Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Sesal sang pengkhianat


__ADS_3

"Tuan, Maria hanya sendirian di rumah sakit. Menurut para perawat di sana Abangnya sudah sejak kemarin nggak menjenguk. Mereka bilang biasanya Roberto akan datang di malam hari, namun hingga hari ini dia nggak datang lagi. Maria memiliki nomor lain dari Roberto, tapi nomor itu juga nggak bisa di hubungi."


Ingin lebih memastikan, Arjuna mencoba menghubungi ponsel Roberto lagi, dan hasilnya nihil. Beralih pada galeri foto di ponsel, Arjuna mencari sebuah foto yang di ambilnya sebelum menyerahkan ponsel pada Roberto tempo hari. Ya, ponsel yang di miliki Roberto adalah pemberian Arjuna. Datang hanya bermodalkan ilmu IT, status abu-abu Roberto menggelitik rasa penasaran Arjuna saat itu. Selain untuk mempermudah mereka berkomunikasi, ada motif lain saat Arjuna membelikan Roberto ponsel. Kini kehati-hatian Arjuna menghadapi orang baru dalam keseharian memang berguna. Meski ponsel itu mati, Arjuna masih dapat melacak keberadaannya melalui nomor Imei.


Terdeteksi berada di luar kita, bahkan jauh dari kota B tempat Maria di rawat"Aku akan mengirimkan posisinya padamu. Selidiki dulu apa yang dia lakukan di sana. Kita belum punya bukti yang kuat keterlibatannya dengan kasus kebocoran data ini."


"Siap Tuan!!" segera Pram bekerja kembali.


Melempar kaleng minuman soda, beruntung Arjuna sigap menerima pemberian"Haish!! nggak bisa kasih minuman dengan benar??."


"Mau nge-tes saja, sebaik apa refleks tubuhmu."


"Kamu meragukan diriku?."


"Oh tentu enggak!. Kamu bahkan mampu mengatasi masalah kita dalam beberapa jam saja. Aku yakin pelaku itu sedang gigit jari, setelah mendengar kabar ini." Terkekeh seraya menarikan bungkusan makanan cepat saji yang baru di antarkan kurir.


"Alhamdulillah masya Allah, aku di berikan otak yang cemerlang" Arjuna sedikit berbangga diri hingga Bae tertawa mengacungkan jempol pada Arjuna.


"Ya!! kamu memang sangat pintar, pertahankan hal itu, oke?."


"Oke!!" sahut Arjuna.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sungguh makan malam yang sangat terlambat. Sama-sama bekerja keras demi memperbaiki kebocoran data itu, membuat dua pemuda ini melupakan makan malam mereka. Ghina, Mamah Bae beberapa kali mengingatkan mereka untuk makan, dan berkali-kali pula mereka menolak dengan halus. Demi mengganjal perut mereka, Ghina memberikan buah-buahan dan kue untuk mereka.


Semalam nggak pulang, Arjuna sampai lupa memberi kabar pada keluarganya. Alhasil menjelang waktu subuh tiba ponselnya menjerit, menggantikan alarm berbunyi.


Kamar yang berantakan membuat Arjuna terlambat menjawab panggilan itu, sebab ponselnya berada di sembarang tempat. Bae si gila Game, setelah masalah mereka teratasi, alih-alih tidur dirinya mengajak Arjuna bermain Game lagi. Lewat tengah malam barulah mereka berhenti bermain, itu pun setelah Arjuna mengaku kalah nggak kuat bergadang lagi.


"Maaf Nek, perusahaan Game sedang ada sedikit masalah..."


"Hah!! masalah apa?? kenapa nggak bilang sama Nenek sejak awal??" Arabella terkejut, dia langsung berteriak di subuh buta itu. Akhtar masih berada di dalam selimut saat itu, dan teriakan Arabella sukses membangunkan nya.

__ADS_1


"Ada apa??."


"Arjuna sedang ada masalah!!" sahut Arabella.


"Nek..."


"Cepat cari tau Yah, masalah apa ini??. Dia sampai nggak pulang."


"Nenek!!" terdengar Arjuna berseru di ujung telepon. Arabella nggak peduli akan suara panggilan Arjuna.


"Cepat Ayah, hubungi Pram!!. Ada masalah apa ini?!." seperti inilah Arabella, di saat panik dia nggak menghiraukan panggilan Arjuna. Sangat sayang kepada Arjuna, sungguh membuat Arabella takut hal buruk menimpanya. Memiliki anak hanya Agam seorang, dan kini dia pun hanya memiliki cucu kandung seorang jua, bagaimana rasa sayang itu nggak tertumpu hanya kepada Arjuna. Bagaimana dengan Syailendra, pemuda itu juga sangat di sayangi meski bukanlah cucu kandung. Namun keadaan hati Syailendra seperti taman bunga di musim semi, bunga-bunga sedang bermekaran di sana.


"Nenek Ara!!" seru Arjuna lebih nyaring.


"Ya!!, sebentar Sayang! Kakek akan segera turun tangan" sahut Arabella menyalakan loud speaker.


"Nggak perlu, masalahnya sudah selesai!."


Akhtar melirik Arabella, dengan tangan terbuka seraya mengendikan bahu"Apa kamu lupa memiliki cucu yang sangat pandai?. Dia bahkan mampu mencuri informasi tentang musuh yang masih mengincar mantan bos Arkan di luar negeri sana" ujar Akhtar mengingatkan bagaimana mudahnya Arjuna mencuri kode rahasia musuh bebuyutan Jake, bos mafia yang telah insaf namun masih menjadi incaran para musuhnya.


"Iya Nenek ku yang manis. Tinggal mencari pelakunya saja."


"Berhati-hatilah Arjuna." Terdengar khawatir.


"Iya Nenek, Arjuna selalu waspada kok." Akhirnya Arabella dapat merasa lega.


...****************...


Putus asa, Roberto menggenggam erat ponsel di tangannya. Melalui ponsel baru yang di berikan Randy, dia mendapat kabar bahwa kinerjanya sangat buruk, kini masalah Arjuna telah teratasi. Gagal mendapatkan dana untuk mengobati sang Adik, Roberto berniat mengakhiri hidupnya.


Langkah kaki Pram tak terdengar oleh Roberto, karena tenggelam dalam pikiran yang kacau. Langkahnya semakin mengarah ke tepian dermaga. Pasrah dalam keputusan asaan, merentangkan tangan dia bersiap menjatuhkan diri ke laut lepas.

__ADS_1


Grab!! Roberto merasa lehernya tercekik, dengan mudahnya Pram menarik kerah baju Roberto, sebelah tangan saja.


Bruk!! juga dengan mudah Pram menarik tubuh Roberto dan membuatnya terjatuh ke belakang.


"Uhuk!! uhuk!!, P----Pram" tergagap, Roberto menyadari dirinya telah tertangkap basah. Predikat seorang pengkhianat, akankah melekat pada dirinya?.


"Ayo ikut aku!. Menurutlah selama aku masih bersikap baik padamu. Sejujurnya aku sangat ingin menghajarmu, tanpa bertanya pun aku sudah dapat memastikan kamulah pelakunya. Tapi titah Tuan Arjuna, menahanku agar nggak menyakit dirimu."


Mencelos hati Roberto saat ini. Tubuh yang semula telah berdiri kini luruh kembali. Bukan rahasia lagi bahwa Arjuna adalah pemimpin yang baik hati, meski terkesan dingin dan irit bicara tapi sejauh ini dia selalu bersikap baik padanya. Dia bahkan memberikan ponsel padanya secara percuma, juga kerap memberikan uang lembur cukup tinggi padanya.


"Maaf" lirihnya. Hanya kata itu yang keluar dari mulut Roberto, keinginan untuk menyembuhkan sang Adik membuatnya gelap mata. Tergoda dengan iming-iming menggiurkan dari Randy, nyatanya dia nggak mendapatkan sepeser pun karena gagal dalam misi kotor itu.


"Minta maaf bukan padaku, Tuan Arjuna dan Tuan Bae bekerja keras demi memperbaiki kebocoran data itu. Kamu seharusnya meminta maaf pada mereka." Melangkah, Pram melirik Roberto untuk segera mengekorinya.


"Aku----aku salah. Aku gelap mata."


"Sudahlah, jelaskan di depan Tuan Arjuna dan Tuan Bae saja."


"Ya, aku akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada mereka di kantor."


"Kamu masih yakin akan kembali ke kantor?" Pram berbalik hingga mereka berhadapan. Roberto kesulitan menelan saliva.


Terkekeh jahat"Aku malah merasa kamu akan memaki seragam oren."


"Maaf Pram!!" tubuh Roberto semakin bergetar. Dia menangkupkan kedua tangan memohon ampun kepada Pram.


"Ayolah Roberto!! bukan aku yang memegang kendali. Ckckck aku nggak menyangka kamu sangat mudah berpaling dari Bos sebaik mereka merdua."


Ucapan Pram semakin membuat rasa sesal di dalam hati Roberto menjadi.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2