
Rasa tak nyaman itu semakin menjalar. Bermula hanya pada diri Salwa, kini menjalar pada teman-temannya. Ya, kini Salwa di tinggalkan, dan itu karena Randy selalu menodong para teman Salwa yang bukan-bukan. Begitu takut kehilangan hingga menuduh istrinya sengaja di dekatkan pada lelaki lain, dan tuduhan inilah yang Randy layangkan kepada mereka.
"Ini hari minggu, kamu nggak menghadiri acara arisan sama teman-teman?."
Duduk di halaman belakang, Salwa merasa lebih nyaman bersantai di sana alih-alih di halaman belakang. Setidaknya nggak ada yang akan melihatnya, karena halaman belakangan di kelilingi tembok yang tinggi.
"Arisan itu sudah selesai. Sudah habis" sahutnya seraya membenarkan kancing baju tidur mini yang dia kenakan. Karena Randy ada di rumah, Salwa di haruskan berpakaian seksi, demi menyenangkan hati sang suami.
Memeluk erat tubuh indah wanitanya"Nggak bikin lagi?. Biasanya kan begitu."
Salwa hanya menggeleng.
"Hem?" beserta alis, Randy menatap Salwa dengan tanda tanya.
"Mereka bikin lagi, tapi aku nggak ikutan."
"Kenapa sayang." Begitu ringan lidah berkata sayang, padahal baru tadi subuh dia protes kepada Salwa karena lagi-lagi suaranya mengaji mengusik telinga. Dia bahkan mengatai Salwa wanita binal yang nggak mengerti akan keluhan sang suami.
"Enggak. Cuman mau istirahat aja dari arisan itu" sejujurnya Salwa lelah memberikan alasan. Dan alasan yang sebenarnya karena mereka tak lagi seperti mereka yang dahulu. Banyak dari mereka yang menjaga jarak dengannya, karena ulah Randy itu. Akh!! Salwa sejujurnya merasa kesepian selalu berdiam diri di rumah, sementara Randy bekerja di luar rumah.
...----------------...
Siang itu, seorang gadis telihat sibuk di dapur. Sungguh sebuah pemandangan yang jarang sekali terjadi.
"Mau masak? serius?." Umma mendatangi sang putri, gadis yang masih duduk di bangku SMA.
"Iya Umma."
__ADS_1
"Mau bikin apa? biar Umma bantu."
"Puding jeruk."
Jeruk, sebuah rasa yang mengingatkan pada sang sahabat"Mecca, ini pasti bukan untuk kamu. Nak, Bang Arjuna nggak suka terlalu di perhatikan. Dia bisa menjauh dari kamu." Sangat mengerti dengan perasaan merah jambu itu, Umma memberikan peringatan pada Mecca. Sama seperti Ibundanya, Arjuna sangat menyukai buah jeruk, bahkan yang memiliki rasa asam sekalipun. Bukan hanya buahnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan jeruk, Arjuna pasti suka.
Duduk di meja makan, Mecca membongkar belanjaan dengan wajah masam.
"Sayang, Umma tau kok. Jadi, sebelum kamu di tolak, lebih baik jangan melangkah lebih maju Nak. Penolakan itu rasanya sakit sekali" sebagai orang yang pernah di tolak cintanya, meski telah memberikan perhatian pada orang yang di sukai, nyatanya hati itu tak serta merta luluh padanya.
"Cuman mau bikinin puding kok."
"Puding rasa sayang?."
"Umma~~~" Mecca merengek, di depan Umma dia nggak bisa menyembunyikan apapun.
Tersenyum seraya melangkah mendekat"Mending Mecca fokus sekolah aja. Kalau memang jodoh nanti Bang Juna yang akan datang sendiri. Kalaupun bukan Bang Juna, pasti ada jodoh yang lebih baik untuk putri Umma yang cantik ini."
Menyingsingkan lengan baju"Tetap kita bikin dong. Bisa untuk menyambut kedatangan Abi dari Cafe, Abi pasti senang."
"Hanya puding?."
"Meski hanya puding, kalau kita yang membuatnya pasti Abi akan sangat senang. Seperti kita yang bahkan telor ceplok pun Abi yang membuatkan" Umma tersenyum, memancing Mecca juga ikut tersenyum mengingat betapa manjanya mereka terhadap urusan perut. Karena Abi adalah Chef, masalah perut selalu terjamin, tentu dengan hidangan ala restoran. Kalau Abi nggak ada, masih ada Enda, Chef yang satu ini juga juara lho masakannya.
Sore hari di kediaman pantai, Arjuna sedang menggendong bayi perempuan. Auranya sudah seperti seorang Ayah, dengan pandai menggendong bayi mungil itu. Mengambil duduk pada kursi outdoor yang kosong, Arjuna di kejutkan dengan kehadiran seseorang. Randy beserta rekan kantornya singgah di sana, dan ada seorang gadis berpakaian seksi di dekat Randy.
Pemuda itu pindah ke toko buku milik Ibunda, dan dari sana dia dapat memperhatikan gerak-gerik Randy beserta teman-temannya.
__ADS_1
"Pak Randy ada saus di bibir anda" gegas gadis itu menyeka, dan kegiatan ini tertangkap oleh manik tajam Arjuna.
Terlihat risih, Randy menepis tangan gadis itu saat hendak kembali menyeka"Aku bisa sendiri" tegasnya.
Meski melihat penolakan dari Randy terhadap gadis itu, Arjuna terlanjur merasa iba terhadap Salwa"Sedang apa dia sekarang. Apa sedang menunggu suaminya pulang?. Sedangkan suaminya tengah menikmati waktu bersama teman-temannya. Juga wanita itu, sangat jelas menunjukkan ketertarikan pada Randy. Arjuna sudah nggak lagi menyuruh sang asisten untuk mematai-matai Salwa setiap waktu. Memastikan wanita itu baik-baik saja rasanya sudah cukup.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu di sana, dan cukup lama juga Arjuna memperhatikan mereka, khususnya terhadap Randy.
Saat itu terlihat Randy memandangi ponselnya, Salwa sedang menelpon. Dia pun mencari tempat yang nyaman untuk berbicara dengan sang istri. Karena toko buku sedang lengang, hanya ada dua orang yang duduk di meja bagian sana, Randy pun menerima panggilan di ruangan tersebut. Hanya berjarak satu meja, Arjuna dengan jelas mendengar obrolan mereka.
"Nggak usah Sayang. Nanti pas aku pulang kamunya nggak ada di rumah!."
"Acaranya hanya sebentar Mas. Selepas Maghrib sampai waktu Isya saja."
"Salwa, untuk apa sih mendengarkan kajian?. Kamu kan bisa mendengarkan di YouTube. Ayolah Sayang, aku mau di sambut saat pulang ke rumah."
Keinginan hanya tinggal keinginan. Ba'da Maghrib akan ada seorang ustadz kenamaan mengisi pengajian di Masjid kompleks perumahan mereka, selama ini hanya melihat orang Soleh itu di televisi atau YouTube. Saat ada kesempatan untuk hadir langsung dalam majelisnya, tentu suatu keberuntungan bagi Salwa. Ternyata keraguan itu benar-benar terjadi, menilik sikap Randy yang anti terhadap ustadz atau orang yang pandai memberikan nasihat baik, izin itu pasti sulit di dapat.
"Mas, jarang-jarang kesempatan ini ada. Dan majelisnya sangat dekat, hanya di Masjid kompleks." Terdengar suara memelas Salwa, yang sangat ingin mendengar kajian secara langsung.
Sambil menyelam minum air, Randy yang selalu haus akan perlawanan sang istri ketika bermain panas, meminta hak nya malam nanti.
"Kamu harus melawan, berteriak sepuas hati kamu" obrolan itu langsung mengusir Arjuna. Hatinya terasa panas mengingat hubungan sah mereka. Ingin rasanya dia pergi ke planet lain, kalau memang bisa. Membawa Salwa sejauh-jauhnya dari Randy!!.
"Membawanya----, dia bahkan nggak mengenalmu, Arjuna" ujarnya bergumam pada diri sendiri. Menaiki tangga menuju lantai atas, pemuda itu melihat Randy yang sedang kesal meninju udara. Seketika sudut bibir Arjuna terangkat naik"Hei!! apa dia nggak akan mendapatkan jatah malam ini." Terkekeh, rasanya senang saat ritual panas itu gagal terjadi di antara mereka.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.