
Termenung, Enda di buat termenung usai mengetahui siapa gadis pilihan sang kakek. Bukan apa-apa, Yasmine gadis yang cantik, siapa yang nggak menyukai gadis cantik. Hanya saja, sikapnya terhadap Enda terlampau biasa. Bukan hanya kepada Enda, kepada setiap pria yang bukan mahram, Yasmine terkesan dingin. Menaklukkan gadis dingin? akh!! Enda ingin menikah dengan wanita hangat, bukan gadis kulkas empat pintu seperti dia.
"Chef...."
Syailendra terjebak dalam lamunan.
"Chef gosong!!!" sang asisten menepuk pundaknya. Barulah Enda tersadar.
Lekas Enda mengangkat wajah di depannya, karena panik dia memegang wajan panas itu dengan tangan kosong.
"Awh!!!" mendesis, Enda di giring sang asisten menuju wastafel. Di sana tangan yang memegang wajan panas di rendam.
"Lagi mikirin apa sih?. Saya perhatikan Chef sering melamun hari ini." Evan menatap lekat wajah sang atasan.
"Cewek."
Evan terkekeh"Bukannya sudah menikah. Untuk apa di pikirkan terus."
"Ini cewek lain."
"Oh ya?" terlihat antusias, Evan mematikan kran air dan memberikan handuk bersih kepada Enda.
"Kalau itu menjadi beban, saya siap menjadi pendengar. Nggak maksa sih, kalau Chef nggak mau cerita nggak pa-pa. Hanya saja, beban di hati akan sedikit berkurang meski hanya di ungkapkan kepada seseorang."
Menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan"Ini hanya segelintir masalah di antara besarnya nikmat Allah dalam hidupku."
Mengangguk, Evan mengerti akan maksud Enda"Baiklah. Tapi boleh saya kasih saran?."
Giliran Enda yang mengangguk"Tentu boleh"Kalau itu tentang keraguan terhadap wanita, ikuti kata hati Chef saja."
"Ya, aku baru menyadari hal itu juga. Aku terlalu terbebani dengan masalah kecil ini, padahal ada Allah sang maha pembolak-balik hati."
Mengacungkan dua jempol tepat di hadapan Enda"Nah!! ini baru Chef yang biasanya."
Enda tersenyum. Dasar Evan, ada-ada saja tingkahnya.
Masih ingin berbicara banyak dengan sang Kakek, sore itu Enda kembali bertandang ke pondok pesantren. Datang setelah waktu Ashar, Kyai Bahi masih mengajar saat itu.
Menyadari sang Kakek nggak ada di kediaman, Enda berjalan menyusuri kelas para santriwati yang berada di tepi lapangan besar. Kalau nggak di kelas santriwati, maka Enda akan berjalan ke ujung lapangan, di sanalah kelas santriputra berada.
Ternyata kelas santriwati kosong semua. Sebelum menuju ke area santriputra, Enda mengirim pesan dahulu kepada Kyai Bahi.
"Kakek di kelas atas. Kemarilah, bawakan kitab yang di kumpul para santri."
Satu buah kitab bisa setebal dua jari, bahkan lebih. Mengingat ada banyak santri di atas sana, Enda merasa di manfaatkan oleh sang Kakek"Bayar ya" ujarnya bercanda.
__ADS_1
Bukan jawan via pesan singkat lagi, Kyai Bahi muncul di beranda kelas atas, kelas yang di tempati para Santriwati senior"Hei cucu nakal, cepat bawa kitab-kitab ini!!."
Enda terkekeh, dia memang gemar menggoda sang Kakek"Galak amat Kek. Entah nggak ganteng lagi lho" mengoceh sembari menaiki tangga.
"Telinga kamu bagus ya."
Enda memegangi kedua telinga, mengerti akan mendapat serangan dari Kyai Bahi"Bercanda doang" lirihnya.
Kelas itu juga telah kosong, rupanya para Santriwati sudah kembali ke asrama. Tinggal Kyai Bahi sendiri di sana"Bawa kitab-kitab itu. Kakek ada urusan sama Ustadz Yunus."
"Kek, kenapa nggak minta tolong Ustadz Alif aja. Berat Kek!" tumpukan kitab di atas meja, tinggi sebatas dada, Enda kewalahan kalau harus membawanya sekaligus.
"Ya udah, kami panggil Ustadz Alif. Kakek pergi dulu."
"Kenapa nggak Kakek yang panggil. Kakek mau ke ruangan guru kan?."
Berkacak pinggang, Kyai Bahi menatap Enda. Pemuda itu terkekeh, merangkul pundak sang Kakek"Becanda doang. Ini sebagian Enda bawa dulu. Sebagian minta tolong Ustadz Alif ya."
"Hemm" sahut Kyai.
Menatap punggung orang tua itu, Enda masih terkekeh.
Di tepi lapangan nan luas, Enda melihat Yasmine memasuki ruang guru"Gadis kulkas. Aku akan bertanya kalau nggak ada orang lain sana" iseng saja, batin Enda berkata seperti itu. Dan, saat itu semesta seolah bercanda, hanya ada Yasmine di sana.
"Yasmine" suara Enda menghentikan langkah sang gadis.
"Ya?" sahutnya tanpa berbalik badan.
"Apa kamu sudah ingin menikah?."
Pertanyaan model apa ini?!. Yasmine hendak berbalik, namun takut pertahanannya runtuh.
"Maaf Mas, saya harus segera kembali ke asrama."
"Tunggu!."
"Apa lagi Mas?. Nggak baik kalau ada yang salah paham dengan interaksi kita."
"Kalau kamu mencintai seseorang, apa kamu menginginkan sebuah kesempurnaan darinya?."
Yasmine diam sejenak. Ada apa dengan pemuda ini?. Sikapnya sangat aneh kali ini.
"Jawablah, aku hanya ingin tau bagaimana kamu menilai sebuah hubungan."
"Karena kamu cantik, haruskah kamu menikah dengan lelaki tampan?."
__ADS_1
Berbalik namun dengan tatapan menunduk"Maa ajmala an tajida qolban yuhibbuka duna an yutholibuka bi ayyi syaiin siwaa an yarooka bikhoirin."
Usai mengucapkan kata-kata itu, Yasmine segera pamit dari hadapan Enda. Sementara Enda, kedua matanya berkedip menatap kepergian Yasmine.
"Dia ngomong apaan?" ujarnya seraya menggaruk tengkuk.
"Hahaha" Ustadz Alif tertawa. Sedari tadi Ustadz muda ini memperhatikan mereka berdua dari lantai atas. Kalau itu santriputra yang mengajak Yasmine bicara, bisa jadi santri itu sudah mendapatkan hukuman. Karena Enda adalah cucu Kyai Bahi, setidaknya hal itu masih dapat di maafkan.
"Kamu ngomong apa sama Mas Enda?" melalui jedela kaca ruang guru, yang dapat terlihat dari asrama perempuan, Ustadzah Kholifah dapat melihat sejenak interaksi mereka.
Tenang, Yasmine berusaha menenangkan jantung yang berdegup kencang. Haruskah dia berbohong?, sementara hari ini dia sedang berpuasa. Akh!, Yasmine sungguh dilema.
"Maafkan saya Ustadzah. Mas Syailendra yang mengajak bicara. Saya juga di tahan saat hendak langsung pergi."
"Dia ngomong apa?."
"Dia tanya, apakah saya sudah ada niat untuk menikah" Yasmine mengatakan pertanyaan pertama Enda. Kalau masih berlanjut, mau nggak mau Yasmine akan mengatakan pertanyaan Enda yang lainnya.
"Lantas, kamu jawab"
"Pertanyaan itu nggak saya jawab Ustadzah." Gadis ini menunduk. Dia adalah petugas keamanan, orang yang selalu menjaga tingkah laku para santriwati di sana. Sore ini dirinya justru mengobrol dengan Enda, sebuah perilaku yang nggak seharusnya dia lakukan.
"Saya siap di hukum Ustadzah" ujarnya lirih.
"Sekarang masuklah. Hal ini akan saya bicarakan dulu dengan Kyai Bahi."
Semakin berdebar, Yasmine sungguh ketakutan. Selama di pesantren, dirinya nggak pernah terlibat kasus dengan laki-laki. Kalau terlambat ke Masjid, atau gagal menghafal nadhom Asmaul Husna, Yasmine pernah di hukum karena hal itu. Itu pun terjadi sudah lama sekali.
Berjalan terseok-seok, sungguh lemah langkah gadis ini memasuki asrama.
"Kamu sakit?" Nada langsung memegang kening Yasmine, mendapati sang sahabat tertunduk lesu.
"Aku kepergok di ajak bicara berdua sama Mas Syailendra."
Nada membulatkan mata, ini termasuk kasus berat.
"Nanti aku temani kamu saat sidang." Mengusap pelan punggung sang sahabat.
"Terimakasih Nada" ujar Yasmine pelan.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1