Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Bersambut tali


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Syailendra semakin nggak sabar untuk menjadi pasangan halal bersama Fateena. setelah menghitung waktu yang tepat, juga setelah melewati berbagai pertimbangan, dua minggu ke depan hari bahagia itu akan segera di selenggarakan.


Mengingat Arjuna yang masih nggak jelas akan kemana arah dan tujuan cintanya, Syailendra terus meledek sang Adik. Dirinya bahkan kerap meledek Arjuna ketika dirinya usai bertukar kabar dengan kedua orang tua Fateena, tentang gadis idamannya. Menurut kebiasaan masyarakat sekitar, Fateena mulai di pingit. Sementara Arjuna, pesan yang dia kirimkan kepada Salwa nggak pernah langsung di balas. Nampak jelas wanita itu masih menolak dirinya, dan Arjuna seolah nggak peduli akan hal itu.


Duduk di ayunan pohoh, malam itu Arjuna menikmati angin malam usai mengisi perut di kediaman Nenek Adila. Selain Syailendra, Nenek Arabella juga gemar meledek akhir-akhir ini, dengan tujuan agar Arjuna menyerah saja kepada Salwa. Sayangnya, bocah ini memiliki keyakinan bahwa Salwa adalah jodohnya. Bukan Arabella nggak merestuinya kalau memilih Salwa alih-alih wanita pilihannya. Kalau Salwa bersedia, Arabella tentu akan merestui hubungan baik itu.


"Sudah makan?? Abang mau masak mie dengan topik keju!!!" dari beranda kediamannya, Syailendra berteriak seperti seorang bocah.


"Sudah makan!!!" sahut Arjuna.


"Abang bawain minuman soda, mau??."


"Boleh" sahut Arjuna lagi.


Dua pemuda yang masih kerap bersikap seperti bocah ini, interaksi mereka mengundang atensi Nenek Adila. Dirinya sudah hendak tidur saat itu, sedikit berjengkit karena teriakan Arjuna menanggapi teriakan Enda. Arjuna memiliki suara yang berat, tentu teriakannya mampu membuat sang Nenek terkejut.


Nampak jendela kamarnya yang mengarah ke halaman beranda"Kalian pikir desa ini hutan?. Nggak bisa ngomong di telepon saja?. Dari pada berteriak seperti itu."


Hihihi... cengengesan Arjuna menutup mulut dengan telapak tangan. Adila meraih ponsel di atas nakas, dan terlihat berbicara dengan seseorang. Nggak lama kemudian dia pun turun ke halaman depan menjumpai Arjuna.


"Lho, Nenek kok malah keluar. Bukannya tadi sudah mau tidur?." Sang Nenek kini duduk di bangku, meletakan ponsel di atas meja dan sekaleng kue kering.


"Kamu pikir Nenek akan bisa tidur setelah mendengar kalian berteriak??. Kalian seperti dua kera besar yang sedang berinteraksi. Berisik!!!."


Mengulum senyum, Arjuna turun dari ayunan dan duduk di meja bersama Adila"Memangnya ada ya kera besar setampan Arjuna?."


Adila mengambil ponsel dan mengarahkan layar gelap itu ke hadapan Arjuna"Ini Kera besarnya." Senyuman Adila sangat manis, apalagi kalau sedang meledek.


Layar gelap itu nggak menampilkan gambar apa-apa, apalagi gambar seekor kera besar"Nenek bercanda. Nggak ada gambar apa-apa."

__ADS_1


"Oh ya?. Coba perhatikan lebih dekat" pinta Adila tertawa, menampilkan barisan gigi putihnya.


Menuruti apa yang di katakan sang Nenek, Arjuna mendapati dirinya saja di layar ponsel gelap itu, cahaya temaram memantulkan dirinya di sana. Mengerucutkan bibir"Haisss!! Nenek jahat!!."


Kini giliran Adila yang tergelak tawa merasa puas mengerjai sang cucu"Sudah lihat kan kera besarnya. Makanya jangan suka berteriak-teriak dan bikin orang lain terganggu."


"Ya....maaf Nek. Habisnya Arjuna bosan."


Hemm??. Adila urung mengambil kaleng kue. Wanita ini menatap lekat sang cucu"Bosan??. Ini tentang apa? pekerjaan? atau percintaan??."


"Yang terakhir" jawab Arjuna.


"Hupffhhh!!" menghenyakkan diri di kursi, Adila juga merasa bosan memberikan nasihat yang itu-itu lagi kepada Arjuna"Cewek di dunia ini banyak."


"Tapi maunya cuman Salwa" sambar Syailendra.


Arjuna menekuk wajah, beginilah kalau sedang berurusan dengan hati"Rasanya nggak akan bisa kalau memilih cewek lain." Terdengar sendu, Adila jadi kasihan kepada Arjuna.


...****************...


Sakit yang di derita Anton perlahan membaik. Kini orang tua ini telah kembali ke kediaman mereka. Apa yang di pikirkan benar-benar terjadi, Salwa kembali menjadi buah bibir para tetangga. Hal ini memicu kecemasan kembali, hingga selera untuk makan seolah sirna. Buka hanya Anton, Salwa pun begitu. Berat badannya semakin berkurang, dan ini bukan karena diet.


"Kak, cari makan di luar yuk. Sekalian beliin Ayah makanan di luar" ajak Hanif.


"Nggak. Kakak nggak lapar."


Nur mendekati sang putri"Ibu merasa beban hati kamu sangat berat, tapi kamu selalu bilang baik-baik saja. Padahal, karena beban itu kamu sampai nggak selera makan."


Air mata Salwa rasanya hendak jatuh, ingin rasanya menumpahkan segala resah di dada namun dia tau bukan hanya dirinya yang tersakiti karena jalan hidup getir itu.

__ADS_1


"Ihh, Ibu asal tebak. Salwa nggak kenapa-kenapa kok. Tadi kebanyakan makan buah rambutan. Jadinya kenyang."


Ekor mata Nur melirik karung besar di dapur, memang nampak terbuka. Karung itu berisi buah rambutan hasil kebun mereka yang di panen Hanif.


"Duhhh, jangan kebanyakan makan rambutan. Nanti sakit perut Kak!" tegur Hanif.


"Habisnya enak sih, manis" tertawa riang, padahal mereka semua tau Salwa kerap menangis di tengah malam, di atas sajadah.


Merasa keadaan baik-baik saja, Hanif pergi sendiri untuk membeli makanan di luar, dan Salwa tetap nggak mau memesan makanan.


Entah, keluarga ini begitu pandai menyembunyikan rasa kecewa. Seperginya Hanif, Anton pergi ke kamar mandi dan menangis di dalam sana. Sungguh hatinya sangat hancur, andai waktu dapat di ulang dia akan menolak Randy menjadi menantu kala itu.


Hati yang teramat sakit itu membuat isak tangis nggak bisa di tahan lagi. Isakan tangis Anton terdengar Salwa, saat dia hendak mengambil air minum di dapur. Teringat keinginan Anton untuknya menerima lamaran Arjuna, Salwa akhirnya memikirkan hal itu. Kalau hal itu bisa membuat Ayah dan Ibunya kembali ceria, meski belum ada cinta dia akan menerima Arjuna.


Salwa masuk ke dalam kamar dan mengambil sang ponsel. Di sana ada pesan dari Arjuna.


"Aku nggak akan berhenti, sampai kamu bersedia."


Menelan saliva kemudian mengatur nafas. Ibu jari Salwa terlihat bergetar saat hendak mengetik jawaban akan pesan itu.


"Ya Allah, bantu aku. Jangan sampai aku salah melangkah lagi" lirihnya.


Di kala bimbang, di kala ragu, Salwa benar-benar nggak tau harus melakukan hal apa agar hati merasa yakin akan dua pilihan. Mencari-cari kebaikan seorang Arjuna, wanita ini menyadari bahwa Arjuna pria yang lebih baik perihal agama alih-alih Randy. Ya, hanya berbekal penilaian itu, Salwa mengetik sebuah pesan balasan"Ya, setelah masalah ku selesai datanglah kembali ke kediaman kami. Saat itu aku akan memberikan jawaban seperti apa yang engkau mau."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2