
Cinta segi tiga, akhirnya di ketahui oleh Randy. Pantas saja sikap Arjuna sangat berbeda kepadanya, rupanya dialah lelaki yang sempat di ceritakan Salwa dahulu, lelaki yang sempat berniat meminangnya menjadi istri.
Sepandai-pandainya Pram mencari informasi dan menutupi identitas Arjuna dari Randy, toh yang pintar di sini bukan dari kubu mereka saja. Tupai yang pandai melompat bukan tak pernah terjatuh, pemandangan kebersamaan Salwa dan kedua orangtuanya yang sedang bersama dengan Jenaira, menjadi awal kecurigaan sang penguntit akan hubungan Salwa dan Arjuna.
"Hari baik untuk anak-anak kita harus segera di tentukan" ujar Jena. Saat itu Nur mengantarkan buah hasil kebun mereka ke kediaman pantai, juga sekedar ingin berjumpa dengannya. Begitu hati-hati sang penguntit bekerja tanpa di sadari Salwa, dia merasa nggak ada lagi orang suruhan Randy yang kerap mengawasinya, ternyata Salwa salah.
Meski interaksi via telepon seolah terputus dari intaian sang penguntit, pertemuan kali ini nggak bisa di sembunyikan darinya.
Duduk begitu dekat dengan Salwa dan Ibunya yang sedang berbicara bersama Jena, tentu semua obrolan mereka terdengar jelas olehnya. Terlambat menyadari, Pram merasa kecolongan. Matanya menangkap gelagat yang mencurigakan dari seorang pengunjung cafe, Pram lekas mengejar orang tersebut.
Baku hantam sempat terjadi dan menyita perhatian orang di muara jalan raya. Sang penguntit gegas menaiki kendaraannya meninggalkan Pram yang terluka di bagian lengan.
Berdalih orang itu hendak mencuri, Pram menutupi kebenaran dari Salwa. Dirinya terkejut orang suruhan Randy itu membawa senjata tajam, itu artinya tugasnya bukan sekedar mengawasi Salwa saja, hal buruk pun bisa di lakukannya terhadap Salwa dan keluarga.
Kini dokter Wenhan sedang membalut luka di lengan Pram, dokter murah senyuman ini sempat bertanya tentang asal muasal luka itu, namun Pram nggak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hanya menggagalkan aksi pencopetan" Pram berdalih.
Sepasang mata dokter Wenhan menelisik Pram, membuat lelaki ini salah tingkah.
"Berhenti menatapku seperti itu, aneh tau!."
"Kamu yang aneh!. Sebenarnya pekerjaan pastimu apa? bodyguard? karyawan kantor? atau agen rahasia?."
"Pekerjaan kantor" jawab Pram mencoba santai.
"Luka ini? apa pekerjaan kantor jaman sekarang bisa menimbulkan luka seperti ini?."
"Ck!! ayolah!!. kamu bawel sekali. Aku lelaki dewasa, luka seperti ini nggak akan membuatku mati." Pram meraih jaket kulit yang tersampir di bahu kursi tadi, Wenhan meletakkan di sana.
"Aku pergi dulu" ujarnya berusaha segera pergi dari hadapan Wenhan.
"Pram, jangan hanya pandai menjaga orang lain. Ingat, dirimu pun perlu di jaga baik-baik."
__ADS_1
Pram menatap Wenhan dengah helaan nafas yang berat"Dok, kamu nggak lelah terus mengurusiku?. Ini bahkan sudah bertahun-tahun lamanya."
"Waktu nggak akan pernah bisa menghapus kewajiban ku atas dirimu. Meski kamu sudah menua sekalipun, asalkan aku masih hidup aku akan selalu menjagamu."
"Hadehhh, andai aku wanita, aku pasti sudah menjadikan mu suami sejak dulu" lelaki ini pergi usai hatinya merasa nyeri, ucapan Wenhan membuatnya ingat akan sang Kakak.
Sedikit informasi tentang Wenhan, dia adalah Dokter muda yang dahulu menjalin asmara dengan Kakak perempuan Pram. Pram dan sang Kakak tumbuh besar di panti asuhan, saat sang Kakak meninggal karena sakit hanya Wenhan tempatnya menitipkan sang Adik. Kejadian itu sudah sangat lama, namun hingga detik ini Wenhan selalu menjaga dan menasihati Pram.
Braakkk!!! Randy menggebrak meja kerja, tangannya menggenggam foto kedekatan Salwa dan Jenaira. Bukan rahasia lagi cafe itu milik orang tua Arjuna, di tambah informasi terbaru dari sang penguntit, Randy semakin bertekad untuk memiliki Salwa kembali.
Tanpa rasa malu lelaki ini datang ke kediaman Salwa, dengan maksud ingin memperbaiki hubungan mereka. Hubungan yang mana lagi? mereka sudah resmi berpisah, Nur nggak habis pikir dengan jalan pikiran Randy. Juga rasa malunya, entah terletak di mana, dengan gamblang menawarkan sejumlah uang demi mendapatkan restu mereka akan hubungannya dengan Salwa.
Hanif baru datang saat Randy mengutarakan maksud hati"Enggak!!. Kak Salwa sudah ada yang punya!!." Sungguh kesabaran Hanif hanya setipis tisu, mendapati orang yang mempermalukan keluarga datang kembali, emosi itu dengan cepat melonjak naik.
"Hanif, Abang akan menanggung biaya kelulusan kamu" iming-iming uang, dia pikir dengan begitu Hanif akan berada di pihaknya.
Lekas mengikis jarak di antara mereka, Hanif melangkah menjauh"Maaf Bang. Hanif bisa bekerja untuk biaya kuliah, Abang nggak perlu repot-repot mengurusi diri Hanif. Urus saja istri baru Abang" menyinggung Mia, dengan lancar Hanif berkata.
"Ya, istri baru kamu. Lebih baik kamu fokus mengurusnya dan lupakan Salwa. Masalah kita sudah selesai Nak Randy, jangan menimbulkan masalah baru lagi!" Ayah menekankan.
Pintu kamar terbuka dan Salwa muncul dari dalam. Awalnya dia menghindari Randy, karena rasa takut berjumpa lelaki dengan kelainan jiwa bagi Salwa.
"Pergilah Randy!!. Kehadiranmu membuat masalah baru bagi keluargaku."
"Salwa, ini Mas Randy" seolah nggak terima Salwa menanggalkan panggilan Mas kepadanya.
"Pergilah, aku mohon" sorot mata yang begitu berani, Randy nggak pernah mendapatinya pada diri Salwa selama hidup bersama.
"Aku masih mencintaimu!!" nada bicaranya mulai meninggi, karena Salwa terus mendesaknya untuk angkat kaki.
"Cinta??. Kamu mengaku cinta pada barang yang telah terbuang ini??" nanar tatapan Salwa membuat Randy menelan saliva.
Lelaki ini dengan percaya diri hendak memegang tangan Salwa, Hanif dengan segera berdiri di depan Salwa"Cukup Bang, pergi sebelum saya panggilkan Pak RT."
__ADS_1
"kamu----." Jari telunjuk Randy berada di depan wajah Hanif. Pemuda itu dengan berani menepis tangan Randy.
"Hanif mohon Bang, jangan sampai kami mengusir Abang dengan cara buruk."
Mundur namun menatap nyalang Hanif"Ini yang kalian mau. Oke, tunggu saja waktunya."
Randy pergi setelah mengancam mereka.
Setelah kepergian Randy, Jamela yang selalu update akan keadaan terbaru di kediaman Salwa, segera menghubungi Adila. Adila segera menyampaikan kedatangan Randy yang hampir membuat onar di kediaman Salwa.
Menghubungi Pram, Arjuna mempertanyakan kinerja anak buahnya.
"Maaf Tuan, Pak Dokter sedang usil, dia memaksa di temani makan."
"Arjuna!! ayolah!" terdengar suara Wenhan.
"Biarkan saja Wenhan mengoceh. Lekas periksa keadaan Salwa dan keluarganya."
"Siap Tuan."
"Arjuna!!!" seru Wenhan.
"Ck, oke oke!!. Selesaikan dulu makan mu. Agar bujangan tua itu nggak berisik lagi." Dan panggilan pun di akhiri.
"Bujangan tua??!" Wenhan menggeram.
Nggak ingin terlalu lama mendengar ocehan Wenhan, Pram lekas menghabiskan makanannya. Setelah mengambil minum dia lekas undur diri.
Wenhan menggelengkan kepala. Tapi apa hendak di kata, pekerjaan adalah pekerjaan, sejak semula syarat dan ketentuan telah di setujui kedua belah pihak, dan di sahkan dengan bubuh tanda tangan. Kalau Pram menolak perintah Arjuna, maka dia harus membayar konsekuensinya, sebab harga untuk jasanya terbilang sangat tinggi.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.