Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Kedungu-an cinta


__ADS_3

...Jika nun sukun bertemu ba adalah iqlab, semoga pertemuan ku dengan mu berakhir ijab....


...🌸🌸🌸🌸...


Mendung tak berarti hujan, salwa begitu yakin langit abu itu tak kan menyapa bumi dengan sentuhan air hujan. Kesendirian yang semakin memeluk diri, memacu rasa rindu akan kampung halaman sendiri. Salwa, meminta izin kepada Randy untuk bertandang ke kediaman Ayah dan Ibunda. Rasanya menginap beberapa hari di sana dapat mengusir rasa sepi di hati, untuk kembali pulang dengan rasa ikhlas dan kembali dipeluk sang sepi.


"Tapi Sayang, aku masih sibuk untuk beberapa hari ke depan. Rasanya nggak nyaman kalau pulang di tengah malam saat berada di rumah Ayah dan Ibu" Randy memilih dasi yang cocok dengan kemejanya saat ini.


Salwa maju mendekati sang suami, segera mengambil alih untuk memasangkan dasi tersebut, setelah Randy menemukan motif yang sepadan dengan kemejanya.


"Jadi, untuk beberapa hari ke depan Mas akan lembur terus?." Sepasang manik indah itu sedang mengikuti pergerakan tangannya, jemari kecil yang sedang memasang dasi sang suami.


Membenarkan helai rambut sang istri"Iya. Kerja sama dengan Pak Heru sungguh membuatku sibuk."


"Bukannya itu yang kamu inginkan" ujar Salwa langsung menyambut perkataan Randy.


Sungguh, rasa bersalah itu masih melekat di hati Randy. Dia dapat merasakan ketidaknyamanan sang istri saat bersama Heru. Wanita itu menitikan air mata saat dirinya meminta menghabiskan malam bersama Heru.


Berbekal hati di ujung tanduk, dengan bodohnya Salwa menuruti keinginan gila sang suami"Ini demi karir ku, juga demi stabilnya keuangan ku, juga keuangan Ayah dan Ibu di desa." Bagai menelan duri, Salwa mengangguk karena lagi-lagi biaya hidup orang tua dan Adiknya menjadi ancaman.


Di sebuah Villa, yang hanya ada Heru seorang. Hingga ke depan muara pintu Randy mengantarkan istrinya pada lelaki lain.


"Ya Allah, maafkan aku kalau akhirnya harus mengambil langkah yang sangat engkau murkai" sebilah belati kecil wanita ini simpan di saku bagian dalam tasnya. Andai hal menjijikkan itu terjadi, dirinya akan mengakhiri hidup alih-alih di nikmati lelaki yang bukan suaminya.


Kamar yang di biarkan temaram, dengan aroma nyaman yang katanya mampu menenangkan diri. Akh! pada kenyataannya aroma itu memacu tubuh Salwa bergetar. Mengepalkan tangan, mencoba menahan getaran itu. Mungkin, di mata lelaki seperti Heru wanita seperti dirinya dapat begitu mudah di nikmati. Dengan menunjukkan rasa takut dalam dirinya, Salwa nggak ingin semakin di tekan oleh pria tua itu.


"Duduklah." Kata Heru dari lima langkah menuju Salwa.


Duduk? di mana?. Sementara tempat yang paling mungkin untuk di duduki hanyalah sebuah kursi yang nampak aneh bentuknya. Memandangi tempat duduk itu sekilas, Salwa menyadari bahwa itulah tempat duduk yang sempat Randy taksir, sofa untuk bercinta.


Secepat inikah?. Wanita ini mematung. Bahkan untuk menelan saliva pun sulit untuk di lakukan. Rencana yang tersusun rapi seketika kacau. Jemari kecil itu bergetar, saat hendak meraih belati dari dalam tas.


Heru menghilang dari hadapan Salwa, dan datang kembali setengah menit kemudian"Duduklah" rupanya lelaki tua ini membawa sebuah kursi. Dia meletakkan kursi tersebut di depan jendela. Semilir angin malam nampak membelai tirai tipis tersebut, spontan Salwa memeluk diri dengan kedua tangan mengusap pundak sendiri.

__ADS_1


Nggak menghiraukan Salwa yang masih mematung, Heru kembali dengan sebuah kursi yang sama. Dia meletakkan benda itu berhadapan dengan benda pertama"Ayolah Nona Salwa, duduklah di sini."


Mengatur nafas seraya menyadarkan diri. Perlahan Salwa melangkah menuju kursi, dan Heru telah duduk di kursi miliknya.


"Bolehlah saya memandang anda lama?" mau nggak mau, kini mereka berdua beradu pandang.


"Si---silah--kan" Salwa terbata.


Waktu seolah berhenti, dua manusia ini terperangkap dalam remang malam dan saling berpandang.


Lima menit...


Enam menit...


Menatap raut tua di hadapannya, sungguh Salwa kesulitan untuk bernafas.


"Kenapa anda bersedia menemui saya?."


"Nona, apa anda tau bahwa anda sangatlah menawan?."


Lagi, Salwa nggak bisa segera menjawab.


Pria tua itu beranjak dari duduknya. Kemudian kembali dan mengajak Salwa untuk ikut bersamanya"Saya belum makan malam. Maukah anda melayani saya di meja makan?."


Melayani??? di meja makan??. Kerongkongan Salwa kembali sulit menelan saliva.


"Hanya melayani saya makan" seolah tau dengan apa yang sedang Salwa pikirkan, Heru tersenyum tipis menyaksikan wanita di hadapannya masih terdiam.


"Han--hanya itu?."


Mengangguk samar, Heru menarik kursi dan duduk di sana.


"Pakai celemek itu" celemek berwarna hitam dan putih. Dengan renda yang menghiasi tepian bagian bawahnya. Salwa jadi teringat tokoh waifu. Wajah wanita ini seketika merona, rasa malu menyelimuti diri.

__ADS_1


Saat itu Randy meminta Salwa memakai dress berwarna hitam, dengan belahan dada rendah pastinya. Tak ayal tingkah Randy seperti seorang suami yang menjual istri. Lantas, dengan pakaian seperti itu akan terlihat seperti apa Salwa dengan celemek maid itu?.


...****************...


"Bantu Nenek cantik menjaga butik, please!!" menangkupkan kedua tangan, Ane yang sedang melakukan video call dengan Arjuna menampilkan wajah memelas. Hais!! ada-ada saja tingkah Nenek cantik yang satu ini. Dari sekian banyak pelayan di kediamannya, mengapa meminta Arjuna yang menjaga toko bajunya??.


"Nenek, nggak salah meminta hal itu pada Arjuna?."


Ane mengangguk"Tentu nggak salah. Ya? mau ya?."


"Seorang CEO di minta menjaga butik? memangnya Nenek berani membayar berapa?." Arjuna sengaja mengajukan penawaran pada Ane, yang justru terkekeh karena itu.


"Hemmm" terlihat kedua matanya berlarian"Berapapun yang kamu mau, Nenek akan bayar."


Begitu kuat keinginan Ane, Arjuna mencium sesuatu yang nggak beres di sini. Menelisik wajah sang Nenek yang masih terlihat muda. Wanita ini adalah Adik dari Nenek Adila. Menjadi janda di usia muda menjadikan dirinya sosok yang takut akan cinta. Lebih memilih menyibukkan diri dengan bisnisnya, begitulah cara Ane menata kembali hidupnya, usai di khianati sang lelaki kesayangan.


"Cewek mana lagi?" Arjuna langsung bertanya pada niat terselubung Ane.


Menarik nafas, Ane mengerucutkan bibir"Kok gitu sih. Nenek nggak punya niat apa-apa Arjuna. Nenek hari ini sibuk dengan pekerjaan lain, rasanya nggak akan aman kalau butik Nenek tinggal begitu saja. Para pekerja di sana akan bersantai kalau nggak ada yang mengawasi." Hemm, begitu lancar Ane memberikan alasan.


Sedikit memiringkan kepala, Arjuna menatap Ane lekat. Sedangkan sang Nenek cantik mengedipkan mata, centil.


Akh!! Arjuna nggak tahan dengan bujukan Ane. Hari sabtu sama seperti hari libur bagi Arjuna, dan menjadi hari keberuntungan bagi Ane dalam minggu ini. Karena nggak tega maka Arjuna pun menerima permintaan Ane.


"Jam sembilan Arjuna Akan datang ke butik. Tapi hanya mengawasi kan?. Arjuna nggak ngerti hal lainnya."


Nampak jelas riak bahagia di wajah Ane"Kamu hanya perlu angkong-angkong kaki di sana" ujarnya berseru.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2