Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Jawaban atas doa


__ADS_3

Segala akar kejahatan harus di basmi, dan setiap tindak kejahatan harus mendapat hukuman. Telah puas menikmati manisnya uang haram, pada akhirnya Randy harus mendekam di dalam jeruji besi. Dia dan beberapa rekan bisnisnya harus mempertanggungjawabkan perbuatan buruk itu, perbuatan yang sangat tidak di anjurkan untuk di tiru. Beruntungnya Teguh lolos dari jerat hukum, sebab memang apa yang di terimanya dari Randy murni hasil kerja kerasnya sendiri. Sudah berjalan cukup lama, kasus yang baru terbongkar baru-baru ini hampir menjerat Salwa.


"Syukurlah, awal mula kejahatannya terjadi setelah resmi berpisah dengan ku Mas" hati yang semula terasa terhimpit kini merasakan lega yang luas biasa.


Arjuna mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut"Alhamdulillah, ini sebab Allah selalu menjagamu."


"Hemm, Alhamdulillah" ujar Salwa mengangguk.


Petang itu Arjuna mengajak Salwa berjalan ke tepi danau, tempat mereka dahulu bertemu. Waktu itu Arjuna mengira Salwa akan melompat ke dalam danau, maka dengan segera dia berlari berusaha menghentikannya. Lucunya, Salwa bukan hendak bunuh diri, hati yang lelah saat itu hanya ingin lebih banyak menghirup udara segar di sana.


Mereka duduk di kursi yang dulu Salwa duduki. Pada waktu itu Arjuna nggak berani berada di dekat Salwa, dia mengambil duduk di pagar tepian jalan saja. Kini, mereka telah menjadi pasangan halal, tak ayal Arjuna selalu mengapit lengan Salwa bahkan saat mereka duduk bersama.


"Di sini lho, Mas memintaku menjadi istri."


"Ya, dan aku di tolak waktu itu" menoleh kepada Salwa, dia ingin melihat bagaimana reaksi Salwa.


Tersenyum masam"Maaf Mas, aku sangat minder waktu itu. Aku menolak lamaranmu, dan setelah pernikahanku gagal aku baru menerima dirimu. Kalau seperti itu bukankah aku sangat rakus? sementara dirimu seorang lelaki yang sangat tampan waktu itu."


Wahh, ucapan Salwa membuat Arjuna mengulum senyuman"Tampan?."


"Aku?" ujarnya lagi.


Dengan mantap Salwa mengangguk"Iya. Aku nggak menyangka di balik masker hitam itu tersembunyi wajah yang sangat tampan. Maha besar Allah dengan segala kuasanya."


"Masya Allah. Kalau sekarang bagaimana? apa masih tampan?" melengkung bak bulan sabit, seperti itulah kedua mata Arjuna saat tersenyum dan tertawa.


Jemari lentik Salwa menarik pelan pipi Arjuna"Kalau sekarang semakin tampan lho."


"Aduuhhh~~~ tubuhku rasanya lemas. Aku akan bertransformasi menjadi es krim kalau di goda seperti ini."


Giliran Salwa yang mengusap kepala Arjuna, lelaki itu meletakan kepalanya di pundak sang istri. Interaksi mereka membuat mereka yang melintas di sana tersenyum, beginilah manisnya pacaran setelah menikah.


Tiba-tiba Arjuna duduk tegak, kemudian melafazkan sholawat"Allahuma yassir lana ziaratal Makkah wal Madinah bibarakatin nabiyyika muhammadin sallahu ala wasallam."


"Allahuma sholliala sayyidina Muhammadin adadaromli raqiqi sholtan tarzuquna biha min ahli taufiqi" Salwa menyambut meski dengan wajah bertanya.


"Watuballighuna bihal hudura illa baitil atiq" Arjuna yang menyambung kembali.

__ADS_1


"Waziyarata qobrihi waqobri abi bakrinissiddik."


"Waala alihi wasohbihi ajmain" doa dan sholawat ini mereka akhirnya bersama.


"Amiin."


Menyamping, agar lebih tepat menatap sang suami"Kenapa mengajakku membaca sholawat dan doa itu?."


"Sudah berapa lama kamu amalkan?." Arjuna balik bertanya.


"Sejak Kakek Bahi sampaikan kepadaku. Memangnya kenapa?."


"Semua doa akan terkabul, tapi ada yang cepat juga ada yang lambat. Dan kamu salah satu orang yang beruntung karena apa yang kamu harapkan akan segera terwujud."


"Mas------" manik indah itu memerah, terlihat mulai berkaca-kaca.


"Maksud Mas??" Salwa ingin lebih memastikan.


"Kita akan berangkat ke baitullah istriku."


"Wallahi, aku nggak akan bercanda tentang dia sang maha segalanya."


Meraih jemari Arjuna, menciumnya dengan takdzim"Terimakasih ya Allah, terimakasih Mas" terisak, Salwa nggak bisa menahan air mata lagi.


Arjuna mengusap air mata yang membasahi kain penutup wajah Salwa, dari balik kain itu juga dia menyeka air mata sang istri. Luapan kebahagiaan seolah nggak ada habisnya, air mata Salwa terus saja tumpah. Sejenak Arjuna membiarkan sang istri meluapkan kebahagiaan itu.


Hujan di wajah cantik itu telah reda, Salwa terlihat tenang"Sudah selesai?. Aku nggak menyangka akan ada hari di mana aku membuatmu menangis."


Tertawa di sela tangis yang mulai reda"Tapi ini bukan tangisan penderitaan. Mas suami terbaik yang selalu menuntun ku ke jalan kebaikan."


"Karena cintaku padamu karena Allah. Dia yang maha memiliki diri kita." Salwa semakin erat memeluk lengan Arjuna.


Lagi, pucuk kepala terbalut kerudung itu di usapnya"Ada satu lagi kabar yang ingin aku sampaikan."


"Apalagi Mas?."


"Kita akan berangkat bersama keluarga besar, Ibu dan Ayahmu juga akan turut serta."

__ADS_1


"Ya Allah, Mas aku harus membalas kebaikan ini dengan apa?!" yahhh turun hujan lagi deh di wajah Salwa. Isak tangis Salwa menarik atensi orang di sekitar mereka.


Dengan pasrahnya Arjuna mencoba menjelaskan"Maaf, istri saya terlalu bahagia mendengar kabar baik."


Salwa lekas mengangguk pada orang-orang yang menatap mereka.


"Katakan Mas, harus dengan apa aku membalasnya?."


Tak bosan menyeka air mata Salwa, kemudian lelaki ini memegangi kedua pipi sang istri"Cukup dengan mencintaiku, dan hidup bersamaku selamanya. Temaniku di hari tua, temani aku melihat senja di usia senja kita."


"Insya Allah, semoga kesehatan, keberkahan dan umur panjang selalu menyertai kita Mas."


"Amiin."


Hari semakin petang, Arjuna mengajak Salwa untuk kembali pulang. Saat di perjalanan lagi-lagi dia memberikan kabar baik kepada Salwa.


"Ups!! aku hampir melupakan kabar baik ini." Berhenti sejenak dan menepuk keningnya.


"Mas, sungguh hari ini akan selalu kuingat. Kabar baik apa lagi" dari matanya saja, Arjuna sudah dapat melihat Salwa akan kembali terharu.


"Kita akan berangkat bersama rombongan ustadz yang sering kamu tonton itu."


"Hah??."


"Iya Salwa ku! kita berangkat bersama rombongan ustadz yang kamu kagumi itu. Ustadz dari tanah melayu itu."


Maha baik Allah, tak henti Salwa mengucapkan syukur. Dia telah puas menelan pahitnya pil kehidupan, dan setelah menjadi Nyonya Arjuna jalan hidupnya berubah 180 derajat. Dirinya sangat di hargai, dirinya sangat di sayangi. Tak semata menjadi pemuas nafsu di atas ranjang saja. Dengan Arjuna dirinya menjadi lebih paham tentang agama, bersama Fateena dirinya rutin mengikuti kajian di pondok pesantren.


Segala berkas telah di lengkapi. Segala keperluan telah di penuhi. Tak ayal bukan hanya Salwa yang sangat senang. Ayah dan Ibunya pun sangat antusias dalam mempersiapkan diri.


Beberapa bulan kemudian rombongan mereka berangkat menuju tanah suci, semua keluarga ikut serta, hanya Pram saja yang tidak ikut bersama mereka.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2