
Pertemuan itu kembali terjadi. Akan ada sebuah perayaan di restoran milik Abi Khair, yang kini dikelola oleh Enda. Sepasang anak manusia ingin merayakan hari pernikahan mereka di sana, sebab di sanalah awal mula mereka berjumpa.
Mendekorasi tempat itu sendiri, mereka begitu senang setelah sebelumnya mendapat izin dari Enda. Beberapa hidangan lezat pun mereka pesan, juga beberapa kue dengan toping lucu. Sungguh sebuah keluarga yang sangat harmonis, dua anak mereka begitu antusias mengikuti jalannya perayaan sederhana tersebut. Menyaksikan mereka dari jauh, Enda tersenyum senang saat mereka mengacungkan jempol pada satu sama lain, memuji hasil masakannya.
Tiba saatnya pemberian bunga kepada sang wanita, Ibu dari anak-anak manis tersebut. Salwa datang, menyerahkan bunga di tangannya kepada sang suami.
"Hei!!. Itu gadis yang hampir kena copet" batin Enda.
Tanpa di sadari, atas dasar ingin lebih memastikan, Enda terpesona pada kecantikan yang di miliki Salwa. Bersandar di sudut lain dengan melihat tangan di dada, atensinya tak jua lepas dari sosok Salwa.
Saat kau di tatap dalam, entah mengapa ada rasa tak nyaman yang singgah pada dirimu. Hal itulah yang sedang Salwa rasakan. Pandangannya berkeliling, hingga sorot mata mereka bertemu, Salwa dan Enda.
Langkah kaki gadis itu menuju Enda, namun Enda memilih menghindar. Sungguh indah makhluk ciptaan Allah itu, Enda nggak mau terpikat lebih erat lagi.
"Eh, kok pergi!" gumam Salwa. Gadis ini pun meninggalkan restoran, karena tugasnya telah selesai.
Kembali menatap Salwa dari tempat semula, Enda di kejutkan suara tinggi Arjuna.
"Abang!!. Hayoooo lagi liatin apa?!."
"Akh!! kok ada di sini?."
"Mau makan. Ini udah sore dan aku belum makan" ujar Arjuna.
Enda masih mencuri pandang pada Salwa, bahkan langkah membawanya ke depan restoran, tanpa di sadarinya. Mengekor langkah sang Abang, Arjuna sungguh penasaran apa yang sedang di perhatikan Abangnya.
Mengikuti arah tatapan Enda, betapa terkejutnya Arjuna"Salwa." Beruntung dia hanya berucap di dalam hati, sebab dia nggak mau mengungkap siapa gadis yang telah menolaknya, kepada Enda sekalipun.
Menenangkan hati, menarik napas dalam-dalam kemudian menegur Enda"Abang kenal sama cewek itu?. Hati-hati Bang, jangan terlalu di pandang. Zina mata."
"Astaghfirullah!!!" seru Enda mengusap wajah.
"Kita makan di dapur saja" gegas mengajak Arjuna masuk ke area dapur.
"Siapa dia Bang?. Abang sampai terpana begitu" sungguh, Arjuna sangat penasaran ada hubungan apa Enda dan Salwa.
"Nanti saja Abang cerita. Kamu tunggu di sana" menunjuk meja makan di sudut dapur. "Abang ambil wudhu dulu."
__ADS_1
Arjuna terkekeh, Enda yang kelabakan menggelitik perutnya.
Usai mengambil wudhu, Enda memasak hidangan untuk mereka berdua. Kesibukan di dapur membuatnya melewatkan waktu makan, meski telah banyak hidangan yang dia olah.
Sembari makan, Enda pun menceritakan awal mula pertemuannya dengan Salwa. Dan tentang kejadian tadi, dia yang menghindar saat Salwa hendak menghampiri dirinya.
"Abang suka sama cewek itu?. Lamar saja" mengaduk makanan, ini bukan kebiasaan Arjuna saat makan.
"Dia sudah punya cincin di jari manisnya. Lagi pula, kalau pun dia masih sendiri, Abang nggak berani mengambil langkah maju."
"Kenapa?" tanya Arjuna antusias.
"Dia bukan gadis biasa. Terlalu cantik, Abang takut banyak yang meliriknya nanti."
"Tapi kalau akhirnya dia jodoh Abang?."
"Sesuatu yang di kehendaki Allah, manusia mana yang bisa menolaknya. Tapi untuk saat ini Abang hanya terpesona, bukan tertarik untuk memiliki."
Arjuna diam sejenak. Sedang memikirkan dari mana harus memulai cerita.
Hampir memulai kisahnya, ada seorang staf dapur membawa memo pesanan.
"Hemm" sahut Arjuna.
Kecantikan seorang Salwa, memang bukan main-main. Sejak pertemuan kedua itu, Enda merasa terusik akan bayangan yang tak jua sirna dari ingatan. Sejujurnya ada rasa tertarik pada gadis itu, namun Enda nggak mau mengungkapkannya di hadapan Arjuna. Dia nggak mau gegabah, dia juga takut Arjuna mengatakan hal itu kepada sang Kakek. Bisa berabe urusannya kalau Kyai Bahi tau, bisa-bisa Salwa langsung di lamar tanpa bicara kepadanya dulu.
Lantas bagaimana dengan Arjuna. Awalnya Arjuna sudah merelakan penolakan itu. Sudah cukup lama dia tinggal di desa yang berdekatan dengan Salwa, dan tak sekalipun mereka bertemu. Sekarang, di tempat lain perjumpaan itu justru terjadi, Arjuna merasa ini nggal adil. Hatinya kembali resah, rasa tidak terima itu kembali mencuat.
Tanpa Salwa sadari dua pemuda tengah gundah karena dirinya. Dan tanpa Salwa sadari jua, salah satu dari pemuda itu memutuskan untuk mengulik tentang dirinya. Siapa dirinya dan siapa pria yang menyematkan cincin di jari manisnya.
...****************...
Hujan kembali datang menyapa sang bumi. Di pagi itu, di tepi jalan Salwa kesulitan mencari kendaraan umum. Meski sempat mengalami kejadian tak menyenangkan, yakni sempat bertemu copet, hal itu tak membuat Salwa kapok berangkat ke toko dengan naik bus.
Biasanya, saat motor kesayangan sedang rusak, Randy akan siap siaga mengantarnya ke tempat bekerja. Namun kali ini Salwa merasa nggak enak hati kalau harus membuat pemuda itu repot, sebab Randy sedang terserang flu. Tanpa memberi kabar bahwa akan berangkat dengan naik bus, Salwa kini terkatung-katung di depan ruko yang belum buka, sebab hujan yang sangat deras.
"Sepagi ini, kalian sudah turun dengan sangat deras!" lirih Salwa menatap butiran air hujan.
__ADS_1
Beberapa kali melirik jam di tangan, dia khawatir akan terlambat bekerja. Waktu terus berjalan dan hujan tak kunjung reda, Salwa pun semakin di buat gelisah. Saat itu ada seorang pemuda ikut berteduh di depan ruko. Dia memakai payung yang cukup besar, cukup untuk di pakai dua orang dewasa.
"Payung itu cukup untuk kami berdua, berjalan menuju halte dengan payung itu, kami pasti nggak akan kebasahan" batin Salwa.
Beberapa menit berteduh, pemuda itu angkat bicara"Hujannya awet."
Merasa di ajak bicara, Salwa pun mengangguk dan juga bicara"Iya. Nggak terasa waktu terus berjalan."
"Kamu sedang di kejar waktu?" seorang pemuda yang peka, begitulah penilain Salwa pada pemuda ini.
Seraya mengangguk"Iya, dan sebentar lagi bus akan tiba di halte."
Oh, pakai saja payung ini. Cepatlah ke halte, nanti kamu terlambat bekerja."
"Kalau payung itu aku bawa, kamu bagaimana?."
"Waktuku masih banyak. Kamu bawa aja payungnya."
Ragu-ragu Salwa menerima uluran payung itu"Kenapa kita nggak sama-sama ke halte. Kamu bisa menunggu di sana, meski pun waktumu masih banyak."
Menggeleng pelan"Tujuanku enggak ke sana."
Mengangguk pelan"Oh. Ya sudah, payungnya aku pinjam dulu ya."
"Bawa aja."
Lagi-lagi melirik jam, Salwa nggak bisa membuang waktu lagi"Siapa nama kamu?."
"Hujan mungkin akan semakin deras, pergilah" ujar pemuda itu, alih-alih memberitahu namanya.
Akhirnya Salwa pun pergi dari tempat itu, dengan membawa payung milik sang pemuda.
Setelah Salwa cukup jauh, pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Seraya membuka maskernya, Arjuna berkata"Ya Allah, apa arti pertemuan kami di pagi ini."
Dalam hujan Arjuna berlari menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Saat hendak berangkat ke kantor, dia nggak sengaja melihat Salwa yang sedang berteduh. Dari pada menawarkan jasa mengantar ke tempatnya bekerja, Arjuna menawarkan payung itu yang bisa mengantarkan Salwa menuju halte bis.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.