
Terdengar irama denting sendok beradu gelas kaca berukuran sedang. Nyaris saja, jantung Salwa luruh saat Heru meminta susu darinya. Telah mengenakan celemek maid, betapa bodohnya wanita ini masih bertahan di tempat itu. Melihat dari gelagat Heru, Salwa merasa Heru nggak berbahaya. Naluri nya merasakan hal yang benar, ada sebuah kisah di balik tatapan lekat Heru kepadanya.
"Buatkan saya susu hangat, susunya ada di meja kecil samping kulkas" ucapan ini seperti angin segar, menyejukkan hati yang sedang gundah gulana.
"Terimakasih" seulas senyuman terbit di wajah Heru.
Alih-alih menghabiskan waktu melakukan hal yang Salwa duga, beberapa jam ini Heru hanya ingin Salwa melayani makan dan minumnya. Mendengarkan dia bercerita tentang masa lalu bersama istri tercinta.
"Dia wanita yang lembut, juga patuh terhadap ku" lirih Heru. Sangat terasa betapa rindu itu masih menggerogoti jiwa lelaki tua ini. Menurut kisah Heru, wanita itu pergi ke pangkuan illahi di usia muda. Dan sejak itu pula Heru nggak pernah mencari penggantinya. Lantas, kenapa dia ingin menghabiskan malam bersama Salwa?. Bukahkan dia bilang bahwa sang istri adalah wanita yang nggak akan pernah terganti, satu-satunya wanita yang mengobrak-abrik sang hati.
Sebuah foto nampak telah usang, di perlihatkan kepada Salwa. Seperti yang Heru duga, Salwa nampak terkejut melihat foto tersebut.
"Pak----, ini----."
Mengangguk"Iya. Dia Teresia, mendiang istri saya."
Seperti bercermin, itulah yang Salwa rasakan sekarang. Meminta Salwa untuk duduk kembali, sebab wanita ini masih berdiri setelah memberikan segelas susu kepada Heru.
"Ketaatan mu kepada suami, sangat mengingatkan ku kepada Teresia. Tapi Nona Salwa, anda harus bisa membedakan perintah yang baik dan perintah yang bisa meruntuhkan harga diri anda."
Menggigit tepian bibir, Salwa merasa tertampar. Andai Heru tau sebab dia melangkah sejauh ini, mungkin Heru akan mengerti dengan posisi sulit yang di alaminya.
"Anda selalu menuruti perintahnya, apakah dia juga seperti itu?."
Sebelah alis Salwa terangkat naik, dia bertanya dengan sorot mata.
"Ya, melakukan hal yang anda minta" lanjut Heru.
Spontan Salwa menggelengkan kepala. Dari situ Heru semakin merasa kasihan terhadap wanita ini. Betapa cinta begitu dalam dari hati, hingga terlalu takut kehilangan dan menjadikannya wanita dungu.
Melihat Salwa kembali tertunduk, lelaki tua ini menyudahi perkataanya. Perkataan yang berisi nasihat untuk Salwa"Nona boleh tidur di kamar ini. Saya akan tidur di kamar lain."
__ADS_1
Lagi, Salwa di buat tercengang. Ternyata Heru pria yang baik, tanpa niat jahat apalagi sampai ingin mengambil kesempatan darinya.
...****************...
Sore hari di pondok pesantren. Syailendra di minta mengajarkan syair sholawat dengan nada baru, kepada para santriputra. Setiap hari minggu para santri mondok mendapat undangan dari salah seorang donatur sekolah tersebut. Secara bergantian santri-santri di sana akan hadiri di kediaman donatur tersebut untuk melaksanakan kegiatan sholawatan. Kalau minggu ini giliran santriwati, maka minggu depan santriputra yang akan mengisi sholawatan tersebut. Dan nanti di hari minggu, santriputra yang mendapat giliran.
"Mughrom ya Bang?" tanya salah seorang santri.
"Iya. Abang contohin dulu ya. Kalian ingat baik-baik nadanya" Syailendra mulai menyalakan mikropon. Ruang latihan mereka berdekatan dengan lorong tengah asrama santriwati. Maka, nggak aneh lagi kalau saat mereka latihan, suara mereka terdengar jelas hingga ke asrama perempuan.
"Ini suara Bang Syailendra kan?" komentar seorang santriwati.
"Huum, suaranya khas banget" sahut rekannya. Lelah mengasah otak di kelas, sambil menunggu antrian kamar mandi mereka duduk di ujung tangga.
Saat Enda melantunkan syair dengan nada baru itu, mereka pun mengikuti. Bukan hanya mereka, beberapa santriwati yang lain pun ikut menirukan nada baru itu.
Pujian akan indahnya syair itu pun keluar dari mulut ke mulut, bersahutan saling memuji keindahan suara Syailendra. Di antara para remaja perempuan itu, ada seorang Yasmine yang diam di depan kamar. Mengambil duduk di sana dengan selembar handuk. Surai nan panjang itu nampak basah, Yasmine baru selesai mandi.
Yasmine memandang lekat ujung-ujung rambut dalam genggaman"Ya Rasulullah, seharusnya rindu itu hanya kepadamu. Tapi hati ini merasakan rindu pada sang pelantun syair ini. Maafkan aku!."
Melihat Yasmine menunduk dengan rambut tergerai, Ustadzah Syabilla menghampiri.
"Jelas banget. Kamu lagi ada masalah kan?."
"Eh Ustadzah. Enggak kok" ujarnya coba berkilah.
"Oh ya?. Terus, kenapa nggak cerita tentang pemuda bernama Yahya itu."
Itu hanya pertanyaan ringan, tapi terasa berat sekedar untuk menelan air ludah. Kerongkongan Yasmine terasa serat, sulit untuk bercerita tentang Yahya kepada Ustadzah Syabilla. Gelagat Yasmine semakin membuat Ustadzah Syabilla penasaran.
"Yasmine, kamu di jodohkan dengan Yahya?" menerka karena Yasmine terlihat nggak nyaman, saat mendengar nama Yahya.
__ADS_1
Tanpa suara gadis ini mengangguk.
Sebenarnya, perjodohan bukan hal baru di lingkungan pondok pesantren ini. Sebab telah banyak santri yang di jodohkan orang tua mereka dengan lelaki yang nggak mereka kenal sebelumnya. Bahkan, pernikahan antar santriwati dan santriputra pun pernah terjadi, tanpa sepengetahuan sang perempuan. Tiba-tiba terdengar ijab qobul melalui mengeras suara asrama, dengan wali gadis tersebut. Sang perempuan hanya bisa menangis, terkejut dan bingung pastinya.
"Yahya pria yang baik, InsaAllah."
"Iya Ustadzah, Insyaallah" sahut Yasmine.
"Lantas, kenapa kamu nampak murung?."
Haruskah?. Haruskah Yasmine berbagi cerita tentang lamaran Syailendra yang telah dia tolak?. Akh! rasanya nggak ada yang bisa di percaya di dalam dunia ini selain diri sendiri. Yasmine pun mengurungkan niat untuk mengungkapkan hal yang pernah terjadi itu. Biarlah menjadi rahasia selamanya.
Nasihat Heru membuka pikiran Salwa. Ya! dia wanita dungu, karena terlalu takut kehilangan Randy. Oh, bukan takut kehilangan Randy, Salwa takut kehilangan kesejahteraan keluarganya.
......................
"Memang, membuat orang bahagia itu perbuatan baik. Namun, kalau harus menyakiti diri sendiri demi mengukir senyum di wajah orang lain, bukankah itu sebuah kejahatan pada diri sendiri?."
Kata-kata Heru di saat terakhir mereka bertemu, masih mengusik pikiran Salwa hingga detik ini.
"Aku perlu liburan, tapi tanpa Randy" begitu keinginan hati Salwa saat ini. Pagi itu dia sempat meminta Randy untuk bertandang ke desanya, namun karena sibuk Randy menolak ajakan itu. Berbekal sedikit keberanian, Salwa meminta izin untuk pergi tanpanya, toh kalau di rumah pun nggak ada Randy bersamanya karena sibuk bekerja.
"Boleh nggak?" sangat berharap, Salwa menatap Randy lekat-lekat.
Perasaan bersalah setelah meminta sang istri menghabiskan malam dengan lelaki lain, itulah alasan Randy memberikan izin kepada Salwa. Betapa senang wanita ini, hingga raut bahagia tersirat jelas di wajahnya.
"Terimakasih Mas" ujarnya.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.