
#Flashback On#
Setelah acara makan bersama usai, Yasmine yang kini berganti nama panggilan menjadi Fateena, di minta untuk hadir pada acara selanjutnya. Seingat Fateena nggak ada agenda selanjutnya, lagipula hari sudah semakin malam alangkah baiknya untuk mereka beristirahat saja.
"Ayo Sayang. Ayah sama Ibu kamu sudah menunggu di meja makan." Ujar Ibu kepala panti.
Memasuki ruang makan dengan meja yang cukup besar. Ya, di sanalah anak-anak panti kerap menikmati makanan mereka.
Oh, ternyata bukan hanya ada Ibu dan Ayahnya, kedua orang tua Syailendra pun juga ada di sana. Jantung hati Fateena mendadak berdebar cepat, ada apa ini?."
"Ini orangnya sudah datang. Sini Sayang, duduk di samping Ibu."
Tanpa bicara namun sang hati bertanya-tanya di dalam sana, Fateena pun mengambil duduk di samping Ibunda.
Umma Zafirah tersenyum menatap Fateena, begitu pula dengan Abi Khair.
"Ya Allah, mungkinkah??" terka sang hati. Dan benar saja, malam itu kedua orang tua Syailendra menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan ini. Mereka melamar Fateena untuk sang putra, Syailendra.
Keraguan itu sempat datang, Fateena terjebak dalam diam. Melihat jemari sang putri saling bercengkraman, Ibundanya pun menggenggamnya, seolah memberikan kekuatan dan dukungan. Ibu kepala panti mengusap punggung nya pelan seraya tersenyum.
Ayahanda pun sama, pada akhirnya apa yang menjadi takdir sang putri nggak bisa untuk di hindari. Setelah badai kecil menggoyang ketenangan hati sang putri, lamaran dari pemuda yang sama itu datang kembali.
Debaran di dada semakin menjadi, saat Syailendra mendapat jawaban seperti apa yang dia inginkan. Malam itu Fateena menerima lamarannya.
"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.
Karena semuanya sudah ada di sana, mereka langsung menentukan tanggal pelaksanaan pernikahan tersebut. Nggak melupakan Kyai Bahi, sang Kakek ikut rapat keluarga melalui panggilan video saja.
"Flashback off"
Kepulangan para orang tua ke kota, kini di ikuti oleh sang putra. Syailendra gantian menginap di kediaman mereka. Bukan tanpa maksud dan tujuan, meski sudah dewasa sejatinya Enda tetaplah bocah kecil di mata Umma dan Abi.
Hari itu sang koki sengaja mengambil libur, sebab ingin pergi keluar bersama Umma, dan juga Fateena pastinya. Mengingat sebentar lagi mereka akan resmi bersama, membuat hari-hari nya selalu ceria. Mecca nggak bosan meledek sang Abang, dan Enda nggak malu-malu menunjukan kecintaan terhadap Fateena. Wajah tersipu malu itu kerap menghiasai kediaman mereka dan menjadi bahan tertawaan.
__ADS_1
"Kamu bucin banget sama Yasmine. Dulu aja waktu mau Kakek jodohkan kamu nggak mau" lagi-lagi Kyai Bahi berbicara dengan Syailendra melalui panggilan video. Akhir-akhir ini sang Kakek lebih pandai menggunakan ponselnya, selain kerap melakukan panggilan video kepada Enda, Arjuna pun kerap menemani sang Kakek bicara melalui panggilan video itu.
"Fateena, dia lebih suka di panggil Fateena Kakek" Enda meralat ucapan sang Kakek.
"Oh begitu? baiklah. Fateena dan Syailendra, heeemmm cocok sekali. Gimana? selera Kakek bagus kan?." Seraya terkekeh, Kyai Bahi memainkan janggut tipis di dagu.
"Ih Kakek bicaranya sudah kayak anak muda. Jadi sok juga nih sama Enda."
"Hahahah" pria tua ini malah tergelak tawa"Cucu perempuan Kakek menyarankan untuk bicara seperti anak muda, biar ketularan mudanya."
Mecca!!!. Syailendra langsung berseru pada Adiknya yang sedang membenarkan letak dasi sekolahnya"Mecca! kamu ngajarin Kakek yang nggak bener nih!."
"Enggak kok. Abang suka buruk sangka nih."
"Iya tuh" sahut Kyai Bahi.
Enda memberengut. Dasar Mecca!!.
"Gimana apanya Kek?."
"Di hati kamu, berkenan nggak??."
Syailendra kembali tertawa malu. Umma jadi gemas"Abi, kalau nggak berkenan nggak bakal masuk dalam doa di sepertiga malamnya."
"Ohhh pakai jalur langit ya. Bagus!!" serunya.
Merasa malu terus di ledek, Syailendra menyudahi panggilan video itu.
Abi Khair mengantar Mecca ke sekolah. Sedangkan Umma beberes rumah di bantu Enda. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Ibu dan anak ini segera menjemput Fateena di panti.
"Kira-kira dia suka model yang seperti apa ya Umma" mereka berbincang santai, Syailendra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Umma selalu mewanti-wanti untuk berhati-hati saat berkendara, apalagi bagi dirinya yang sebentar lagi akan menikah.
"Mungkin yang sederhana, Umma menilai dia bukanlah gadis yang menyukai kemewahan." Ucapan Umma di angguki Enda. Sepertinya memang begitu.
__ADS_1
Mereka sedang membicarakan cincin pernikahan, dan Umma seperti cenayang. Karena apa yang di ucapkannya memang benar. Alih-alih cincin pernikahan yang mewah dengan ukiran-ukiran unik menghiasi cincin sang wanita, Fateena lebih memilih cincin dengan satu permata saja.
Ibu dan anak itu saling sikut, terkekeh mengingat benarnya dugaan Umma. Fateena menyerngitkan kening melihat prilaku mereka berdua, apa cincin pilihannya norak?
Meninggalkan Enda yang sedang berbunga hatinya. Arjuna sedang di doktrin Nenek Adila. Wanita tua ini sudah sangat mengenal Salwa dan juga keluarga. Ya, karena dia yang menyarankan untuk melamar Salwa tempo hari. Melihat ketertarikan sang cucu, juga mengingat Salwa sudah nggak lagi bersama Randy, Adila terus memupuk rasa ingin memiliki pada diri Arjuna.
"Ibu kamu dulu juga janda pas nikah sama Ayah kamu." Di sinilah Arjuna pagi ini. Bersama Nenek Adila di halaman depan kediamannya. Ada pohon kayu yang besar di depan kediaman itu, juga ada ayunan kayu yang terikat kokoh padanya. Pohon kayu itu kerap menimang Arjuna kecil saat bermain bersama Enda dan Mecca. Nggak jarang pasal ayunan kayu itu, Enda melengos kesal harus menyudahi kesenangan terbuai di atasnya, demi Mecca agar nggak menangis karena juga ingin bermain ayunan itu.
Pelan-pelan saja, Arjuna mengayun sang Nenek sembari bertukar cerita"Arjuna di tolak untuk kedua kalinya Nek."
"Huruf Hijaiyah ada berapa?."
Heh? si Nenek kok nanyain huruf Hijaiyah??.
"Cepat jawab, ada berapa??."
"Ada 28 kalau huruf alif sama hamzah nya jadi satu...."
"Sudah! sudah. Pokoknya banyak kan?" sambar Nenek Adila tanpa berniat mendengar jawaban lengkap Arjuna.
"Iya, kalau di pecah lagi total 30 deh. Memang kenapa Nek?."
"Kamu baru di tolak dua kali kan?. Berarti masih ada kesempatan 28 kali lagi. Nenek yakin sebelum mencapai 28 kali kamu pasti sudah berhasil meminang hati Salwa. Yakin deh sama Nenek!!."
Ya elah, rumus cinta Nenek Adila panjang banget jalannya"Ya jangan sampai di tolak 30 kali juga dong Nek." Arjuna menarik pipi gembul Nenek Adila.
"Makanya jangan menyerah!!. Usaha dong Arjuna!!!." Seru Nenek Adila gemas karena sang cucu terlihat hendak menyerah pada kali kedua menerima penolakan.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1