Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Pasangan baru


__ADS_3

Di hantarkan oleh nyanyian jangkrik hingga ke alam mimpi, pagi hari di awali dengan merdu kicau burung-burung nan berlarian dari dahan ke dahan. Wanita itu tengah duduk di depan jendela, menikmati pagi pertama di kediaman nyaman ini. Terlihat helai rambut yang masih belum kering sempurna, meski aktivitas mandi itu telah di lakukan sebelum waktu sholat subuh tiba.


Usai menyisir rambut hitam nan panjang, sang wanita berdiri dengan pandangan


masih terlepas ke luar jendela. Di rasakan sebuah kain tipis menutupi kepala, dia pun sontak menatap ke belakang.


"Jangan lengah, bisa jadi ada seseorang yang melihatmu seperti ini" rupanya itu Syailendra, lelaki yang telah menanggalkan panggilan gadis pada dirinya. Sepersekian detik kemudian terlihat beberapa lelaki tua yang berangkat ke kebun, melewati jalanan di bawah sana.


Fateena lekas menutupi kepala dengan kain segi empat yang di berikan Enda.


"Assalamualaikum Nak Syailendra" salah seorang dari lelaki di bawah sana menyapa.


"Waalaikumsalam Pak" sahut Enda membalas lambaian tangan Bapak tua itu.


Fateena lekas menarik diri agar terlepas dari pandangan mereka. Prilaku Fateena mengundang tawa mereka"Aduh, pengantin perempuannya masih malu-malu."


"Iya nih Pak" sahut Enda pula"Ada yang harus segera di lakukan juga, makanya langsung pergi."


"Iya, semoga betah di sini ya istrinya."


"Iya Pak" ujarnya lagi. Setelah sedikit berbincang mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kebun. Sedangkan Enda menyusul Fateena yang telah berpindah ke depan lemari besar. Tadi malam Enda sudah mengatakan kepadanya bahwa lemari itu miliknya. Karena sudah terlalu lelah Fateena akan merapikan sedikit pakaian miliknya yang di bawa saat akan menikah hari ini saja. Masih banyak barang-barang miliknya yang masih berada di panti, juga kediaman kedua orang tuanya.


"Mas ini bukan kerudung ku" baru menyadari kain yang tadi menutup kepalanya bukanlah miliknya.


"Aku sudah lama membelinya, untukmu."


"Oh ya, terimakasih Mas" ucapnya merasa senang, ini adalah hadiah pertama dari sang suami.


Syailendra mengusap pucuk kepala Fateena pelan"Iya, sama-sama...." belum benar-benar usai berkata, sepasang pengantin baru di kejutkan dengan sebuah teriakan.


"Assalamualaikum!!! Abaaanggg!! Mecca datang!!" si bocah, datang dengan kegaduhan.


"Waalaikumsalam" sahut Enda bernada pelan. Melihat mimik wajah malas-malasan itu, Fateena melontarkan tanya.


"Kok nggak semangat Adiknya datang?."

__ADS_1


"Dengar deh, berisik kan."


Senyuman manis terbit di wajah sang istri. Mecca memang berisik tapi dia menyukainya, karena dia gadis yang ceria.


"Abang!! kok nggak di jawab salam Mecca!" datang dengan sebuah bawaan, nampaknya itu kue buatan Umma.


"Waalaikumsalam" sahut Fateena.


"Abang nggak jawab?!" hardiknya menatap tajam ke arah Enda.


"Abang sudah jawab, tapi nggak teriak-teriak seperti kamu. Memang sih ini di desa yang masih banyak pepohonan, tapi nggak harus berteriak seperti sedang di dalam hutan juga."


Mulut Mecca seketika mengerucut, merasa tersindir dengan perkataan sang Abang.


Umma datang saat itu, Fateena lekas memakai kerudung dengan baik. Mengingat rambutnya yang belum kering sempurna, rasanya malu kalau ketahuan telah melewati malam yang panas bersama Syailendra.


"Umma" ujarnya.


"Kalian sudah sarapan?." Melangkah mendekati mereka.


"Lihat deh Sayang, Umma selalu di larang turun ke dapur. Umma jadi nggak bisa memasak hidangan untuk kamu" menarik tangan Fateena pelan, hingga mereka berdekatan.


"Gimana kalau Fateena saja yang masak. Umma, Mecca dan Mas Enda duduk di meja makan saja."


Mas Enda, Mecca menahan tawa mendengar panggilan Fateena kepada sang Abang. Dia pun langsung bersuara"Ide bagus itu. Ayo Mas Enda kita ajak Umma menunggu Dek Fateena selesai memasak, sambil mengobrol di meja makan."


kedua mata Enda memelotot, dasar Mecca!! usil sekali anaknya. Fateena jadi malu-malu di buatnya.


"Sudahlah, para perempuan duduk manis saja. Biar Mas yang masak" berbisik di dekat Fateena.


Akhirnya Syailendra kembali menjadi koki pagi itu. Dia sempat menanyakan perihal sekolah Mecca, ternyata sang Adik sedang libur sekolah usai melalui masa ujian.


...****************...


Ketika Arjuna berniat mewujudkan keinginan sang Kakek untuk membangun kembali sebuah hunian atau hotel di atas lahan kosong itu, di saat itu pula Abian dan Bryan sepakat untuk bekerja sama. Maka, Richard sangat bersemangat untuk memperbaiki kegagalan sang Ayah dahulu.

__ADS_1


Ketika para orang tua telah sepakat untuk bekerja sama, giliran para anak muda yang akan beraksi di lapangan. Tepat di sebuah restoran, Arjuna dan Richard membuat janji temu. Baru saja mendudukkan diri di bangku restoran, Arjuna di kejutkan dengan kedatangan Randy. Alih-alih Richard, siang ini dia harus bertemu dengannya.


"Oh, Pak Randy. Apa yang membawa anda kemari" seraya mempersilahkan Randy untuk duduk. Wajahnya nggak seperti biasanya, sedikit masam.


Belum sempat Randy bersuara, Richard datang dan langsung menghampiri mereka"Oh maaf, apa kamu ada pekerjaan mendadak?" seraya melirik ke arah Randy. Di sinilah, tiga pria yang cukup di kenali di dunia bisnis. Tentang Randy, bukannya Richard nggak tau. Dia di kenal sebagai lelaki yang mencintai keindahan, bahkan saat apa yang di milikinya sudah tak lagi indah dia tak segan membuangnya.


"Oho, mantan juara. Ups!" ujar Randy. Nampak jelas rasa nggak suka Randy terhadap Richard.


Richard sudah terbiasa dengan ucapan seperti itu, sedikitpun wajahnya nggak menunjukkan kekecewaan. Dia justru tertawa kecil"Setidaknya mantan juara ini telah menjalin kerjasama dengannya."


Kedua alis Randy beradu, apa maksud Richard!!.


"Maaf, karena waktu saya terbatas. Saya ingat kita memiliki janji untuk ngopi bersama, tapi nggak bisa hari ini" memperlihatkan waktu yang sedang berjalan pada jam tangan kepada Randy. Penolakan secara halus, Randy sadar dirinya nggak di harapkan di sini.


"Katakan dulu, kenapa dia begitu mudah menjalin kerjasama dengan anda" melontarkan tanya sebelum pergi bersama asistennya.


"Takdir" bukannya Arjuna yang menjawab, dengan sombongnya Richard berkata. Sungguh hati Randy terasa panas saat itu.


Rahang yang mengeras, sorot mata nan tajam, Randy mengangguk seraya berlalu pergi. Baru saja Richard hendak mengambil duduk, Randy berbalik dan bicara kepada Arjuna"Aku nggak akan tinggal diam, semua penolakan mu pasti ada sebabnya."


Randy berbalik hendak benar-benar pergi, namun tertahan oleh kata-kata Arjuna"Apa yang menjadi takdirmu akan mencari cara sendiri untuk bertemu denganmu. Dan apa yang bukan milikmu, akan segera pergi dari kehidupanmu."


Randy menjadi geram"Aku nggak menerima kegagalan."


"Dan aku nggak menerima paksaan" sahut Arjuna pula.


"Apa kurang banyak? berapa banyak yang dia tawarkan pada anda?!." Berkacak pinggang, emosi itu sudah nggak lagi tertahan.


"Dalam setiap penolakan aku selalu mengatakan alasannya, kita nggak cocok untuk bekerjasama. Itu saja." Ujar Arjuna membalas tatapan tajam dari Randy.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2