Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Sarapan yang kesiangan


__ADS_3

Usaha untuk memperbaiki laptop nampak sia-sia. Benda itu telah hancur, remuk karena sempat di injak-injak olehnya.


Begitulah Randy. Dia terbiasa meluapkan emosi dengan membanting dan menghancurkan barang, kini Randy sungguh sangat menyesal. Selain Arjuna yang sangat pandai mempermainkan amarahnya, kehadiran Mia membuat api amarah semakin menjadi. Bukannya meninggalkan Randy yang meminta waktu untuk sendiri, Mia mendesaknya untuk mengatakan alasan Randy membentaknya.


"Pergi dari sini atau pergi dari hidupku" datar namun menusuk ke hati. Mia sontak melangkah mundur, Beginikah nasib seorang pelakor, kenapa sangat tidak di hargai.


Kepergian Mia dengan derai air mata tak membuat Randy berniat menyusulnya. Memangnya apa yang mau dia katakan untuk menjawab tanya seorang Mia? mengatakan bahwa kemarahan itu karena kalah dari Arjuna? lelaki yang telah resmi menjadi suami Salwa. akh!! membicarakan Salwa dengan Mia sama saja mencari masalah, akhir-akhir ini dia sangat sensi mendengar nama Salwa di sebut.


Bagaimana tidak, bukan hanya kehidupan suaminya yang menjadi incaran para memburu berita. Meliput kehidupan Salwa usai berpisah dari Randy, apalagi wanita itu di nikahi seorang Arjuna, anak seorang penulis terkenal dan seorang pebisnis handal. Jena yang cantik dan Agam yang tampan, nggak heran mereka memiliki keturunan setampan Arjuna. Kebetulan Arjuna yang tampan mendapat pendamping hidup secantik Salwa, sungguh dunia hiburan di buat heboh saat ini. Berkali-kali stasiun televisi menayangkan acara pernikahan mereka, pada akhirnya Mia melempar televisi dengan remot.


"Prangggg!!!."


"Mia!!! apa lagi!!."


Berbalik menatap Randy, pria itu terlihat telah rapi dengan setelan hendak ke kantor. Biasanya Mia akan membantunya bersiap, juga menyediakan sarapan. Setelah kejadian dini hari tadi amarah Mia begitu sulit di padamkan. Di tambah sajian membosankan di layar televisi, alhasil emosi di dalam dada semakin melonjak naik.


"Kenapa? memangnya hanya kamu yang bisa mengamuk!. Hanya kamu yang bisa merusak barang?!." Rasa takut di tinggalkan seolah sirna, Mia menunjukkan jati dirinya di depan Randy karena bosan nggak juga mendapatkan posisi terbaik di hati lelaki itu.


Kening Randy kembali di buat berkerut. Beginilah susahnya berurusan dengan wanita, secuil kesalahan akan selalu di ungkit setiap waktu. Meski


belum tau alasan Randy mengamuk, Mia tak mau kalah membuat keonaran.


Di lihat Randy layar televisi yang telah pecah, liputan pernikahan Arjuna dan Salwa masih terlihat di sana. Owh sungguh pagi yang sangat kacau. Baik Mia ataupun Randy sama-sama nggak bisa mengendalikan emosi. Mengetahui istrinya berbuat seperti itu karena berita tentang Salwa di layar televisi, Randy yang sudah sangat pusing pergi begitu saja. Nggak ada kecupan manis di kening seperti biasanya, akh!! momen itu sudah beberapa hari nggak mereka lakukan.


"Hick!! aku nggak kuat. Aku ingin menyerah saja" tubuh Mia perlahan merosot ke lantai, dia menangis menyesal, betapa banyak pengorbanan yang harus dia bayarkan karena telah merusak rumah tangga orang.


Jemarinya memegangi perut yang sudah membesar"Putriku, maafkan Mama. Setelah kamu lahir mungkin Mama akan meninggalkan Papa mu."


......


Pukul 10 di kediaman Salwa dan Arjuna. Si mbok yang tempo hari mengurus kebun kecil milik Arjuna di utus Adila datang ke sana. Dengan titah memasak dan mengurusi segala kebutuhan Salwa dan Arjuna, nyatanya dia hanya di minta untuk membersihkan kebun saja. Bersama Arjuna dia di kebun itu, dirinya bekerja sedangkan Arjuna duduk di sebuah kursi. Awalnya Arjuna hendak ikut membersihkan kebun, namun si mbok lekas berucap"Aduh Tuan. Saya ke sini di tugaskan untuk memasak dan beres-beres, tapi semua pekerjaan itu sudah di lakukan Nyonya Salwa. Sekarang saat ada pekerjaan di kebun anda juga ikut membantu, lantas apa gunanya saya di sini Tuan."

__ADS_1


Celoteh si mbok membuat Arjuna terkekeh"Wuidih comel sekali sih mbok, ngambek ya kerjaannya sudah di kerjain istri saya. Gimana ya, saya dapatnya istri yang rajin sih."


Si mbok melirik Arjuna dengan senyuman, dia ikut senang melihat Tuan nya bahagia.


"Ya sudah saya nonton si mbok aja, nanti kalau saya memaksa mau bantuin, si mbok beneran ngambek. Saya sudah nggak berani membujuk dan merayu cewek lain, nanti di geprek Nyonya di rumah ini."


"Hihihihi" si mbok nggak bisa menahan tawa, sejatinya Arjuna nggak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah memperistri Salwa, alhasil dirinya selalu ingin membicarakan Salwa.


"Sudah rajin, cantik pula. Selamat ya Tuan, semoga lekas di beri keturunan."


"Amiin" lekas Arjuna meng-amiin kan.


"Tapi Tuan, kalau pekerjaan saya di kerjakan Nyonya, saya kerja apa dong di sini?. Jangan-jangan saya mau di pecat ya?. Aduh jangan dong Tuan."


"Eh! kata siapa?!. Si mbok nggak akan terganti di sini. Mulai sekarang tugas si mbok ngurusin kebun aja deh. Tapi harus siaga bantuin istri saya ya mbok."


"Syukurlah, siap laksanakan. Terimakasih ya Tuan" seru si mbok senang bukan kepalang. Dan Arjuna mengangguk seraya menanyakan Nenek Arabella dan Kakek Akhtar.


"Kok gitu sih, tega nggak pamitan sama saya."


"Aduh Tuan, siapa sih yang tega gangguin pengantin baru. Apalagi masih pagi-pagi sekali" tersenyum seraya melirik Arjuna.


Semula dia berlagak merajuk, tapi lirikan si mbok menggelitik hatinya. Alhasil Arjuna terkekeh menutup wajahnya.


Usai menemani si mbok di kebun dan sedikit berbincang, Arjuna kembali ke dalam rumah. Di dapur Salwa telah selesai memasak. Menu nasi goreng saja, sebab nggak banyak bahan masakan yang tersedia di dalam kulkas.


"Maaf, hanya ini yang bisa ku olah."


"Alhamdulillah, ini pun sudah sangat nikmat. Selama beberapa hari yang lalu aku selalu makan di rumah Nenek, terkadang kami makan bersama di kediaman Abang. Jadinya kulkasnya nggak banyak bahan makanan."


Mengetahui Arjuna kerap makan masakan yang di olah Syailendra, rasa minder itu muncul lagi. Cita rasa masakan Syailendra sudah nggak di ragukan, Salwa ragu lidah Arjuna akan cocok dengan cita rasa masakannya.

__ADS_1


Menarik Salwa agar duduk di sebelahnya"Kenapa diam?. Aku nggak keberatan hari pertama kita bersama di suguhi nasi goreng. Ini salah satu masakan kesukaanku lho."


"Oh ya?. Tapi yang ku masak ini hanya nasi goreng kampung, rasanya pasti sangat jauh dengan nasi goreng ala resto olahan Bang Syailendra."


Wajah tertekuk Salwa membuat Arjuna gemas, dia menarik pelan pipi sang istri"Ada apa dengan wajah murung ini?. Kamu nggak percaya diri dengan masakan kamu sendiri?."


"Iya, aku langsung mengaku saja."


Jadi, seperti ini rasanya menikmati pagi dengan istri tercinta. Mengobrol tentang nasi goreng saja banyak menciptakan perasaan gemas pada wanitanya, karena mimik wajah Salwa terlihat lucu baginya.


Nggak mau membuang waktu"Dari aromanya saja aku yakin ini pasti enak. Bismillahirrahmanirrahim, hap!."


Perasaan ketar-ketir meliputi diri Salwa, menunggu komentar Arjuna rasanya seperti seorang kontestan masak memasak. Deg-degan dengan sorot mata tak lepas dari wajah Arjuna.


"Enak, rasanya mirip nasi goreng buatan Ibu."


"Serius?." Bertanya dengan gerak semakin dekat pada Arjuna.


Mengangguk-angguk pelan"Iya, tapi yang ini lebih enak. Apalagi kalau makannya sambil di suapin kamu. Jujur, saat makan di liatin kamu begitu tanganku jadi bergetar."


Sedikit menjauh dari Arjuna, Salwa duduk tegak di tempatnya. Sumpah, wajahnya terasa panas, selain ketahuan menatap lekat sang suami, hatinya mengembang karena Arjuna menggodanya dengan meminta di suapi. Owh!! cinta ini sungguh memabukan!!.


Dua insan sedang jatuh cinta, menikmati pasti pertama mereka di temani kicau burung yang saling bersahutan. Melanjutkan sarapan yang kesiangan itu, mereka nggak menyadari sedang menjadi pemeran utama pada sorotan kamera ponsel Syailendra.


"Mas, cape sembunyi di sini. Mending ke sama saja kita."


"Sebentar Sayang. Aku kirim video ini ke Nenek Arabella dulu."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2