mandi, gerah."
"Lho, bukannya kamu sudah mandi?" Nur tertawa mengiringi langkah pergi Salwa.
"Mandi dua kali nggak ada salahnya kan Bu" sahutnya seraya menutup pintu kamar. Ada apa sih dengan mereka, kok gemar sekali membuat wajahnya merona malu.
Tak tertahankan, Anton dan Nur tergelak mentertawakan sang putri. Pembicaraan via video call kemarin berkelanjutan. Secara khusus Agam menemui Anton ke kediamannya. Sekedar bertukar pendapat sebagai sesama orang tua, sambil menunggu waktu yang semakin mendekat mereka mulai merancang rencana pernikahan sang putra dan Putri.
"Mereka ingin acaranya di adakan di kediaman Nak Arjuna."
"Kediaman Nak Arjuna?, Ibu pikir dia masih tinggal dengan Ibu Adila."
"Karena dia nggak pernah bercerita tentang dirinya, ternyata dia seorang pemuda yang sangat mapan. Ayah bersyukur setidaknya dia bisa memenuhi segala kebutuhan Salwa kelak."
Nur diam sesaat, masalah mapan ini bukankah Randy juga memilikinya dahulu. Keterpurukan Salwa menimbulkan rasa takut dalam diri Nur, dia takut kegagalan dalam berumah tangga itu terulang kembali. Perubahan di wajah Nur dapat di mengerti Anton, dia meraih jemari sang istri seraya berkata"Insa Allah, dia lelaki yang tepat untuk putri kita. Mengalami kegagalan itu hal biasa, jangan sampai membuat kita takut untuk melangkah maju dalam kehidupan ini.
"Iya Yah, Ibu hanya sedikit takut. Tapi Ibu juga yakin Nak Arjuna bukan lelaki seperti Randy."
"Ibu setuju kalau acaranya di adakan di sana? bukan di kediaman kita?."
"Ibu setuju kok. Lihat saja nanti para tetangga pasti kaget banget mendengar kabar ini. Ibu jadi nggak sabar mau melihat wajah-wajah yang dulu mencemooh Salwa karena di tinggalkan Randy."
"Hus!! yang lalu biarlah berlalu." ujar Anton.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1