Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Tak lagi nyaman


__ADS_3

...#Flashback On# ...


Setelah menimbang-nimbang, dengan terpaksa Salwa mengikuti apa yang di inginkan Randy, memakai dress merah kesukaannya. Tubuh Salwa memang indah, bahkan sangat indah di pandang mata. Tak dapat di pungkiri, banyak lelaki yang memandang kagum pada Salwa malam itu. Di tambah Randy meminta Salwa untuk menggelung rambutnya ke atas. Wanita itu semakin mempesona, dan Randy sangat bangga akan tatapan terpesona para rekan kerjanya pada sang istri.


Sementara Salwa, hatinya kembali terasa sakit. Ancaman Randy sungguh membuat air mata jatuh"Aku tak segan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu, jika kamu membangkang seperti ini!," tatapan tajam itu menciutkan nyali Salwa, yang semula sempat menolak saran Randy untuk mengenakan dress tersebut.


"Ya Allah, apakah rumah tangga ini masih sehat? dia mengancamku dengan mempertaruhkan rumah tangga kami" lirih Salwa di balik pintu kamar, sesaat sebelum Randy membanting pintu usai perdebatan sengit di antara mereka perihal dress merah.


"Wah, pasanganmu semakin menawan. Kamu beruntung memiliki Salwa sebagai istri, Ran" bisik Adi.


Senyuman kebanggaan itu terbit di wajah Randy"Tentu saja, karena itulah aku sangat betah berlama-lama di rumah."


"Ck! kamu manusia paling sibuk. Banyak menghabiskan waktu di rumah pun pasti masih dengan pekerjaan. Aku bukannya nggak tahu akan hal itu, Randy."


"Yah..., meksi begitu, Salwa selalu berada di sampingku."


Adi tertawa, dia tahu kemana arah obrolan ini"Dan karena itu pula kamu menghindari Mia?."


"Tentu saja. Meski pun dia juga sangat cantik, bagiku Salwa masih yang terbaik."


Adi menggeleng, sikap Randy membuatnya merasa kalah. Jika Mia dan Salwa di bandingkan, sudah jelas Salwa adalah sang pemenang. Andai saja dirinya yang lebih dulu bertemu Salwa alih-alih Randy, ck! pikiran itu selalu saja singgah di pikiran saat bertemu dengan Salwa. Dan, bukan hanya Adi yang mempunyai pikiran seperti itu, rekan kerja Randy yang lainnya pun menyimpan rasa kagum dan ingin memiliki andai saja Salwa masih sendiri.


Tatap kagum itu sangat menyesakkan dada, Salwa merasa malu sekali. Sedangkan Randy, terlihat sangat bahagia malam itu. Dan tanpan rasa malu, dia mencium ceruk leher Salwa di depan teman-teman.


"Kamu kenapa lebih banyak diam?."


"Aku...hanya sedikit lelah, Mas" cicit Salwa, memainkan jemarinya dalam pangkuan.

__ADS_1


Aroma manis tubuh Salwa, membangkitkan gejolak di dalam dada Randy. Dengan penampilan seperti itu, Randy tidak sabar untuk membawa istrinya kembali ke rumah, dan mengeksekusi sang wanita.


Lagi dan lagi, gaya berhubungan Randy terasa tidak biasa bagi Salwa. Pria itu menjelajahi tubuhnya dengan rakus. Mencekik Salwa di sela olah raga panas mereka di atas ranjang. Dan, seringai Randy terlihat mengerikan saat menatap wajah memelas Salwa, bertahan dalam permainan kasar itu.


"Salwa, kamu cantik sekali," ujarnya setelah mencapai puncak, sedangkan sudut mata Salwa kembali meneteskan air mata. Cara berhubungan yang tidak biasa, yang kerap di peragakan dalam film panas luar negeri. Akh! hati Salwa mencelos, saat terbesit rasa ingin menyerah dalam hubungan ini.


"Salwa," panggil Randy saat melihat istrinya beranjak dari tempat tidur.


"Sering-seringlah memakai pakaian terbuka. Aku suka dengan tubuhmu."


Sangat sulit, hanya sekedar untuk menelan saliva"Aku bahkan nggak memakai sehelai benang pun saat berhubungan denganmu, Mas. Nggak apa-apa kan kalau aku ingin hanya kamu saja yang melihat tubuh ku ini."


"Kamu milikku, dan selamanya akan menjadi milikku. Namun aku nggak keberatan kalau tubuh indah itu di lihat orang banyak, biarkan saja mereka iri padaku. Sebab kamu hanya akan menjadi milikku."


Tanpa menjawab perkataan Randy, Salwa melangkah masuk ke kamar mandi.


"Aku ikut," Randy segera bangkit dari tempat tidur. Menyusul Salwa dan kembali berhubungan di dalam sana, dengan gaya yang terasa aneh bagi Salwa.


Seperti biasa, Randy masih harus bekerja meski malam telah merangkak naik. Malam itu Salwa sangat pelan membaca ayat kursi Al-Qur'an, untuk mengobati derita hari yang telah lama menyiksa. Wanita itu terus memohon ampun atas perbuatan yang tak dapat dia lawan, atas keinginan sang suami. Kedamaian akan tetap hadir dalam rumah tangga mereka selama Salwa menuruti gaya berpakaian yang Randy suka. Sedangkan hal itu, sangat bertolak belakang dengan hatinya akhir-akhir ini. Juga perihal kewajiban, Salwa kerap mengajak Randy untuk sholat berjamaah, namun Randy selalu menolak dengan alasan sibuk bekerja.


"Kamu saja, aku tidak melarangmu intuk beribadah bukan. Hanya saja, pelankan suaramu saat mengaji."


"Baiklah, Mas" sahut Salwa pelan. Sungguh, di sepanjang masa mereka bersama, nggak pernah sekalipun Salwa berdiri di belakang Randy sebagai makmum. Jangankan untuk mengimami Salwa, sholat untuk dirinya sendiri pun Randy nggak pernah terlihat.


"Ya Allah, bantu aku untuk bertahan. Berikan hidayah kepada suamiku" pinta Salwa di sepertiga malam itu.


Mengingat kembali tentang Salwa. Salwa hanyalah seorang gadis dari kampung, bekerja di kota untuk membantu perekonomian keluarga. Dirinya bekerja di sebuah toko bunga yang nggak jauh dari perusahaan keluarga Randy. Pertemuan di toko bunga itulah yang menyatukan cinta mereka.

__ADS_1


Sebagai orang tua yang hidup dalam kesederhanaan, mendapatkan menantu anak orang kaya adalah sebuah keberuntungan bagi mereka. Karena itulah, Randy begitu di sayangi oleh kedua orang tua Salwa. Nggak jarang sang Ibu menelpon Salwa hanya untuk menanyakan kabar Randy.


Setelah menjadi istri Randy, Salwa nggak lagi bekerja. Dia menjalani kehidupan sebagai wanita rumah tangga, sementara Randy akan membiayai keluarga Salwa di kampung setiap bulannya. Sungguh, Salwa sangat mensyukuri hal itu, sikap Randy juga sangat baik terhadap keluarganya.


"Nak, bagaimana dengan Randy? apa dia baik-baik saja?."


"Alhamdulillah baik bu," sahut Salwa, dia sudah hapal dengan ritual pertanyaan yang di lontarkan Ibunya, ketika menelpon. Nggak hanya Ibu, Ayah pun seperti itu.


"Baguslah, urus suamimu dengan baik ya Nak. Kau sangat beruntung menjadi istrinya."


"Iya bu," sahut Salwa pelan.


"Bagaimana dengan calon cucu Ibu? apa sudah ada tanda-tanda?."


Saat itu, Salwa menggeleng pelan"Belum ibu."


"Ck! kamu ini bagaimana sih!. Ibu saja punya anak empat, beberapa bulan setelah menikah ibu sudah mengandung. Sedangkan kamu kenapa belum juga mengandung?, kamu sehat kan Nak?"


"Salwa sehat Ibu, hanya saja belum waktunya untuk hamil."


Sang Ibu semakin mengomel mendengar jawaban Salwa. Hingga obrolan berakhir pun, sang Ibu masih mewanti-wanti Salwa untuk lebih merawat diri agar segera mengandung.


Meletakan gawai di atas meja, Salwa menarik napas berat"Ibu, bagaimana aku akan hamil, sedangkan mas Randy selalu memintaku untuk meminum pil KB."


Membawa diri untuk mencari angin segar di beranda, Salwa merasa nggak nyaman. Rasanya ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya, seorang pria dengan pakaian serba hitam sedang duduk di pos ronda, tepat berada di depan kediaman mereka.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.


__ADS_2