
"Nadhom rukun iman ~~~."
Terdengar suara Fateena mengajak anak-anak kecil melantunkan nadhom rukun iman. Cara belajar dengan bersenandung kerap di lakukan di tempat ini, agar memudahkan para anak-anak dalam mengingat. Dengan begitu juga anak-anak yang gemar bernyanyi akan melantunkan Nadhom-nadhom, alih-alih lagu anak muda jaman sekarang dengan tarian gemulai atau aneh itu.
Menyaksikan aktivitas sang istri di balik jendela, auranya ketika mengajar membuat Syailendra terpesona. Sekali lagi, Syailendra sangat bersyukur memiliki istri seperti Fateena.
"Baik anak-anak, sampai di sini dulu kelas kita hari ini. Santri TPA~~~
Mengerti dengan seruan Fateena, para anak-anak itu kompak bernyanyi lagu penutup pertemuan hari itu.
...Biru muda seragamnya, menawan....
...Pakai jilbab di kepala, cantiknya....
...Pakai peci di kepala, gantengnya....
...Qiro’aty bawaannya,...
...Cinta Al Qur’an orangnya,...
...Aduh gantengnya, aduh cantiknya....
...Aduh anggunnya, baik budi pekertinya....
.............
Anak-anak bersorak usai bernyanyi. Mereka terlihat sangat bersemangat, Syailendra merasa telah melakukan hal yang tepat dengan mengizinkan sang istri terus mengajar. Wajah-wajah sumringah para anak-anak itu mungkin akan muram kalau Ustadzah cantik mereka berhenti mengajar.
Fateena terkejut saat Syailendra ada di luar kelas, dia pun langsung menyongsongnya.
Anak-anak kecil itu begitu penasaran dengan sosok Syailendra, para anak cewek nggak segan memanggil Syailendra dengan sebutan Om tampan.
"Om, kenapa nggak di panggil Abang saja?" tanya Enda meladeni ocehan para bocah.
__ADS_1
"Om saja, om kan sudah dewasa. Kalau Abang masih sedikit kecil" ujar salah seorang anak, Arif namanya.
"Om tampan kok boleh pegang Ustadzah Fateena. Perempuan sama laki-laki kan nggak boleh pegangan." Seorang gadis kecil berkerudung serut mengundang anggukan para teman-temannya.
"Iya!! sudah besar laki-laki sama perempuan nggak boleh pegangan."
"Nanti dosa lho, kan Ustadzah Fateena sendiri yang bilang."
Langkah menuju ruang guru di iringi segerombolan anak-anak kecil itu sembari melontarkan tanya. Ibu kepala panti tertawa melihat Fateena dan Syailendra seperti umpan, dan anak-anak itu bagai ikan-ikan yang kelaparan.
"Anak-anak, Om tampan ini suami Ustadzah. Kalau Om tampan tentu boleh pegangan tangan sama Ustadzah" ujar Fateena.
Bocah-bocah itu kompak membulatkan mulut"Oooo~~~."
"Sekarang sudah pada tau kan, sekarang ayo kembali ke asrama. Sebentar lagi waktu Dzuhur tiba."
"Sebentar Ustadzah, Om tampan ini belum ngasih tau namanya."
Enda pun ikut tertawa, menarik sekali sambutan para bocah-bocah lucu ini"Anak-anak perkenalkan, nama Om Syailendra. Kalau Om belum jemput Ustadzah Fateena tolong di jaga dulu ya Ustadzah nya."
"Hihihi, Om lucu. Ustadzah kan sudah besar kenapa harus di jaga."
"Hihihi, iya Om lucu, takut Ustadzah hilang ya."
Anak-anak itu berceloteh tanpa henti. Fateena kembali mengingatkan mereka untuk kembali ke asrama. Usai membubarkan para anak-anak, mereka menuju ruang guru. Di sana ada Ibu kepala panti dan dua guru, seorang Ustadz bernama Fikri dan seorang Ustadzah bernama Herfiza.
Kedatangan Syailendra di sambut hangat. Awal mula Agam menjadi donatur tetap di sana Agam juga memperkenalkan Syailendra yang akan menikahi Fateena adalah putranya. Rasa sungkan pun muncul, juga takut berbuat kesalahan di mata Syailendra. Melihat ke-canggunggan mereka Syailendra menegaskan bahwa nggak seharusnya mereka seperti itu, apalagi berniat memperlakukan dirinya begitu istimewa. kerendahan hati seorang Syailendra membuat mereka kagum, sejatinya Fateena mendapat seorang suami yang baik, dan semoga saja selalu memberikan kebahagiaan kepadanya.
Waktu Dzuhur tiba, karena kebetulan berada di situ Syailendra di minta untuk menjadi Imam, namun Syailendra menolak. Rasanya belum pas dirinya maju ke depan sedangkan para orang tua, suami Ibu panti dan seorang Ustadz senior berada di sana. Dia pun menawarkan diri untuk mengumandangkan Adzan saja. Keindahan suara yang di miliki Syailendra menjadi buah bibir para tetua panti.
"Sungguh suara yang indah, apa Nak Syailendra seorang penyanyi, atau seorang Qori?" suami Ibu panti mengajak Syailendra berbicara dalam perjalanan pulang dari Masjid panti.
"Masya Allah, Alhamdulillah Pak pimpinan, tapi saya hanya seorang tukang masak, bukan penyanyi apalagi Qori."
__ADS_1
"Tapi suara Nak Syailendra bagus sekali. Apa mau mengajar anak-anak mengaji di sini?."
Sebuah tawaran pekerjaan yang akan mendekatkan dirinya dengan sang istri, tapi bagaimana dengan restoran sedangkan Abi Khair sudah memberikannya kepada Enda. Dengan terpaksa Enda menolak tawaran itu, sungguh sangat terpaksa.
...****************...
Rencana kerjasama di antara Arjuna dan Richard perlahan terlaksana. Sebuah hotel akan di bangun kembali di atas tanah yang telah lama kosong itu. Kabar kerjasama dua anak muda ini menjadi berita hangat, wajah Arjuna dan Richard menghiasi halaman depan majalah bisnis.
Telah lama mundur dari jajaran perusahaan sukses, kini Brander company mulai di lirik kembali. Selain menjalin kerjasama dengan Arjuna, Richard juga menjalin kerjasama dengan beberapa rekan bisnis lainnya. Pemuda ini bertekad untuk membawa kembali perusahaan keluarganya ke dalam jajaran perusahaan sukses.
Selain bersama Richard, Arjuna juga tampil untuk kedua kalinya dalam majalah bisnis bulan ini. Kali ini dia muncul bersama Bae. Di usai muda dirinya begitu sibuk berkecimpung di dunia bisnis, tentu nggak sedikit harta kekayaan yang dia miliki saat ini.
Sreekkk!!. Halaman utama dari majalah itu di sobek, lembaran majalah yang sobek itu berada dalam genggaman Randy. Amarah lelaki ini semakin memuncak saat mendapati Arjuna kembali hadir di sana, bersama Bae.
"Pantas saja modal yang ku tawarkan selalu di tolak, rupanya dia merasa paling kaya raya karena menjari CEO di dua perusahaan!!."
Sang asisten nggak berani bersuara. Ketika Randy sang pekerja ambisius merasa tersaingi, demi keamanan dirimu lebih baik memilih diam.
"Dan sekarang kamu hendak memiliki Salwa....jangan mimpi!!" kedua bola mata Randy terlihat memerah, ide-ide buruk mulai merasuki pikirannya.
"Cari pemuda yang menabrak mobilku tempo hari" titahnya pada sang asisten.
"Siap Pak." Gegas orang ini mencari informasi seorang pemuda. Sempat melihat Id card dengan nama perusahaan Game milik Arjuna, saat itu dia melepaskan pelaku penabrakan miliknya karena hanya lecet sedikit. Namun emosi yang menyelimuti sang hati memunculkan ide gila.
"Ini Pak" profil seorang lelaki berkulit hitam dengan nama Roberto terpampang nyata di dalam laptop itu. Melalui Roberto, Randy akan membuat kekacauan dalam perusahaan Arjuna. Memikirkan bagaimana kalang kabut Arjuna saat rencananya berhasil, membuat Randy menyeringai.
"Heh, lihat saja nanti. Kamu berani hendak mengambil apa yang telah menjadi milikku, maka jangan salahkan aku kalau kamu harus membayar mahal padaku."
To be continued...
Selamat membaca, jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1